Arah Mobilitas Pekerja Migran Risen Indonesia

Untuk mencari sumber penghidupan atau peluang karier yang lebih baik, tidak sedikit penduduk Indonesia yang terpaksa merantau, jauh dari daerah asalnya. BPS merekam pergerakan penduduk yang menjadi pekerja migran risen.

Arah Mobilitas Pekerja Migran Risen Indonesia

Mobilitas penduduk untuk bekerja merupakan salah satu indikator penting dalam melihat pergerakan pusat ekonomi di suatu negara. Untuk mencari penghidupan dan peluang karier yang lebih baik, tidak jarang penduduk harus mengambil keputusan besar untuk merantau dan berpindah dari daerah asalnya. 

Fenomena migrasi pekerja direkam secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Melalui survei tersebut, BPS memantau mobilitas pekerja, salah satunya migrasi risen yakni penduduk usia 15 tahun ke atas yang pada lima tahun sebelum pendataan tinggal di kabupaten/kota yang berbeda dengan tempat tinggalnya saat ini. 

Mengamati tren pergerakan dari tahun 2016 hingga 2025, mobilitas pekerja migran risen di Indonesia menunjukkan fluktuasi yang dinamis. Puncak mobilitas tertinggi selama satu dekade terakhir terjadi pada tahun 2019, di mana jumlah pekerja migran mencapai angka 5,8 juta orang atau dengan porsi 4,5%. 

Namun, tren yang mencerminkan tingginya optimisme ekonomi ini harus terhenti. Dampak pandemi COVID-19 pada rentang 2020-2021 membatasi pergerakan fisik dan memicu perlambatan ekonomi, sehingga jumlah pekerja migran anjlok ke titik terendahnya di tahun 2021 dengan hanya 3,3 juta orang (2,5%). Penurunan tajam tersebut merepresentasikan lumpuhnya banyak sektor penyerap tenaga kerja yang memaksa para perantau bertahan atau bahkan kembali ke kampung halaman.

Memasuki fase transisi pasca-pandemi, geliat mobilitas tenaga kerja kembali merangkak naik. Sepanjang tahun 2022 hingga 2024, grafik menunjukkan tren pemulihan hingga mencapai 4,5 juta orang (3,1%) pada tahun 2024. Sayangnya, tren ini kembali berhenti. 

Pada tahun 2025, terjadi penurunan jumlah pekerja migran risen menjadi 3,4 juta orang, dengan persentase yang merosot ke level terendah baru, yakni 2,3%. Kondisi ini dipicu oleh beberapa hal, mulai dari faktor meratanya penciptaan lapangan kerja di daerah-daerah asal (desentralisasi ekonomi), masifnya tren bekerja jarak jauh (remote working), atau justru menyusutnya daya serap tenaga kerja di kota-kota besar.

Jika dilihat lebih dalam mengenai ke lapangan usaha apa para perantau ini berlabuh pada tahun 2025, sektor jasa tampil sebagai primadona utama para pekerja migran risen. Lebih dari enam puluh persen pekerja migran risen terserap di sektor ini, dengan rincian 40,8% bekerja di bidang jasa berorientasi pasar dan 20,5% di jasa tidak berorientasi pasar. 

Dominasi sektor jasa yang dilakoni para pekerja risen jauh meninggalkan sektor tradisional seperti pertanian (16,7%) dan industri pengolahan (14,2%), apalagi konstruksi (5,8%). Fakta ini mengonfirmasi bahwa kota atau daerah tujuan migrasi masa kini digerakkan oleh ekonomi tersier, di mana perdagangan, layanan konsumen, dan jasa profesional menjadi magnet kuat bagi para pencari kerja antardaerah.

Dari segi kompetensi, profil pekerja migran risen di tahun 2025 didominasi oleh kelompok pekerja dengan tingkat keterampilan menengah (middle-skill), yang menguasai 62,7% dari total perantau. Kelompok ini meliputi tenaga tata usaha, pekerja jasa dan penjualan, hingga operator dan perakit mesin. Sementara itu, kelompok pekerja kasar tingkat bawah hanya menyerap 18,7%, disusul oleh kelompok manajerial dan profesional tingkat tinggi di angka 17,3%. 

Konfigurasi tersebut menggambarkan bahwa mobilitas tenaga kerja Indonesia saat ini bertumpu pada tenaga teknis dan administratif tingkat madya. Yang mana secara keseluruhan, meski volume orang yang bermigrasi mengecil di tahun 2025, mereka yang memutuskan untuk berpindah adalah angkatan kerja spesifik yang siap menjadi roda penggerak utama di sektor jasa tingkat menengah.

Author

Baca selengkapnya