Di tengah derasnya arus persaingan global, tekanan biaya produksi, dan membanjirnya produk impor, industri manufaktur Indonesia terus menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya saingnya. Bukan rahasia lagi bahwa manufaktur merupakan salah satu motor penggerak perekonomian nasional karena menyerap jutaan tenaga kerja, meningkatkan nilai tambah suatu barang, hingga jadi salah satu kontributor terbesar kinerja ekspor nasional.
Peranan penting itu sudah lama diemban dan masih terus konsisten dijalankan oleh salah satu perusahaan manufaktur kawakan di Tanah Air yaitu PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).
Berawal dari produsen ban sepeda pada 1951, perusahaan terus berkembang menjadi produsen ban terbesar di Asia Tenggara dengan pasar yang menjangkau berbagai negara. Sepak terjang di jagat industri manufaktur selama 75 tahun tentu mencerminkan perjuangan yang tak mudah sehingga segala cerita jatuh bangun patut jadi teladan bagi semesta dunia usaha
Ditemui di kantor pusat perusahaan, Selasa (9/6/2026), Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk Suryopratomo berbicara mengenai masa depan industri ban, tantangan yang dihadapi manufaktur nasional, pentingnya pengembangan sumber daya manusia.
Suryopratomo yang akrab disapa Tomi ini juga mengungkapkan harapannya agar pemerintah tidak hanya memberikan 'karpet merah' bagi investor baru, tetapi juga mendukung industri yang telah lama berkontribusi bagi perekonomian Indonesia. Dari profesi wartawan, duta besar, kini Tomi menjadi eksekutif perusahaan yang bertugas agar roda perusahaan tetap menggelinding.
Bagaimana awal mula Bapak dipercaya untuk memimpin PT Gajah Tunggal Tbk?
Menjelang akhir masa tugas (sebagai Duta Besar) saya di Singapura, saya bertemu dengan para founder PT Gajah Tunggal. Saat itu mereka meminta saya membantu berbagai kegiatan di dalam grup. Salah satu yang sudah berlangsung lama adalah organisasi United in Diversity (UID) atau Upaya Indonesia Damai. Organisasi ini lahir setelah krisis 1998 atas inisiatif almarhum Aristides Katoppo. Saat itu beliau merasa prihatin melihat Indonesia yang seolah terpecah-belah setelah krisis, sehingga muncul gagasan membangun ruang kolaborasi untuk memperkuat persatuan.
UID kemudian mendapat dukungan dari para founder Gajah Tunggal. Saya sendiri pernah cukup lama terlibat di organisasi tersebut. Saya bahkan ikut menyusun program kepemimpinan yang mempertemukan tiga sektor, yakni pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil untuk bersama-sama memikirkan masa depan Indonesia.
Kalau kita ingat tahun 2006, saat itu secara global juga terjadi krisis kepercayaan di antara berbagai sektor. Sekretaris Jenderal PBB ketika itu, Kofi Annan, kemudian menggagas Global Compact untuk membangun kembali kepercayaan, saling memahami, dan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat sipil.
Saya termasuk peserta awal program tersebut. Programnya diselenggarakan oleh MIT bekerja sama dengan PBB dan berlangsung sekitar satu setengah tahun. Pesertanya berasal dari berbagai negara dan secara berkala mengikuti program di Boston.
Karena latar belakang keterlibatan saya di UID itulah para founder kemudian meminta saya kembali membantu sebagai bagian dari Board of Trustees. Dari sana keterlibatan saya semakin berkembang hingga akhirnya dipercaya menjadi Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk.

Jadi hubungan Bapak dengan para founder sebenarnya sudah terjalin cukup lama dan memahami visi yang mereka perjuangkan selama ini?
Betul. Kalau kita melihat Indonesia, sebenarnya kita memiliki banyak industri yang dibangun sejak lama dan mampu bertahan hingga sekarang. Gajah Tunggal adalah salah satunya.
Perusahaan ini berdiri sejak 1951 dan tahun ini memasuki usia 75 tahun. Selain itu ada juga Tiga Raksa, Gobel, Astra, dan berbagai perusahaan lain yang memiliki sejarah panjang dalam membangun industri manufaktur nasional.
Artinya, Indonesia sebenarnya memiliki champion-champion industri yang kuat. Mereka mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan ekonomi dan tetap eksis hingga hari ini. Karena itu ketika saya diminta untuk membantu menjaga keberlanjutan Gajah Tunggal, saya melihatnya sebagai tantangan yang sangat menarik. Bagaimana menjaga sebuah industri yang telah berusia puluhan tahun agar tetap relevan dan terus berkembang?
Menurut saya ini penting karena Indonesia memiliki cita-cita menjadi negara industri. Industri manufaktur yang telah tumbuh dan terbukti mampu bertahan harus terus dijaga keberlangsungannya. Jadi keterpanggilan saya lebih kepada bagaimana ikut menjaga kesinambungan industri ini agar tetap memberikan kontribusi bagi Indonesia.
Kalau melihat ke depan, seperti apa prospek industri ban dalam 10 tahun mendatang?
Menurut saya sangat sederhana. Selama manusia masih bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ban akan tetap dibutuhkan. Sistem transportasi tidak mungkin berjalan tanpa ban. Bahkan kalau bercanda, transportasi laut pun membutuhkan ban, misalnya sebagai pelindung ketika kapal bersandar di dermaga.
Gajah Tunggal sendiri memulai perjalanan dari produksi ban sepeda pada 1951. Basis produksinya sejak awal berada di Tangerang dan berkembang terus hingga sekarang.
Kalau melihat perjalanan panjang itu, saya optimistis prospek industri ban masih sangat baik. Selama mobilitas manusia dan sistem transportasi terus berkembang, kebutuhan terhadap ban akan tetap ada.
Bagaimana dengan era kendaraan listrik atau EV? Karena ada anggapan permintaan ban justru akan menurun?
Justru sebaliknya. Kendaraan listrik memiliki karakteristik yang berbeda dibanding kendaraan konvensional. Bobotnya lebih berat karena penggunaan baterai sehingga membutuhkan spesifikasi ban yang berbeda. Karena itu seluruh industri ban melakukan penyesuaian. Di Gajah Tunggal kami juga mengembangkan ban yang dirancang khusus untuk kendaraan listrik.
Pada dasarnya kendaraan apa pun tetap membutuhkan ban. Namun untuk EV, kebutuhan akan daya tahan, kekuatan, dan kenyamanan menjadi lebih tinggi karena beban kendaraan yang juga lebih besar.
Sering kali industri ban dianggap sederhana. Padahal di dalamnya ada teknologi, aspek keselamatan, kenyamanan, dan riset yang cukup kompleks ya?
Betul sekali. Riset dan pengembangan merupakan bagian yang sangat penting dalam industri ini. Ketika Gajah Tunggal berkembang dari ban sepeda ke ban motor dan kemudian berbagai segmen lainnya, kami menyadari bahwa kebutuhan konsumen terus berubah.
Orang tidak hanya membutuhkan ban yang kuat, tetapi juga nyaman. Dan salah satu aspek kenyamanan adalah tingkat kebisingan. Baik kendaraan berbahan bakar konvensional maupun kendaraan listrik, pengguna menginginkan pengalaman berkendara yang semakin nyaman.
Desain pola dan struktur ban sangat menentukan. Jika desainnya tidak tepat, akan muncul suara yang mengganggu di dalam kabin kendaraan. Semakin premium sebuah kendaraan, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kualitas bannya.
Ketika Gajah Tunggal masuk ke industri ban motor, kami melakukan kolaborasi dengan IRC dari Jepang yang memiliki keahlian kuat di bidang tersebut. Dari kerja sama itu kami belajar banyak mengenai teknologi, desain alur ban, hingga berbagai aspek yang memengaruhi kenyamanan dan performa.
Kolaborasi tersebut sudah berlangsung lebih dari 55 tahun dan hingga kini berjalan sangat baik. Bahkan seluruh produksi ban IRC saat ini dilakukan di Indonesia. Itu menunjukkan bagaimana kami terus mengembangkan R&D dengan mengadopsi praktik terbaik industri ban dunia.

Apakah Gajah Tunggal tidak kesulitan mendapatkan talenta untuk kegiatan riset?
Kami memiliki banyak orang yang memang mencintai dunia otomotif. Bahkan Wakil Presiden Direktur kami sangat aktif turun langsung ke lapangan untuk menguji produk dan memastikan kualitasnya sesuai standar. Kami juga memasok ban ke berbagai pasar yang memiliki standar sangat tinggi. Misalnya Jerman dengan Autobahn yang memungkinkan kendaraan melaju pada kecepatan sangat tinggi.
Produsen otomotif di sana puas terhadap kualitas ban yang kami produksi, baik dari sisi daya tahan maupun tingkat kebisingan yang rendah. Kami juga mengembangkan ban untuk kebutuhan drifting dan berbagai segmen otomotif lainnya. Respons yang kami terima sangat positif. Karena itu saya melihat kemampuan R&D Gajah Tunggal memang sangat kuat.
Hal lain yang menurut saya menarik adalah pengembangan sumber daya manusia. Sejak 1981, Gajah Tunggal telah memiliki Politeknik Gajah Tunggal yang berada di kawasan pabrik. Kami merekrut siswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk menjalani pendidikan selama tiga tahun. Setelah lulus, mereka dapat bekerja di grup Gajah Tunggal maupun berkarier di berbagai industri lainnya. Sejak berdiri, politeknik ini telah meluluskan lebih dari 3.000 alumni. Banyak di antaranya yang kemudian berkembang menjadi profesional maupun pelaku usaha. Menurut saya ini merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting karena industri membutuhkan SDM yang benar-benar siap bekerja.
Berarti sebagian besar riset dan produksi dilakukan oleh tenaga Indonesia?
Betul. Kami memiliki sekitar 15.000 karyawan di Tangerang dan seluruh proses produksi ditopang oleh tenaga kerja Indonesia. Sekitar 70 persen produksi diserap pasar domestik, sementara 30 persen diekspor.
Ekspornya ke mana saja?
Sebelumnya kami mengekspor ke Eropa, Amerika, dan berbagai negara Asia. Namun kondisi geopolitik global membuat biaya logistik ke Eropa meningkat cukup signifikan. Karena itu kami melakukan penyesuaian dan saat ini lebih fokus ke pasar Asia dan Amerika. Meski begitu, sekitar 20-30 persen produksi kami masih ditujukan untuk pasar ekspor. Kami merupakan produsen ban terbesar dan tertua di Asia Tenggara. Tahun ini usia perusahaan mencapai 75 tahun.
Kabarnya Michelin juga menjadi pemegang saham Gajah Tunggal?
Betul. Michelin merupakan salah satu pemegang saham PT Gajah Tunggal Tbk. Hal itu menunjukkan bahwa dari sisi teknologi, Gajah Tunggal tidak tertinggal dari pemain global seperti Michelin, Bridgestone, maupun Goodyear. Kami terus melakukan perbaikan dan pengembangan agar mampu bersaing di tingkat dunia, termasuk dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
Industri ban ternyata memiliki rantai bisnis yang kompleks dan memerlukan pengembangan yang berkelanjutan. Sebagai Direktur Utama PT Gajah Tunggal Tbk, apa fokus utama perusahaan ke depan?
Kami ingin terus berkembang dan mempertahankan posisi sebagai salah satu perusahaan manufaktur ban terbaik di Indonesia, bahkan di tingkat global. Karena itu, berbagai praktik terbaik yang selama ini sudah berjalan akan terus kami perkuat dan sempurnakan. Kami percaya bahwa industri yang sudah bertahan selama 75 tahun tidak boleh berhenti berbenah. Yang menarik, Indonesia saat ini juga sedang berupaya membangun industri otomotif nasional yang lebih kuat. Dalam konteks itu, Gajah Tunggal memiliki peran yang cukup strategis.
Artinya ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem industri otomotif, termasuk kendaraan listrik?
Saya kira arahnya ke sana. Ketika Bakrie Group meluncurkan kendaraan listrik untuk segmen truk dan bus, misalnya, salah satu komponen dengan tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN yang tinggi adalah ban produksi Gajah Tunggal. Begitu juga ketika saya berkomunikasi dengan pimpinan Pindad terkait kendaraan Maung. Saat ini produksi Maung sudah mencapai sekitar 3.000 unit dan ban yang digunakan merupakan produk Gajah Tunggal.
Jadi kalau kita berbicara mengenai pembangunan ekosistem otomotif nasional, sebenarnya salah satu komponennya sudah tersedia di dalam negeri. Dengan demikian, tingkat kandungan lokalnya menjadi semakin tinggi. Karena itu kami ingin menjadi bagian dari ekosistem besar Indonesia dalam membangun industri otomotif yang kuat dan berdaya saing.
Dengan pengalaman 75 tahun yang kami miliki, kami juga terus menjaga konsistensi dalam pengembangan sumber daya manusia. Politeknik Gajah Tunggal yang saya sebutkan tadi bahkan kini sudah memiliki program di bidang teknologi informasi. Saat ini terdapat empat program studi yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Tujuannya bukan hanya memenuhi kebutuhan internal grup Gajah Tunggal, tetapi juga berkontribusi menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai bagi Indonesia.
Jadi itu menurut saya, pengembangan SDM merupakan isu yang sangat penting. Salah satu pelajaran yang saya dapatkan ketika bertugas di Singapura adalah bagaimana mereka benar-benar memperhatikan hubungan antara pendidikan dan kebutuhan industri. Apa yang sering disebut sebagai link and match di sana sudah dibangun sejak dekade 1970-an. Yang menarik, Gajah Tunggal sebenarnya sudah menerapkan pendekatan serupa sejak 1981 melalui politekniknya.
Program ini terus berlanjut hingga sekarang. Politeknik tersebut saat ini dipimpin oleh Dr. Ita Mariza yang sebelumnya merupakan pengajar di Universitas Indonesia. Bagi kami, ini bukan program jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing perusahaan melalui SDM yang berkualitas.
Belakangan ini dunia usaha menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi, konflik internasional, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tekanan di pasar modal. Sebagai perusahaan terbuka, tentu Gajah Tunggal juga menghadapi situasi yang sama.
Seberapa besar pengaruh kondisi tersebut terhadap perusahaan dan bagaimana respons yang dilakukan?
Dampaknya tentu ada. Dari sisi geopolitik, misalnya, kami harus meninjau kembali strategi ekspor ke Eropa karena kondisi saat ini kurang kondusif untuk pengiriman produk ke kawasan tersebut. Dari sisi geoekonomi, ketidakpastian global juga sangat tinggi. Harga energi berfluktuasi, rantai pasok tidak selalu stabil, dan berbagai faktor eksternal lainnya memengaruhi kegiatan usaha.
Selain itu, pelemahan rupiah juga menjadi tantangan tersendiri karena masih ada beberapa komponen bahan baku yang harus diimpor. Akibatnya, tekanan terhadap biaya produksi menjadi lebih besar. Karena itu fokus utama kami saat ini adalah menjaga efisiensi. Ada dua komponen biaya yang sangat penting dalam industri ini. Pertama adalah biaya energi, dan kedua adalah biaya tenaga kerja. Perusahaan memiliki sekitar 15.000 karyawan yang berperan dalam operasional sehari-hari. Karena itu kedua komponen tersebut menjadi perhatian utama direksi karena akan sangat menentukan biaya produksi secara keseluruhan. Di sisi lain, kami juga menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

Termasuk dari produsen ban China yang menawarkan harga lebih murah?
Mereka tentu memiliki strategi untuk memperbesar pangsa pasar. Setiap perusahaan akan berupaya melakukan penetrasi pasar dan memperluas market share. Itu hal yang wajar dalam persaingan bisnis. Karena itu dalam kondisi seperti sekarang, ketika ketidakpastian global masih tinggi dan tekanan biaya terus meningkat, menjaga efisiensi menjadi sangat penting. Inilah yang saat ini menjadi fokus kami.
Bisa dibilang ini menjadi pekerjaan rumah pertama bagi Bapak sebagai Direktur Utama?
Betul. Tetapi saya cukup beruntung karena organisasi di Gajah Tunggal sudah sangat solid. Perusahaan ini memiliki tim yang kuat dan profesional. Sistemnya sudah berjalan dengan baik, sehingga saya mendapat dukungan dari banyak pimpinan yang berpengalaman dan memiliki komitmen tinggi terhadap perusahaan. Tugas kami sekarang adalah memastikan seluruh lini bisnis, baik ban mobil, ban truk dan bus, maupun ban sepeda motor, terus berkembang dan mampu menjadi yang terbaik di segmennya.
Ada pandangan bahwa secara fundamental Gajah Tunggal sebenarnya sangat kuat. Laba bersih dalam beberapa tahun terakhir meningkat, posisi perusahaan juga penting dalam rantai pasok industri otomotif. Namun dari sisi pasar modal, masih ada yang menilai saham perusahaan belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental tersebut atau masih dianggap undervalued. Bagaimana pandangan Bapak?
Yang menjadi fokus kami adalah terus memperbaiki kinerja perusahaan. Kami berusaha menjaga efisiensi, mempertahankan daya saing harga, dan memastikan market share tetap terjaga. Kalau melihat hasil kinerja 2024 maupun laporan keuangan sebelumnya, di tengah situasi geopolitik dan geoekonomi yang tidak mudah, perusahaan masih mampu meningkatkan laba.
Selain itu, kami juga tetap membagikan dividen kepada para pemegang saham. Bagi pelaku pasar modal yang memahami karakter industri manufaktur, khususnya industri ban, mereka tentu bisa melihat bahwa ini merupakan industri yang matang, dikelola secara profesional, dan memiliki fondasi yang kuat.
Laporan kuartal pertama juga menunjukkan bahwa kinerja perusahaan masih terjaga dengan baik. Namun pada akhirnya pasar yang akan memberikan penilaian. Kami menghormati mekanisme pasar tersebut. Yang terpenting bagi kami adalah menjaga keberlangsungan industri ini melalui pengelolaan yang sehat dan efisien.
Kalau boleh berharap kepada pemerintah, apa yang paling dibutuhkan industri manufaktur saat ini agar bisa tumbuh lebih kuat?
Menurut saya, semua negara yang ingin menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi harus memiliki basis industri yang kuat. Industri manufaktur merupakan salah satu pilar utama kemajuan sebuah negara. Kalau kita melihat Singapura, misalnya, negara itu hampir tidak memiliki sumber daya alam. Namun mereka tetap menjadi negara industri karena memilih sektor-sektor yang memiliki keunggulan kompetitif seperti semikonduktor dan farmasi.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang jauh lebih besar. Karena itu kita memiliki peluang yang sangat besar untuk membangun industri nasional yang kuat. Namun dalam konteks persaingan global saat ini, dukungan negara menjadi sangat penting. Kita bisa melihat bagaimana China mampu berkembang begitu cepat karena ada sinergi yang kuat antara industri dan kebijakan negara.
Yang kami harapkan sebenarnya sederhana. Bukan hanya untuk Gajah Tunggal, tetapi untuk seluruh industri manufaktur yang sudah lama beroperasi di Indonesia. Sering kali perhatian lebih besar diberikan kepada investor baru yang akan masuk, sementara perusahaan-perusahaan yang sudah puluhan tahun berinvestasi dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar justru kurang mendapat perhatian yang sama.
Padahal keduanya sama-sama penting. Kita tentu perlu menyambut investasi baru. Namun pada saat yang sama, perusahaan yang sudah lama beroperasi juga harus dijaga dan didukung. Jika perusahaan yang sudah ada dirawat dengan baik, itu juga akan memberikan sinyal positif kepada calon investor baru bahwa Indonesia adalah tempat yang kondusif untuk berinvestasi dalam jangka panjang.
Jika dapat disimpulkan dari penjelasan Bapak, pemerintah perlu tetap membuka ruang bagi masuknya investasi baru, namun di saat yang sama juga perlu memberikan perhatian terhadap industri yang telah lama berkontribusi bagi perekonomian nasional. Bagaimana pandangan Bapak mengenai keseimbangan kebijakan tersebut?
Betul sekali. Saya sering menggunakan analogi sederhana. Kalau investor baru mendapat karpet merah, maka industri yang sudah lama berinvestasi dan bertahan di Indonesia seharusnya juga mendapatkan perhatian yang setara.
Perusahaan-perusahaan seperti Gajah Tunggal sudah berinvestasi selama puluhan tahun, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, membangun rantai pasok, mengembangkan SDM, dan tetap bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi. Kontribusi seperti ini menurut saya juga perlu mendapatkan apresiasi dan dukungan.
Karena itu yang kami harapkan adalah adanya level playing field atau kesetaraan perlakuan. Jangan sampai perusahaan yang sudah lama beroperasi dianggap akan bertahan dengan sendirinya sehingga perhatian justru lebih banyak diberikan kepada pemain baru. Padahal perusahaan-perusahaan yang sudah ada inilah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari fondasi industri nasional.
Di sektor ban misalnya, saat ini pemain dari China berkembang sangat agresif. Tentu persaingan adalah hal yang wajar. Namun ketika ada investasi baru yang masuk, harapannya kebijakan yang diberikan tetap memperhatikan keberlangsungan industri yang sudah lebih dulu hadir dan berkontribusi bagi Indonesia.

Jadi bisa dibilang, karpet merah untuk yang baru, karpet emas untuk yang lama?
Kurang lebih begitu harapannya. Selain itu, ada satu isu yang sangat dirasakan oleh industri manufaktur saat ini, yaitu energi. Bagi industri ban, energi merupakan salah satu komponen biaya terbesar. Indonesia sesungguhnya memiliki sumber daya gas alam yang melimpah, tetapi pasokan untuk kebutuhan industri semakin terbatas.
Akibatnya, banyak industri harus bergantung pada energi berbasis minyak yang sebagian besar masih diimpor. Bukan hanya lebih mahal, tetapi juga membuat biaya produksi menjadi kurang kompetitif.
Karena itu kami berharap pasokan gas alam untuk industri bisa lebih terjamin. Ini bukan hanya kebutuhan industri ban, tetapi juga berbagai sektor manufaktur lain seperti pulp dan kertas, petrokimia, hingga industri pengolahan lainnya. Kalau pasokan energi yang kompetitif dapat terjaga, maka industri nasional akan memiliki daya saing yang jauh lebih baik.
Artinya kalau kita berbicara tentang visi Indonesia Emas, maka penguatan industri manufaktur harus menjadi salah satu fondasi utamanya?
Saya sepakat. Kalau kita melihat negara-negara yang berhasil menjadi negara maju, hampir semuanya memiliki basis industri yang kuat. Karena itu, bagi kami di Gajah Tunggal, fokus saat ini adalah bagaimana menjaga daya saing perusahaan di tengah berbagai tantangan yang ada. Mulai dari tekanan biaya energi, ketidakpastian global, hingga persaingan yang semakin ketat.
Kami terus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat kualitas produk, mengembangkan SDM, dan memastikan perusahaan tetap relevan menghadapi perubahan industri ke depan.
Persaingan tentu tidak akan berhenti. Karena itu perusahaan juga tidak boleh berhenti berbenah. Saya berharap industri manufaktur Indonesia terus berkembang dan mampu menjadi salah satu kekuatan utama perekonomian nasional.
Baca juga wawancara eksklusif Suar lainnya

