Cucu Lepas Stres Retno Marsudi, Musik Budaya Tantowi Yahya, dan Kemeriahan SUAR Forum 2026
•
6 Menit Baca
Oleh:
Selamat berakhir pekan.
Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Siapa tak kenal Retno Marsudi? Namanya melekat dalam memimpin diplomasi Indonesia di dunia internasional. Mantan Menteri Luar Negeri RI yang kini mengemban amanat sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB Bidang Air ini dikenal tangguh saat berjibaku dengan rumitnya persoalan dunia.
Dibalik ketegasannya, Retno ternyata punya cara tersendiri untuk meretas lelah dan menjaga jiwanya tetap tenang. Di tengah kesibukannya, kehadiran empat cucu laki-laki dari dua putra kandungnya menjadi penawar stres paling ampuh.
“Salah satu kunci saya untuk melepas stress itu, adalah cucu saya. Pada saat saya capek, pada saat saya stress biasanya saya minta bocil-bocil untuk main dan berkunjung ke rumah,” kata dia dalam sesi wawancara khusus dengan SUAR di Jakarta, Selasa (28/8).

Memanfaatkan musik sebagai jembatan diplomasi budaya, musisi sekaligus mantan Dubes RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, menggelar tur Eropa bertajuk 'Strings of Equator: A Musical Journey To Indonesia' pada 24 Agustus hingga 7 September 2026. Bersama Thomshell Band, rangkaian pertunjukan yang diselenggarakan di Norwegia, Spanyol, dan Belanda ini memadukan lagu-lagu Indonesia, lagu daerah, dan karya internasional dengan narasi kekayaan tradisi Nusantara.
"Dengan pendekatan tersebut, penonton tidak hanya menikmati musik, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai kekayaan tradisi, seni, serta keberagaman masyarakat Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Merauke,” ujar Tantowi saat Press Conference di Music Lounge, Plaza Senayan, Jakarta (19/8).

SUAR, sebuah media dengan pendekatan jurnalisme solusi, menyelenggarakan ajang SUAR Forum 2026 bertema “Navigating Challenges, Creating Opportunity Together” yang digelar di di Marketing Office BSD City, Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (KEK ETKI) Banten, Kabupaten Tangerang, Jumat (21/08/2026).
Acara ini merupakan momen perayaan satu tahun SUAR berdiri sekaligus sebagai sarana untuk mempertemukan jajaran pemerintah, pelaku usaha, investor, hingga akademisi guna merumuskan strategi penguatan iklim investasi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global yang ditandai oleh tekanan geopolitik, perang dagang, dan juga perubahan arah investasi. Kolaborasi ini dinilai menjadi semakin penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
SUAR Forum 2026 juga berhasil terselenggara dengan baik berkat dukungan dari Sinarmas, Plataran Catering Services, Triputra Agro Persada, Bank BCA, Pupuk Indonesia Holding Company, Astra International, Bank BTN, Wilmar, dan juga Amartha.




Pagelaran Sabang Merauke 2026: Pagelaran ini akan kembali diselenggarakan pada 22-23 Agustus di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno Jakarta dengan mengusung tema "Hikayat Srikandi Nusantara". Tema tersebut diusung untuk merepresentasikan wanita-wanita tangguh dengan dibalut dalam cerita rakyat Indonesia dari berbagai daerah. Pagelaran Sabang Merauke 2026 akan menghadirkan penampilan spektakuler dengan melibatkan 1.700 pelaku seni Indonesia.
LaLaLa Fest 2026 : Panggung musik Tanah Air siap dimeriahkan oleh gelaran LaLaLa Fest 2026 yang berlangsung selama dua hari pada 22–23 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta. Mengusung semangat eksplorasi budaya dan komitmen memperkuat industri musik nasional maupun internasional sejak digagas pada 2016, festival tahun ini menghadirkan deretan musisi papan atas dunia hingga Indonesia, di antaranya Rex Orange County, The Flaming Lips, Kodaline, Steve Lacy, HONNE, hingga Two Door Cinema Club.

Organisasi bisnis yang masih ramping, biasanya memilih format kekeluargaan dalam hubungan antara personalnya. Ketika tugas harus diselesaikan bersama, maka penugasan diberikan kepada yang paling longgar untuk bisa mengerjakan, dan tidak terlalu kaku. Maksudnya, satu orang bisa mengerjakan hal-hal di luar tugas utama dia.
Langkah ini memang efektif, tugas cepat tertangani, dan semuanya happy. Namun dibalik semangat kekeluargaan itu, kerap tersembunyi mekanisme manipulasi psikologis yang bekerja secara halus, namun destruktif namanya guilt-tripping, pemerasan emosional berbasis rasa bersalah.
Guilt-tripping merupakan upaya membuat seseorang merasa bersalah agar ia melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin atau tidak berkewajiban ia lakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, guilt-tripping dapat muncul dalam hubungan keluarga, pertemanan, organisasi, hingga lingkungan kerja.

Saudaraku, waktu melipat dirinya dalam gulungan rutinitas—detik-detik berlalu seperti desir angin yang tak sempat disapa. Kita melangkah, terus melangkah, tanpa jeda untuk menengadah ke langit yang menyimpan rahasia karunia, atau bersimpuh pada bumi yang sabar, setia menumbuhkan rezeki tanpa keluh.
Di hadapan kita: sepiring nasi, segelas air, sepotong roti, dan buah-buahan yang tersaji dalam keheningan pagi. Semua tampak hadir begitu saja, seolah ia tumbuh dari meja makan itu sendiri—bukan dari rangkaian tangan dan alam yang bersinergi dengan cinta dan kerja.
Kita sering lupa bahwa yang sederhana pun adalah mukjizat; bahwa yang tampak biasa, adalah kasih yang bekerja dalam diam.
