Penyerapan Beras Bulog Tembus 3,4 Juta Ton, Perkuat Ketahanan Pangan

Serapan beras nasional oleh Bulog capai 84% bulan ini. Menjaga pendapatan petani dan mengurangi risiko kerugian

Penyerapan Beras Bulog Tembus 3,4 Juta Ton, Perkuat Ketahanan Pangan
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani Saat Meninjau Hasil Panen di Jawa Timur (18/7) (Humas Perum BULOG)
Daftar Isi

Perum BULOG kembali mencatatkan capaian strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Hingga 14 Juli 2026, BULOG berhasil menyerap 3,4 juta ton setara beras dari produksi dalam negeri atau sekitar 85 persen dari target nasional sebesar 4 juta ton. Capaian ini menjadi salah satu tonggak penting dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan.

Keberhasilan tersebut semakin istimewa karena lima wilayah kerja BULOG berhasil melampaui 100 persen target pengadaan, yakni Jawa Timur, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Bengkulu, dan Bali. Di antara seluruh wilayah, Jawa Timur menjadi kontributor terbesar secara nasional dengan realisasi pengadaan mencapai sekitar 887 ribu ton setara beras.

Petugas mengecek stok beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang tersimpan di Gudang Perum Bulog Kantor Cabang Serang, Ciruas, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (10/7/2026). ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto

Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, capaian tersebut merupakan bukti nyata sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan penyerapan hasil panen petani di berbagai sentra produksi nasional.

“Keberhasilan menyerap 3,4 juta ton setara beras merupakan hasil kerja keras seluruh insan BULOG bersama pemerintah, TNI, Polri, pemerintah daerah, petani, kelompok tani, serta para pelaku usaha penggilingan. Ini menunjukkan bahwa negara hadir memberikan kepastian pasar bagi hasil panen petani sekaligus memperkuat stok pangan nasional,” ujarnya dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (18/7/2026).

Investasi bagi ketahanan pangan nasional

Meski sejumlah wilayah telah menuntaskan target pengadaan, BULOG memastikan kegiatan penyerapan gabah dan beras petani masih terus berlangsung di seluruh wilayah produksi. Optimalisasi jaringan pengadaan, kesiapan gudang, sarana pengolahan, serta kolaborasi dengan seluruh mitra akan terus diperkuat hingga target nasional tercapai.

“Capaian ini bukan garis akhir. Seluruh jajaran BULOG akan terus bergerak memaksimalkan penyerapan hasil panen petani di seluruh Indonesia. Setiap ton beras yang kami serap merupakan investasi bagi ketahanan pangan nasional dan jaminan kesejahteraan petani,” tegasnya.

Ia mengatakan penguatan stok melalui penyerapan produksi dalam negeri memberikan ruang yang semakin besar bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

BULOG juga menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan dilaksanakan secara profesional, transparan, dan akuntabel dengan tetap mengedepankan standar kualitas komoditas yang diserap. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga kepercayaan petani sekaligus memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah tetap kuat.

“BULOG di seluruh Indonesia akan terus bergerak hingga target nasional tercapai. Pengadaan ini bukan sekadar memenuhi angka, tetapi merupakan wujud nyata komitmen negara dalam melindungi petani, memperkuat cadangan pangan nasional, dan memastikan swasembada pangan Indonesia terus berkelanjutan,” ujar dia.

Foto udara pekerja memanen padi menggunakan mesin combine harvester di area persawahan kawasan Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (9/7/2026).ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Stabilitas harga, untungkan petani dan masyarakat

Dihubungi terpisah, Pengamat Pertanian Khudori mengatakan penyerapan beras petani secara optimal menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan menyerap hasil panen dalam jumlah yang memadai, pemerintah dapat menjaga ketersediaan cadangan beras sekaligus memastikan pasokan pangan tetap aman di tengah potensi gangguan produksi maupun gejolak pasar.

Kebijakan ini juga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas harga beras sehingga tidak merugikan petani maupun masyarakat sebagai konsumen.

Di sisi lain, penyerapan beras memberikan kepastian pasar bagi petani sehingga mereka lebih termotivasi untuk meningkatkan produktivitas. 

“Jaminan pembelian hasil panen dengan harga yang layak mampu menjaga pendapatan petani dan mengurangi risiko kerugian akibat anjloknya harga saat musim panen raya. Kondisi tersebut diharapkan mendorong keberlanjutan usaha tani dan meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama sektor pangan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (19/7/2026).

Petani menjemur gabah saat panen di area persawahan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (16/7/2026). NTARA FOTO/Rahid Putra Laksana

Memberi ruang untuk intervensi pasar

Cadangan beras pemerintah yang diperkuat melalui penyerapan hasil panen juga memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pasar apabila terjadi lonjakan harga atau gangguan distribusi. Ketersediaan stok yang memadai memungkinkan pemerintah menyalurkan beras secara cepat ke berbagai daerah yang membutuhkan, termasuk untuk menghadapi kondisi darurat seperti bencana alam maupun dampak perubahan iklim yang berpotensi mengganggu produksi pangan.

Dengan demikian, penyerapan beras petani tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga menjadi pondasi penting dalam membangun sistem pangan nasional yang tangguh. 

“Sinergi antara pemerintah, Bulog, pemerintah daerah, dan para pelaku usaha diperlukan agar proses penyerapan berjalan efektif, menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen, serta memastikan ketahanan pangan Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan,” tambah dia.

Baca juga:

Harga Beras Dikepung Biaya Logistik, Penurunan Produksi, dan Ancaman Iklim
Harga beras baik jenis premium maupun medium di paruh pertama 2026 naik dalam kisaran 1-1,5%. Ketahanan pangan khususnya komoditas beras dihadapkan pada kenaikan biaya produksi dan ancaman iklim.

Menjaga kualitas dan penyedia beras premium

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pedagang Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso menuturkan, kerja sama antara Perum Bulog dan Persatuan Penggilingan Padi dan Pedagang Beras Indonesia (Perpadi) dalam memproduksi beras premium dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Melalui sinergi tersebut, beras yang tersimpan sebagai cadangan nasional dapat diolah menjadi produk berkualitas tinggi, yang mampu memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memperkuat stabilitas pasokan beras premium di dalam negeri.

Pada tahun ini, Bulog menargetkan produksi sebanyak 2 juta ton beras premium yang diolah dari CBP. Target tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan stok beras pemerintah sekaligus menjaga kualitas cadangan yang dimiliki.

Ilustrasi -Pekerja mengemas beras di penggilingan padi Desa Kajongan, Bojongsari, Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (29/4/2021). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran Bulog tidak hanya sebagai pengelola stok pangan nasional, tetapi juga sebagai pelaku yang mampu menghadirkan produk beras berkualitas bagi masyarakat.

Menurutnya, kerja sama antara Bulog dan Perpadi bukanlah hal baru karena selama ini kedua pihak telah menjalin kemitraan dalam pengadaan gabah maupun beras untuk kebutuhan Bulog. 

“Pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting untuk memastikan proses pengolahan CBP menjadi beras premium dapat berjalan secara efektif, efisien, dan sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan,” kata Sutarto kepada SUAR.

Kolaborasi positif Pemerintah-pengusaha

Ia menegaskan, dunia usaha dan pemerintah memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ketahanan pangan nasional. Ia mengakui pelaku usaha perberasan tidak dapat berkembang tanpa dukungan kebijakan pemerintah. Sementara pemerintah juga membutuhkan keterlibatan pengusaha dalam menjaga kelancaran rantai pasok, meningkatkan kualitas produksi, serta memperkuat distribusi beras kepada masyarakat.

Baca juga:

Bulog Siapkan Rp5 Triliun Bangun 100 Gudang, Perkuat Sistem Pangan Nasional
Pembangunan akan dilakukan di 92 kabupaten sebagai bagian dari penguatan sistem pasca panen nasional. Program tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi pengelolaan hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Perpadi pun menyatakan komitmen penuh untuk mendukung berbagai kebijakan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan. Melalui sinergi yang semakin erat antara pemerintah, Bulog, dan pelaku usaha penggilingan padi, diharapkan ekosistem perberasan nasional menjadi lebih kuat. "Juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga stabilitas harga, serta memastikan ketersediaan beras berkualitas bagi masyarakat secara berkelanjutan," ujar Sutarto.

Author

Ridho Sukra
Ridho Sukra

Wartawan ekonomi makro dan DPR

Baca selengkapnya