AI Masuk Era Eksekusi, Perusahaan Dituntut Siapkan Fondasi Bisnis
Perusahaan mulai dituntut tidak lagi berhenti pada tahap eksperimen dan pembuktian konsep, tetapi mampu mengintegrasikan AI ke dalam strategi bisnis dan menghasilkan nilai yang terukur.
•
6 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Acara Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026, Kamis (27/6/2026). Foto: Dokumentasi Telkom
Dalam Artikel Ini
Adopsi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) memasuki fase baru. Perusahaan mulai dituntut tidak lagi berhenti pada tahap eksperimen dan pembuktian konsep, tetapi mampu mengintegrasikan AI ke dalam strategi bisnis dan menghasilkan nilai yang terukur.
Perubahan tersebut sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap fondasi digital yang lebih kuat, mulai dari data, komputasi, pusat data (data center), konektivitas, hingga jaringan yang mampu menangani lonjakan trafik akibat penggunaan AI.
Chief Commercial Officer PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin) Kharisma mengatakan tantangan perusahaan saat ini bukan lagi menentukan perlu atau tidaknya mengadopsi AI, cloud, dan otomasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh fondasi pendukung siap digunakan dalam skala besar.
“Tantangan perusahaan saat ini bukan lagi sekadar menentukan apakah AI, cloud, dan otomasi perlu diadopsi, melainkan memastikan data, infrastruktur, keamanan, sumber daya manusia, dan mitra telah siap mendukung eksekusi yang andal dalam skala besar,” ujar Kharisma dalam forum ignitePRO pada rangkaian Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026, dikutip Kamis (27/6/2026).
Kebutuhan terhadap fondasi tersebut semakin penting seiring AI menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Dalam paparan CEO Telkom Group Dian Siswarini di BATIC 2026, belanja infrastruktur AI global diproyeksikan meningkat dari USD487 miliar pada 2026 menjadi lebih dari USD1 triliun pada 2030.
Lonjakan investasi tersebut turut membawa konsekuensi terhadap kebutuhan jaringan. Beban kerja AI membutuhkan bandwidth besar dengan latensi rendah, sementara distribusi data semakin intensif dan tersebar. Kondisi ini membuat ketahanan jaringan atau network resilience menjadi faktor penting dalam pengembangan infrastruktur digital.
AI Dorong Perubahan Infrastruktur
Dian mengungkapkan evolusi industri telekomunikasi ke depan tidak lagi semata-mata berkaitan dengan penambahan konektivitas. Infrastruktur digital harus mampu menghubungkan kecerdasan, infrastruktur, dan ekosistem.
Dalam konteks tersebut, Telkom Group menempatkan tiga prioritas, yakni pengembangan data center, penguatan backbone infrastruktur domestik, serta pengembangan kabel bawah laut atau subsea cable.
Perubahan kebutuhan tersebut juga mendorong Telkom Group menggeser fokus dari sekadar kepemilikan infrastruktur menuju optimalisasi infrastruktur, kolaborasi, dan penciptaan nilai.
NeutraDC, misalnya, tengah menyiapkan strategi infrastruktur untuk mendukung kebutuhan AI dengan menggabungkan data center berskala besar, konektivitas, kemitraan ekosistem, dan kemampuan komersial. Kapasitas yang ditargetkan mencapai sekitar 400 megawatt (MW) pada 2030.
Strategi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menyediakan kapasitas komputasi. NeutraDC juga menargetkan kemampuan menyediakan platform AI inference dengan latensi rendah serta menghubungkan berbagai mitra dalam ekosistem AI berdaulat.
Di sisi konektivitas, Telin juga mulai mengubah pendekatan pengembangan jaringan. Pertumbuhan trafik yang didorong AI membuat perusahaan perlu beralih dari ekspansi berdasarkan kabel atau link-based expansion menuju pengembangan koridor strategis yang terintegrasi.
Pendekatan tersebut mencakup pengembangan beberapa rute dalam koridor prioritas, konektivitas antarpoin kehadiran (point of presence/PoP), layanan Network-as-a-Service (NaaS), kapasitas bandwidth tinggi, fleksibilitas jaringan, dan latensi rendah.
Acara Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026, Kamis (27/6/2026). Foto: Dokumentasi Telkom
Dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur akibat AI, Telin juga mengembangkan jaringan kabel bawah laut menuju keragaman rute dan ekspansi regional. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai hub konektivitas Asia Pasifik.
Pengembangan rute tersebut mempertimbangkan kebutuhan AI, transaksi keuangan global, serta pertumbuhan industri augmented reality (AR) dan gim.
Perusahaan Dituntut Tak Sekadar Adopsi AI
Kebutuhan infrastruktur yang semakin besar pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari kesiapan perusahaan dalam mengimplementasikan AI. Transformasi tersebut menuntut perubahan cara kerja, bukan sekadar penambahan perangkat teknologi.
Direktur Enterprise & Business Service Telkom Veranita Yosephine mengatakan perusahaan tidak cukup hanya mengadopsi berbagai perangkat atau tools berbasis AI.
“Ambisi untuk mengadopsi AI memang besar dan ide-idenya pun sangat banyak. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membawa AI dari sekadar pembuktian konsep menjadi implementasi yang benar-benar terintegrasi dalam strategi bisnis dan menghasilkan dampak nyata,” kata Veranita.
Menurut dia, perusahaan perlu membangun operating model, kapabilitas manusia, tata kelola, serta ekosistem agar AI dapat terintegrasi dengan proses bisnis.
Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan memperbaiki pengalaman pelanggan. Perspektif pemerintah juga menempatkan kesiapan infrastruktur, talenta, keamanan, dan tata kelola sebagai bagian dari pembangunan ekosistem AI.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI Sonny Hendra Sudaryana menyebut tiga prioritas, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.
Terhubung mencakup perluasan konektivitas yang inklusif. Tumbuh diarahkan pada penguatan ekosistem digital, talenta, startup, UMKM, dan kapabilitas AI. Sementara Terjaga mencakup perlindungan data pribadi dan keamanan digital nasional.
Kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut juga tercermin dari perkembangan industri informasi dan komunikasi di dalam negeri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97% pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya peran ekonomi digital, termasuk ekspansi pusat data.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Izzudin Al Farras, mengatakan perkembangan industri informasi dan komunikasi berpotensi memperluas ekonomi digital sekaligus menarik investasi, khususnya pada bisnis pusat data.
Namun, ekspansi tersebut juga menghadirkan tantangan dari sisi tenaga kerja. Industri pusat data membutuhkan pekerja dengan keterampilan tinggi, sementara kompetensi tenaga kerja lokal belum tentu seluruhnya memenuhi standar yang dibutuhkan industri.
“Data center membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi. Nantinya, industri data center berpeluang merekrut tenaga kerja asing,” ujar Izzudin.
Izzudin mengatakan kesenjangan keterampilan tersebut perlu menjadi perhatian seiring bertambahnya kebutuhan tenaga ahli di industri pusat data. Apabila kebutuhan kompetensi tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri, operator pusat data memiliki opsi merekrut tenaga kerja asing yang diperbolehkan secara regulasi.
“Kalau itu tidak bisa dipenuhi oleh tenaga kerja lokal maka memang mau tidak mau data center yang beroperasi di Indonesia harus merekrut tenaga kerja asing. Secara regulasi diperbolehkan, tetapi kita sekali lagi harus menimbang berbagai dampak,” jelasnya.
Peluang Indonesia Jadi Hub AI ASEAN
Di tengah meningkatnya kebutuhan pusat data dan infrastruktur AI, Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam ekosistem digital kawasan ASEAN.
Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda menilai pembangunan data center menjadi salah satu kunci untuk mengoptimalkan pengembangan AI dan ekonomi digital Indonesia. Penguatan kapasitas infrastruktur tersebut semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi AI di kawasan ASEAN.
Menurut Nailul, data center merupakan infrastruktur yang menopang teknologi AI karena berfungsi menyimpan dan mengolah sumber daya data yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi tersebut. Sementara itu, chipset menjadi salah satu komponen penting dalam teknologi AI.
Semakin besar, cepat, dan kuat kapasitas data center, semakin besar pula ruang untuk mengembangkan ekonomi digital, termasuk AI. Kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut juga mengikuti peningkatan penggunaan AI dalam berbagai aktivitas.
Nailul mengatakan penggunaan AI terus berkembang karena teknologi tersebut dapat digunakan secara sederhana untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar. Pemanfaatannya juga mulai berkaitan dengan aktivitas perdagangan daring yang dilakukan pelaku usaha.
Pengembangan AI, lanjut dia, membutuhkan kapasitas data center yang besar karena volume data yang tersedia terus meningkat. Data tersebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari media massa hingga media sosial.
“Resource data semakin besar, semakin banyak pula pemanfaatannya. Ini menjadi kunci pengembangan ekonomi digital ini,” tutur Nailul.
Pembangunan data center di Indonesia saat ini berlangsung dalam skala cukup besar di sejumlah daerah. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya permintaan terhadap AI dan berbagai teknologi digital di kawasan ASEAN.
Nailul melihat kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam infrastruktur digital regional. Salah satu faktor pendukungnya adalah keterbatasan lahan di Singapura yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas perusahaan digital di kawasan.
Nailul berharap pemerintah mendorong lebih banyak perusahaan digital global menempatkan pusat operasional kawasan atau headquarters (HQ) di Indonesia. Dengan begitu, posisi Indonesia sebagai basis operasional perusahaan digital regional dapat semakin diperkuat.
Selain menarik perusahaan global, pembangunan data center juga perlu memperhatikan aspek lingkungan. Menurut Nailul, pengembangan infrastruktur digital harus mempertimbangkan penggunaan energi bersih serta menekan kebutuhan sumber daya air.
Pada akhirnya, masuknya AI ke fase eksekusi membuat kebutuhan terhadap infrastruktur digital tidak lagi berdiri sendiri. Perusahaan membutuhkan kombinasi data, komputasi, data center, konektivitas, keamanan, tata kelola, dan sumber daya manusia agar penerapan AI dapat berjalan dalam skala besar.
Bagi Indonesia, kebutuhan tersebut sekaligus membuka peluang untuk memperkuat posisi dalam ekosistem digital ASEAN. Namun, peluang tersebut akan bergantung pada kemampuan Indonesia membangun infrastruktur yang memadai, menyiapkan talenta, menarik perusahaan digital global, serta memastikan pertumbuhan pusat data tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.
Dukung Jurnalisme Solusi.Terangi Lebih Banyak Langkah Bersama SUAR
Di tengah banyaknya informasi, jurnalisme yang memberi arah hanya dapat terus hadir berkat dukungan pembaca. Bersama Anda, kami akan terus menghadirkan informasi yang terkurasi, mendalam, dan berorientasi pada solusi bagi penggerak dunia usaha.
Daftar untuk buletin SUAR Inspirasi Penggerak Dunia Usaha.
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.