RANS Ramaikan Lantai Bursa, Majukan Potensi Value Kekayaan Intelektual

IPO RANS menegaskan kapasitas industri hiburan menghasilkan ekosistem yang dapat menggerakkan ekonomi. Mengusung visi kekayaan intelektual sebagai tengara sebagai perusahaan media.

RANS Ramaikan Lantai Bursa, Majukan Potensi Value Kekayaan Intelektual
Jajaran direksi PT. RANS Entertainment berfoto bersama seusai pencatatan perdana saham (initial public offering/IPO) di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/7/2026). Foto: Chris Wibisana/SUAR
Daftar Isi

PT. RANS Entertainment Tbk. (RANS) menyemarakkan perdagangan pasar modal dengan mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/7/2026). Penawaran perdana atau Initial Public Offering (IPO) ini menjadikan RANS sebagai emiten ketujuh yang melantai di bursa saham pada tahun 2026, sekaligus perusahaan ke-963 yang tercatat di BEI.

Meski pun dibayangi berbagai kondisi masih yang kurang bergairah, ternyata pasar memberikan respons positif, setelah saham RANS resmi diperdagangkan hari ini. Penawaran dibuka melonjak, menembus Auto Rejection Atas (ARA) 34,12% ke level Rp228 per saham, dari harga penawaran perdana sebesar Rp170 per saham. 

Pasar memperlihatkan minat positif

Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, saham RANS diperdagangkan dengan volume 7.738 lot, nilai transaksi Rp176,43 juta, dan frekuensi perdagangan 1.602 kali. Melambungnya harga saham ini, menjadi sinyal tingginya minat investor terhadap emiten yang resmi menjadi pelopor industri media dan hiburan berbasis kreator di lantai bursa.

Melalui penawaran umum perdana saham ini, RANS menerbitkan 2,5 miliar lembar saham baru atau sebesar 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Dari aksi korporasi tersebut, RANS berhasil menghimpun dana segar Rp429,95 miliar serta menunjuk PT. Trimegah Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Dengan suara pecah akibat tangis haru, Direktur Utama RANS Entertainment Nagita Slavina menyatakan, pencatatan saham ini menjadi momentum industri kreativitas dapat berdiri sejajar dengan industri lain dalam menggerakkan roda perekonomian. Ia menegaskan, IPO membuktikan kreativitas mampu menjadi modal perusahaan publik yang terpercaya.

“Melalui pencatatan ini, kami ingin membuktikan ide, karya, dan ketulusan memiliki nilai di panggung ekonomi nasional. Industri kreatif tidak lagi berdiri di pinggiran, tetapi berdiri sejajar dengan industri strategis lainnya,” kata Nagita dalam gelaran IPO RANS di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Direktur Utama PT. RANS Entertainment Nagita Slavina (keempat dari kiri) menanti detik-detik menekan tombol peluncuran IPO. Foto: Chris Wibisana/SUAR

Menurut Nagita, karakteristik utama RANS sebagai perusahaan media terletak pada identitasnya sebagai suatu ekosistem berkesinambungan yang menghasilkan hak kekayaan intelektual (intellectual property rights) dari produk maupun event. Dari perhatian publik sebagai awal, nilai keekonomian tampak saat konten mengandung IPR yang berharga.. 

Entertainment jadi industri penggerak ekonomi

Berbagi kisah, Nagita menceritakan betapa industri hiburan selama ini hanya dipandang penghasil tontonan. IPO RANS menjadi momentum penegasan bahwa hiburan bukan lagi industri konten, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi yang menyejahterakan banyak orang.

“Entertainment bukan lagi sekadar konsumsi, tetapi menjadi infrastruktur ekonomi terbaru, terutama ketika orang muda semakin tertarik pada experience-based economy, membeli pengalaman, cerita, dan kenangan yang tidak hanya dibawa pulang untuk diceritakan kembali, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang luas,” imbuhnya.

Perjalanan IPO RANS, Nagita mengisahkan, tidak terjadi dalam 1-2 tahun. Visi dan misi melantai di bursa saham sudah dipersiapkan sejak 2021, ketika RANS aktif menjajakan kesempatan bertemu mitra dan investor. Dari sanalah, RANS mulai mempersiapkan kapasitas manajemen, kualitas bisnis, dan kesehatan keuangan perseroan. 

Saat ini, dengan melihat pertumbuhan industri konten lokal dan experience-based economy, RANS membidik segmen orang muda Generasi Z yang mengalokasikan pengeluaran rutinnya pada event. Perkembangan industri konten lokal dan momentum tingginya minat orang muda yang tidak datang dua kali ini memantapkan tekad RANS untuk mencatatkan saham perdananya.

“Perjalanan RANS menjadi pengingat bahwa mimpi besar dibangun dari langkah kecil. Hari ini bukan sekadar mencatatkan saham, tetapi juga kepercayaan jutaan masyarakat. Kami membuka pintu selebar-lebarnya menjadi bagian dari RANS, dan membuka babak baru untuk langkah bersama,” ujarnya.

Kesuksesan membangun properti intelektual

Mewakili investor, CEO Emtek Media Sutanto Hartono menilai, keunggulan fundamental yang meyakinkannya untuk menanamkan modal di perusahaan ini. Salah satunya adalah kemampuan RANS mengubah ide kreatif menjadi monetisasi. 

“Mereka bisa menangkap momentum yang kemudian diolah, menghasilkan IPR, dan juga mendatangkan sponsor yang benar-benar luar biasa. Itu yang kami anggap keberhasilan RANS menciptakan IP, karena penciptaan seperti itu akan berkesinambungan,” ujarnya.

Membenarkan pendapat Nagita, momentum meningkatnya nilai live-experience sebagai pemicu spending orang muda di segmen hiburan, memungkinkan IPR menghasilkan revenue jutaan dolar. Dengan kesuksesan IPO ini, ia mengharapkan menambah modal untuk pengembangan bisnis dan penguatan organisasi.

“Ada bagusnya IPO berjalan 5 tahun setelah investasi, karena kita butuh waktu untuk tumbuh berkembang. Lima tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. RANS pun harus meningkatkan kemampuan, agar kepercayaan publik bisa dipertanggungjawabkan,” kata Sutanto. 

Selain pertumbuhan yang sehat Sutanto menggarisbawahi, mekanisme penciptaan margin laba RANS dilaksanakan melalui prosedur trial-and-error yang ketat dan selektif. Dengan mencermati bisnis yang menguntungkan dan merugikan, pilihan divestasi dapat memicu penurunan pendapatan. Namun, dengan memotong perusahaan itu, keuangan perseroan menjadi lebih sehat dari waktu ke waktu.

CEO EMTEK Group Sutanto Hartono (kedua dari kanan) dan Direktur Trimegah Sekuritas David Agus (kiri) dalam Konferensi Pers IPO RANS. Foto: Chris Wibisana/SUAR

“Kalau kita cermati, walaupun turun, angka 2025 jauh lebih bagus. Overall, kita melihat profit margin meningkat dan ini sudah suatu tren yang menjadi fondasi lebih bagus untuk ke depannya,” ujar Sutanto.

Menilai kreativitas sebagai value

Berbagi pandangan dengan Sutanto, Direktur Trimegah Sekuritas David Agus menilai, kehadiran RANS sekaligus menjadi kesempatan bagi perusahaan penjamin dalam menilai kembali arti kreativitas. Dari ide yang menghasilkan influence, pergerakan follower dan aktivitas penciptaan konten menghasilkan monetisasi.

“Apakah kreativitas bisa dinilai dengan kapasitas produksi saja? Kalau ini ditanyakan ke ahli keuangan pun, akan sulit dihitung berapa fundamental value kreativitas. Namun, kalau kita lihat market cap saat ini sudah Rp2 triliun dan sekarang ARA, maka nilai kreativitas, entrepreneurship, dan influencing itu memiliki ekosistem tersendiri berkarakter unik,” kata David.

Selain fundamental, David menyatakan pihaknya yakin menjadi penjamin RANS karena komposisi pemegang saham dan investor yang memahami lanskap industri media. Meski memang ada risiko terkait anggapan umumm bahwa perseroan tergantung pada ketokohan Raffi Ahmad dan Nagita.

"Tetapi, dari profil usaha mereka saat ini, prospektus sudah mencatat kontribusi revenue dan profitabilitas tidak lagi semata-mata dari IPR Raffi dan Nagita. Lini usaha RANS sudah terdiversifikasi, dan menciptakan profit berkelanjutan,” tegasnya.

Presiden Direktur PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Garibaldi Thohir, Pendiri Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam), Founder RANS Raffi Ahmad, Direktur Utama RANS Nagita Slavina, dan Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Saidu Solihin menyaksikan layar pencatatan perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/07/2026). ANTARA FOTO/ Muhammad Heriyanto

Hindari jadi investor FOMO

Sebelumnya, Managing Research Samuel Sekuritas Harry Su mengingatkan investor untuk tidak menjadikan tren atau sektor, sebagai satu-satunya dasar dalam memilih saham IPO. 

Menurut Harry, faktor yang lebih menentukan adalah valuasi, prospek pertumbuhan laba, kondisi keuangan, serta rencana penggunaan dana hasil IPO agar investasi tetap sejalan dengan fundamental perusahaan.

Sektor yang paling menarik,menurutnya, untuk jangka panjang adalah consumer non-cyclicals, karena permintaannya relatif defensif. Namun investor juga jangan sampai hanya melihat sektornya.

"Yang lebih penting adalah valuasi, pertumbuhan laba, neraca, dan penggunaan dana IPO. Sektor bagus belum tentu menjadi investasi bagus, kalau harga IPO sudah terlalu mahal," ujarnya.

PRDL Resmi Melantai di Bursa, Bidik Ekspansi Alat Kesehatan
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (9/7/2026), sekaligus menjadi emiten keenam yang melantai di pasar modal sepanjang 2026. Emiten ini juga jadi perusahaan kelima melantai bursa sepanjang pekan ini.

Selain karakter bisnis emiten, ia menilai disiplin investor dalam melakukan analisis menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko investasi di saham IPO.

Menurut Harry, kesalahan yang paling sering dilakukan investor ritel adalah membeli saham hanya karena takut ketinggalan momentum atau fear of missing out (FOMO). Padahal, kenaikan harga pada hari pertama perdagangan belum tentu mencerminkan nilai intrinsik perusahaan.

"Risiko terbesar adalah membeli karena FOMO, bukan karena analisis. Banyak investor mengejar kenaikan hari pertama, tetapi lupa bahwa setelah euforia IPO selesai, harga akan mengikuti fundamental. Risiko lain adalah valuasi mahal, likuiditas tipis, penggunaan dana IPO yang kurang produktif, dan potensi tekanan jual setelah listing," pungkasnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, dan Teknologi

Baca selengkapnya