Pasar keuangan dalam negeri mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. rupiah sempat menguat sekitar 1,2% terhadap dolar Amerika Serikat, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia setelah peso Filipina.
Penguatan tersebut menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik yang dalam beberapa bulan terakhir dibayangi tingginya suku bunga AS, penguatan dolar, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Apresiasi rupiah kali ini berlangsung beriringan dengan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia.
IHSG menguat berkat masuknya dana asing
- IHSG sempat naik 4,12% ke level 6.254,97.
- Penguatan didorong oleh aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar saham Indonesia.
- Namun investor tetap selektif dan lebih memilih saham dengan fundamental kuat serta likuiditas tinggi.
Penguatan rupiah didukung faktor eksternal dan internal
- Penurunan harga minyak dunia membantu memperbaiki neraca pembayaran.
- BI aktif menaikkan suku bunga, melakukan intervensi pasar, dan memperkuat instrumen SRBI.
- Outstanding SRBI meningkat menjadi Rp979,88 triliun, dengan kepemilikan asing naik lebih dari Rp65 triliun.
Penguatan rupiah dan IHSG saat ini perlu dibaca sebagai pemulihan awal, bukan tanda bahwa seluruh risiko telah berakhir. Keberlanjutan reli pasar akan sangat bergantung pada kualitas arus modal yang masuk. Pasar perlu melihat apakah dana asing mulai mengalir lebih merata ke Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham, bukan hanya terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek seperti SRBI.