Dengan mengadaptasi riset dari Purdue University, lembaga riset di Inggris Remitly memperkenalkan konsep "ongkos kebahagiaan" atau price of happiness, yaitu sebuah titik "kepuasan pendapatan". Penelitian tersebut melihat titik kepuasan pendapatan yang memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan seseorang. Dapat dikatakan, titik tersebut menjadi batas nominal finansial di mana uang berhenti membeli kebahagiaan tambahan.
Di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), ongkos kebahagiaan ini memilliki variasi yang sangat beragam, mencerminkan perbedaan biaya hidup dan standar ekonomi masing-masing negara. Berdasarkan data Remitly, Singapura menduduki posisi teratas dengan ongkos kebahagiaan tertinggi yang mencapai 54,5 ribu Dolar AS per tahun. Diikuti oleh Malaysia 31,44 ribu Dolar AS dan Kamboja 30,55 ribu Dolar AS.
Sementara itu, Indonesia berada di posisi menengah ke bawah dengan ongkos kebahagiaan sebesar 24,07 ribu Dolar AS, sedikit di atas Vietnam 23,49 ribu Dolar AS dan Laos yang memiliki angka terendah yakni 22,48 ribu Dolar AS.
Namun, mengetahui besaran ongkos kebahagiaan saja tidak cukup untuk melihat gambaran utuhnya. Gambaran akan lebih bermakna didapat ketika membandingkan angka tersebut dengan rata-rata pendapatan warga di negara masing-masing.
Metrik lainya juga turut dihadirkan, seperti mengukur seberapa dekat rata-rata bobot pendapatan (yang telah disesuaikan dengan inflasi dan paritas daya beli) dengan ongkos kebahagiaannya. Perbandingan ini juga menjadi indikator penting untuk mengetahui apakah kesejahteraan finansial di suatu negara benar-benar realistis untuk dicapai oleh masyarakat.
Pada negara dengan ongkos kebahagiaan tertinggi di ASEAN, yaitu Singapura, ditemukan bahwa meskipun memiliki ongkos kebahagiaan tertinggi (54,5 ribu Dolar AS), Singapura juga didukung oleh rata-rata pendapatan yang tinggi, yakni 49 ribu Dolar AS.
Dengan tingginya pendapatan, rata-rata warga Singapura mampu menutupi hingga 90% dari total ongkos kebahagiaan mereka. Angka ini tidak hanya menjadikan Singapura sebagai negara dengan rasio kebahagiaan paling terjangkau di ASEAN, tetapi juga menempatkannya di peringkat keempat secara global bersanding dengan negara-negara di Eropa. Hal ini membuktikan bahwa ekosistem ekonomi di Singapura berhasil menyelaraskan tingginya biaya hidup dengan tingginya daya beli warganya secara efektif.
Sebaliknya Indonesia. Walaupun ongkos kebahagiaan di Indonesia relatif lebih rendah yaitu 24,07 ribu Dolar AS, rata-rata pendapatan warga yang telah disesuaikan ternyata baru menyentuh angka 6,5 ribu Dolar AS. Sehingga, pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia saat ini hanya mampu menutupi sekitar 27% dari total ongkos kebahagiaan.
Kesenjangan yang lebar dalam melihat kemampuan suatu negara dalam mencapai ongkos kebahagiaan yang telah diteliti ini memberikan wawasan bahwa tantangan terbesar di Indonesia bukanlah tingginya biaya untuk bahagia. Namun, yang lebih mendasar adalah tingkat pendapatan yang masih belum proporsional. Bagi sebagian besar masyarakat, puncak kepuasan finansial ini masih menjadi persoalan, sama dengan masalah kesenjangan pendapatan.