Harga Beras Dikepung Biaya Logistik, Penurunan Produksi, dan Ancaman Iklim

Harga beras baik jenis premium maupun medium di paruh pertama 2026 naik dalam kisaran 1-1,5%. Ketahanan pangan khususnya komoditas beras dihadapkan pada kenaikan biaya produksi dan ancaman iklim.

Harga Beras Dikepung Biaya Logistik, Penurunan Produksi, dan Ancaman Iklim

Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan RI menunjukkan sepanjang semester pertama tahun 2026 rata-rata harga nasional untuk beras jenis premium maupun medium terus menunjukkan tren naik. Bulan Juni menjadi titik tertinggi rerata harga dalam periode berjalan tersebut. Lonjakan harga yang terjadi tidak terpisahkan dari meningkatnya biaya logistik dan transportasi pasca-kenaikan BBM.

Beras jenis premium naik dari Rp 16.041,07 per kilogram pada Januari menjadi Rp 16.239,36 pada Juni atau meningkat 1,24%. Jika dihitung pasca-penyesuaian harga BBM dari bulan Mei (Rp 16.155,12) ke Juni, terjadi kenaikan sebesar 0,52% (bulanan). 

Di sisi lain, beras jenis medium juga naik dari rata-rata Rp 14.284,27 pada Januari ke Rp 14.412,25 pada Juni atau naik 0,90%. Secara bulanan beras medium meningkat 0,45% dibandingkan bulan Mei (Rp 14.347,10).

Tekanan harga di tingkat konsumen ini berkaitan dengan tren panen dan produksi padi domestik yang sedang mengalami fase musiman dengan penurunan yang cukup tajam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia menikmati puncak panen raya pada Maret 2026 dengan volume produksi mencapai 8,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dari luas panen 1,61 juta hektar. 

Namun, setelah melewati masa panen, kurva produksi merosot secara konsisten setiap bulannya. Pada bulan Juni 2026, produksi padi nasional diperkirakan menyusut hingga menyentuh angka 4,05 juta ton GKG dengan luas panen hanya sebesar 0,80 juta hektar. Penurunan produksi mencapai lebih dari 53% dari titik puncak panen. Di fase ini dikhawatirkan terjadi penurunan stok barang di pasaran yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga.

Situasi perberasan tahun ini dhadapkan pada anomali cuaca El Niño yang diprediksi mengancam ketahanan pangan nasional pada paruh kedua tahun 2026. Penurunan produksi dari April hingga Juni merupakan sinyal awal kerentanan. Kehadiran fenomena El Niño berpotensi memperpanjang masa paceklik akibat kekeringan ekstrem yang dapat menggagalkan musim tanam berikutnya. 

Dampak buruk dari El Niño bisa memicu kegagalan panen massal di berbagai wilayah lumbung padi utama Indonesia. Oleh karena itu, penurunan produksi musiman yang terjadi saat ini tidak boleh dipandang sebagai siklus tahunan biasa, melainkan harus diwaspadai sebagai titik kritis meningkatnya kerentanan kesediaan stok beras nasional menghadapi cuaca ekstrem ke depan.

Menghadapi konvergensi risiko antara lonjakan biaya logistik akibat faktor BBM, tren penurunan produksi bulanan, dan ancaman nyata El Niño, pemerintah perlu memitigasi krisis dan menjaga ketercukupan cadangan beras pemerintah. Melalui Perum BULOG pemerintah perlu memastikan pemenuhan cadangan beras pemerintah (CBP) tetap berada pada level aman guna melakukan intervensi pasar sewaktu-waktu. 

Langkah seperti optimalisasi penyerapan sisa panen Juli yang diproyeksikan sedikit meningkat ke 4,76 juta ton GKG, penguatan manajemen stok pergudangan regional, serta pelaksanaan operasi pasar secara berkala dilakukan untuk meredam gejolak harga pangan.

Author

Baca selengkapnya