Memberdayakan Desa Wisata Bersama Atourin

Platform manajemen pengunjung obyek wisata Atourin menawarkan langkah signifikan bagi pengelola pariwisata di daerah remote. Potensi pengembangan membentang. 

Memberdayakan Desa Wisata Bersama Atourin
CEO & Founder Atourin Reza Permadi Halim (Suar/id/Afandi)
Daftar Isi

Merealisasikan mimpi ideal, ternyata bukan hal yang sulit. Setidaknya itu yang dibuktikan Reza Permadi Halim. Pria yang juga pemilik gelar Master of Sustainable Tourism dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) ini, pernah punya cita-cita membangun sistem turisme Indonesia menjadi jauh lebih baik. 

Dan itu mulai terwujud ketika ia dan teman-temannya sukses membangun sebuah sistem yang sudah teruji, hingga mampu mendorong pemutakhiran destinasi wisata menjadi jauh lebih baik, yang disebut dengan sebuah platform manajemen pengunjung, bernama Atourin, Ini sebuah platform rintisan yang bergerak di bidang pariwisata. 

Ia adalah sebuah marketplace desa wisata yang bisa membantu para wisatawan agar lebih mudah menjangkau desa-desa wisata di Indonesia. Reza membantu pengelola desa wisata untuk memasarkan produk mereka (bantu boosting), yaitu dengan menjual paket wisata dan layanan secara daring. 

bekerja sama dengan Forum Komunikasi Desa Wisata (FORKOMDEWI) Provinsi Bali melansir inovasi teknologi di bidang pariwisata yaitu Visitor Management System (AVMS), solusi bagi para wisatawan dan pengelola Desa Wisata (DeWi) atau Daya Tarik Wisata (DTW) untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. (Dok. Atourin)

Atourin menggunakan program yang disebut Atourin Visitor Management System (AVMS). Dengan AVMS, pengelola dapat menjual layanan secara lebih efisien dan menjangkau pasar yang lebih luas. Atourin juga menyediakan katalog inventory desa wisata se-Indonesia yang terdiri dari paket wisata, local experience, homestay desa, dan suvenir atau oleh-oleh khas desa wisata. 

Berkat kiprahnya di bidang pariwisata Reza yang lebih akrab dipanggil Reper ini , diganjar beberapa penghargaan seperti dari Kementerian Pemuda & Olahraga Indonesia (2022) dan Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2024 & Fasilitator Desa Sejahtera Astra ini.

Ia melalui Atourin, kini menjadi fasilitator Desa Sejahtera Astra. 

Beberapa waktu lalu SUAR berkesempatan mewawancarai Reper, yang merupakan CEO & Founder Atourin di desa wisata Kampung Betawi, Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 13 Mei 2026 lalu. Ia memaparkan latar belakang dirinya mulai berkecimpung di sektor ini. 

Reper juga memberikan insight tentang bagaimana potensi besar dari dunia pariwisata bisa mendongkrak perekonomian wilayah-wilayah terpencil untuk menarik pelancong datang,  melalui platform informatif di Atourin. Petikannya: 

Bisa diceritakan, sebenarnya apa sih Aturin itu, dan seperti apa dampaknya bagi pengembangan wisata, baik itu wisata yang dikembangkan oleh swasta, maupun desa-desa wisata? 

Aturin itu mimpinya sebenarnya sangat sederhana, kami ingin berbagi informasi tentang pariwisata di seluruh Indonesia, di seluruh Nusantara.

Makanya kami mulai awal pertama kali di tahun 2019 atau sekitar 7 tahun dan sebelum COVID lebih tepatnya.

Saya tidak sendiri, saya ada tim, saya ada partner juga. Pasca pandemi, kita coba inovasi dengan program virtual tour, jadi berwisata reality gitu. Kemudian pada 2023 hingga sekarang akhirnya kami coba mengembangkan sistem pengunjung, manajemen pengunjung.

Siapa saja yang menjalankan Atourin? 

Nah Aturin sendiri, kami itu sebenarnya perusahaan rintisan yang dikelola tim kecil. Saat ini ada 11 orang, yang  berkantor di Jakarta Selatan. Di dalam tim itu juga tidak hanya orang pariwisata, tidak hanya orang teknologi, tapi multi-disiplin. 

Dan kami punya mitra, itu salah satunya adalah desa wisata, jadi kita kolaborasi dengan teman-teman desa wisata, dan beririsannya dengan Desa Sejahtera Astra.

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) menggandeng Atourin, perusahaan teknologi sektor pariwisata dalam mendukung digitalisasi 15 kampung wisata di Kota Ternate, Maluku Utara. ANTARA/HO-BAKTI Kemenkominfo

Anda kan lahir di Jakarta ya, ide awal membangun, Atourin itu sebetulnya bagaimana , karena memang suka wisata, atau apa gitu? 

Iya, pada dasarnya kita memang suka wisata. Tapi dulu itu, saat kuliah sebenarnya, kita sudah mulai bikin usaha di bidang tour. Sedangkan studi yang kita ambil juga  tentang pariwisata berkelanjutan.

Dengan Atourin ini, kita cita-citanya sederhana, ingin menyebarkan informasi yang lebih banyak, informasi yang real time, hingga berkembang, kita punya Aturin Visitor Management System dan lain sebagainya. 

Dimana saja salah satu desa wisata yang sedang dijadikan mitra? 

Kita saat ini kerjasama dengan Setu Babakan, kampung adat Betawi. Disini ada banyak kegiatan kebudayaan, dengan pariwisata kan mirip-mirip ya. Dia menawarkan experience kan. Turis datang kesini untuk bisa lihat museum Betawi, beli kerak telur, atau masak kerak telur, atau selendang mayang.

Jadi itu yang pengen kita perkenalkan. Jadi mimpinya sebenarnya ingin membawa turis-turis itu untuk jauh mengenal Indonesia melalui aktivitas pariwisata. 

Jadi ini bisa dikatakan Atourin membuat wahana berangkat dari persoalan, dan ingin menyelesaikan masalah dengan sebuah solusi. Nah, apa yang ditawarkan dan menyelesaikan persoalan apa? 

Lebih ke kesenjangan di dunia literasi digital. Karena kalau bicara pariwisata Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke. Jadi kita ingin teman-teman yang ada di Merauke, teman-teman yang ada di Papua, di Indonesia Timur, di Indonesia Barat, atau di Indonesia Tengah, itu punya pemahaman yang sama mengenai pariwisata, dan mereka juga berhak untuk bisa menjadi pelaku wisata. Jadi kita ingin mendorong itu.

Selain itu juga, kita ingin menyebarkan informasi yang valid kepada para turis atau wisatawan, supaya wisatawannya datang tidak hanya ke Bali atau ke Lombok lagi, tapi ingin mengenal Indonesia yang benar-benar 360 derajat, dari ujung ke ujung. 

Pemberdayaan Desa Wisata di Lombok Timur oleh Astra (Dok. Astra)

Lalu, apa sih yang spesifik yang diselesaikan dengan Atourin ini? 

Sebenarnya kami menawarkan pengalaman yang mungkin bahasanya hidden gem

Yang sangat tersembunyi, wisata tersembunyi, surga tersembunyi. Jadi ada banyak sekali desa-desa wisata, kita punya 6.200 desa wisata, menurut data dari Kementerian Pariwisata. 

Dan ada banyak sekali potensinya, sedangkan kita berwisata mungkin hanya tempatnya itu-itu saja. Nah, kami ingin memperkenalkan itu semua kepada para turis. Tidak hanya turis domestik, tapi turis mancanegara juga, yang kita sasar supaya bisa mendapatkan devisa yang cukup untuk negara.

Sekarang ada berapa desa wisata yang sudah menggunakan atau bermitra dengan Atourin? 

Sudah ada sekitar lebih dari 450 desa wisata. Jadi mereka itu bekerja sama dengan kami, dan akan mendapatkan pendampingan bagaimana cara menggunakan teknologinya Atourin, sehingga publikasinya jadi lebih baik, lebih luas.

Karena akan muncul di platform kami, di sosial media kami, bahkan kami juga kerjasama dengan beberapa pihak untuk mempromosikan desa-desa wisata tersebut. Kemudian, yang paling penting adalah dokumentasi, maksudnya adalah pencatatan keuangan.

Apa yang ditawarkan di fasilitas ini? 

Disini kami menawarkan sistem namanya Atourin Visitor Management System, atau AVMS. Nah, ketika mereka pakai sistem tersebut, mereka ibaratnya akan punya sebuah dapur, atau dashboard. Dashboard-nya itu mereka kelola, jadi mereka bisa catat semua keuangannya lewat situ. Jadi tercatat dengan rapi.

Sebenarnya implikasinya akan ke mana-mana. Misalkan kalau punya pencatatan keuangan yang bagus, otomatis akan dilirik oleh banyak pihak dalam urusan CSR, atau perbankan, dia bisa masuk ke situ untuk produk-produk perbankan lainnya. 

Dan dia punya data soal visitor yang baik? 

Betul, dan itu yang sebenarnya ingin kita tangkap. Dan nantinya juga jadi feedback yang bagus untuk pemerintah, karena setiap bulan atau setiap tahun, pemerintah Indonesia selalu tanya ke tiap destinasi wisata, berapa jumlah kunjungan wisatawan? Berapa jumlah pendapatanmu? Sehingga semua tercatat. 

Sampai sejauh mana detail dari pihak yang menggunakan AVMS, itu data-data yang bisa mereka peroleh? 

Jadi kalau turis, biasanya datang ke tempat wisata, bayar tiket, ada retribusi kan. Pengelolanya enggak tahu siapa nama turis tersebut, berapa nomor handphonenya, apa emailnya. Syukur-syukur ada buku tamu lah, biasanya sering nyatet.

Nah ini kalau dengan ada sistem reservasi lebih dulu, pakai sistemnya Atourin, jadi kan mereka menyimpan data tersebut. Pembayarannya juga non-tunai. Bisa juga on the spot. Itu juga kita sediakan juga. Nah, kemudian mereka akan dapat data itu. 

Jadi ketika mereka memerlukan promosi, mereka bisa tinggal hubungin lagi orang yang pernah datang.  Kami di tahun ini ada festival. Jadi ada pengulangan di situ. Jadi datanya itu yang bisa didapatkan oleh mereka. Engagement dengan visitor juga jadi jauh melekat.

Bisa diberikan contoh, desa-desa wisata yang sukses bekerjasama dengan Atourin? 

Ya, da di Sumba Timur, ini tempat wisata yang luar biasa. Disana ada mama-mama kelompok penenun.  Ada juga desa wisata Bugisan yang ada di Klaten, Jawa Tengah dekat dengan Candi Prambanan dan Candi Kembar.  

Kepada mereka saya bilang, kalau pakai sistemnya Atourin, berarti publikasinya akan lebih luas lagi. Maka akan ada potensi penambahan ekonomi di sana.

Penambahan ekonomi seperti apa? 

Penambahan ekonomi misalnya, mereka biasanya dalam satu bulan, itu pasti akan ada aja turis yang datang. Itu sudah default. Tapi dengan masuk di sistemnya Atourin, kami bisa mendorong lebih banyak lagi turis yang datang. Jadi, memperkaya, menambah banyak jumlah kunjungan.

Meski pun, kami selalu mengingatkan kepada para teman-teman pengelola untuk menerapkan yang namanya carrying capacity. Artinya, membuat kunjungan itu balance dengan daya dukung yang ada di tempat wisata. Jadi, satu, secara ekonomi dia bertambah.

Kemudian, secara publikasi, dia juga tersebar luas untuk si desa wisata ini, contoh di Bugisan seperti itu. Desa Bugisan itu cukup luar biasa. Pendapatannya ratusan juta, hanya dari Atourin. 

Kira-kira setelah mereka menggunakan Atourin berapa waktu yang dibutuhkan agar bisa mendongkrak kunjungan? 

Untuk praktik di Desa Bugisan itu bisa langsung. Jadi setelah dia menggunakan, efeknya langsung terasa. Karena kami juga tidak melakukan promosi secara sendiri. Kami kerjasama dengan Pemerintah, dengan pihak Astra juga, untuk melakukan promosi-promosi yang memperkenalkan Desa Bugisan ini.

Desa Wisata Bugisan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Dok. Astra)

Strategi apa yang dilakukan untuk menjual desa wisata ini? 

Kalau di desa Bugisan ini, dikenal sebagai desa romantis. Karena ada dua candi kembar di situ, ini ceritanya tentang kisah cinta beda agama. Nah storytelling nya yang kita jual. Jadi bagi yang sekarang lagi menjalani kisah cinta beda agama, mungkin bisa belajar ke sana.

Lalu bagaimana data dampak ekonomi yang bisa diperlihatkan dari 450-an desa yang sudah bermitra dengan Atourin? 

Kami menghitung yang paling pertama dari sisi identitas, mereka dikenal melalui kanal media sosial dulu. Itu kenaikan mereka bisa 300%-400% peningkatan impresionnya. Karena publikasi tidak hanya dari kami tapi juga dari mitra-mitra kami tadi. 

Seperti desa wisata di Majalengka di Jawa Barat. Karena kami publikasinya cukup masif, ternyata banyak diminati sama orang, karena hanya 2,5 jam dari Jakarta, tapi berasa seperti di Ubud.

Sedangkan secara pendapatan, kurang lebih bisa meningkat 2 kali lipat.

Dan efek yang lain adalah mereka akan jauh lebih mudah menerima pendanaan dari lembaga-lembaga perbankan karena mereka mencatat keuangannya dengan baik melalui sistem yang mendukung.

Prosesnya berapa lama, sehingga mereka bisa bermitra dengan menggunakan Atorin itu.

Sebenarnya kalau bermitra, yang penting mitranya punya legalitas yang sah, secara hukum.  Contohnya kalau desa wisata, biasanya ada kelompok sadar wisata. Namanya POK Darwis, ada BUMDES, Badan Pesan Melik Desa. Sekarang ada Koperasi Desa juga.

Nah, itu lembaga-lembaga itu yang bisa kerjasama dengan kami. Bahkan kami bermitra bukan hanya dengan desa, tapi dengan swasta-swasta juga, tour operator, daya tarik wisata yang punya swasta, gitu ya. Kita kerjasama dengan mereka. Nah, ketika sudah punya legalitas, kemudian mereka punya produk yang pasti.

Jadi kalau misalkan ada desa yang pengen sekali gitu ya, dari nol sekali, kita punya desa, kita punya pantai, tapi kita enggak punya produk wisata. Produk itu maksudnya adalah paket, homestay, kita akan bantu dampingi.

Sampai benar-benar mereka punya produknya tadi. Kalau sudah punya produk, berarti nanti onboarding di platformnya Atourin, prosesnya sederhana, seperti kita bikin akun media sosial 

Ada pembagian revenue ketika sudah masuk ke ekosistem Atourin? Seperti apa? 

Pembagiannya sebenarnya bagi hasil. Jadi kalau di pariwisata itu, ada istilah namanya agent rate. Misalkan kalau kita mau ke hotel, hotel itu ada publish rate, ada agent rate-nya, sesederhana itu aja.

Kerja sama Kemenparekraf dan Atourin kembangkan Desa Wisata (Dok. kemenparekraf)

Nama Atourin itu diambil dari mana? 

Dulu ada yang mengira ini perusahaan India, karena domainnya dot in (.in) di belakangnya. Tapi sebenarnya ini perusahaan di Indonesia, dibuatnya di Jakarta juga, dan kami ambil dari kata atur, dari kata mengatur. 

Jadi, kalau rezeki kan sudah ada Gusti Allah yang mengatur,kalau jalan-jalan, biar kita saja yang atur lewat Atourin.

Jadi kurang lebih seperti itu. Karena kan kalau orang mau jalan-jalan, perlu ada rekomendasi mau kemana-kemana, kalau study tour, company visit, dan lain sebagainya itu bisa kami yang atur.

Kenapa dari ribuan desa wisata, baru 450-an sekian yang menggunakan? Apakah mereka itu tidak tahu, atau belum percaya, atau jangan-jangan ada sebab lain?

Sebenarnya ini kan bisnisnya, bisnis kepercayaan, trust, gitu ya, apalagi dengan masyarakat desa. Jadi memang tantangan kami adalah meyakinkan kalau teknologi kami ini benar-benar bisa, mau dipakai sama mereka.

Dan kalau saya bilang, sama teman-teman di desa ini, persoalannya bukan masalah bisa atau enggak bisa, tapi mau atau enggak mau. Sebenarnya kalau cuma mengimplementasikan ini bisa, tapi mau atau tidak. Jadi kendala kami sebenarnya untuk pendekatan ke desa-desanya.

Selama ini, apa kendala utama apa yang dihadapi dalam pemberdayaan desa wisata ini? 

Masalah utama adalah kesiapan SDM. Karena dinamika organisasi di tingkat desa ini kan juga kadang-kadang politiknya lebih hebat di desa. Misalnya BUMDES-nya hari ini, bulan depan bisa ganti. Nah itulah, artinya ganti pengurus, ganti kebijakan.  

Jadi itulah yang membuat itu sedikit terhambat dari kami. Skami sebenarnya pengen cari local champion yang memang dia dedicated di desa. Tidak ada ikatan-ikatan apapun. Jadinya dia memang serius sekali untuk memperkenalkan desa wisatanya kepada publik. 

Ada pengalaman menarik selama mengolala Atourin ini yang memang disrasakan dampaknya begitu signifikan? 

Iya, ini terjadi waktu COVID sebenarnya. Waktu itu kita punya inovasi namanya Virtual Tour. Itu juga diapresiasi sama Astra melalui Satu Indonesia Award, tapi yang tingkat provinsi.  

Nah saat pandemi kan, tour guide atau pramuwisata itu tidak bekerja. Jadi mereka tuh nggak ada uang sama sekali. Karena kami, bikin program Virtual Tour, maka mereka jadi bekerja, mereka tetap datang ke destinasi wisata, tapi turisnya dari rumah, menonton lewat online meeting

Dan itu betul-betul menyambung hidup. Bahkan sampai banyak sekali WhatsApp ucapin terima kasih, ke saya dan tim Atourin. 

Terus juga akhirnya saya berpikir, nggak bisa hanya Aturin aja yang bikin Virtual Tour, tapi mereka-mereka ini juga bisa bikin sendiri, biar enggak bergantung sama kami.

Akhirnya kami bikin TOT, Training of Trainer, untuk para pemandu wisata di seluruh Indonesia, bikin Virtual Tour kamu sendiri, supaya kamu bisa cari uang sendiri. Kita survive masing-masing, gitu. Semoga, ya akhirnya mereka baru bisa survive sampai sekarang.

Ada pengalaman menarik lainnya, seperti membantu daerah-daerah terpencil? 

Ada contoh-contoh yang sukses ini terjadi dengan Banda Neira. Jadi disana saya ketemu anak-anak muda tahun 2021, saya bilang, mau enggak kita bikin tur Banda Neira? Karena turis yang datang ke sana tuh enggak banyak gitu ya. 

Nah, sekarang karena ada publikasi dari kami, kami bikinin mereka lembaga legalitas Banda Neira untuk mengelola tur di sana, kerjasama dengan kami untuk publikasinya, lalu kami kirim turis-turis dari kota-kota untuk datang ke Banda Neira. 

Jadi sekarang Banda Neira jadi lebih terkenal, bahkan selalu berseliweran di sosial media. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sutan Syahrir, Jangan mati dulu sebelum ke Banda Neira.

Baca selengkapnya