Ambisi Ekspor Pangan di Tengah Ketergantungan Impor dan Ancaman El Nino

Ambisi Ekspor Pangan di Tengah Ketergantungan Impor dan Ancaman El Nino

Harapan untuk menjadi eksportir pangan global dihadapkan pada defisit neraca perdagangan pada tiga dari empat subsektor pertanian. Membenahi ketahanan pangan domestik menjadi pekerjaan rumah utama.

Ambisi Ekspor Pangan di Tengah Ketergantungan Impor dan Ancaman El Nino

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di forum KTT BRICS 2026 untuk mendorong Indonesia menjadi eksportir pangan global menumbuhkan harapan bagi sektor pertanian nasional. Gagasan tersebut disambut positif oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Namun, hal itu memerlukan konsistensi pasokan, kualitas produk, harga, hingga kesiapan industri. 

Lompatan menjadi pelaku ekspor utama tidak bisa hanya bertumpu pada surplus produksi yang bersifat musiman atau di atas kertas semata. Tanpa fondasi domestik yang kokoh, proyeksi tersebut berisiko hanya menjadi cita-cita, terutama ketika ketahanan pangan dalam negeri masih sangat rentan terhadap berbagai gejolak.

Salah satu tantangan terbesar yang membayangi langkah menuju swasembada ada pada kerentanan sektor pertanian terhadap anomali iklim, khususnya ancaman siklus El Nino ekstrem. Bencana kekeringan panjang yang dipicu oleh fenomena ini terbukti menciptakan efek domino yang merusak bagi siklus tanam nasional. 

Risiko gagal panen yang meluas berimbas langsung pada anjloknya pasokan, yang pada akhirnya memaksa keran impor dibuka lebar demi mengamankan ketersediaan domestik. Realitas ini menjadi sebuah ironi ketika cita-cita menyuplai pangan dunia masih harus menghadapi tantangan di dalam negeri sendiri secara bersamaan.

Dilihat secara keseluruhan, neraca perdagangan tanaman pertanian (segar dan olahan) Indonesia mencatatkan capaian yang positif. Secara nominal, neraca perdagangan Indonesia konsisten mencetak surplus setiap tahunnya. 

Namun, angka-angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan capaian positif sektor ini. Badai El Nino di pertengahan tahun 2023-2024 terbukti memicu lonjakan volume impor secara signifikan sebesar 13,45%, meningkat dari 33,89 juta ton pada 2023 menjadi 38,45 juta ton pada 2024. 

Imbasnya, di tengah terjadi penurunan volume ekspor dari 46,34 juta ton turun ke 40,36 juta ton, surplus volume neraca secara keseluruhan anjlok drastis dengan hanya tersisa 1,91 juta ton pada tahun 2024. Hal tersebut terjadi karena tren volume impor juga meningkat pada periode 2022-2024.

Lebih dalam, kinerja positif neraca pertanian Indonesia nyaris sepenuhnya disokong oleh satu pilar penopang, yakni subsektor perkebunan. Komoditas andalan seperti kelapa sawit, kelapa, kakao, dan lainnya menjadi penyangga surplus setiap tahunnya dengan kontribusi lebih dari 90% dari total ekspor tanaman pertanian. 

Kontribusi besar dari komoditas tanaman perkebunan tersebut sukses menutupi defisit neraca perdagangan di subsektor-subsektor penyedia pangan primer. Dari laporan tersebut terlihat bahwa subsektor tanaman pangan (beras, gandum, jagung) dan hortikultura (sayuran, buah-buahan)secara keseluruhan justru mengalami tren defisit. Sementara pada subsektor peternakan mencatatkan sedikit perbaikan neraca.

Defisit pada komoditas pangan dasar turut dipicu oleh siklus El Nino, yang tercermin langsung dari membesarnya ketergantungan impor. Sepanjang tahun 2024, volume impor subsektor tanaman pangan melonjak 18,07% menembus angka 27,88 juta ton, dibandingkan tahun 2023 yang berada di level 23,61 juta ton. Lonjakan volume tersebut mencatatkan neraca defisit terdalam sepanjang lima tahun terakhir yang mencapai -27,54 miliar dolar AS (2024). 

Kondisi kritis serupa terjadi pada subsektor hortikultura yang mencatat defisit 2,17 miliar dolar AS, serta subsektor peternakan dengan rapor merah defisit 3,32 miliar dolar AS pada tahun yang sama. Tren lima tahun terakhir dari setiap subsektor pertanian tersebut menggambarkan kerentanan kemampuan produksi nasional dalam mencukupi kebutuhan domestik yang masih diuji dalam merespons ancaman iklim.

Ambisi besar untuk transformasi menjadi lumbung dan eksportir pangan di kancah global adalah visi strategis yang positif. Namun, realitas dari tren data menuntut prioritas perbaikan dan pembangunan fondasi ketahanan pangan domestik terhadap krisis iklim. 

Sebelum bermimpi menjadi eksportir, Indonesia perlu lebih dulu menutup defisit pada tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan yang masih berlanjut. Dalam menghadapi faktor tantangan alam, solusi mitigasi iklim perlu dijalankan lewat modernisasi sistem pertanian, investasi masif pada infrastruktur irigasi, pengembangan varietas tahan panas, hingga manajemen rantai pasok yang kuat.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Data

Rekomendasi SUAR