RDG Pertama oleh Pejabat Sementara Gubernur BI Putuskan BI Rate Tetap 5,75%
Keputusan ini sejalan ekspektasi mengingat penguatan kurs rupiah dan kembalinya arus modal masuk telah berjalan secara bertahap.
Keputusan ini sejalan ekspektasi mengingat penguatan kurs rupiah dan kembalinya arus modal masuk telah berjalan secara bertahap.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agustus 2026 mempertahankan suku bunga acuan BI Rate sebesar 5,75%. Keputusan ini sejalan ekspektasi mengingat penguatan kurs rupiah dan kembalinya arus modal masuk telah berjalan secara bertahap. Meski ruang penurunan suku bunga terbuka, langkah menjaga BI Rate dilakukan guna mencegah berlanjutnya tekanan terhadap sektor riil.
Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan, keputusan yang disertai langkah menjaga suku bunga deposit facility tetap 4,75% dan suku bunga lending facility sebesar 6,5% ini sejalan dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global, serya menjangkar sasaran inflasi sebesar 1,5-3,5% tahun 2026-2027.
"Bank Indonesia akan terus memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk modal asing demi memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan mengurangi segmentasi pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing," kata Destry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan sejalan dengan penguatan nilai tukar rupiah yang menguat ke level Rp17.855 per Dolar Amerika Serikat, menguat 0,78% point-to-point dibandingkan akhir Juli 2026. Di saat bersamaan, inflasi IHK berhasil ditekan menjadi 2,88% (yoy), sementara cadangan devisa terjaga USD 145,3 miliar pada akhir Juli 2026.
Meski demikian, Destry mengakui dunia akan menghadapi ketidakpastian dalam waktu cukup panjang sehingga postur kebijakan moneter global akan tetap ketat atau higher for longer. Tekanan tinggi di pasar keuangan global, suku bunga Fed Fund Rate yang tetap tinggi, dan indeks dolar DXY diperkirakan dalam posisi kuat hingga akhir tahun.
"Itu mengapa kami masih mengedepankan stabilitas karena kami melihat tekanan belum mereda. Beberapa hal kami lakukan akan mempertahankan stabilitas, tetapi juga mendukung pertumbuhan yang juga menjadi mandat kami," imbuh Destry.
Dalam melaksanakan mandat ganda tersebut, Destry memastikan BI akan terus mengeluarkan instrumen yang bertujuan menjaga nilai tukar rupiah, dan mendukung insentif untuk mendukung aliran modal asing portofolio yang akan masuk ke Indonesia.
Di sisi lain, bank sentral akan terus memperhatikan dan membatasi dampak imported inflation dengan menjaga stabilitas rupiah agar terus mengalami apresiasi secara bertahap ke depan.
"Kami akan terus alert. Stabilitas kami jaga, tetapi untuk pertumbuhan, kami akan terus memberikan kebijakan likuiditas makroprudensial hingga mencapai 6% DPK sehingga bank dapat menjaga terus pertumbuhan kredit yang telah mencapai 13,58% (yoy). Momentum ini yang akan terus kita jaga ke depannya," tutur Destry.
Artikel ini akan dilengkapi dengan pengayaan kemudian