Jerman Sasar Proyek Energi Terbarukan, Relasi Bilateral Diperkuat

Jerman Sasar Proyek Energi Terbarukan, Relasi Bilateral Diperkuat

Perusahaan Jerman mulai menyasar prospek pengembangan energi terbarukan RI. Penguatan relasi ekonomi bilateral menjadi langkah kecil menyongsong berlakunya I-EU CEPA.

Jerman Sasar Proyek Energi Terbarukan, Relasi Bilateral Diperkuat
Dalam Artikel Ini

Perusahaan-perusahaan Jerman mulai menyasar prospek industri pengembangan energi terbarukan di Indonesia melalui kerja sama rantai pasok energi dan semikonduktor. Penguatan relasi ekonomi bilateral dan penjajakan delegasi bisnis kini menjadi langkah kecil Indonesia menyongsong berlakunya kerja sama I-EU CEPA efektif awal tahun 2027.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, kerja sama ekonomi bilateral RI-Jerman kini mengerucut pada eksekusi proyek energi terbarukan dan rantai pasok semikonduktor. Hal ini menjadi salah satu langkah persiapan RI menyambut berlakunya kerja sama Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) pada 1 Januari 2027 mendatang.

“Dengan lebih dari 250 perusahaan Jerman sudah berbisnis di Indonesia dan nilai investasi kumulatif mencapai USD 1,23 miliar, Jerman merupakan mitra strategis pengembangan rantai pasok semikonduktor, di samping pendidikan vokasi, karena Jerman kuat di sana,” tutur Airlangga usai pertemuan bilateral dengan Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Sebagai salah satu mitra RI dalam kemitraan Just Energy Transition Partnership senilai USD 21,4 miliar, Airlangga menegaskan Kemenko Perekonomian akan mengawal upaya meningkatkan proyek-proyek energi hijau, termasuk untuk mendapatkan akses pembiayaan bagi proyek-proyek berkelanjutan lain. 

“Kalau kita ketahui juga bahwa Jerman mempunyai keunggulan di bidang riset seterapan, precision manufacturing, dan standard industry. Inilah yang kita ingin kerjasamakan dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, seperti tadi juga sudah kami bicarakan dengan Menteri Perdagangan Republik Federal Jerman,” imbuhnya.

Berbagi pandangan dengan Airlangga, Menteri Radovan menegaskan kerja sama Indonesia Jerman dalam platform JETP akan disertai upaya penguatan peran perusahaan-perusahaan Jerman sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

“Kami memiliki kemitraan yang luar biasa ini untuk mendukung Indonesia dan negara-negara lain membuka jalan bagi pengembangan energi terbarukan. Tentu saja, kami ingin menciptakan situasi yang saling menguntungkan bagi semua pihak. Jadi, kami tentu saja ingin meraih kemenangan dalam memerangi perubahan iklim,” ujarnya.

Membenarkan penjelasan Airlangga, Radovan menegaskan Jerman ingin memperkuat pelatihan vokasional, termasuk rencana pertukaran mahasiswa vokasi.

“Kami sedang mencari cara untuk memperluas pelatihan kejuruan di Indonesia dan Jerman. Salah satu peluangnya adalah bagi pelajar Indonesia belajar bahasa Jerman, sekaligus mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan Jerman,” cetusnya.

Keinginan Jerman menindaklanjuti investasi dalam pengembangan energi terbarukan tidak terlepas dari target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang akan berakhir dalam waktu kurang dari empat tahun, sementara masih banyak tujuan yang belum tercapai secara optimal. 

“Kami memandang Indonesia sebagai mitra yang sangat berkomitmen dalam mewujudkan SDGs melalui pendekatan multilateral. Salah satu bidang adalah energi terbarukan, di mana perusahaan-perusahaan Jerman memiliki pengalaman dan teknologi. Kami juga akan melibatkan akademisi, sektor publik, dan swasta, demi mewujudkan solusi pembangunan berkelanjutan di masa depan,” pungkas Radovan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan memberikan pernyataan pers usai pertemuan bilateral tertutup di Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: SUAR/Chris Wibisana

Persiapkan dunia usaha

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Didit Ratam mengharapkan kerja sama ekonomi bilateral Indonesia-Jerman akan mengundang lebih banyak investasi untuk mewujudkan ekosistem rantai pasok yang mendukung ekspor RI ke negeri raksasa ekonomi Benua Biru itu.

“Produsen-produsen di Indonesia butuh jam kerja. Semakin banyak perusahaan Jerman yang berpusat di Indonesia, dengan sendirinya ini menciptakan lapangan kerja bagi Indonesia, sekaligus merintis pasar produk Jerman di Indonesia maupun untuk Asia Tenggara,” tutur Didit.

Selain energi terbarukan dan produk kimia turunan, Didit mengungkapkan sektor yang potensial dikembangkan Jerman di Indonesia adalah sektor otomotif yang memiliki pasar relatif kecil. Untuk itu, Didit menilai kerja sama ekonomi bilateral akan memfasilitasi kepentingan Jerman memperbesar pangsa pasar otomotifnya di Indonesia.

Meski demikian, Didit menggarisbawahi, concern utama yang harus dijamin Kemenko Perekonomian bagi investor luar adalah kepastian hukum dan regulasi yang harus dikawal. Setelah I-EU CEPA mulai diberlakukan efektif pada awal 2027, seluruh implementasi diharapkan dapat segera terlaksana dengan peraturan turunan yang telah siap.

“Pertemuan-pertemuan seperti ini membuka jalan pengusaha Jerman melihat benefit apa yang bisa ditarik, juga bagi pengusaha Indonesia ketika I-EU CEPA berlaku. Jadi ketika sudah efektif berlaku, pengusaha Indonesia tidak perlu memulai dari nol karena telah memperoleh sosialisasi bertahap mengenai manfaat I-EU CEPA,” kata Didit.

Deputy Chief Executive Officer Unternehmer Baden-Württemberg e.V. Tim Wenniges menambahkan, sejak 1970-an, perusahaan besar Jerman dibangun di atas dasar efisiensi dalam pengertian produksi yang tepat waktu, presisi hingga jam, menit, dan detik.

"Sejak perang dagang berkecamuk pada 2018, kami harus mengganti metode produksi yang tidak lagi memaknai efisiensi sebagai presisi, melainkan sambil berjaga-jaga. Ketangguhan untuk diversifikasi, membawa akses pasar dan pengadaan sumber daya ke segmen yang lebih luas, pada akhirnya, menjadi bagian dari efisiensi baru itu," kisah Wenniges.

Bagi industri Jerman, komoditas paling rawan yang terimbas perang dagang adalah mineral tanah jarang dan mesin-mesin elektronik, khususnya baterai lithium yang sangat dibutuhkan. Namun, langkah untuk memperluas pasar ke Asia Tenggara, sebagai salah satu pilihan diversifikasi, tidak dapat dipilih secara serta-merta.

"Di banyak negara Asia Tenggara, Tiongkok berperan sangat dominan, dan diversifikasi sekalipun terikat rantai pasok yang sangat dekat dengan Tiongkok. Akibatnya, Jerman harus siap menghadapi konsekuensi dari peralihan rantai pasok yang sangat memengaruhi hubungan dagang kami dengan AS saat ini," ujarnya.

Kemitraan dengan Indonesia, menurut Wenniges, menjadi penting sebagai kiat industri Jerman memahami pentingnya resiliensi bagi industri di tengah ketidakpastian. Sadar penuh bahwa kapasitas industri skala global milik Tiongkok berperan sangat besar di Asia Tenggara, Indonesia menjadi jembatan mengintegrasikan rantai pasok Eropa dengan rantai pasok Asia Tenggara.

"Dengan resiliensi masuk dalam ruang lingkup efisiensi industri, memang ada harga lebih yang harus dibayar industri untuk mendapatkan profit, khususnya ketika kemitraan dengan rantai pasok Tiongkok menjadi pilihan yang tidak terhindarkan," pungkas Wenniges.

Benteng perdagangan tertib aturan

Sebelumnya, Mantan Duta Besar Indonesia untuk World Trade Organization Iman Pambagyo menyatakan, di saat Amerika Serikat memicu erosi kepercayaan global terhadap institusi multilateral seperti WTO, perjanjian I-EU CEPA yang berlandaskan norma-norma WTO menjadi bukti komitmen Indonesia terhadap perniagaan berlandas aturan (rules-based trade).

"I-EU CEPA membuka peluang seluas-luasnya untuk diversifikasi, peningkatan kapasitas industri, dan penyelarasan aransemen regulasi untuk mencapai prediktabilitas dan proporsionalitas perdagangan. Dengan tunduk pada I-EU CEPA, Indonesia harus belajar dan mencapai kriteria produk sesuai standar tinggi konsumen Eropa," tegas Iman.

Baca juga:

Potensi Meningkatkan Daya Saing Pekerja Indonesia di Jerman
Kunjungan bilateral Presiden Jerman ke Indonesia pada pertengahan Juni 2026 membuka peluang baru bagi ketenagakerjaan Indonesia. Pemerintah ingin pekerja migran Indonesia di Jerman lebih banyak yang bekerja sebagai tenaga ahli di sektor teknologi tinggi ketimbang sebagai pekerja domestik.

Memperkuat kemitraan dengan Jerman, menurut Iman, menjadi pintu gerbang Indonesia menangguk manfaat besar dari I-EU CEPA. Pasalnya, selain teknologi dan standar mutu industri yang dapat meningkatkan kapasitas industri tanah air, Jerman adalah mitra yang dapat membina hubungan dagang secara konstruktif dalam koridor peraturan yang ketat.

"Berbeda dengan Prancis yang melancarkan restriksi minyak sawit, Jerman tidak pernah melakukan itu terhadap Indonesia, sehingga lebih konstruktif. Hanya, mereka juga ingin regulasi yang kondusif dan tidak berganti secara mendadak. I-EU CEPA menjadi acuan agar deregulasi yang kita lakukan terarah sesuai kebutuhan mitra," jelas Iman.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Internasional

Rekomendasi SUAR