Ada Potensi US$366 Miliar, RI Butuh 12 Juta Talenta Keuangan Digital
Indonesia butuh 12 juta talenta keuangan digital untuk mengejar potensi ekonomi digital USD 366 miliar pada 2030. Regulasi diharapkan lebih ramah terhadap inovasi
Indonesia butuh 12 juta talenta keuangan digital untuk mengejar potensi ekonomi digital USD 366 miliar pada 2030. Regulasi diharapkan lebih ramah terhadap inovasi
Indonesia membutuhkan 12 juta talenta keuangan digital untuk mengejar potensi ekonomi digital yang diperkirakan mencapai US$ 366 miliar pada tahun 2030. Inkubasi talenta melalui pembinaan, regulasi ramah inovasi, dan fasilitasi sandbox terpadu dan terukur, menjadi cara pemerintah dan dunia usaha membantu para inovator menjadi penggerak sektor keuangan masa depan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan, besarnya kebutuhan talenta digital itu tidak lepas dari tingginya tuntutan ekonomi digital di masa depan. Menyitir laporan Future of Jobs Report 2025, inkubasi talenta digital menjadi kiat menjaga tersedianya lapangan pekerjaan formal untuk orang muda di saat AI mengambil-alih tak kurang dari 39% pasar tenaga kerja global dalam lima tahun mendatang.
"Lebih-lebih di sektor keuangan, kita butuh talenta yang memahami data governance, AI risk management, keamanan siber, dan kemampuan menerjemahkan model AI untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab dan memastikan teknologi tetap berpihak kepada manusia," ucap Nezar saat membuka OJK Digital Financial Innovation Day 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Nezar mengungkapkan, salah satu perkembangan mutakhir agentic AI yang dilatih melakukan pengambilan keputusan (decision making) saat ini, telah mencapai tahap kemampuan melakukan transaksi. Komunikasi antar-agentic AI yang memungkinkan perpindahan uang dalam jumlah besar itu, menciptakan risiko yang perlu dimitigasi mulai dari sekarang.
Untuk itu, selain mempercepat pengerjaan Buku Putih Peta Jalan AI Nasional sebagai panduan pemanfaatan AI yang aman, transparan, dan bertanggung jawab, Kementerian Komunikasi dan Digital juga menggandeng Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan Universitas Brawijaya membentuk AI Talent Factory.
"Program ini berfokus pada studi kasus nyata untuk menerapkan teori dan mengembangkan solusi berbasis AI. Kami juga menggandeng mitra teknologi global bersama NVidia, Cisco, dan Indosat, menargetkan 1 juta talenta pada 2027," imbuh Nezar.
Sebagai wadah inkubasi, Komdigi juga telah meluncurkan Garuda Spark Innovation Hub (GISH) yang menghubungkan 10 kota untuk membuka akses jaringan inovasi, pendampingan, investor, dan jejaring global bagi startup daerah.

Tujuannya, selain mendorong adopsi teknologi digital lebih menyebar dan terefleksi dalam skala nasional, pengembangan digital hub di semua kota besar akan mendorong kapasitas persaingan Indonesia lebih terukur.
"Dengan membuka hub itu, talenta muda yang antusias mengadopsi teknologi baru ini bisa mendapatkan akses dan kesempatan berjejaring lebih luas, mendapatkan pendampingan, bertemu investor, terhubung dengan mitra industri, dan masuk dalam jaringan global," kata Nezar.
Meski peta jalan penyiapan talenta digital telah semakin matang, Nezar mengakui masih adanya tantangan untuk memperkuat penyelarasan standar etika AI. Tujuannya, agar tidak terjadi tumpang tindih regulasi, untuk mengintegrasikan talenta nasional dengan kebutuhan spesifik industri, serta memperluas sandbox yang aman dan teruji tanpa mengorbankan kepercayaan dan stabilitas.
"Bukan hanya melek, orang muda harus menjadi arsitek keuangan digital. Akselerasi talenta dan teknologi bukan pilihan jika Indonesia ingin menjadi pusat revolusi kecerdasan artifisial di Asia Tenggara dan dunia," tegasnya.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menambahkan, penguasaan teknologi dan transformasi ekonomi nasional yang dikawal orang-orang muda bertalenta digital, akan membantu Indonesia mencapai kedaulatan digital dan penguasaan teknologi dalam mengelola sumber daya ekonomi nasional.
"Bonus demografi melahirkan generasi produktif untuk mentransformasikan RI menuju negara maju. Dalam hal ini, kedaulatan digital tidak berarti RI menutup diri, tetapi memiliki kapasitas menentukan arah pengembangan sendiri secara kompetitif. Kedaulatan ini menjadi sangat penting, dan di ranah digital, kita jangan sampai melupakannya," kata Misbakhun.

Politikus Partai Golkar itu mendorong orang muda untuk memaksimalkan ruang-ruang inovasi yang saat ini telah dipersiapkan pemerintah demi mempercepat ekosistem keuangan digital RI tetap berada di tangan bangsa sendiri.
"Kami telah membuka ruang agar semua masukan menjadi dasar kita mencari solusi terbaik. Ruang inovasi harus bisa mengakselerasi pertumbuhan rintisan, maka jangan pernah berhenti berinovasi. Kami mendukung karena dibutuhkan keberanian untuk membangun serta ketekunan untuk menyelesaikan apa yang dimulai," pungkas Misbakhun

Demi mengatasi hambatan-hambatan yang masih dihadapi para inovator muda dalam mengembangkan rintisan digital, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Hernawan Bekti Sasongko mengumumkan peluncuran OJK Fintech Startup Accelerator sebagai bentuk dukungan OJK terhadap percepatan pengembangan ekosistem keuangan digital di Tanah Air.
Ia mengatakan, inisiatif ini lahir dari persoalan nyata di lapangan. Banyak inovasi baik berhenti pada prototipe karena tidak menemukan jalur menuju kepatuhan regulasi dan kebutuhan industri dan pendanaan. "Akselerator ini menjadi jembatan yang mempertemukan startup dengan mitra strategis nasional, memastikan inovasi tumbuh dan dapat diadopsi industri," kata Hernawan.

Melalui fasilitasi akselerator tersebut, OJK berupaya memosisikan diri sebagai jembatan dalam menciptakan dialog terbuka antara kebutuhan industri dan aspirasi masyarakat. Di samping itu, penyempurnaan kebijakan terus dilakukan, termasuk penyempurnaan peta jalan inovasi aset keuangan digital 2026-2031.
Melalui forum serupa Digination 2026, OJK juga mendorong pertemuan inovator dan pendanaan mitra dan industri, serta menjadikan forum ini etalase karya anak bangsa, karena inovasi bukan lagi sektor yang kecil, tetapi bagian integral yang perlu terus diperkuat agar semakin tangguh, berintegritas, dan berkelanjutan.
"Inovasi butuh orkestrasi untuk tumbuh dan bernilai tambah. Kami mendukung orkestrasi menuju skala industri. Kolaborasi regulator dan pelaku bertujuan membangun nilai tambah ekonomi digital. Akselerasi dan inklusi harus berjalan bersama tata kelola dan integritas agar semakin aman dan memberikan manfaat," katanya.

Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa menambahkan, berkaca dari pengalaman mendampingi sandboxing berbagai perusahaan rintisan dan inovator muda selama 13 tahun terakhir, ia menegaskan bahwa satu-satunya jalan BUMN bergerak mencapai inovasi adalah mendekati inovator.
"Tidak mungkin BUMN kita berinvestasi pada R&D mandiri. Ketika BUMN kita minta melakukan inovasi, yang dapat kita lakukan adalah mendorong inkubasi dan sandboxing. Dalam hal ini, BUMN perlu menjadi early adopter agar startup inovatif kita dapat selamat melewati valley of death. BUMN perlu mengadopsi agar semua masalah yang dihadapi para inovator kita dapat diatasi," kata Sigit.
Sebelumnya, CEO Binar Academy Alamanda Shantika mengungkapkan, perkembangan kebutuhan talenta digital selama satu dasawarsa terakhir bersifat sangat eksponensial, dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Karena itu, dalam membangun talenta digital, kualifikasi teknis dan kompetensi profesional menjadi sama pentingnya dengan ketangguhan dan mindset bisnis.
"Software engineer itu memiliki keunikan tersendiri. Skill teknikal mereka sangat baik, tetapi mereka tidak memiliki mindset sebagai engineer semata, tetapi juga bisa bertanya, 'Pengembangan fitur ini nantinya akan membantu customer untuk apa?' Mereka memiliki entrepreneurial mindset yang setiap perusahaan pasti menginginkannya," ujar Alamanda.

Melalui inkubasi, Alamanda mengharapkan agar talenta digital Indonesia di masa depan dapat mereplikasi kemampuan talenta AI di Tiongkok saat ini. Ia mengungkapkan salah satu pengalamannya bekerja sama dengan seorang AI engineer di Tiongkok dalam pengembangan sebuah kurikulum pelatihan digital, yang mampu dikerjakan dengan sangat cepat dan efisien.
"Saya hubungi dia Rabu malam, Kamis pagi sudah dia kirim. Ternyata, sebelum tidur dia membuat coding yang memungkinkan AI bekerja menyusun kurikulum itu, dan pagi harinya tinggal dicek. Talenta digital Tiongkok sekarang memikirkan bukan hanya membangun produk, tetapi juga menciptakan mesin yang membuat produk itu bisa upscaling," kisahnya.
Menurut Alamanda, kemampuan talenta digital Indonesia dalam menggagas dan menemukan ceruk pasar saat ini tidak perlu diragukan. Sudah sangat banyak calon digital entrepreneur yang membawa berbagai macam ide, tetapi belum mampu memetakan langkah eksekusi yang memungkinkan produk mereka diterima di pasar dan memperoleh segmen.
"Saya sudah menginterviu banyak sekali calon-calon engineer yang punya produk bagus, tetapi penggunanya sedikit dan pangsa pasarnya tidak besar. Kemampuan memproyeksikan peluang bisnis dari produk inovasi startup ini tidak mudah dikuasai, karena tidak hanya harus dipelajari, tetapi harus dijalani," tegasnya.

Berbagi pandangan dengan Alamanda, CEO Ajaib Sekuritas Asia Anderson Sumarli menilai, terdapat dua jenis founder bisnis startup yang saat ini berkembang, yaitu passionate founder dan mercenary founder.
Bila passionate founder memulai dengan misi khusus untuk memperbaiki suatu keadaan dan memaksimalkan potensi, mercenary founder memulai dengan memikirkan kapan usaha rintisan tersebut menghasilkan laba.
"Untuk sebuah tech firm, perbedaan jenis kedua founder ini sangat penting karena resiliensi tech firm diuji saat tantangan itu naik dan turun. Bagi saya, ketangguhan itu yang menentukan sejauh mana kualifikasi digital talent akan membuat dia bertahan sebagai entrepreneur," ujar Anderson.