Indonesia Bangun Kekuatan Kerja Sama Ekonomi di Aliansi BRICS 2026
Dari forum BRICS pada 12-13 September 2026 di India, Indonesia dengan keanggotaan penuhnya membuka peluang lebih besar untuk menguatkan sekaligus mengamankan stabilitas kerja sama ekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
•
2 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, pada 12–13 September 2026. Kehadiran Indonesia yang kedua kali di ajang BRICS ini menandai partisipasi penting sebagai anggota penuh setelah resmi bergabung pada 1 Januari 2025, di Rio de Janeiro.
Di tengah dinamika ketidakpastian global yang kian kompleks, forum ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk berdialog secara aktif, mempererat hubungan kerja sama, serta membuka ruang negosiasi ekonomi yang lebih luas dengan negara-negara anggota aliansi besar tersebut.
Secara global, kekuatan ekonomi aliansi BRICS menunjukkan dominasi yang kian besar dan signifikan dalam lanskap makroekonomi dunia. Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), total Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) negara anggota BRICS pada tahun 2025 telah mencapai 85,23 triliun dolar AS atau setara dengan 40,5% dari PDB global.
Proporsi angka PDB BRICS yang besar tersebut bahkan diproyeksikan akan terus tumbuh mencapai 93,75 triliun dolar AS atau menyentuh 42,1% dari PDB global pada tahun 2026. Pertumbuhan tersebut diproyeksikan didorong oleh penggerak utama seperti Tiongkok dan India yang memimpin kontribusi ekonomi terbesar di dalam blok tersebut.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara (menyumbang 34,5% dari total PDB ASEAN tahun 2024), Indonesia memegang peran strategis sebagai penghubung antara kawasan regional dan blok BRICS. Melalui keanggotaan penuh ini, Indonesia secara aktif mendorong kerja sama di berbagai bidang prioritas, mulai dari ketahanan pangan dan energi, transisi energi terbarukan, hingga hilirisasi mineral untuk rantai pasok kendaraan listrik dan material baterai.
Masuknya Indonesia ke dalam aliansi ini juga berfokus pada pengamanan pasar serta diversifikasi pasar ekspor nasional. Di tengah perlambatan ekonomi di berbagai kawasan, ekspansi ke pasar negara-negara berkembang anggota BRICS memberikan perlindungan dan memperluas pangsa pasar komoditas unggulan Indonesia.
Diversifikasi tersebut tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal, tetapi juga membuka peluang penetrasi produk manufaktur dan olahan bernilai tambah tinggi ke pangsa pasar yang jauh lebih masif dan dinamis.
Kekuatan ekspor Indonesia ke negara-negara anggota BRICS tercatat memiliki kinerja yang baik, dengan total nilai pengapalan menembus angka 96,54 miliar dolar AS pada tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tiongkok dan India menempati urutan teratas sebagai destinasi ekspor terbesar masing-masing senilai 66,96 miliar dolar AS dan 18,3 miliar dolar AS.
Posisi tersebut disusul oleh Uni Emirat Arab sebesar 4,02 miliar dolar AS, Brasil 2,21 miliar dolar AS, Mesir 1,94 miliar dolar AS, Rusia 1,87 miliar dolar AS, Afrika Selatan 0,99 miliar dolar AS, hingga Iran 0,25 miliar dolar AS. Kinerja ekspor Indonesia ke negara anggota BRICS turut ditopang oleh kekuatan komoditas sumber daya alam andalan seperti CPO, batubara, nikel, dan komoditas mineral kritis lainnya.
Keikutsertaan dan penguatan posisi Indonesia dalam aliansi BRICS merupakan bentuk upaya kerja sama dalam menguatkan ekonomi domestik serta mendukung ekonomi regional. Berperan sebagai jembatan di antara berbagai kekuatan besar dunia, Indonesia tidak hanya mengamankan kepentingan ekonomi domestik melalui perluasan akses pasar dan investasi, tetapi juga memperkuat posisi tawarnya di panggung geopolitik global.
Sinergi kerja sama memberikan keuntungan ganda bagi Indonesia dalam mempercepat pembangunan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global saat ini.