Perkembangan terkini di dunia saham, termasuk kinerja emiten, tren pasar, dan kebijakan yang memengaruhi pergerakan investasi.
Hasil yang cukup melegakan karena Indonesia masih berada dalam klasifikasi emerging market atau tidak tergelincir ke frontier market apalagi standalone market. Namun, investor harus bersiap pada laporan MSCI berikutnya pada 23 Juni.
Keterbukaan informasi mengenai ultimate beneficial owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir dipandang sebagai salah satu langkah untuk memperkuat kepercayaan investor dan meningkatkan daya saing emiten.
BEI bersiap dengan kepemimpinan baru setelah nama Jeffrey Hendrik muncul sebagai Direktur Utama untuk periode 2026-2030. Susunan direksi baru tersebut disebut telah ditetapkan oleh OJK dan tinggal menunggu pengesahan dalam RUPS Tahunan yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.
Pelaku pasar saham domestik tengah mengarahkan perhatian pada dua agenda penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan diumumkan pada 18 Juni 2026 waktu Central European Summer Time (CEST) pukul 22.30 atau sekitar 03.00 WIB esok harinya.
Penguatan IHSG ini dikerek oleh wacana buyback saham oleh sejumlah BUMN dan putusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 0,25% menjadi 5,5%.
Pada penutupan perdagangan, IHSG berakhir di level 5.342,14 melemah 4,52% atau turun 252,63 poin dari posisi sebelumnya 5.594,77. Sebanyak 701 saham melemah, 78 saham menguat, dan 180 saham stagnan.
Dalam waktu relatif singkat, investor asing beramai-ramai melepas aset baik yang berupa kepemilikan saham maupun surat berharga. Di bursa saham, asing mencatat net sell Rp 61,3 triliun sejak awal tahun. Sementara di pasar obligasi, kepemilikan SBN oleh asing berkurang Rp 15,5 triliun dalam 5 bulan.
Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya dipengaruhi oleh rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Ini juga merupakan respons pasar terhadap berbagai faktor ekonomi domestik dan global yang sedang berkembang.
Pelemahan rupiah yang signifikan dan turunnya nilai saham secara tajam di pasar bursa dalam negeri perlu disadari sebagai tanda adanya kesalahan dalam tata kelola kebijakan.
Merosotnya IHSG dipicu sentimen eksternal dari outlook dari S&P dan peringkat kredit Moody's Rating. Sentimen internal dalam negeri juga memicu merosotnya IHSG.
Kebijakan ini diperkirakan bakal meningkatkan masuknya devisa sehingga mendatangkan modal ke sistem keuangan dalam negeri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah menjelang libur panjang Idul Adha 2026 dan hari lahir Pancasila pada 1 Juni 2026. Kondisi ini berbeda dibandingkan momentum serupa tahun lalu ketika pasar saham domestik masih mampu menguat meski dibayangi aksi jual investor asing.
Menampilkan 12 dari 96 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.