Perkembangan AI Jadi Tantangan Profesi Humas, Praktisi Perlu Tingkatkan Kapasitas

Perkembangan AI Jadi Tantangan Profesi Humas, Praktisi Perlu Tingkatkan Kapasitas

Praktisi humas perlu untuk meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi berbagai tantangan profesi yang muncul di era AI.

Perkembangan AI Jadi Tantangan Profesi Humas, Praktisi Perlu Tingkatkan Kapasitas
Dalam Artikel Ini

Perkembangan teknologi digital seperti artificial intelligence (AI), membuat profesi hubungan masyarakat (humas) menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, praktisi humas pun harus meningkatkan kapasitasnya dalam mampu memilah informasi, mengambil keputusan yang tepat, serta menjaga sisi humanis dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Merespons tantangan profesi yang kian beragam, Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) akan kembali menyelenggarakan Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 Surakarta di Kota Surakarta, Solo, Jawa Tengah, pada 17-18 Oktober 2026 dengan membahas sejumlah isu yang tengah dihadapi dan mencari solusi atas segala tantangan yang dihadapi.

“Melalui konvensi ini, diharapkan lahir pemikiran strategis dalam mentransformasikan peran humas pada tatanan yang lebih strategis serta gagasan dalam menciptakan branding Indonesia yang kuat, yang selanjutnya menjadi acuan Perhumas dan seluruh stakeholders untuk menjadi agen perubahan yang mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru, mengadopsi berbagai perubahan yang terjadi, dan membangun keahlian menghadapi tantangan baru kehumasan,” kata Ketua Umum Perhumas Boy Kelana dalam keterangan Perhumas, seperti dikutip, Minggu (04/10/2026). 

Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas), sebuah organisasi profesi humas terbesar di Indonesia dengan lebih dari 4.000 anggota dan 20 Badan Pengurus Cabang yang dibentuk pada tahun 1972. (Sumber: Sekretariat Perhumas).

Dengan mengusung tema “Humas sebagai Daya Bangsa, Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia”, rangkaian acara meliputi Konvensi Humas Indonesia, Anugerah Perhumas, PR Excellence Awards, dan Pertemuan Humas Muda. Forum kolaboratif yang menjadi wadah bagi praktisi, akademisi, media, hingga generasi muda ini pun akan membahas sejumlah isu mulai dari isu krisis, kekuasaan, teknologi, hingga budaya.

Hadapi Disrupsi Kepercayaan

Sebagaimana diketahui, perkembangan teknologi seperti AI telah menjadi tantangan komunikasi semakin kompleks, khususnya dalam menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik. Kepercayaan publik saat ini semakin terfragmentasi akibat perbedaan latar belakang, sumber informasi, serta tingkat pendapatan masyarakat. 

President International Association of Business Communicators (IABC) Indonesia Elvera N. Makki menjelaskan, kondisi ini menimbulkan apa yang disebut dengan disrupsi kepercayaan. AI dapat membuat dan menyebarkan informasi dengan sangat mudah, namun di saat yang bersamaan juga mampu membuat konten manipulatif yang semakin sulit dibedakan dengan informasi yang benar.

“Komunikator memiliki peran penting dalam membantu masyarakat menentukan informasi yang layak dipercaya. Di tengah begitu banyak informasi yang sama-sama terlihat meyakinkan, tantangannya bukan lagi mendapatkan informasi, tetapi menentukan mana yang benar,” jelas Elvera.

Peran komunikator atau dalam hal ini praktisi humas pun tidak lagi hanya sekadar menyampaikan informasi kepada publik saja di tengah situasi saat ini, tetapi mereka mengemban tanggung jawab lebih besar dalam membantu masyarakat memahami dan memverifikasi informasi yang dapat dipercaya.

“Inilah mandat baru komunikator, yaitu membantu publik menavigasi kompleksitas informasi dengan menjadikan kebenaran lebih mudah diverifikasi secara cepat dan akurat, sekaligus menciptakan kondisi yang memungkinkan kepercayaan tumbuh,” lanjutnya.

Ukuran keberhasilan dari komunikasi yang baik juga tidak cukup hanya dinilai dari seberapa luas sebuah pesan menjangkau masyarakat atau tingkat interaksi yang timbul, tetapi saat ini lebih berbicara mengenai bagaimana komunikasi publik dapat membantu masyarakat memahami, percaya, mengambil keputusan, dan mendorong perubahan.

“Di situlah ukuran keberhasilan komunikasi perlu bergeser dari output menuju outcome dan impact,” tegasnya.

Ketangguhan menghadapi krisis komunikasi

Terpisah, Founder and CEO SWN PR & Advisory Sirly W. Nasir menegaskan, tingginya tekanan dalam profesi humas ini juga menuntut praktisinya untuk memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai situasi, khususnya ketika sedang menangani krisis. Ketangguhan ini pun tidak terbentuk dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan pengalaman panjang yang dibangun.

“Humas itu harus tangguh, karena kita yang menjadi garda terdepan daripada reputasi seseorang mau itu korporasi atau individu. Dan bagaimana cara kita mengatur emosi dan menjadi tangguh, menurut saya itu butuh pengalaman dan jam terbang,” kata Sirly.

Sirly mengatakan, ketika dirinya menghadapi situasi dengan tekanan tinggi, ia tetap menjadikan etika profesi sebagai salah satu pegangan utamanya dalam mengambil keputusan.

Baca juga:

Meletakkan Komunikasi Publik yang Baik Sebagai Fondasi Kredibilitas Fiskal
Tata kelola anggaran yang disiplin perlu strategi komunikasi publik yang terukur. Ekspektasi positif pasar dengan sendirinya akan mengangkat kredibilitas fiskal

Salah satu tantangan dalam profesi humas saat ini pun juga mencakup banyak hal, mulai dari pengelolaan reputasi, menjaga hubungan dengan masyarakat, serta pemahaman terhadap berbagai regulasi yang ada. Sehingga humas ini tidak hanya sekadar menjalin hubungan dengan media saja.

“Orang-orang suka salah kaprah mikirnya humas aja publikasi saja, tapi sebenarnya perannya banyak banget. Kita harus mengerti berbagai aturan, jadi bukan soal publikasi saja, tapi ada strategi di dalamnya,” ungkap Sirly.

Profesi humas juga dituntut untuk memiliki kesiapsiagaan yang tinggi setiap saat dalam memantau berbagai perkembangan informasi. Apalagi, di era digital saat ini, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat sehingga praktisi humas harus terus memantau berbagai kanal komunikasi untuk mengantisipasi munculnya isu-isu yang dapat berpengaruh.

Literasi Digital dan Integritas

Dosen Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) University Willy Bachtiar menjelaskan, dalam konteks humas, literasi digital tidak hanya cukup berbicara mengenai kecakapan dari penggunaan berbagai perangkat teknologi saja termasuk media sosial. Praktisi humas pun juga harus memiliki nilai-nilai yang dipegang dalam hal penggunaan teknologi digital saat ini.

“Humas hari ini harus betul-betul mampu memiliki suatu nilai yang saya sebut digital judgement, digital intelligence, dan digital responsibility,” ucap Willy.

Kemampuan digital judgement semakin penting dimiliki praktisi humas saat ini untuk melakukan penilaian terhadap suatu hal, terlebih dengan adanya banjir informasi dan berbagai perangkat teknologi dan aplikasi yang digunakan saat ini sehingga pengelolaan informasi dapat dilakukan dengan tepat.

“Maka yang sangat penting adalah digital judgement, bagaimana kita harus menilai, evaluasi, mengukur, lalu apakah informasi ini tepat atau tidak, bagaimana kemampuan kita menyampaikan informasi kepada publik, kemampuan itulah harus semakin diasah ke depan,” katanya.

Kecakapan dalam menggunakan perangkat teknologi oleh praktisi humas saat ini juga tidak cukup. Apabila seorang praktisi humas mampu menguasai berbagai perangkat digital, belum otomatis membuat mereka menjadi sebagai humas yang baik. Penguasaan teknologi ini baru dipandang sebagai bagian dari peningkatan kapabilitas saja, sementara kemampuan komunikasi, empati, dan juga strategis tetap menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki.

“Sangat penting untuk menguasai berbagai perangkat atau hal-hal yang bisa membantu bekerja lebih cepat, tetapi dari sisi humanisnya juga tidak bisa hilang, jadi lebih bagaimana kita menggabungkan kemampuan manusia dengan perangkat teknologi yang ada,” tegasnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam AI

Rekomendasi SUAR