Ketika AI Jadi Penggerak Transformasi Industri, Bukan Ancaman
Pengusaha meyakini artifial intelligence bisa membantu kelancaran usahanya. Mampu mendorong transformasi digital industri dan mengoptimalkan berbagai aktivitas bisnis
Pengusaha meyakini artifial intelligence bisa membantu kelancaran usahanya. Mampu mendorong transformasi digital industri dan mengoptimalkan berbagai aktivitas bisnis
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak dipandang, sebagai sebuah ancaman bagi para pelaku usaha. Pemanfaatan AI kini dipandang sebagai salah satu kunci untuk mendorong transformasi dan memperkuat daya saing industri Indonesia.
AI kian dilihat sebagai sebuah teknologi yang dapat mendorong transformasi digital industri dan mengoptimalkan berbagai aktivitas bisnis. Dengan memanfaatkan AI dalam kegiatan operasional perusahaan, kebutuhan masyarakat terhadap sebuah layanan yang cepat, efisien, dan semakin personal pun dapat terjawab.
CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, pada awalnya banyak pihak yang melihat AI sebagai sebuah ancaman yang bisa menggantikan tenaga kerja manusia. Namun itu kenyataannya, itu jadi sebuah anggapan yang keliru. AI sendiri di perusahaan Grab Indonesia diarahkan sebagai pendukung operasional untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi jutaan pengguna, mitra pengemudi, hingga merchant yang mayoritas merupakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Sebenarnya AI itu digunakan untuk mengoptimalkan apa yang sudah ada, sehingga perannya itu tidak menggantikan siapa pun, karena tetap pada hakekatnya itu kemampuan manusia diperlukan untuk memastikan apakah AI yang digunakan sudah sesuai dengan objektif dan peruntukannya,” ucap Neneng dalam Coffee Morning: Strategic Policy Leaders Dialogue di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu (02/09/2026).

AI pun digunakan oleh Grab Indonesia untuk mengolah jutaan sinyal permintaan dan penawaran secara real-time yang masuk setiap menit bahkan detik, termasuk juga mencocokkan pengemudi dengan penumpang maupun merchant.
“Jadi, AI itu sebagai operasional pendukung untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah sehari-hari yang dihadapi oleh jutaan manusia di Indonesia,” tegasnya.
Dalam perjalanan Grab Indonesia mengembangkan dan menerapkan AI, ada tiga hal penting yang menjadi perhatian yakni penyesuaian dengan konteks Indonesia, memperkuat kemampuan manusia dan bukan menggantikannya dengan AI, serta memperluas dampak dari use case yang terbukti bermanfaat.
Berdasarkan Grab Impact Reports 2025, 100% karyawannya pun telah terlatih enterprise AI tools, dengan 73% menggunakannya secara mingguan.
Di era digital saat ini, Grab Indonesia yang bergerak di sektor teknologi dan jasa on-demand mencermati adanya perubahan kebutuhan pasar. Konsumen saat ini ingin semua serba instan, ekspektasinya ketika konsumen membeli sebuah barang melalui platform belanja digital, mereka ingin barang sampai hanya dalam waktu hitungan jam saja. Di satu sisi, masalahnya di sektor logistik pick-up mengikuti jadwal yang sudah ditentukan dan posisi pengiriman belum dapat dilakukan secara livetrack.
Machine learning yang merupakan bagian dari AI pun dimanfaatkan di sektor logistik tersebut oleh Grab Indonesia. Di sektor logistik, machine learning dapat membantu sejumlah layanan seperti mengalokasikan mitra pengemudi mendekati titik potensi permintaan untuk meminimalkan waktu tunggu.
“Misalnya driver-nya ada di mana, bagaimana matching dengan permintaan, terus crowd-nya seperti apa. Ini harus kita cari yang terdekat supaya termurah juga cost-nya, kemudian ada supply and demand balance, karena kadang-kadang di sini ada driver-nya tapi demand-nya berbeda lokasinya,” ujar Neneng.
Selain itu, machine learning juga bisa mengoptimalkan rute untuk memangkas waktu penjemputan dan pengantaran barang yang lebih efisien. Begitu juga mengenai kualitas keamanan dan pelayanan, di mana machine learning dapat meningkatkan keamanan dan keselamatan mitra pengemudi dan barang melalui live trip monitoring dan deteksi penyimpangan rute.
“Kita tetap harus bertransformasi terus, sekarang itu bukan waktunya untuk berdiam diri, karena kesuksesan hari ini bukan jaminan kesuksesan di hari yang akan datang,” lanjut Neneng.
Karenanya, penerapan AI dengan memanfaatkan machine learning menunjukkan bahwa tidak hanya terbatas pada pengoptimalisasian operasional saja, tetapi lebih jauh dari itu dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan para pelaku usaha dalam mengambil keputusan. Selain memiliki AI assistant untuk para mitra driver-nya, Grab Indonesia juga memiliki merchant AI assistant sebagai mitra bisnis untuk mendukung pertumbuhan usaha dengan lebih cerdas.
Pemanfaatan AI di sisi merchant untuk membantu pelaku usaha dalam memantau performa bisnis, identifikasi produk yang paling banyak dibeli, menerima rekomendasi, optimalisasi menu dan tampilan visual, hingga membuat kampanye iklan yang tepat sasaran.
Pada tahun 2025, tercatat ada sebanyak 856 ribu UMKM di Asia Tenggara yang telah bergabung sebagai mitra merchant Grab. Sementara di Indonesia, terdapat lebih dari 400 ribu merchant, yang 70% merupakan pelaku usaha berskala UMKM.
“Jadi sebenarnya, 1 dari 4 UMKM di platform Grab sudah menggunakan merchant AI assistant, dan omzetnya naik 15%. Ini tidak berbayar, ini untuk membantu mereka,” ungkapnya.
Namun, pengembangan teknologi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi AI. Pengembangan AI ini membutuhkan rantai nilai yang saling terintegrasi mulai dari infrastruktur digital, energi, pusat data atau data center, hingga talenta dan tata kelola, sehingga tidak dapat berdiri sendiri.
“Talenta dan kelola itu jangan dilupakan, karena kalau tidak dijalankan, jadinya pengembangan AI gak bisa jalan juga, jadi semuanya harus berjalan seiringan,” tegasnya.
Kebutuhan akan ekosistem pendukung tersebut pada akhirnya mendorong perubahan dan transformasi pengelolaan kawasan industri. Kawasan industri pun kini dituntut untuk mendatangkan investasi dalam pembangunan infrastruktur dan ekosistem yang mampu menunjang kebutuhan teknologi tersebut.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Himpunan Kawasan Industri (HKI) Fahmi Shahab menjelaskan, pelaku di kawasan industri dalam negeri juga sudah memandang pentingnya transformasi yang dilakukan. Jika dulu sebelumnya pengelola industri hanya berperan untuk menyiapkan tanah untuk pembangunan industri, saat ini sudah beralih untuk bagaimana memenuhi kebutuhan para investor.
“Kawasan industri juga dibutuhkan tidak hanya sekadar industri atau pabrik, tapi pengembangan-pengembangan logistiknya. Bagaimana pengembangan logistik tersebut? Kita membangun yang namanya smart logistic, konsep eco smart industrial park, dan di sinilah dibutuhkan yang namanya AI dan segala macam,” tambah Fahmi.
Berkaca dari negara lain, kawasan industri sudah didorong untuk penggerak investasi demi meningkatkan daya saing, mendukung kemajuan teknologi, bahkan kata Fahmi sudah menjadi riset untuk pengembangan teknologi.
“Ke depannya, pengelola kawasan industri harus menjual teknologi, namun teknologi ini harus didukung terutama mengenai data center. Data center itu membutuhkan listrik, kualitas, kuantitas. Ada backup power, dia butuh air yang cukup, koneksi yang canggih. Di sinilah kolaborasi antara dunia kawasan industri, infrastruktur, teknologi, kebijakan jadi bersatu,” ujarnya.
Tenaga Ahli Badan Komunikasi Republik Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan, ada 5 lapisan di dalam kapabilitas AI nasional. Yaitu mengenai energi dan infrastruktur, data dan digital infrastruktur, model dan ekosistem, bisnis dan adaptasi sektor, hingga akhirnya memberikan dampak terhadap ekonomi dan daya saing.
Daya saing ini muncul, ketika seluruh aspek tersebut terintegrasi menjadi satu narasi ekonomi yang kredibel, dan dapat dihargai oleh pasar, sekaligus dipercaya oleh publik melalui dukungan kebijakan.
Adapun berdasarkan perhitungan yang dilakukan, AI sendiri berpotensi memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga sebesar USD 366 miliar, atau 12% dari PDB pada tahun 2030 mendatang. Pada tahun 2030, kapasitas data center diperkirakan membutuhkan 2 ribu hingga 5 ribu megawatt, sementara saat ini baru terinstal sebesar 660 megawatt.
“Potensinya besar sekali, kalau bicara mengenai per 1.000 megawatt itu CAPEX-nya sekitar USD 8-10 miliar. Kalau CapEx-nya USD 10 miliar di data center, berarti itu bisa menghasilkan dampak ekonomi USD 23 miliar. Dia juga bisa menghasilkan penambahan income dari masyarakat, sekitar US$600 juta, artinya ini juga bisa meningkatkan kondisi dari demand,” ungkap Fithra.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan bahwa transformasi digital ini sudah dinilai sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka peluang baru bagi peningkatan investasi, produktivitas, dan daya saing nasional. Pemerintah pun terus berupaya untuk memperkuat ekosistem ekonomi digital termasuk pengembangan AI.
Melalui perjanjian multilateral ekonomi digital ASEAN Digital Economy Framework Agreement, juga berpotensi untuk mendorong nilai ekonomi digital ASEAN mencapai USD 2 triliun pada tahun 2030 mendatang. Indonesia juga telah bergabung sebagai negara pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO) demi memperkuat perannya dalam pengembangan tata kelola AI global.
“Yang sedang dibangun pemerintah bukan hanya ekonomi digital, tetapi ekosistem investasi digital. Ketika pusat data berkembang, kebutuhan komputasi AI akan meningkat, industri semikonduktor ikut tumbuh, dan pada saat yang sama tercipta permintaan terhadap talenta digital nasional. Keterhubungan ini yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai nilai digital global,” ucap Haryo dalam siaran pers, Rabu (05/08/2026).
Menanggapi, CEO PT Mid Solusi Nusantara (Mekari) Suwandi Soh menilai, di tengah perkembangan dan pemanfaatan AI yang semakin luas tersebut, ternyata adopsi teknologi AI juga masih belum merata. Masih ada kesenjangan yang terlihat dari kemampuan perusahaan maupun kelompok pengguna dalam mengakses dan memanfaatkan berbagai model AI yang tersedia.
“Di perusahaan tertentu, teknologi tertentu, layer tertentu, semua orang menggunakan AI dengan model terkini, sementara di layer bawah mereka menggunakan model yang mungkin sudah lebih tertinggal atau kurang reliable. Jadi itu salah satu yang bisa kita tindaklanjuti juga sebagaimana membuat stakeholder memikirkan AI untuk adopsi yang lebih luas,” ucap Suwandi.
Tantangan lain, Indonesia sampai saat ini masih banyak menggunakan dan bergantung pada model AI yang dikembangkan oleh negara lain. Suwandi menjelaskan, sebagian besar AI yang saat ini digunakan oleh masyarakat maupun pelaku usaha di Indonesia seperti ChatGPT, Gemini, maupun DeepSeek, dikembangkan oleh perusahaan dari Amerika Serikat dan China.
Kondisi menjadi tantangan bagi upaya membangun AI yang berdaulat, mengingat penggunaan model asing ini sangat berkaitan dengan pengelolaan dan keamanan data yang diberikan oleh pengguna.
“Hanya saja, kalau kita bicara mengenai berdaulat ya tentu itu tidak karena kita menyerahkan data kita ke negara lain, itu tantangan yang kita hadapi,” katanya.