Jejak Pengabdian Retno Marsudi Mewarnai Diplomasi Indonesia

Jejak Pengabdian Retno Marsudi Mewarnai Diplomasi Indonesia

Pesan utama saya kepada seluruh perempuan adalah ketika Anda telah mencapai posisi sebagai pengambil keputusan, bukalah pintu selebar-lebarnya bagi perempuan lain untuk ikut berpartisipasi dan berkontribusi. 

Jejak Pengabdian Retno Marsudi Mewarnai Diplomasi Indonesia
Dalam Artikel Ini

Ia dikenal sebagai diplomat tegas. Sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama Republik Indonesia, kini Retno Marsudi memberi warna baru bagi seni hubungan internasional Indonesia. 

Selama menjabat sebagai Menteri Luar Negeri 2014-2024, Retno dikenal sebagai orang yang selalu terdepan khususnya dalam hal perlindungan WNI, diplomasi ekonomi, perdamaian dunia dan penguatan peran Indonesia di kawasan global. Berbagai capaian strategis berhasil diraih, termasuk diantaranya diplomasi bilateral terkait konflik Rohingya di Myanmar pada 2017, perlindungan WNI di luar negeri, serta sikap vokal menentang aneksasi Israel terhadap Palestina di forum OKI dan Majelis Umum PBB.

Retno  dianugerahi penghargaan Agent of Change dari PBB pada 2017 untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, serta Penghargaan Perlindungan Buruh Migran dari Serikat Buruh Migran Indonesia. Beliau juga sukses membawa Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB serta memelopori strategi ‘blusukan’ dalam diplomasi internasional.

Kini, cakupan tanggung jawab Retno meluas untuk masyarakat global demi memastikan hak atas air bersih dan sanitasi, sebuah tanggung jawab yang tak kalah besar bagi dunia.

Atas jejaknya di dunia diplomasi yang menginspirasi tersebut, SUAR memilih Retno Marsudi sebagai salah satu penerima apresiasi SUAR dalam kategori Policy Maker. 

Bersama dengan redaksi SUAR, Sutta Dharmasaputra, Tria Dianti, Agung Mahesa dan pewarta video Ahmad Afandi di kantornya, Selasa, 28 Juli 2026 lalu, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bidang Air, Retno Marsudi membagikan perjalanan emasnya menapaki karir, menavigasi diplomasi dan konflik geopolitik serta meneladani nilai merit system, kemanusiaan sebagai seorang perempuan. Berikut petikannya: 

Sobat SUAR yang mayoritas policy maker, kemudian bisnis leader, ingin tahu keaktifan Ibu saat ini sebenarnya apa aja Ibu? 

Menjelang akhir masa tugas saya sebagai Menteri Luar Negeri pada 20 Oktober 2024 lalu, sebenarnya sudah ada komunikasi yang intensif (back and forth) dengan pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, sikap saya saat itu sangat tegas: saya baru bisa memberikan jawaban kepastian setelah seluruh tanggung jawab dan kewajiban saya kepada negara di Indonesia selesai sepenuhnya. PBB memahami hal tersebut dan bersedia menunggu.

Sebelum saya mengiyakan tawaran tersebut, saya terlebih dahulu sowan dan melapor kepada Presiden Joko Widodo saat itu, serta berbicara langsung dengan Pak Prabowo Subianto sebagai Presiden Terpilih pasca-Pemilu. Bagi saya, melapor adalah bentuk kesantunan diplomatik dan kesantunan politik yang wajib dijunjung tinggi. Saya sampaikan bahwa ada tawaran tugas internasional ini, dan beliau berdua sangat mendukung. Beliau menyatakan go ahead, karena ini tawaran bagus agar perwakilan Indonesia hadir serta berkontribusi aktif di tingkat kepemimpinan dunia.

Maka, per 1 November 2024—sekitar sepuluh hari setelah saya menyelesaikan masa jabatan Menlu—saya resmi menjabat sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air. Ini merupakan penunjukan Utusan Khusus Sekjen PBB bidang air yang pertama dalam sejarah, berdasarkan mandat dari seluruh negara anggota sejak Konferensi Air PBB 2023. Saya merasa terhormat menjadi orang Indonesia pertama yang dipercaya memegang tanggung jawab global ini.

Dengan peran ini artinya kegiatan Ibu semakin sibuk?

Ya, sangat sibuk dalam konteks dulu cakupan kerja saya memang menjangkau dunia internasional, tetapi muara tanggung jawab utamanya adalah kepada negara dan rakyat Indonesia. Sekarang, tanggung jawab saya membentang kepada seluruh negara di dunia. Air itu menyangkut prinsip mendasar: water is life. Ini bukan sekadar isu teknis, melainkan isu kemanusiaan (humanity). Karena cakupannya lintas negara, porsi perjalanan dinas (traveling) ke berbagai belahan dunia menjadi sangat intensif.

Retno Marsudi bersama Presiden Tajikistan, Emomali Rahmon di Dunshanbe Water Conference di Tajikistan, (24/6/2026). (Foto: Communication Office of the UN Special Envoy on Water)

Kepemimpinan

Ibu mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama dan satu-satunya yang menjabat Menlu selama dua periode berturut-turut. Bagaimana bisa mencapai sejauh ini dalam hal kepemimpinan?

Perjalanan ini harus ditarik dari realitas dunia diplomasi. Ketika saya pertama kali bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada tahun 1986, mayoritas orang menganggap diplomasi sebagai "dunia laki-laki". Angkatan rekrutmen saya saat itu perempuannya hanya 10 persen. Seiring perjalanan waktu, beberapa sejawat perempuan memilih jalur lain karena berbagai alasan pribadi.

Sejak awal, saya menyadari betul bahwa saya hidup dan berproses di lingkungan yang didominasi laki-laki. Pertanyaan mendasar yang muncul saat itu bukanlah bagaimana saya bisa melesat tinggi, melainkan: whether I will survive or not. Saya memikirkan hal itu karena saya datang dari daerah, seorang perempuan, dan saat itu saya adalah nobody, bukan siapa-siapa. Saya berasal dari Semarang, tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana, tanpa ada garis keturunan diplomat sama sekali. Bahkan almarhumah ibu saya saat itu tidak membayangkan apa sebenarnya profesi seorang diplomat.

Namun, Kemlu memiliki lingkungan kerja yang sangat terbuka dan membiasakan pekerjanya berinteraksi dengan dunia luar. Lingkungan tersebut sangat responsif dan memperlakukan pria maupun wanita secara setara (equal).

Titik balik terpenting terjadi pada tahun 2001, ketika Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda melakukan reformasi birokrasi total. Pak Hassan menegaskan bahwa sejak saat itu, seluruh sistem pembinaan karier di Kemlu sepenuhnya berbasis pada merit system (sistem merit). Kebijakan tersebut membuka pintu promosi bagi para diplomat muda potensial berdasarkan kapabilitas, bukan senioritas atau latar belakang. Alhamdulillah, saya dan Pak Marty Natalegawa termasuk generasi muda yang mendapatkan kepercayaan itu. Pada usia 38 tahun, saya dipromosikan menjabat sebagai Direktur, sebuah capaian yang tergolong tidak biasa (extraordinary) bagi seorang ASN pada masa itu.

Utusan Sekretaris Jenderal PBB Bidang Air, Retno Marsudi di kantornya Jakarta, Selasa (28/7/2026). (Tria Dianti/SUAR)

Apa filosofi kepemimpinan yang membentuk perjalanan karier Ibu sejauh ini?

Yang pertama, dalam memimpin saya berusaha untuk menjaga sistem merit yang ada, agar semua orang regardless, somebody or nobody, memiliki kesempatan yang sama. Buka kesempatannya sama untuk masing-masing compete secara fair.

Yang kedua, memperlakukan tim sebagai mitra kerja (partner) karena dengan sistem yang bagus itu, akhirnya kita bisa membentuk satu teamwork yang solid. Saya tidak akan dapat bekerja, tidak akan dapat menghasilkan apapun kalau tidak didukung oleh teamwork yang solid. Saya tidak pernah menyebut tim saya sebagai anak buah. Karena kalau anak buah, itu ada yang di atas, ada yang di bawah.

Saya selalu menyebut mereka adalah you are my team, you are my partner. Jadi disitulah kemudian ownership is there, dan disitulah kemudian kita sama-sama bekerja untuk menjalankan misi.

Tim yang baik akan terbentuk tergantung juga konduktornya. Dan Ibu berarti konduktor yang hebat?

Saya meyakini bahwa seorang pemimpin tidak akan pernah bisa menghasilkan pencapaian besar tanpa dukungan tim yang solid. Saya bukan konduktor hebat, tetapi saya beruntung memiliki tim yang luar biasa.

Dalam mekanisme pengambilan keputusan di Kemlu, terutama saat menghadapi isu yang sangat sensitif dan strategis, saya selalu mengumpulkan para pejabat Eselon 1 dan Eselon 2. Suasananya sangat cair dan tidak kaku, ada yang duduk di lantai, ada yang berdiri, sambil minum kopi bersama. Di ruangan itulah kami berdebat sangat keras

Kita debat sedebat-debatnya. Dan mereka memang harus memiliki keberanian untuk mengatakan “Bu, tidak bisa seperti itu.” Jadi, saya sering berargumen tim saya. Namun, ada aturan main yang disepakati bersama: begitu perdebatan selesai dan keputusan resmi diambil, seluruh jajaran harus berdiri solid satu suara untuk mengawal dan melangkah menjalankan keputusan tersebut ke depan. Kadang-kadang kupingnya kita panas, debatnya panjang. Tapi saya menikmatinya. 

Namun, ada aturan main yang disepakati bersama. Begitu perdebatan selesai dan keputusan resmi diambil, seluruh jajaran harus berdiri solid satu suara untuk mengawal dan melangkah menjalankan keputusan tersebut ke depan.

Utusan Sekretaris Jenderal Bidang Air, Retno Marsudi dalam acara High Level Political Forum 2026 di New York, AS. (Foto side event during HLPF 2026)

Menghadapi tantangan terbesar

Banyak orang memang mengatakan, memang Covid salah satu tantangan terberat ibu ya, yang berhasil ibu lewati waktu itu. Bisa diceritakan gak, Bu? Apa yang menjadi titik paling berat saat itu?

Tugas paling membingungkan sekaligus terberat datang pada akhir Februari atau awal Maret 2020 saat saya dipanggil oleh Presiden. Saat kasus pandemi mulai merebak, Presiden memberikan instruksi tegas untuk menggunakan seluruh mesin diplomasi Indonesia untuk mengamankan persediaan vaksin bagi rakyat.

Usai keluar dari ruang Presiden, perasaan saya sangat kecamuk dalam istilah Jawa disebut deleg-deleg (tertegun dan tercengang). Saya seorang diplomat, tetapi tiba-tiba mendapatkan mandat besar untuk berburu vaksin di tengah situasi di mana seluruh dunia berebut persediaan. Itu adalah dunia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Namun, begitu tiba di kantor, saya langsung memanggil tim terkait dan menegaskan satu prinsip bahwa “failure is no option” tidak ada pilihan untuk gagal. Tugas ini menyangkut keselamatan 270–280 juta rakyat Indonesia.

Kami bergerak cepat membentuk tim khusus diplomasi kesehatan di Kemlu. Para diplomat belajar sangat cepat hingga pemahaman teknis mereka soal pengembangan dan akses vaksin mendekati level para ahli. Kami berkolaborasi dengan Menkes dan Menteri BUMN, mengoptimalkan jaringan diplomasi internasional. Jadi setelah itu kita mencoba mengkontak semuanya, dan kebetulan saya memiliki komunikasi yang bagus dengan Dirjen WHO, beliau itu dulu Menteri Luar Negeri Ethiopia.

Jadi saya sudah berteman lama dengan dia. Saya bisa mendapatkan informasi dari beliau langsung, kontak langsung, where we are, dunia kondisinya seperti apa, dan sebagainya, informasinya lengkap, dan ada satu tim yang tadi saya sebutkan, ada satu tim di Kemlu yang khusus fokus di vaksin.

Kedua, adalah bagaimana menyusun roadmap untuk memulai tugas yang diberikan Presiden. Di saat yang sama, tantangan lain yang tak kalah berat adalah mengevaluasi dan memulangkan ribuan WNI dari berbagai belahan dunia di tengah situasi pemutusan akses penerbangan global (lockdown).

Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bidang Air, Retno Marsudi saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi SUAR, Sutta Dharmasaputra di Jakarta, (28/7/2026). (Foto: Tria Dianti / SUAR)

Pencapaian perhelatan G20

Keberhasilan mengawal Presidensi G20 Indonesia pada 2022 mendapat apresiasi internasional, terutama karena mampu menghadirkan para pimpinan negara di tengah dinamika perang Rusia-Ukraina. Bisa diceritakan prosesnya?

Indonesia sebenarnya akan menjadi Presiden G20 pada 2023. Namun demikian terdapat proposal dari India untuk melakukan swap, yaitu Indonesia menjadi presiden G20 di tahun 2022 dan India tahun 2023. Atas permintaan India tersebut, Indonesia menyetujui untuk menjadi Presiden G20 di tahun 2022.

Ekspektasi awal kami, fokus G20 2022 adalah pemulihan ekonomi pasca pandemi. Namun, pecahnya perang di Ukraina pada Februari 2022 membuat situasi diplomasi mendadak panas. Tekanan politik dari negara-negara besar sangat tinggi, bahkan ada kekhawatiran G20 akan terboikot atau pecah.

Di titik kritis itu, Indonesia diuntungkan oleh dua hal: kepercayaan (trust) dan pertemanan (friendship). Trust adalah fondasi utama hubungan internasional. Selain itu, kami bekerja sebagai tim yang sangat solid dengan menurunkan diplomat-diplomat senior untuk menggawangi proses negosiasi.

Saya tidak akan pernah lupa momen menjelang KTT di Bali. Hingga malam menjelang pembukaan, draf kesepakatan masih buntu. Ketika saya laporkan perkembangan ini, Presiden Jokowi tetap tenang dan memberi arahan: "Tidak apa-apa, kita coba lagi."

Akhirnya, persis menjelang Maghrib, beberapa jam sebelum KTT dibuka,paragraf deklarasi yang kami usulkan berhasil disepakati oleh negara-negara kunci via telepon. Di tengah keraguan publik global, Indonesia membuktikan sebaliknya. Kepercayaan dan jaringan pertemanan internasional yang dibangun bertahun-tahun menjadi kunci keberhasilan tersebut.

Melihat tekanan sebesar itu, bagaimana Anda dan tim memperhitungkan potensi keberhasilan serta risiko kegagalan selama negosiasi?

Dalam setiap negosiasi, kami selalu menyusun skenario batas atas (high call) hingga batas bawah (fallback position). Proses penyesuaian opsi-opsi tersebut sangat menyita waktu dan tenaga.

Namun, faktor yang sangat membantu dan menyelamatkan kita adalah pertemanan. Rekam jejak hubungan baik selama delapan tahun menjabat sebagai Menteri Luar Negeri membuat komunikasi lebih terbuka. Bahkan, beberapa Menlu secara terbuka menyampaikan bahwa “Keketuaan Indonesia dan Retno tidak boleh gagal.”

Jadi sekali lagi itu mengajarkan kita bahwa pertemanan networking itu demikian pentingnya. Dan at the end itulah yang menyelamatkan kita. Be a trusted partner. Be a trusted friend for them. Karena kalau kita menjadi partner dan mitra yang tidak dipercaya, di titik kritis seperti itu, saya gak bisa bayangkan hidup kita akan seperti apa. 

Saat itu, selama 8 tahun sebagai Menteri Luar Negeri temannya sudah lumayan banyak. Jadi justru masing-masing di antara para menteri luar negeri itu, dan saya cukup terharu. Yang akhirnya mereka bilang, “gak boleh gagal.

"Indonesia gak boleh gagal. Retno gak boleh gagal. 

Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bidang Air, Retno Marsudi ditemui di kantornya, Jakarta, (28/7/2026). (Foto: Ahmad Afandi / SUAR)

Babak baru di PBB

Bagaimana Ibu memandang tantangan tata kelola air global dalam peran baru sebagai Utusan Khusus PBB? Seperti apa pergulatan sebagai leader?

Ketika pertama kali menerima penawaran ini, saya mendalami kembali substansinya. Air adalah sumber kehidupan utama yang tidak bisa digantikan oleh teknologi atau energi terbarukan apapun. Jika energi fosil bisa disubstitusi dengan renewable energy, maka air tidak memiliki pengganti.

Persoalan air saat ini telah bergeser menjadi krisis kemanusiaan dan ancaman stabilitas perdamaian global. Kita menyaksikan krisis air bersih, kekeringan ekstrim, polusi sungai, hingga konflik perebutan sumber daya air terjadi di berbagai belahan dunia.

Fokus tugas saya dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) Nomor 6, yaitu memastikan akses air bersih dan sanitasi yang aman dan berkelanjutan untuk semua (Water and Sanitation for All). Saat ini kami sedang bekerja keras mempersiapkan UN Water Conference 2026 yang akan diselenggarakan di Abu Dhabi.

Tantangan terbesarnya adalah mempercepat (akselerasi) implementasi target SDG 6. Di tengah lanskap hubungan internasional yang makin terfragmentasi dan cenderung bersifat transaksional, penanganan isu air tidak boleh pendekatan transaksional. Air harus disikapi melalui lensa kerja sama global (cooperation) dan kemanusiaan.

Pengalaman diplomasi selama sepuluh tahun menjadi modal penting. Ketika memulai tugas di PBB, saya tidak perlu memulainya dari nol atau mengetuk pintu memperkenalkan diri. Dukungan dan kepercayaan dari mayoritas negara anggota PBB langsung diberikan sejak hari pertama saya bertugas.

Peran Indonesia sendiri Bu dalam konteks tugas Ibu sekarang?

Indonesia itu adalah salah satu pemain utama. Kalau kita lihat 2024 bulan Mei itu kan kita menjadi tuan rumah dari World Water Forum. Forum itu kan melibatkan stakeholders yang lainnya. Tetapi kita ada di sana. Peran kita sangat penting sekali.

Sehingga mungkin itu sebenarnya salah satu pertimbangan dari PBB untuk menarik salah satu orang Indonesia untuk menjadi utusan khususnya sekjen PBB. Tetapi kita memiliki rekam jejak yang cukup baik untuk bidang air. Dan penunjukan saya, kerja saya sampai sekarang tidak terlepas juga dari dukungan pemerintah Indonesia.

Berdiskusi dengan Advokat Khusus Kesehatan Keuangan PBB, H.M. Ratu Maxima masalah terkait kesehatan keuangan dan agenda air global di Den Haag, Belanda (14/4/2025). (Foto: Instagram)

Emansipasi dan Pemberdayaan Perempuan

Sebagai tokoh kepemimpinan perempuan Indonesia di tingkat dunia, apa gagasan penting yang ingin Ibu bagikan bagi penguatan peran perempuan?

Jadi perempuan itu, banyak orang melihat perempuan dalam konteks minoritas ya. Minoritas dalam hal mungkin jumlahnya sedikit. Misalnya di dalam dunia, seperti dunia saya, diplomasi, dari segi jumlah memang menjadi minor.

Tetapi juga yang lebih penting adalah bukan hanya jumlah, tapi peran. Peran yang diberikan atau peran yang dimainkan menjadi lebih kecil dibanding dengan laki-laki. Nah, disitulah sebenarnya kita mencoba untuk memperbaiki situasi.

Dalam artian berilah kesempatan yang sama kepada perempuan untuk berkontribusi. Karena sebenarnya semua data itu menunjukkan jika perempuan diberi tanggung jawab yang sama dengan laki-laki, maka hasilnya ternyata akan lebih baik.

Akan lebih baik ya?

Ya. Lebih baik, Dalam dunia diplomasi dan perundingan perdamaian misalnya, proses perdamaian yang melibatkan mediator atau negosiator perempuan sejak awal terbukti menghasilkan kesepakatan damai yang lebih berdaya tahan (long-lasting).

Atas dasar itulah, pada tahun 2020 saya menginisiasi pembentukan Southeast Asia Women Peace Mediators (Jaringan Mediator dan Negosiator Perempuan Se-Asia Tenggara). Tujuan utamanya adalah mendorong kontribusi nyata perempuan dalam setiap proses penyelesaian konflik kawasan.

Pesan utama saya kepada seluruh perempuan adalah ketika Anda telah mencapai posisi sebagai pengambil keputusan, bukalah pintu selebar-lebarnya bagi perempuan lain untuk ikut berpartisipasi dan berkontribusi. 

Perempuan hadir bukan untuk menggantikan peran laki-laki, melainkan sebagai mitra sejajar (equal partners). Dengan kemitraan yang setara dan harmonis, kita bisa membangun tata dunia yang jauh lebih baik. Mengenai keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga, tantangan itu tentu ada. Kuncinya terletak pada bagaimana kita mengelola tantangan tersebut melalui komunikasi yang jujur, komitmen, dan kerja sama tim yang baik di rumah.

Sebagai penutup, apa pesan kunci Ibu bagi para pembuat kebijakan (policy makers) dan pemimpin bisnis (business leaders) di Indonesia?

Saat ini kita hidup dalam era yang cenderung dipengaruhi oleh pendekatan transaksional dalam banyak hal. Namun, pesan saya kepada para pembuat kebijakan dan pelaku bisnis dalam era apapun, hold your value and principle, pegang teguh nilai-nilai integritas dan prinsip moral Anda.

Sebuah pencapaian yang dibangun di atas fondasi nilai dan prinsip akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih kokoh, bermakna, dan berdampak jangka panjang (long-lasting). Boleh saja bertransaksi dalam koridor profesional, tetapi jangan pernah sekali-kali kehilangan nilai kepemimpinan dan kemanusiaan.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Wawancara Eksklusif

Rekomendasi SUAR