Investor domestik diproyeksikan menjadi mesin utama pertumbuhan pasar modal Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi arus modal asing.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, investor lokal akan menjadi fondasi utama ketahanan (resilience) pasar modal Indonesia. Karena itu, BEI memfokuskan reformasi pasar modal untuk membangun investor yang tidak hanya bertambah secara jumlah, tetapi juga semakin berkualitas.
Menurut Jeffrey, tantangan terbesar pasar modal saat ini bukan semata menarik lebih banyak investor, melainkan membangun kepercayaan (trust) di seluruh ekosistem pasar modal.
"Kalau kita simak apa yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Hasan, kata kuncinya adalah trust. Trust itu adalah bagaimana kita bersama seluruh ekosistem di pasar modal membangun kepercayaan itu," kata Jeffrey dalam diskusi Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, untuk membangun kepercayaan tersebut BEI menjalankan empat agenda utama reformasi pasar modal.
Pertama, meningkatkan transparansi agar investor memperoleh informasi yang lebih terbuka dalam mengambil keputusan investasi. Kedua, menyajikan data investor yang lebih granular sehingga perkembangan investor domestik dapat dipetakan secara lebih komprehensif.
Ketiga, memperdalam pasar melalui peningkatan jumlah investor domestik sekaligus mendorong lebih banyak perusahaan berkualitas mencatatkan saham di bursa. Keempat, memperkuat penegakan aturan (enforcement) melalui penyampaian informasi yang dibutuhkan investor, termasuk mengenai indikasi kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi.
Menurut Jeffrey, pendalaman pasar juga harus diiringi peningkatan kualitas emiten yang masuk ke bursa. Karena itu, BEI mengusung pendekatan quality over quantity agar perusahaan yang melantai di pasar modal benar-benar memiliki kualitas fundamental yang baik.
"Kita membutuhkan banyak perusahaan-perusahaan dengan kualitas baik yang berbagi kepemilikan dengan publik melalui listing di bursa," tuturnya.
Meski setiap kelompok investor memiliki karakteristik berbeda, mulai dari investor institusi asing, investor institusi domestik hingga investor ritel, Jeffrey menilai investor lokal harus menjadi fondasi utama pasar modal Indonesia karena memiliki orientasi investasi yang lebih stabil dibandingkan arus dana asing yang sangat dipengaruhi sentimen global.
Karena itu, BEI tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah investor, tetapi juga meningkatkan kualitas investor melalui edukasi dan literasi keuangan.
"Kalau kita melihat bagaimana kita memperkuat basis investor lokal kita yang akan menjadi fondasi yang kuat bagi resilience di pasar kita, tentu kita harus menghadirkan investor ritel yang punya pemahaman yang benar, yang literasinya cukup, mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, kemudian punya disiplin dalam melakukan investasi, dan yang paling penting memahami profil risikonya," ujar Jeffrey.
Menurutnya, investor yang memahami profil risiko akan lebih mampu memilih instrumen investasi sesuai kebutuhannya sehingga dapat berinvestasi secara berkelanjutan dan tidak mudah terpengaruh gejolak jangka pendek.
Di tengah pelemahan indeks saham, Jeffrey melihat kondisi pasar justru menyimpan peluang. Ia mengungkapkan aktivitas perdagangan di Bursa masih menunjukkan peningkatan. Sepanjang tahun berjalan, rata-rata nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp24 triliun, meningkat dibandingkan rata-rata sepanjang tahun sebelumnya sebesar Rp18,1 triliun.
Meski aktivitas perdagangan meningkat, valuasi saham Indonesia justru relatif lebih murah dibandingkan sejumlah bursa regional. Jeffrey menyebut price to earnings ratio (PER) pasar saham Indonesia berada di kisaran 10 kali, sedangkan Malaysia dan Singapura telah berada pada kisaran 14 hingga 15 kali.
Menurut dia, apabila reformasi pasar modal mampu meningkatkan kembali kepercayaan investor dan ketidakpastian pasar berkurang, kondisi tersebut membuka ruang pemulihan yang cukup besar bagi pasar saham Indonesia.
"Dari bursa tentu kita akan fokus meneruskan reformasi pasar modal yang sedang kita lakukan, membenahi transparansi, meningkatkan tata kelola dan governance, yang pada gilirannya kami yakini confidence investor akan meningkat dan market kita akan rebound," tutur dia.
Baca juga:

Jeffrey mengatakan reformasi tersebut juga menjadi bagian dari target jangka panjang BEI untuk membawa pasar modal Indonesia menjadi salah satu bursa terbesar di dunia pada 2030.
BEI menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.000 triliun, nilai transaksi harian Rp31 triliun, lebih dari 1.100 perusahaan tercatat, serta 35 juta investor pada akhir dekade ini.

Jumlah investor muda bertambah
Pandangan Jeffrey mengenai pentingnya investor domestik turut diperkuat Co-Founder Pluang, Claudia Kolonas. Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar untuk membangun pasar modal yang lebih dalam karena didukung fundamental ekonomi yang kuat dan jumlah investor muda yang terus bertambah.
Claudia menilai Indonesia dapat belajar dari India yang berhasil memperkuat pasar modal melalui dominasi investor ritel domestik. Karena itu, edukasi keuangan menjadi faktor penting agar investor lokal mampu mengambil peran lebih besar dalam menopang pasar modal Indonesia.
Secara fundamental, imbuhnya, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk memperbesar basis investor domestik. Tantangannya bukan terletak pada kondisi ekonomi, melainkan bagaimana potensi tersebut diterjemahkan menjadi pertumbuhan investor jangka panjang yang berkualitas.
"Kalau kita lihat dari fundamental, fundamental Indonesia sebenarnya masih sangat kuat. Contoh yang harus kita lihat adalah pasar India, di mana pasarnya sudah sangat kuat dari segi investor ritel," jelas dia.

Menurut Claudia, Pluang menempatkan edukasi finansial sebagai strategi utama untuk membentuk investor yang memahami pasar modal. Hingga kini, platform tersebut telah memiliki sekitar 13 juta pengguna yang dinilai menjadi modal awal untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam investasi saham domestik.
"Bagaimana kita bisa mengajarkan ritel kami yang saat ini di Pluang sendiri sudah ada 13 juta pengguna, 13 juta nasabah, sebenarnya fasih dengan trading saham Indonesia," tuturnya.
Ia menilai peningkatan kualitas investor domestik menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pasar modal Indonesia terhadap arus dana asing. Selama ini, keluar-masuknya dana asing (capital outflow) kerap memicu volatilitas di pasar saham, meskipun fundamental perusahaan tercatat masih relatif kuat.
"Kuncinya itu adalah bagaimana kita bisa mengurangi keterlibatan dana asing di Indonesia, bagaimana capital outflow itu tidak lagi menjadi hal yang mengakibatkan volatilitas pasar," ucapnya.
Claudia melihat peluang tersebut semakin besar karena struktur demografi investor Indonesia didominasi generasi muda. Berdasarkan data yang dipaparkannya, lebih dari separuh pemilik Single Investor Identification (SID) saat ini berusia di bawah 30 tahun.
Menurut dia, kelompok usia tersebut akan menjadi kekuatan baru pasar modal Indonesia ketika memasuki usia produktif dengan kemampuan finansial yang lebih besar.
"Lebih dari 50% pemilik SID di Indonesia saat ini di bawah umur 30 tahun. Bagaimana kita bisa mengajarkan mereka untuk terus berinvestasi sehingga 10 tahun, 15 tahun ke depan mereka bisa ikut di-KRL-kan oleh pasar saham di Indonesia," ucap Claudia.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola investasi generasi muda. Saat ini, investor berusia di bawah 25 tahun cenderung lebih tertarik pada aset kripto karena menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi dalam waktu singkat.
Stabilitas sektor perbankan
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jakarta, Agus Haryoto Widodo, menilai upaya memperkuat investor domestik juga harus didukung oleh stabilitas sektor perbankan. Menurutnya, pasar modal dan industri perbankan merupakan dua pilar yang saling melengkapi dalam membangun kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Agus mengatakan fundamental industri perbankan hingga kini masih berada dalam kondisi yang kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang berada jauh di atas ketentuan regulator, likuiditas yang memadai, serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang tetap terjaga di kisaran 2%.
"Kalau ngomongin industri perbankan, sebenarnya secara fundamental kita lihat fundamental dari perbankan itu sekarang masih sangat baik dan kuat," jelas Haryoto.
Meski demikian, menurut Haryoto, tantangan utama sektor keuangan saat ini bukan berasal dari fundamental, melainkan perubahan dinamika ekonomi global yang semakin sulit diprediksi, mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga kebijakan tarif perdagangan yang berdampak terhadap pasar keuangan.