Ambisi BEI Pasang Target Masuk 10 Bursa Kelas Dunia, Reformasi Pasar jadi Kunci

Posisi BEI saat ini masih berada di peringkat ke-19 dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan peringkat ke-17 berdasarkan nilai transaksi. Karena itu, berbagai langkah transformasi akan dilakukan sepanjang masa jabatan direksi periode 2026–2030.

Ambisi BEI Pasang Target Masuk 10 Bursa Kelas Dunia, Reformasi Pasar jadi Kunci
 Foto: Ruben Sukatendel / Unsplash
Daftar Isi

Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target ambisius untuk masuk ke jajaran 10 bursa saham terbesar di dunia pada 2030. Untuk mencapai sasaran tersebut, BEI menyiapkan empat pilar strategi yang mencakup peningkatan aktivitas transaksi, pengembangan bisnis non-transaksi, penambahan perusahaan tercatat berkualitas, serta perluasan basis investor.

Di saat yang sama, BEI juga menegaskan komitmennya melanjutkan reformasi pasar modal, termasuk mendukung proses demutualisasi dan memenuhi berbagai masukan dari Morgan Stanley Capital Index (MSCI).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, posisi BEI saat ini masih berada di peringkat ke-19 dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan peringkat ke-17 berdasarkan nilai transaksi. Karena itu, berbagai langkah transformasi akan dilakukan sepanjang masa jabatan direksi periode 2026–2030.

"Yang ingin kita capai ke depan adalah bagaimana kita bisa membawa Bursa Efek Indonesia menjadi di antara 10 bursa besar di dunia, baik berdasarkan kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi," ucap Jeffrey dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI, Senin (29/6/2026).

Untuk mendukung target tersebut, BEI menetapkan sejumlah sasaran pada 2030. Kapitalisasi pasar ditargetkan mencapai Rp30.000 triliun, rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp31 triliun, jumlah perusahaan tercatat melampaui 1.100 emiten, jumlah investor pasar modal mencapai 35 juta single investor identification (SID), serta rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di atas 83%.

Menurut Jeffrey, pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada peningkatan aktivitas perdagangan, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur pasar yang semakin modern, efisien, dan kredibel.

Empat pilar utama yang akan dijalankan meliputi pertumbuhan bisnis berbasis transaksi, pengembangan sumber pendapatan non-transaksi, peningkatan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat, serta memperluas inklusivitas seluruh segmen investor.

Seluruh strategi tersebut akan ditopang oleh penguatan infrastruktur perdagangan, sistem pengawasan, teknologi informasi, serta kolaborasi dengan regulator dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal.

Ditopang kinerja rekor pada 2025

Optimisme BEI menyusun target jangka panjang tersebut tidak terlepas dari capaian kinerja sepanjang 2025 yang menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah perseroan.

Jeffrey mengakui 2025 diawali dengan tekanan berat akibat meningkatnya tensi perang dagang menyusul kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian geopolitik global. Kondisi tersebut sempat mendorong IHSG terkoreksi hingga ke level 5.996 pada awal April 2025 dan memaksa BEI memberlakukan trading halt.

Untuk menjaga stabilitas pasar, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya melakukan serangkaian langkah stabilisasi, mulai dari penguatan komunikasi dengan pelaku pasar, penyesuaian kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS, perubahan batas auto rejection bawah (ARB), hingga penyempurnaan ketentuan trading halt.

Memasuki semester II-2025, kondisi pasar mulai pulih seiring membaiknya sentimen global dan berbagai kebijakan domestik yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pemulihan tersebut tercermin dari IHSG yang sepanjang 2025 mencatatkan 24 kali rekor tertinggi sepanjang masa (all time high), dengan posisi tertinggi di level 8.711. Kapitalisasi pasar juga menyentuh rekor baru sebesar Rp16.400 triliun pada 8 Desember 2025.

Aktivitas perdagangan turut meningkat. Rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp18,1 triliun, sementara transaksi produk non-saham mencapai Rp7,6 triliun. Di pasar obligasi melalui mekanisme SPPA, volume transaksi tercatat Rp1.375 triliun, sedangkan perdagangan di bursa karbon mencapai Rp36,37 miliar.

Di sisi penghimpunan dana, sepanjang 2025 terdapat 26 perusahaan melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan total kapitalisasi pasar Rp155,2 triliun pada saat pencatatan. Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai Rp18,1 triliun atau meningkat 26% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials, disusul sektor keuangan dan infrastruktur.

Selain IPO, penghimpunan dana melalui efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) mencapai Rp217,4 triliun, sedangkan melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dan waran sebesar Rp43,7 triliun.

Baca juga:

IHSG 2025 Naik 22,10%, Pecahkan Rekor ATH 26 Kali
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkerek naik 22,10% sepanjang tahun 2025. Sepanjang 2025, IHSG mencatat 26 kali rekor kinerja nilai tertinggi sepanjang sejarah (All Time High/ATH).

Di sisi investor, jumlah investor pasar modal meningkat 37% menjadi 20,3 juta SID. Peningkatan tersebut didukung lebih dari 49.000 kegiatan edukasi, bertambahnya jumlah Galeri Investasi menjadi 1.015 lokasi, serta meningkatnya pengguna aplikasi IDX Mobile menjadi sekitar 463.000 pengguna.

Kinerja operasional tersebut berdampak langsung terhadap kondisi keuangan perseroan. Pendapatan BEI sepanjang 2025 meningkat 29,8%, sementara kenaikan beban berhasil dijaga di level 17,1%. Laba bersih perseroan melonjak 59,4% menjadi Rp1,07 triliun, menjadi laba bersih tertinggi sepanjang sejarah BEI.

Aset perseroan juga meningkat 32% menjadi Rp14,78 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 14% menjadi Rp9,45 triliun.

Jeffrey menjelaskan pertumbuhan laba terutama ditopang meningkatnya aktivitas transaksi di pasar modal yang mendorong rata-rata nilai transaksi harian naik dari sekitar Rp12,8 triliun menjadi lebih dari Rp18 triliun. Di sisi lain, BEI juga mulai memperbesar kontribusi pendapatan non-transaksi yang tumbuh 14,6%, sementara pendapatan lainnya meningkat 17%.

Reformasi pasar modal berlanjut

Selain menyiapkan target jangka panjang, BEI juga memastikan reformasi pasar modal akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kredibilitas Indonesia di mata investor global.

Jeffrey mengatakan OJK bersama seluruh SRO telah menyampaikan empat proposal reformasi kepada MSCI pada akhir Maret 2026. Reformasi tersebut meliputi peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1%, penyediaan data investor yang lebih granular, perubahan ketentuan pencatatan termasuk peningkatan batas minimum free float menjadi 15%, serta pengumuman saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi.

Menurut dia, pengumuman terbaru MSCI yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa lembaga penyedia indeks global tersebut mengapresiasi langkah regulator Indonesia dan menilai reformasi yang dilakukan sudah berada di arah yang tepat.

Meski demikian, BEI menegaskan proses reformasi belum berhenti. Perseroan akan terus berkomunikasi dengan lembaga pemeringkat global seperti MSCI, FTSE Russell, serta investor global guna memastikan berbagai kebutuhan terkait tata kelola dan kredibilitas pasar dapat terus dipenuhi.

"Kami tentu akan terus intens berkomunikasi dengan MSCI, FTSE maupun investor global agar kebutuhan mereka dapat kami akomodasi untuk memastikan kredibilitas dan tata kelola pasar modal Indonesia semakin baik," kata Jeffrey.

Dalam kesempatan yang sama, Jeffrey juga menegaskan dukungan BEI terhadap proses demutualisasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Saat ini, kata dia, Bursa masih menunggu aturan turunan sebagai dasar pelaksanaan kebijakan tersebut. Setelah regulasi diterbitkan, BEI akan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjalankan proses demutualisasi.

Menurut Jeffrey, perubahan struktur kepemilikan Bursa diyakini akan membawa BEI menjadi organisasi yang lebih modern dan adaptif.

Ia menambahkan, BEI merupakan salah satu dari sedikit bursa saham di dunia yang hingga kini belum menjalankan demutualisasi. Dengan perubahan tersebut, Bursa diharapkan menjadi lebih lincah dalam mengambil keputusan strategis sehingga mampu mempercepat pencapaian target-target jangka panjang yang telah ditetapkan hingga 2030.

Sebagai informasi, Dalam RUPST tersebut, BEI juga menetapkan susunan Direksi PT Bursa Efek Indonesia periode 2026–2030.

Kepercayaan investor jadi kunci

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai ambisi pengembangan pasar modal Indonesia perlu didukung seluruh pemangku kepentingan. Namun, optimisme tersebut harus diimbangi dengan langkah-langkah yang realistis agar target yang ingin dicapai benar-benar dapat terwujud.

Menurut Nico terdapat sejumlah prasyarat yang perlu dipenuhi agar pasar modal Indonesia mampu menarik kembali minat investor, khususnya investor asing. Nico mengatakan, pasar modal perlu perubahan kebijakan yang mampu memberikan sentimen positif dalam jangka pendek sehingga dapat mendorong aktivitas pasar. Selain itu, pelaku pasar dan investor asing juga perlu kembali masuk ke pasar saham Indonesia agar likuiditas meningkat.

Ia juga menilai stabilitas makroekonomi menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Pengendalian inflasi, arah suku bunga, serta stabilitas nilai tukar rupiah menjadi elemen penting yang memengaruhi keputusan investasi.

Di sisi lain, Nico menekankan pentingnya kehadiran perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik melalui IPO. Menurutnya, emiten berkualitas berpotensi menjadi daya tarik bagi investor untuk kembali berinvestasi di pasar modal domestik.

Apabila berbagai faktor tersebut dapat dipenuhi, imbuhnya, maka arus modal asing (capital inflow) berpeluang kembali masuk ke Indonesia. Kondisi tersebut, menurut Nico, akan memberikan dorongan terhadap kenaikan harga saham dan memperkuat kinerja pasar modal.

Selain faktor ekonomi, ia juga menyoroti pentingnya situasi politik yang kondusif, penyempurnaan berbagai program populis, serta upaya mengembalikan kepercayaan pelaku pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah.

"Tentu sangat amat penting. Untuk mengembalikan kepercayaan pelaku pasar dan investor untuk bisa kembali masuk ke dalam pasar modal Indonesia. Semua dimulai dari kepercayaan, dan berakhir dengan cuan. Kalau kepercayaan tidak ada, bagaimana mungkin orang akan berinvestasi di Indonesia?" jelasnya.

Menantang tapi masih realistis

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai target strategis BEI berada pada level yang sangat menantang, namun masih realistis apabila didukung pertumbuhan ekonomi yang kuat serta kebijakan pendalaman pasar yang konsisten.

Menurut Nafan, target peningkatan kapitalisasi pasar hampir dua kali lipat dari posisi akhir 2025 membutuhkan pertumbuhan tahunan sekitar 13–14%. Target tersebut dapat dicapai apabila didorong oleh gelombang IPO perusahaan berkapitalisasi besar, termasuk BUMN atau holding besar, serta didukung apresiasi harga saham secara organik.

‎‎Sementara itu, target rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp31 triliun dinilai sebagai sasaran paling berat. Menurutnya, peningkatan transaksi memerlukan partisipasi investor institusi domestik, seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

‎‎Di sisi lain, target peningkatan jumlah investor menjadi 35 juta dinilai realistis seiring penetrasi digital dan meningkatnya inklusi keuangan di kalangan generasi muda.

‎‎Nafan juga menilai susunan direksi baru BEI periode 2026–2030 memiliki kombinasi pengalaman regulator dan praktisi pasar. Jeffrey Hendrik dinilai memiliki bekal kuat dalam pendalaman pasar, sementara pengalaman Saidu Solihin dan Irvan Susandy diyakini dapat memperkuat pengelolaan infrastruktur perdagangan.

‎‎Ia mengingatkan dua prioritas yang perlu didahulukan direksi baru. Pertama, meningkatkan kualitas emiten dan perlindungan investor melalui pengetatan proses IPO, transparansi papan pemantauan khusus, serta penguatan pengawasan transaksi untuk menjaga kredibilitas pasar.

‎“‎Kedua, memperdalam pasar melalui diversifikasi produk, termasuk pengembangan instrumen derivatif, obligasi ritel, serta perdagangan karbon agar likuiditas tidak hanya bergantung pada transaksi saham,” ungkap Nafan.

‎‎Selain itu, Nafan berharap direksi baru mampu memulihkan kepercayaan investor global di tengah sorotan terhadap aksesibilitas pasar, mendorong pertumbuhan investor yang berkualitas, serta memastikan sistem perdagangan BEI memiliki kapasitas dan ketahanan teknologi untuk mendukung target transaksi yang lebih tinggi.

IHSG sendiri ditutup melemah 1,28% atau 75,34 poin ke level 5.820,79 pada perdagangan sore ini.

‎‎Berdasarkan data perdagangan, IHSG dibuka menguat di level 5.932,03 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 5.942,77. Namun, indeks berbalik arah dan terus bergerak di zona merah hingga menyentuh level terendah 5.800,29, sebelum akhirnya ditutup di 5.820,79.

‎‎Pelemahan indeks diikuti mayoritas saham yang terkoreksi. Sebanyak 467 saham ditutup melemah, 228 saham menguat, dan 264 saham stagnan, mencerminkan tekanan jual yang terjadi secara luas di pasar.

‎‎Aktivitas perdagangan tergolong tinggi dengan volume mencapai 13,34 miliar saham, nilai transaksi sebesar Rp8,719 triliun, dan frekuensi perdagangan 1,209 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.182 triliun.

Penulis

Baca selengkapnya