Dorong Swasembada Kedelai, Kementan Riset Benih, FKS Group Bangun Tempe Park
Pemerintah dorong hilirisasi bidang pertanian khususnya tanaman kedelai. FKS bikin pusat penelitian dan edukasi tempe.
Pemerintah dorong hilirisasi bidang pertanian khususnya tanaman kedelai. FKS bikin pusat penelitian dan edukasi tempe.
Upaya menekan ketergantungan terhadap impor sekaligus mendorong terwujudnya swasembada pangan terus dilakukan melalui penguatan sektor pangan strategis, salah satunya kedelai. Melihat pentingnya komoditas tersebut bagi industri pangan nasional, FKS Group melalui PT FKS Multi Agro Tbk membangun Tempe Park sebagai pusat penelitian, pengembangan, dan edutainment tempe bertaraf internasional.
Fasilitas ini dibangun di atas lahan seluas 5,8 hektare di Bogor, Jawa Barat, dengan proyek yang mulai dikerjakan sejak awal 2021 dan direncanakan akan dibuka pada akhir tahun 2026 atau awal 2027.
Tempe Park dihadirkan sebagai bagian dari upaya mendorong pengembangan ekosistem kedelai dan tempe secara lebih terintegrasi. Keberadaan fasilitas ini diharapkan tidak hanya memperkuat aspek penelitian dan inovasi, tetapi juga meningkatkan kualitas bahan baku serta produk olahan kedelai di dalam negeri.
Dengan pengembangan teknologi yang tepat, industri tempe nasional diharapkan mampu menghasilkan produk yang memiliki kualitas lebih baik, higienis, bernilai tambah, dan semakin kompetitif.
Corporate Communications and Sustainability FKS Group, Beatrice mengatakan salah satu fungsi utama Tempe Park adalah sebagai pusat riset dan inovasi. Melalui fasilitas tersebut, pengembangan teknologi dan kualitas produksi kedelai serta tempe dilakukan secara berkelanjutan.
“Penelitian diarahkan untuk menghasilkan proses produksi yang lebih efisien sekaligus meningkatkan cita rasa, kualitas, dan standar kebersihan produk. Langkah ini penting mengingat tempe merupakan salah satu pangan berbasis kedelai yang memiliki konsumsi tinggi di Indonesia,” ujar dia.

Selain menjadi pusat penelitian, Tempe Park juga memiliki fungsi sebagai training center bagi para perajin tempe. Fasilitas ini dapat menjadi ruang edukasi, pelatihan, dan pembinaan bagi perajin tempe lokal agar mampu meningkatkan standar produksi.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam membangun industri tempe yang lebih modern, terutama dalam aspek higienitas, efisiensi produksi, pengolahan bahan baku, hingga pengembangan produk.
Penguatan kapasitas perajin juga diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih luas terhadap ekosistem usaha tempe di Indonesia. Para pelaku usaha tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknik produksi, tetapi juga dapat memahami pentingnya menjaga konsistensi mutu dan keamanan pangan.
Dengan demikian, industri tempe yang selama ini banyak ditopang oleh usaha kecil dan perajin tradisional dapat berkembang tanpa kehilangan karakter dan nilai budaya yang melekat pada produk tersebut.
Tempe Park juga mengusung konsep edutainment atau wisata edukasi dengan memadukan unsur rekreasi dan pembelajaran. Masyarakat dapat memperoleh pengetahuan mengenai sejarah tempe, proses pembuatannya, kandungan gizi, hingga posisi tempe sebagai salah satu warisan budaya pangan Indonesia.
Konsep tersebut diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap tempe sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal kepada generasi muda dan masyarakat internasional.
Melalui Tempe Park, FKS Group melalui PT FKS Multi Agro Tbk berupaya membangun ekosistem yang menghubungkan riset, inovasi, peningkatan kapasitas perajin, serta edukasi masyarakat. Inisiatif tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat industri kedelai dan tempe nasional di tengah kebutuhan mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.
“Dalam jangka panjang, pengembangan teknologi, kualitas produksi, sumber daya manusia, dan apresiasi terhadap pangan lokal diharapkan dapat mendukung terwujudnya ketahanan serta kemandirian pangan Indonesia,” ungkap dia.
Soal pengembangan kedelai ini, sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menggandeng Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam mengembangkan benih kedelai unggul berproduktivitas tinggi guna mempercepat swasembada kedelai dan mengurangi ketergantungan impor komoditas tersebut.
"Tidak mungkin pemerintah bekerja sendiri. Kampus harus menjadi pusat inovasi, TNI dan Polri membantu pendampingan di lapangan, sementara petani menjadi pelaku utama. Kalau semua bergerak bersama, saya optimistis swasembada kedelai bisa kita wujudkan," ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (12/8/2026).
Dengan kolaborasi riset bersama Unesa, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan lahirnya varietas kedelai yang mampu menghasilkan 5-6 ton per hektare sehingga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.

Amran menegaskan, pemerintah siap mendukung penuh pengembangan benih unggul yang dihasilkan perguruan tinggi. Bahkan, apabila hasil penelitian mampu menghasilkan varietas dengan produktivitas tinggi dan terbukti di lapangan, Kementerian Pertanian siap memfasilitasi pengembangannya secara lebih luas.
"Kalau benihnya bagus dan hasilnya terbukti, kita akan dorong untuk dikembangkan secara nasional. Yang kita cari sekarang adalah inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas petani," ujar Mentan.
Mentan juga menekankan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Negeri Surabaya Dwi Cahyo Kartiko menyatakan, Unesa siap mengembangkan benih kedelai unggul dengan produktivitas mencapai 5-6 ton per hektare guna mendukung swasembada nasional.
Unesa juga menyatakan kesiapan mengawal implementasi benih unggul tersebut apabila hasil penelitian terbukti berhasil sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh petani di berbagai daerah.
"Kami menyampaikan kepada Pak Menteri apabila benih unggul itu berhasil dikembangkan, kami siap mengawal implementasinya," kata Dwi.
Target produktivitas 5-6 ton per hektare pada lahan seluas 56 hektare diharapkan menjadi model pengembangan kedelai nasional yang dapat direplikasi pada wilayah lain.
Dwi menjelaskan Unesa sebelumnya telah aktif mendukung berbagai program ketahanan pangan termasuk mengawal pengembangan jagung bersama Polda Jawa Timur selama tiga bulan dengan hasil positif.
Meski Fakultas Ketahanan Pangan Unesa baru berdiri pada 2025 kampus tersebut dinilai mampu memberikan pendampingan berkualitas sehingga dipercaya mendukung berbagai program strategis ketahanan pangan nasional.
Pengamat Pertanian Khudori mengatakan pengembangan swasembada kedelai dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas dan luas tanam kedelai di dalam negeri. Pemerintah bersama pelaku usaha perlu mendorong penggunaan benih unggul, penerapan teknologi pertanian modern, perbaikan irigasi, serta pemberian pendampingan kepada petani.
Selain itu, insentif yang menarik bagi petani juga diperlukan agar budidaya kedelai memiliki tingkat keuntungan yang kompetitif dibandingkan komoditas pangan lainnya.
Upaya tersebut juga perlu dibarengi dengan penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir. Kepastian penyerapan hasil panen dengan harga yang menguntungkan petani dapat menjadi stimulus untuk meningkatkan produksi kedelai nasional.
“Di sisi lain, riset dan inovasi perlu terus dikembangkan untuk menghasilkan varietas kedelai yang sesuai dengan kondisi lahan Indonesia, memiliki produktivitas tinggi, serta memenuhi kebutuhan industri pangan seperti tempe, tahu, dan produk olahan lainnya,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (12/8/2026).

Pengembangan swasembada kedelai juga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani, industri, lembaga riset, dan sektor keuangan. Industri dapat berperan melalui kemitraan dengan petani, penyediaan teknologi, pendampingan budidaya, hingga jaminan pasar.
Dengan ekosistem yang terintegrasi dan kebijakan yang konsisten, peningkatan produksi kedelai domestik tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.