‎Momentum IPO Memudar Saat Pasar Berangsur Pulih

Di tengah gairah pasar yang mulai membaik, penawaran perdana saham beberapa perusahaan beberapa waktu lalu mengalami titik klimaks

‎Momentum IPO Memudar Saat  Pasar Berangsur Pulih
Presiden Direktur PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Garibaldi Thohir, Pendiri Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam), Founder RANS Raffi Ahmad, Direktur Utama RANS Nagita Slavina, dan Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Saidu Solihin menyaksikan layar pencatatan perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/07/2026). ANTARA FOTO/ Muhammad Heriyanto
Daftar Isi

Sejumlah saham yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juli 2026 mulai kehilangan momentum penguatannya. ‎Pada perdagangan Kamis (16/7/2026), beberapa emiten pendatang baru ditutup di zona merah meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat 1,10% ke level 6.108,21. ‎ ‎Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) mencatat pelemahan terdalam di antara saham IPO terbaru dengan turun 6,62% atau 18 poin ke level 254. Sepanjang perdagangan, saham RANS sempat menyentuh level terendah 240 sebelum memangkas sebagian pelemahannya di akhir sesi. ‎ ‎Sementara itu, saham PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) terkoreksi 2,95% ke level 460, sedangkan saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) turun 0,88% ke level 565.

Aksi ambil untung investor

‎‎Ketiga emiten tersebut merupakan bagian dari gelombang IPO yang melantai di BEI pada awal Juli 2026. BACH dan EMMI resmi tercatat pada 8 Juli 2026, sedangkan RANS mulai diperdagangkan pada 10 Juli 2026. ‎ ‎Pelemahan tersebut mengindikasikan mulai munculnya aksi ambil untung (profit taking) setelah saham-saham baru mencatatkan kinerja positif pada masa awal perdagangan. ‎ ‎Di sisi lain, investor juga cenderung lebih selektif dalam memburu saham IPO setelah euforia pencatatan perdana mulai mereda. ‎ ‎Meski demikian, secara umum minat terhadap penawaran umum perdana saham (IPO) sepanjang Juli masih tergolong tinggi.

Direktur Utama Niramas Utama, Yusuf Hamdani, saat pencatatan saham perdana JELI, Selasa (7/7/2026)(Dokumentasi IDX/BEI)

‎Pada periode tersebut, pasar modal kedatangan enam emiten baru, yakni JELI, JECX, BACH, EMMI, PRDL, dan RANS, yang menawarkan beragam sektor usaha dan nilai penghimpunan dana. ‎ ‎Di tengah koreksi sejumlah saham IPO, pelaku pasar diperkirakan akan kembali mencermati fundamental masing-masing emiten sebagai penentu arah pergerakan harga selanjutnya.

IHSG bertahan di jalur hijau

‎Setelah fase euforia pencatatan perdana berlalu, pergerakan saham umumnya mulai dipengaruhi oleh kinerja keuangan, prospek bisnis, likuiditas perdagangan, serta sentimen pasar secara keseluruhan. ‎ ‎IHSG sendiri ditutup menguat 66,24 poin atau 1,10% ke level 6.108,21 pada penutupan perdagangan. Penguatan indeks ditopang aksi beli investor domestik, sementara investor asing masih membukukan jual bersih. ‎ ‎Berdasarkan data BEI, IHSG dibuka di level 6.056,75, sempat menyentuh level terendah 6.024,35, sebelum berbalik menguat hingga ditutup di posisi tertinggi harian, yakni 6.108,21. ‎ ‎Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp13,33 triliun, volume 26,59 miliar saham, dan frekuensi transaksi sebanyak 2,274 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.659 triliun. ‎ ‎Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 385 saham menguat, 254 saham melemah, dan 326 saham ditutup stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan indeks didukung oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. ‎ ‎Di sisi pelaku pasar, investor domestik menjadi penopang utama penguatan IHSG dengan membukukan pembelian senilai sekitar Rp7,90 triliun dan penjualan Rp7,75 triliun, sehingga mencatatkan beli bersih sekitar Rp152 miliar. ‎ ‎Sebaliknya, investor asing masih mencatatkan jual bersih sekitar Rp152 miliar, dengan nilai pembelian sekitar Rp3,50 triliun dan penjualan Rp3,65 triliun. ‎ ‎Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang pergerakan indeks. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 1,75%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 1,06%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) meningkat 2,62%.

‎IPO di tengah pasar yang mulai pulih

‎Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai maraknya penawaran umum perdana saham (IPO) di bulan ini belum dapat diartikan sebagai sinyal pulihnya pasar modal Indonesia. ‎ ‎Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, emiten baru justru menghadapi tantangan yang lebih besar, terutama dari sisi likuiditas dan minat investor. ‎ ‎David mengatakan realisasi IPO sepanjang 2026 masih tertinggal dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga pertengahan Juli, baru sekitar tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di BEI, jauh di bawah capaian 26 emiten pada periode yang sama tahun 2025. ‎ ‎"Meski ramai di bulan Juli, realisasi IPO di 2026 sebenarnya masih kecil dibandingkan dengan kondisi 2025. Kondisi IPO yang ramai di waktu bersamaan, terutama di pasar modal yang sedang tertekan, juga dapat menjadi tantangan dengan likuiditas yang lebih terbatas," ujar David kepada SUAR.

Baca juga:

RANS Ramaikan Lantai Bursa, Majukan Potensi Value Kekayaan Intelektual
IPO RANS menegaskan kapasitas industri hiburan menghasilkan ekosistem yang dapat menggerakkan ekonomi. Mengusung visi kekayaan intelektual sebagai tengara sebagai perusahaan media.

‎Menurutnya, tekanan pasar yang masih diwarnai arus keluar dana asing membuat risiko likuiditas menjadi perhatian utama. Dalam kondisi seperti itu, saham-saham IPO berpotensi kehilangan daya tarik setelah euforia pencatatan saham mereda. ‎ ‎"Risiko likuiditas akan menjadi tantangan di pasar yang sedang tertekan, terutama ketika pasar diliputi sentimen negatif dan mengalami outflow. Di kondisi ini saham IPO dapat berisiko untuk ditinggalkan investor begitu euforia listing pudar," katanya. ‎ ‎Meski demikian, David menilai kondisi tersebut bukan berarti investor harus menghindari seluruh saham IPO. Justru, selektivitas menjadi kunci dalam menentukan pilihan investasi. ‎ ‎Ia menyarankan investor mencermati emiten yang memiliki model bisnis non-diskresioner, pangsa pasar yang kuat, serta prospek pertumbuhan yang jelas sehingga memiliki margin keamanan valuasi yang lebih baik di tengah ketidakpastian ekonomi. ‎ ‎Selain itu, penggunaan dana hasil IPO juga perlu menjadi perhatian. Menurutnya, alokasi dana yang difokuskan untuk ekspansi kapasitas produktif dapat menjadi indikator positif bagi pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. ‎ ‎David juga mengingatkan pentingnya memperhatikan rasio free float dan struktur kepemilikan pasca-IPO. ‎ ‎"Porsi saham publik yang terlalu kecil berpotensi meningkatkan volatilitas sehingga pergerakan harga saham menjadi lebih ekstrem setelah tercatat di bursa," jelas dia.

‎Volatilitas new normal bagi IHSG

‎Sementara itu, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman menilai volatilitas tinggi kini telah menjadi new normal bagi pergerakan IHSG. Menurutnya, fluktuasi yang terjadi saat ini masih tergolong wajar mengingat dinamika pasar global yang masih berlangsung. ‎ ‎"Pasar memang bergerak dalam volatilitas yang sangat tinggi. Sebenarnya ini tergolong cukup wajar," kata Fath. ‎ ‎Ia menjelaskan, pelemahan IHSG biasanya lebih dipengaruhi aksi ambil untung setelah muncul sentimen positif dari keputusan S&P Global yang mempertahankan peringkat dan prospek kredit Indonesia. Meski aktivitas perdagangan meningkat, investor asing masih membukukan jual bersih sekitar Rp830 miliar.

Baca juga:

Peringkat Kredit RI Konsisten, Pemerintah Optimis Kepercayaan Global Menguat
Fundamental ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan tantangan akibat fragmentasi perdagangan global dan meningkatnya tensi geopolitik

‎Dari faktor eksternal, Fath menilai inflasi Amerika Serikat pada Juni yang lebih rendah dari perkiraan pasar turut meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. ‎ ‎Kondisi tersebut sempat mendorong kenaikan harga emas global sehingga saham-saham yang berkaitan dengan komoditas emas kembali menarik perhatian investor. ‎ ‎Namun, ia mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mewaspadai dinamika global karena perlambatan inflasi tersebut berpotensi hanya bersifat sementara atau one-off.

‎Kondisi keuangan domestik mulai membaik

Sejalan dengan itu, Samuel Sekuritas Indonesia menilai kondisi pasar keuangan domestik mulai membaik secara bertahap seiring pulihnya kepercayaan investor. ‎ ‎Managing Research Samuel Sekuritas Harry Su mengatakan penguatan aktivitas perdagangan, membaiknya pasar obligasi, serta stabilnya sentimen menjadi sinyal awal pemulihan, meski ketidakpastian global masih membayangi. ‎ ‎Menurutnya, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), penguatan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya partisipasi investor mencerminkan kepercayaan pasar yang mulai pulih. ‎ ‎Dari sisi aliran dana, investor asing masih mencatat beli bersih sekitar Rp160 miliar di pasar reguler, meski di saat yang sama membukukan jual bersih sekitar Rp7,4 miliar di pasar negosiasi. Kondisi tersebut menunjukkan investor mulai kembali masuk ke pasar, tetapi tetap menerapkan strategi yang selektif. ‎ ‎Harry juga melihat minat terhadap obligasi pemerintah kembali meningkat karena menawarkan likuiditas dan imbal hasil yang kompetitif. ‎ ‎Sementara dari eksternal, mayoritas bursa Asia ditutup menguat, harga minyak Brent naik, sedangkan harga emas terkoreksi di tengah pelemahan tipis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. ‎ ‎Meski prospek pasar mulai membaik, Harry memperkirakan investor masih akan berhati-hati dalam jangka pendek. Pergerakan pasar domestik masih dipengaruhi perkembangan imbal hasil obligasi global, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta stabilitas nilai tukar rupiah. ‎ ‎"Karena itu, investor diperkirakan tetap menerapkan strategi selektif sambil menunggu katalis baru yang dapat memperkuat momentum pemulihan pasar keuangan Indonesia," pungkasnya. ‎

Penulis

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya