Bersiap Mendunia dengan Toko Layanan Mandiri

Perubahan gaya hidup masyarakat membuka ruang bagi tumbuhnya outlet layanan mandiri. JumpsStart tak hanya melihat kesempatan, namun juga mengakselerasi dengan inovasi. 

Bersiap Mendunia dengan Toko Layanan Mandiri
JumpStart Brian Imawan (Suar.id/Affandi)
Daftar Isi

Wawancara Ekslusif CEO JumpStart Brian Imawan

Tidak semua peluang bisnis lahir dari pasar yang ramai. Sebagian justru tumbuh di ruang-ruang yang belum banyak dilirik. Bisnis penyedia vending machine kopi salah satunya. Di saat banyak pelaku usaha berlomba membuka kedai kopi dengan konsep yang beragam, segmen mesin kopi otomatis masih menjadi ceruk yang relatif sepi pemain. 

Padahal, kebutuhan masyarakat akan akses minuman berkualitas yang cepat, praktis, dan tersedia kapan saja terus meningkat dari waktu ke waktu. Perubahan pola konsumsi, digitalisasi sistem pembayaran, serta meningkatnya kebutuhan efisiensi di berbagai sektor membuat model bisnis ini memiliki prospek yang menjanjikan. 

Kehadiran vending machine kopi tidak hanya menawarkan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga memberikan alternatif investasi dengan biaya operasional yang lebih terukur dibandingkan bisnis ritel konvensional. Kondisi tersebut membuka peluang bagi perluasan pasar ke berbagai lokasi strategis yang selama ini belum terlayani secara optimal.

Dalam beberapa tahun mendatang, peran vending machine kopi bahkan berpotensi berkembang melampaui fungsi utamanya sebagai mesin penjual minuman. Integrasi teknologi kecerdasan buatan, analisis data konsumen, pembayaran tanpa kontak, hingga konsep smart retail dapat mengubah mesin-mesin tersebut menjadi titik layanan digital yang bernilai tambah.

Bagaimana peluang tersebut dibaca oleh pelaku industri? Apa tantangan yang masih dihadapi, dan bagaimana strategi mengembangkan bisnis di pasar yang relatif belum padat kompetitor? 

JumpStart Brian Imawan (Suar.id/Affandi)

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi pokok perbincangan SUAR bersama Brian Imawan pendiri sekaligus CEO perusahaan penyedia vending machine bernama JumpStart pada Jumat, 19 Juni 2026 lalu di kantornya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta.

Brian bersama rekannya, Ronni Ang, dan Fadil Chen mendirikan usaha mesin pembuat kopi mandiri JumpStart yang membidik pasar spesifik berbeda dengan outlet mandiri makanan dan minuman yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia saat ini. 

JumpStart mengikuti pasar yang mulai tumbuh oleh kebutuhan instan yang ringkas, didorong sistem pembayaran yang tidak ribet. Ini yang membuat usaha ini tumbuh berlipat. JumpsStart juga terus berinovasi demi memperluas pasarnya. Bagaimana cerita lengkapnya, berikut petikannya:

Bisa diceritakan apa yang membuat Anda memutuskan merintis bisnis ini?

Jadi waktu itu saya masih kerja di kawasan Kuningan, sekitar tahun 2018. Kalau datang  ke kantor pastikan masih pagi, setelah melalui jalan yang macet. Sampai ke kantor, mau ngopi, bingung mau beli di mana. Apalagi waktu itu belum banyak pilihan. Go Food juga belum ada. Jadi kalau mau mesti jalan 3 gedung.

Jadi waktu itu saya pikir, wah kayaknya kalau ada mesin di kantor, tapi kan mungkin dari kantor enggak mau bayarin. Ya sudah, saya tanya pihak kantor, kalau ada mesin yang saya bisa bayar sendiri buat bikin kopi boleh enggak? Boleh ternyata. Jadi saya pasang satu di kantor, ternyata kok lumayan banyak yang ingin coba gitu.

Jadi ya tadi itulah awal mulanya ingin buat alat ngopi sendiri, tapi ternyata lumayan ada minat, nah kita coba mulailah dari sana, kita  menambah beberapa mesin begitu.

Ronni Ang, Brian Imawan dan Fadil Cen

Awalnya dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan sendiri ya, lalu bagaimana itu kemudian jadi sebuah bisnis?

Waktu itu mulainya, karena kita enggak punya pengalaman di bidang itu ya, jadi banyak trial and error. Kita coba analisa apa resikonya, ya semua kita bawa sendiri. Saya yang turun tangan sendiri juga, angkat galon, untuk nge-refill, belajar setting mesin gitu.

Tapi ada contoh bisnis enggak yang ditiru ketika itu, atau mempelajari bagaimana mengelola bisnis ini?

Kalau di Indonesia sendiri belum banyak waktu itu ya, kalau dari luar negeri kan udah cukup banyak. Contohnya seperti di Jepang, kita belajar dari situ.

Dan waktu itu memang khusus menyediakan vending machine khusus untuk kopi ya?

Benar, kita mulai dari kopi. Karena waktu itu kan kopi lagi booming juga kan. Dari waktu itu memang karena kebutuhan, kemudian ada tren minum kopi gitu ya, jadi saling bersambut. 

Ketika memulai bisnis waktu ini, kendala apa yang dihadapi?

Waktu itu kan pembayaran yang waktu itu belum ada ya? Jadi masih pakai tunai, paling pakai flash dan itu susah sekali. Tapi ya pas waktu itu timingnya 2019, mulai kan digital payment, QR, mulai ada, kita coba selalu kolaborasi dengan teman-teman yang punya digital payment dari perusahaan-perusahaan lain.

Nah dari situlah kita kelihatan, oh mulai ini ada pengembangan di sana. Pas 2020 kan juga kena COVID-19. Tapi ternyata, karena ada mesin kita di kantor, kita memposisikan layanan ini lebih higienis.

Konsumen kan enggak perlu ngantri di luar, cuma di kantor. Jadi kita memposisikan mesin ini higienis selama COVID-19, dan ternyata itu banyak peminatnya. 

Kamtor JumpStart (Suar.id/Affandi)

Mesin yang Anda tawarkan ini apakah memang benar-benar bisa membuat kopi sendiri? 

Ya, di dalam mesin itu masih biji kopi, ada susu, juga gula. Ketika ada yang pesan, dia baru diseduh di tempat, masuk gelas, langsung bisa diminum.

Dan banyak konsumen puas dengan cita rasa kopi yang dibuat mesin ini ya?

Benar. Karena memang itu mindset yang ingin kita bangun. Jadi walaupun ini mesin, yang pertama ekspektasi apa sih? Pasti soal rasa, apakah enak? Dan ternyata bisa menyajikan kopi yang enak. Yang penting settingannya tepat, kalibrasinya tepat. Jadi ketika diminum, oh ternyata rasanya jauh di atas ekspektasi.

Bisa memilih antara yang pakai es atau pakai gula dengan takaran tertentu?

Benar. Itu juga kelebihannya. Jadi sesuai selera masing-masing.

Alat yang Anda tawarkan ini apakah memang buat sendiri? 

Basisnya ada yang kita beli, tapi kita sesuaikan untuk kebutuhan di sini. Jadi tetap ada modifikasi. 

Apa strategi Anda ketika memasarkan bisnis ini, apakah tanggapan calon klien selalu positif? 

Waktu itu ya pasti susah, karena vending machine ini apa juga banyak yang enggak tahu malah. Jadi kita mesti jelaskan lagi. Nah waktu itu mulai dari teman-teman pasti yang kita tekankan memang mesin ini sebagai fasilitas untuk lokasi tersebut.

Contohnya kalau di kantor ada yang lembur, ingin minum yang susah ke luar atau sudah tutup, jadi bisa di situ juga. Sehingga kita memposisikan sebagai fasilitas.

Apa yang paling sulit ketika memulai kerja sama dengan klien. Misalnya soal perawatannya atau soal bahan bakunya?

Kalau dulu awal-awal kesulitannya mungkin tadi ya, untuk memperkenalkan ini mesin apa, karena kan belum lazim. Belum ada di lapangan. Jadi masih banyak resistensi.

Mereka nanya kualitasnya, stabilitas nya. Karena mungkin awalnya enak, ternyata lama-lama kurang enak gitu.

Dari situ kita coba yakinkan pelan-pelan, kita ada worth of mouth-nya gitu. Tapi kita memang coba membuat ini simple buat mereka. Sebuah one stop solution. Pihak penyedia lokasi juga enggak usah ngapa-ngapain lagi, kita yang beresin semua.

Tak hanya kopi, JumpStart juga merambah ke layanan produk lain

Saat ini, JumpStart sudah ada di 6500 titik, bagaimana prosesnya bisa secepat itu? 

Yang pasti, kalau dari kita ada otomatisasi menggunakan teknologi. Karena untuk maintain 100 mesin ke 1000 mesin, 2000 mesin, mungkin beda caranya. Jadi kalau tidak dibantu dengan teknologi untuk mengatur mesin, mana harus di refill waktunya yang pasti, kita juga sulit juga untuk scale up.

Selain itu, kami prinsipnya selalu open for partnership, kolaborasi dengan perbankan, dengan industri lain. Jadi kita bisa bareng-bareng memasarkan mesin ini, jadi kita banyak juga dapat referensi.

Misalnya, karena kita menggunakan payment system dari sini, kita direferensikan kemana. Oh, karena kita menjual barang ini, kita direferensikan. Jadi kita, prinsip kolaborasi sih, itu yang menurut kita penting.

Dari titik yang ada sekarang, persentasenya lebih banyak mana, di gedung perkantoran atau di ruang publik penempatannya? 

Kita lebih banyak di dalam gedung sih. Sekita 70% hingga 80% mungkin. Karena kalau di gedung lebih ke soal fasilitas. Konsumen juga tidak perlu jalan jauh, tidak terburu-buru, dan lebih nyaman. 

Sebelum bisa meraih hingga yang sekarang ini, ada kisah-kisah suka duka selama merintis bisnis ini?

Ya seperti sebelumnya disebutkan, sata memperkenalkan mesin ini, klien kan banyak yang gak tahu ini mesin apa. Ada yang komentar, ketika sudah dipasang, kok mesinnya enggak jalan, diam saja. Ada juga yang menunggu saja di depannya, dipikir ini TV, ada juga yang seperti itu. 

Pengalaman yang lain, ketika pandemi Covid-19, itu yang paling berat, karena waktu itu kan kantor tutup. Jadi 90% mesin-mesin kita nggak jualan. Ya, tapi kita pelan-pelan coba, kita pindahin, khususnya ke tempat atau kantor yang masih boleh beraktivitas.

Nah ini yang juga jadi keunggulan kita, karena mesin mudah kita pindah sampai setelah pandemi berakhir, kita bisa kembalikan lagi. 

Di awal membangun bisnis, darimana modalnya? 

Awalnya ya pasti dari kita sendiri. Juga sama ada beberapa co-founder. Ya terus setelah itu kita beruntung dapat pendanaan beberapa lalu juga ada dari Venture Capital.

Bagaimana Anda menyakinkan klien jika mesin yang dipasang akan bisa dimanfaatkan optimal?

Waktu itu kita jamin, kalau perlu sampai kita untuk turun tangan. Jadi saya sendiri juga ikut jaga, walaupun ini mesin mandiri, biar meyakinkan kita jagain dulu di awal-awal pemasangan. Sampai lancar berapa hari hingga enggak ada masalah. 

Kita tanya juga kan, rasanya gimana, cocok enggak, atau ada masukan apa. Jadi, ya dari situ mungkin mereka merasa, oh iya ini diperhatikan, gitu. 

Dari awal berapa karyawan waktu awal berdiri itu? 

Dulu kita awalnya bertiga.  Saya sendiri juga masih keliling juga, isi ulang mesin. Saya kan juga mesti belajar.

Sekarang berapa karyawan?

Sekarang kita sekitar 350-an orang. Khusus buat operasional mesin itu ada 300 orang. 

Nah jika ada yang tertarik mau pasang mesin ini, bagaimana prosedurnya? 

Kalau dari kita sih gampang. Jadi kita kalau misalkan ada lokasi pengen tinggal hubungin kita. Nanti tim kita pasti ada yang kesana untuk survei dulu. 

Ya cocok atau tidak, gitu. Karena kan mesin kita juga banyak. Jadi kita mau menyesuaikan kira-kira lokasi mana, cocoknya dengan barang dan konsep seperti apa, begitu.

Tidak tertutup kemungkinan kerjasama dengan korporasi besar? 

Kita sampai ratusan mesin kerjasama dengan satu entitas juga ada. Jadi memang sangat fleksibel. 

Kalau untuk public space sendiri bagaimana?  

Sudah ada beberapa di stasiun ya. Karena buat stasiun sendiri kan juga sebagai fasilitas ya. 

JumpStart juga mulai disuntik berapa investor yang kalau boleh tahu, akan digunakan apa saja rencananya investasi ini?

Kita, ketika mencari investor memang enggak pengen cuma yang pendanaannya, tapi bagaimana kita bisa berkolaborasi lagi. Ke depannya kita sih berharap, satu, kita bisa go international. Dan kedua, tahun 2029 memang kita targetkan kalau bisa kita bisa go public juga.

Kalau sekarang ekspansinya sudah sampai mana? Apakah hanya di Jakarta? Atau di mana saja kota-kota besar yang lain?

Kalau sekarang kita sudah Jakarta sampai Bali. Jadi ada di Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Malang, Bali. Tahun ini kita rencana ke luar, mungkin kayak ke Makasar, Palembang. Yang jelas kita lagi belajar ini.

Anda yakin bisnis ini masih punya pasar yang bisa digarap ke depannya? 

Dari pasarnya, sebenarnya kalau kita lihat dari jumlah mesin yang beredar itu masih sedikit. Kalau di luar negeri bisa mencapai jutaan, bisa satu negara. 

Kalau kita lihat kan memang dari populasi sendiri ya, di Indonesia sendiri kan 280 juta orang termasuk satu yang paling besar. Dan banyak daerah-daerah itu yang kita belum buka.

Jadi ya kita yakin, karena sudah terbuktikan di Jawa-Bali mereka bisa menerima, ya di luar kota juga pasti bisa. Apalagi digital payment sudah merambah juga kan.

Tapi kalau dari sisi persaingan bagaimana selama ini? Apakah akan ada inovasi lainnya? 

Masih banyak yang bisa dilakukan. Selain mesin untuk kopi kita juga sediakan untuk minuman kemasan, makanan ringan juga. Sekarang ini setengah-setengah sekarang. Biasanya kita selalu berbarengan. Jadi biar lengkap, ada kopinya, ada makanan ringan.

Anda juga berniat ekspansi ke luar negeri, bagaimana formatnya nanti? 

Betul, kita kan juga ada inovasi buat mesin kopi yang kecil sekarang. Itu yang kita kembangkan sendiri yang berbasis kapsul. Itu juga kita yang develop dan kita produksi lokal.

Mesin ini yang kita rencanakan ita ekspor ke negara-negara lain. Pasti kita coba cari partner di sana, siapa yang bisa bareng-bareng kembangkan mesin. Ini memang mesin kopi berbasis kapsul. Tapi nggak cuma kopi, bisa teh, bisa juga jahe. Itu juga inovasi kita. 

Ini sudah kita kembangkan sejak Januari 2025. Kalau ini bisa dibeli dan dipasang di rumah.

jadi bisa dibilang ini mesin buatan merah putih ya?

Benar. Bahan bakunya juga. Jadi justru kalau ini masuk ke luar negeri kita yakin ini tuh bisa memperkenalkan minuman Indonesia. Seperti wedang jahe, jamu, dan sebagainya.

Selain ini, ada inovasi lain yang akan dilakukan?

Ya kita masih ada beberapa pengembangan. Kita lagi mengembangkan vending machine tipe terbaru. Smart fridge namanya. Jadi konsumen bisa buka pintunya lalu ambil barang apa aja. Pas ditutup nanti bisa terhitung berapa tagihannya.

Selain itu kita lagi kembangkanada minuman berbasis kapsul juga ada minuman-minuman kemasan lain.

Wah, banyak perusahaan yang akan khawatir dengan langkah JumpStart kalau begini..

Enggak lahk. Kita ini prinsipnya ya percaya ada pasar yang luas, dan kita bisa berkolaborasi. Jadi kita sangat open gitu. Seperti produk kapsul itu kita banyak kolaborasi dengan pihak coffee shop lain malah. Kita kapsulin bareng-bareng pakai merk mereka. Kita justru pengen rangkul rame-rame. Ayo kita bareng-bareng.

Dari sisi konsumen sendiri bagaimana, apakah Anda melihat masih perlu edukasi buat mereka?

Ya pasti, agar berkelanjutan kita tetap perlu edukasi. Dan kita juga jamin money back guarantee kalau ada masalah gitu. Jadi kalau minumannya kurang cocok atau misalkan setelah bayar mesinnya enggak jalan itu tuh pasti kita refund tanpa ada pertanyaan. Bisa langsung hubungi costumer service kita, kita transfer kembali dalam 24 jam. 

Selain beberapa kreasi tadi, ada lagi inovasi lagi yang mungkin ingin dilakukan?

Kalau dari kita sekarang yang paling utama tadi, lebih ke sisi produknya. Karena kita percaya itu dan kita mengalami sebagai sebuah toko. Jadi apa barang yang dijual di dalamnya itulah yang menarik gitu. Dan yang satu dari segi produk. 

Kedua juga kita lagi kembangkan itu pembelian dari handphone. Jadi bisa pesan dari HP, dari aplikasi, kemudian ambil di mesin.

Kalau dari sisi bisnisnya sendiri, Anda melihatnya seperti apa ekosistem bisnis ini dalam lima tahun, sepuluh tahun ke depan?

Kita yakin ini masih banyak sekali kesempatannya. Karena tadi jumlah mesinnya masih sedikit dibanding populasinya. Kedua ya kalau persaingan justru malah bingung gitu. Kenapa ini cuma sendirian gitu. Justru kalau ada beberapa pemain itu bisa bareng-bareng mengedukasi pasar gitu.

Ya misalnya kalau ada pemain lain, kita memang bersaing, tapi kita menganggapnya ini justru bisa buat bareng-bareng mengedukasi pasar. Jadi kita enggak melihat ini sebagai ancaman, tidak seperti itu.

Baca selengkapnya