Tahun ini jadi periode yang cukup menantang bagi pelaku industri air minum dalam kemasan (AMDK). Dari eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengganggu pasokan bahan baku hulu industri AMDK. Dari dalam negeri, hadirnya El Nino Godzilla hingga penerapan regulasi SNI Wajib jadi tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku industri AMDK.
Lantas bagaimana pelaku industri AMDK ini menghadapi dan mengantisipasi beragam tantangan ini?
Suar.id berkesempatan untuk mewawancarai Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) Karyanto Wibowo di kantor sekretariatnya di Menara Kuningan, Jakarta, Kamis (9/7/2026). Selama kurang lebih 1 jam, Karyanto dengan pembawaan yang lugas namun tetap santai ini memberi keyakinan bahwa industri AMDK ini dapat adaptif agar bisa terus bertumbuh dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan. Berikut petikan wawancaranya.
Seperti diketahui Amdatara ini asosiasi pengusaha yang terbilang masih baru. Boleh dijelaskan apa itu Amdatara? Apa saja tujuan pendiriannya?
Amdatara atau bisa juga disebut Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Indonesia adalah asosiasi resmi yang menaungi pelaku industri AMDK di Indonesia. Amdatara hadir sebagai wadah kolaborasi untuk memperkuat industri AMDK nasional di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan air minum yang aman, berkualitas, dan higienis. Kami mendeklarasikan berdirinya organisasi kami pada Desember 2025. Adapun ada empat perusahaan yang menjadi inisiator pendirian yaitu Aqua, Al Masoem, Pristine, dan Crystalline. Tetapi memang para inisiator ini juga mewakili banyak perusahaan. Saat ini anggota kami ada 115 perusahaan dengan lebih dari 250 merek AMDK yang menjadi bagian dari Amdatara. Kami ingin industri ini terus tumbuh dan berkembang dengan bersama-sama menjawab tantangan yang ada.
Bagaimana profil industri AMDK saat ini? Seberapa besar industri ini?
Kalau menurut data yang dirilis Kementerian Perindustrian saat ini ada lebih dari 700 perusahaan. Tapi menurut data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) Kementerian Perindustrian jumlahnya malah lebih banyak yakni sekitar 2.500 perusahaan. Bahkan kalau data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merek AMDK ini lebih dari 8.000 entitas. Saya kira BPOM ini akurat datanya karena merek AMDK itu kan harus mengajukan izin. Jadi jumlah perusahaan AMDK ini cukup banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Di Amdatara sendiri kami punya 8 Dewan Pengurus Daerah (DPD) mulai dari Sumatera Utara sampai Sulawesi Utara. Industri AMDK ini memang unik karena karakteristik produk ini sangat sensitif terhadap biaya, terutama logistiknya. Makanya fasilitas produksi dan distribusinya harus dekat dengan konsumen. Itulah kenapa AMDK ini tersebar di seluruh Indonesia. Di industri AMDK ini banyak sekali merek-merek lokal yang sangat kuat di daerah. Kehadiran mereka di daerah itu sangat kuat dan sudah menguasai pasar tertentu. Misalnya merek Al Masoem di Jawa Barat. Jadi pula merek lokal di tiap Kabupaten. Ada juga merek nasional di sana.
Berapa kapasitas produksi industri AMDK saat ini?
Kapasitas produksi nasional industri AMDK saat ini 46 miliar liter per tahun. Itu berasal dari sekitar 700 perusahaan. Kalau kita melihat sejarah, produksi awal AMDK pada 1973 ya, saat itu Pak Tirto Utomo dari Aqua itu memproduksi 5 juta liter per tahun. Jadi bisa dibayangkan pertumbuhannya luar biasa karena saat ini sudah tumbuh berkali lipat menjadi 46 miliar liter per tahun. Kami berharap industri ini bisa bertumbuh 4%-6% per tahun secara konsisten.
Seberapa banyak serapan tenaga kerja di industri AMDK?
Jumlah tenaga kerja yang terserap secara langsung di industri ini sekitar 46.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan kalau dihitung termasuk juga tenaga kerja rantai pasok hingga peritel itu jumlahnya bisa mencapai sekitar 2 juta orang. Revenue kami per tahun pada kisaran Rp25 triliun – Rp 30 triliun dari semua perusahaan, dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar itu. Sangat masif.
Ini menggambarkan betapa besarnya keberadaan industri ini ya pak terhadap perekonomian nasional. Namun, dalam catatan saya, ada beberapa tantangan yang menghadang industri ini ya pak. Salah satunya tentang usulan penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) terhadap bahan baku plastik, khususnya Polietilena Tereftalat (PET), Polypropylene (PP) Copolymer, dan produk turunannya diusulkan sebesar 15%-20%. Seberapa besar dampaknya terhadap industri AMDK?
Ya kalau dilihat bahan baku kemasan adalah plastik. Itu mengandung komponen biaya yang cukup besar. Saat ini sumber pasokan bahan baku itu bisa kami peroleh baik dari pabrikan lokal dan impor. Amdatara mendukung prinsip keadilan perdagangan internasional. Praktik dumping yang merugikan industri dalam negeri harus dicegah. Namun, kami menolak penerapan kebijakan yang justru membebani industri hilir dan mengancam daya saing ribuan pelaku usaha AMDK yang mayoritas merupakan UMKM. Sebanyak 70% pengusaha AMDK itu berskala UMKM. Seperti saya sampaikan sebelumnya tadi bahwa kebanyakan pengusaha AMDK itu adalah pengusaha lokal dengan skala pasarnya terbatas hanya di kawasan lokal. Pengenaan BMAD dan BMTP itu memberi tambahan biaya dan mengurangi daya saing kami, apalagi di tengah kondisi ekonomi saat yang membutuhkan situasi perusahaan harus bisa kompetitif secara biaya. Jika ini akhirnya diimplementasikan maka impact-nya akan ke biaya dan competitiveness produk kita, yang dikhawatirkan bisa membebani konsumen juga. Saat ini struktur biaya produksi itu sekitar 40%-50% berasal dari kemasan, lalu 20%-30% dari biaya logistik, lalu sisanya dari proses produksi air, tenaga kerja, dan lainnya. Produk AMDK ini price sensitive, jadi kami berupaya meningkatkan efisiensi produksi dan logistik seoptimal mungkin.
Masih seputar bahan baku pak, seperti diketahui pada bagian hulu industri ini bahan baku kemasan berasal dari nafta. Sebagian besar nafta ini masih harus diimpor. Beberapa waktu terakhir kita tahu terjadi ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai produsen minyak dan nafta. Selain itu juga nilai tukar rupiah juga tengah alami tren depresiasi. Bagaimana industri AMDK menghadapi situasi ini?
Ya memang saat kemarin terjadi perang di Timur Tengah itu kan luar biasa dampaknya. Karena kan sebagian besar nafta kita masih diimpor dari sana. Beberapa industri petrokimia dalam negeri yang memproduksi bahan baku kemasan ini pun kesulitan mendapatkan nafta. Mereka bahkan sudah sempat umumkan force majeur karena kondisi perang yang tak terduga ini. Jadi mereka tidak bisa produksi. Jadi tantangannya bukan hanya sekadar harganya naik, tapi memang barangnya tidak ada. Kabar baiknya, kondisi ini bisa kami katakan gradually membaik. Ya memang masih ada sedikit banyak ketegangan Amerika Serikat dan Iran masih saling serang, tapi secara umum perlahan membaik dan makin kondusif. Kami prediksi kondisi akan makin baik minimal 6 bulan ke depan.

Salah satu isu lainnya di industri AMDK ini adalah soal penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk industri ini mulai Oktober 2026. Dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 62 tahun 2024 tentang Pemberlakuan SNI Untuk AMDK Secara Wajib, pemerintah meminta pelaku industri segera melakukan penyesuaian, termasuk penguatan teknologi produksi, sistem pengendalian mutu, serta kepatuhan terhadap ketentuan standardisasi. Regulasi SNI wajib ini mencakup lima kategori produk yaitu air mineral, air demineral, air mineral alami, air minum embun, dan air minum pH tinggi. Bagaimana dinamika persiapan penerapan SNI itu di industri AMDK? Apakah sudah cukup siap atau masih jadi tantangan?
Memang ada beberapa perusahaan yang sebenarnya sudah siap mengimplementasikan SNI sejak dulu. Jadi tidak ada perubahan yang signifikan. Terutama perusahaan yang besar. Nah untuk perusahaan yang berskala UMKM, mau tidak mau mereka harus akselerasi kapasitas usaha mereka untuk bisa penuhi SNI. Jadi itu pekerjaan rumah yang harus dipenuhi sebelum tanggal wajib berlakunya Oktober 2026. Kami sampaikan ke pemerintah agar fasilitas uji agar lebih mendekat ke industri UMKM, terutama di daerah sehingga tidak memberatkan secara biaya. Selain itu mereka juga harus mendapatkan pendampingan jadi memastikan mereka mengetahui persyaratan-persyaratan dalam SNI itu. Kami juga sebagai asosiasi ikut membantu sosialisasi dan mendampingi teman-teman di daerah agar bisa terus meningkatkan kapasitas mereka.
Baca juga:
Tantangan lainnya untuk industri AMDK ini salah satunya adalah ramalan dari BMKG bahwa tahun ini Indonesia akan dilanda El Nino Godzila atau musim kering kemarau panjang. Bagaimana industri AMDK menghadapi ini?
Ya memang kita harus bersiap harus selalu bersiap hadapi kemarau panjang. Karena kemarau panjang ini akan berdampak besar ke banyak sektor industri seperti pertanian hingga AMDK. Karena kan kami menggunakan air sebagai bahan baku. Kami mengambil air langsung dari sumber. Kalau kita lihat siklus air itu akan terisi oleh hujan, sementara prediksi akan sedikit hujan karena El Nino Godzilla, Maka otomatis air yang terisi menjadi berkurang. Tapi yang mau saya sampaikan adalah industri ini kan highly regulated mulai dari upstream sampai downstream. Itu juga termasuk regulasi soal bagaimana kami mengambil air. Jadi proses pengambilan air itu pun harus menggunakan kaedah-kaedah yang sudah ditetapkan aturan. Ini juga sudah dengan assesment semisal soal daya dukung air, daerah aliran sungai, dan lain-lain. Nah terlepas dari itu industri AMDK sendiri juga sudah sejak lama membangun kesadaran melakukan inisiatif konservasi lingkungan. Seperti Aqua misalnya, itu sudah melakukan konservasi lingkungan sekitar. Salah satu tujuannya untuk meningkatkan serapan air ke dalam tanah. Kami juga lakukan konservasi teknis seperti membuat bendungan/dam agar tidak erosi dan tidak terjadi runoff sehingga air masuk ke dalam tanah. Dengan beragam inisiatif konservasi yang kami lakukan sejak tahun-tahun sebelumnya ini, sehingga kini dalam hadapi kemarau maka paling tidak simpanan air dalam tanah itu mencukupi. Kami dari asosiasi juga terus mendorong para anggota di daerah juga terus melakukan konservasi untuk mengantisipasi hal ini dan memastikan keberlanjutan usaha ke depan. Sehingga persoalan kekeringan ataupun perubahan iklim ini bisa terus kami antisipasi.
Terlepas dari berbagai isu dan tantangan, tadi di awal kita sudah membicarakan betapa besarnya keberadaan industri AMDK ini. Bagaimana estimasi pertumbuhan dan potensi pasar ke depan?
Ya tadi juga sudah sempat saya sampaikan kami menargetkan pertumbuhan 4%-6% tahun ini. Terlepas dari berbagai tantangan yang tadi kita sudah bicarakan, sampai saat ini kami masih optimistis dengan pertumbuhan ini. Karena air minum ini adalah kebutuhan esensial setiap manusia. Jadi walaupun terjadi perlambatan konsumsi rumah tangga, belanja masyarakat terhadap kebutuhan esensial ini masih terjaga. Paling hanya terjadi perubahan saja dari konsumsi air minum kemasan harga premium menjadi yang lebih terjangkau. Masyarakat tidak menghentikan konsumsi air minum karena ini merupakan kebutuhan esensial manusia.
Apa saja inovasi yang sudah dilakukan dan akan terus dilakukan industri AMDK?
Untuk inovasi, bisa saya katakan, kami melihat tren ke depan itu ada 2 hal. Yang pertama dari sisi convenience atau kemudahan bagi konsumen. Lalu yang kedua terkait lingkungan. Mengenai convenience, salah satu inovasi yang dilakukan industri AMDK adalah memproduksi galon sekali pakai. Ini salah satu upaya menjawab permintaan konsumen terkait kemudahan, jadi praktis saja tidak perlu membawa galon untuk isi ulang dan sebagainya. Meskipun harus diakui ada dampaknya ya karena ini terkait plastik, ada kaitannya dengan sampah, perubahan iklim, dan lain-lain. Itu ada risiko di sana. Itu satu hal. Namun, pada hal lainnya kami juga terus berinovasi soal lingkungan. Beberapa perusahaan sudah memperkenalkan kemasan yang 100% bisa didaur ulang. Ada pula yang di daur ulang 25%-50%. Itu salah satu inovasi yang kita lihat sangat bagus ya. Jadi lebih ramah lingkungan.
Baca juga wawancara eksklusif Suar.id lainnya


