Pekan ketiga bulan Juni, pelaku industri sektor keuangan Indonesia harus lebih banyak menghela nafas panjang, melihat perubahan yang terjadi detik demi detik di pasar keuangan dalam negeri. Di pekan ini, beberapa keputusan dari berbagai otoritas keuangan luar dan dalam negeri akan sangat berpengaruh pada kinerja pasar keuangan di Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Seperti rencana keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan diumumkan pada 18 Juni 2026 waktu Central European Summer Time (CEST) sekitar pukul 22.30 atau pukul 03.00 WIB pada hari Jumat 19 Juni 2026. Selain soal kepastian status Indonesia dalam kategori Emerging Market, lembaga itu juga akan memutuskan akan memberlakukan kebijakan pembekuan (freeze) saham-saham dari Indonesia dalam indeks MSCI.

Keputusan tersebut dinilai berpotensi mempengaruhi arus modal asing dan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Pasalnya, MSCI masih menjadi salah satu acuan utama bagi investor institusi global dalam menentukan alokasi investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tentang kredibilitas pasar uang Indonesia
Meski sebelumnya, ekspektasi pasar terhadap hasil review MSCI yang positif, mulai terlihat dalam pergerakan IHSG beberapa waktu terakhir. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri menilai, kekhawatiran investor terkait kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia mulai mereda, seiring membaiknya sentimen global.
Menurut dia, peluang Indonesia mempertahankan status sebagai bagian dari indeks MSCI Emerging Markets dapat menjadi faktor penting yang menjaga aliran dana asing ke pasar domestik.
"Optimisme tersebut tercermin pada pergerakan IHSG yang menunjukkan penguatan dalam beberapa waktu terakhir. IHSG sendiri melonjak 4,12% ke level 6.254,97, seiring masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia," kata Novani, Rabu (17/6/2026).
Novani menjelaskan, status Indonesia dalam indeks MSCI memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan investasi sejumlah pengelola dana global. Banyak dana pasif maupun aktif menggunakan indeks MSCI sebagai acuan dalam menentukan komposisi portofolio mereka.
Karena itu, setiap perubahan status atau klasifikasi berpotensi mempengaruhi arah arus modal asing. Sebaliknya, jika Indonesia tetap berada dalam kelompok Emerging Markets, risiko keluarnya dana asing dari pasar saham dinilai dapat berkurang.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa reli pasar belum tentu berlangsung merata di seluruh sektor. Investor diperkirakan akan lebih selektif dan cenderung memilih saham-saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta memiliki risiko kebijakan yang relatif lebih rendah.
Selain keputusan SMCI, perhatian investor juga tertuju pada Global Market Accessibility Review yang akan diumumkan pada 18 Juni 2026 waktu Eropa atau 19 Juni 2026 dini hari WIB, sebelum MSCI merilis Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026 waktu Eropa atau 24 Juni 2026 WIB.
Sedangkan pada Kamis, 18 Juni 2026, Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) baru saja merilis keputusan terkait arah kebijakan moneter mereka pada Rabu setempat.
Komite memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga, dimana FOMC secara bulat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di rentang target 3,5%–3,75%. Keputusan ini juga langsung berdampak ke pasar di Indonesia beberapa jam setelahnya.
Tercatat saham-saham unggulan perbankan big caps mengalami penurunan dengan nilai transaksi cukup besar yang didominasi aksi jual pada jeda perdagangan Sesi I siang.

Di hari yang sama, para pelaku pasar juga bersiap mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Dimana pada keputusannya, BI kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poins (bps) menjadi 5,75% sebagai langkah lanjutan menstabilkan nilai tukar rupiah. Langkah ini diikuti kenaikan suku bunga deposit facility menjadi 4,75% dan suku bunga lending facility menjadi 6,5%.
Nilai tukar rupiah yang menggeliat
Bila di pasar saham masih was-was dengan perkembangan situasi yang dinamis, di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan dalam beberapa hari, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Bank Indonesia (BI) menilai penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap bauran kebijakan moneter yang ditempuh otoritas, termasuk kenaikan suku bunga acuan dan penguatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, pergerakan tersebut menunjukkan respons positif pasar terhadap berbagai kebijakan yang ditempuh BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia," kata Destry dalam keterangannya, dikutip Minggu (14/6/2026).

Menurut Destry, Bank Indonesia dalam beberapa waktu terakhir mengambil sejumlah langkah untuk memperkuat stabilitas rupiah. Selain menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen, bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga SRBI, memberikan insentif hedging swap bagi investor asing, membuka akses repo guna mendukung likuiditas perbankan, serta meningkatkan intensitas operasi moneter baik di pasar rupiah maupun valuta asing.
Destry menjelaskan kombinasi kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga memastikan pasar keuangan domestik tetap menarik bagi investor global yang saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di negara berkembang.
“Hasilnya mulai terlihat dari peningkatan arus modal asing yang masuk ke berbagai instrumen keuangan domestik. Bank Indonesia mencatat dana asing yang masuk ke SRBI nonresiden pada 10 Juni 2026 mencapai Rp15,11 triliun. Sementara itu, aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) pada 11 Juni 2026 tercatat sebesar Rp3,91 triliun,” jelasnya.
Selain itu, minat investor juga tercermin dari keberhasilan penerbitan perdana obligasi internasional Danantara yang membukukan penjualan sebesar Rp26,9 triliun. "Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," imbuhnya.
Menurutnya, masuknya modal asing menjadi salah satu faktor penting yang membantu meredakan tekanan terhadap rupiah setelah mata uang tersebut sempat mengalami pelemahan akibat meningkatnya ketidakpastian global dan pergeseran arus modal ke aset-aset yang dianggap lebih aman.
Global bond Danantara diminati pasar
Kepercayan investor asing juga terlihat dari capaian positif penerbitan global bond (obligasi global) perdana yang diterbitkan Danantara senilai USD1,5 miliar. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan, jumlah obligasi global yang diterbitkan oleh Danantara dinilai telah berhasil melebihi target yang ditetapkan sebelumnya.
Selain itu, Rosan menuturkan bahwa penerbitan obligasi global perdana tersebut memperoleh respons positif dari kunjungan ke sejumlah negara di antaranya Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. Rosan juga menyebut bahwa pihaknya bertemu dengan 122 investor global dalam rangkaian kunjungan tersebut.

Lebih lanjut, Rosan menjelaskan bahwa dari dua tenor surat utang yang diterbitkan oleh Danantara, masing-masing telah berhasil menghimpun dana sebesar USD750 juta. Rosan menyebut bahwa sebagian dari penerbitan obligasi tersebut bahkan telah terealisasi. “Karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing dan tanggal 18 dananya akan masuk ke dalam rekening Danantara,” ungkapnnya.
Ke depannya, Rosan memproyeksikan Danantara dapat membuka ruang untuk menerbitkan obligasi dengan tenor hingga 30 tahun. Hal tersebut dinilai dari tingginya minat investor terhadap instrumen yang diterbitkan Danantara hingga stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa Indonesia growth-nya ini relatif stabil. Ya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah geopolitik, geoekonomi itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga menyampaikan bahwa yang menjadi menarik dalam penerbitan obligasi global tersebut, peminat dan pembeli terbesar obligasi tersebut yakni Amerika Serikat, berbeda dengan catatan sejarah sebelumnya.
“Investornya kurang lebih yang 5 tahun itu 38 persen itu dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 21 persen dari Asia, itu yang 5 tahun. Kalau yang 10 tahun, investornya 52 persen dari Amerika Serikat, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 17 persen dari Asia,” tuturnya.
Realisasi investasi mengalami kenaikan
Disisi lain, Rosan juga menyebutkan adanya realisasi investasi pada triwulan I-2026 mencapai Rp498,8 triliun. Menurutnya, meski berada di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global, realisasi investasi di Indonesia selama triwulan pertama 2026, bisa menguat.
“Angka ini tumbuh kurang lebih 7,2% atau 24,4% dari total target di tahun 2026,” kata Rosan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama dengan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Kompleks Parlemen DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (15/06/2026).
Dari investasi yang masuk tersebut, berdampak pada penyerapan tenaga kerja hingga mencapai 706.569 orang. Jumlah ini juga mengalami peningkatan sebesar 18,9% secara year-on-year (yoy).
Penanaman Modal Asing (PMA) menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp250 triliun dan mengalami peningkatan sebesar 8,5% yoy. Sementara, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp248,8 triliun atau 49,1% dari total dan meningkat 6% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Investasi pun dilakukan di berbagai wilayah.
Jika dilihat dari asal investasi, maka komposisi negara-negara investor juga tidak berubah. "Masih dipimpin Singapura di tempat pertama dengan USD4,6 miliar dan Hongkong sebagai hub bisnis global sebesar USD2,68 miliar, diikuti dengan Tiongkok USD2,2 miliar, Amerika Serikat USD 1,3 miliar, dan Jepang USD 1 miliar,” jelasnya.
Sementara itu di bidang hilirisasi, realisasi investasinya di triwulan I-2026 tercatat sebesar Rp147,5 triliun atau mengalami peningkatan sebanyak 29,6% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Memang sektor mineral masih mendominasi dengan 67% atau Rp98,3 triliun, diikuti dengan perkebunan dan kehutanan Rp29,8 triliun, minyak dan gas bumi Rp17,7 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp1,7 triliun,” ujarnya.
Dari total jumlah investasi hilirisasi tersebut, Rp36,1 triliun di antaranya berada di Pulau Jawa, sementara sisanya berada di luar Pulau Jawa seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, dan juga Kepulauan Riau.
“Hilirisasi juga berkontribusi besar terhadap sebaran investasi di luar Jawa, 75% investasi berada di luar Jawa terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara yang ditopang oleh hilirisasi nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik,” lanjut Rosan.
Tekanan eksternal yang menurun
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menuturkan bagi Indonesia, kondisi geopolitik dunia yang sudah mulai membaik, seperti rencana perdamaian Amerika Serikat dengan Iran, memberikan keuntungan ganda. Di satu sisi, turunnya harga minyak dapat mengurangi tekanan terhadap biaya impor energi sehingga membantu memperbaiki neraca perdagangan dan transaksi berjalan.
“Di sisi lain, beban subsidi maupun kompensasi energi yang selama ini menjadi perhatian pemerintah berpotensi lebih terkendali,” ujar dia saat Konferensi Pers Ketahanan Pangan dan Energi di Kantor Bakom RI, Jakarta (17/6/2026).
Dengan demikian, ruang fiskal pemerintah menjadi lebih sehat karena tekanan anggaran dari sektor energi dapat berkurang secara signifikan.

Sentimen positif juga tercermin pada pasar keuangan domestik. Harapan perdamaian mendorong investor kembali masuk ke aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi risk-on tersebut mendukung penguatan nilai tukar rupiah setelah sebelumnya tertekan oleh lonjakan harga minyak dan ketidakpastian global.
Ia menuturkan, apabila proses perdamaian dapat berjalan berkelanjutan dan stabilitas kawasan Timur Tengah benar-benar terjaga, maka prospek ekonomi global berpotensi membaik lebih cepat.
“Bagi Indonesia, kombinasi harga energi yang lebih terkendali, inflasi yang lebih rendah, penguatan rupiah, serta membaiknya arus modal asing dapat menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.
Kondisi tersebut juga memberikan ruang yang lebih luas bagi pemerintah untuk mengarahkan anggaran pada program-program produktif seperti pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, dan penguatan daya saing nasional.
Sedangkan pengamat ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh ekspektasi penurunan harga minyak dunia. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia memperoleh manfaat dari harga minyak yang lebih stabil karena dapat menekan kebutuhan devisa untuk impor.
“Berkurangnya tekanan terhadap neraca pembayaran dan inflasi menjadi faktor yang turut meningkatkan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (17/6/2026).
Tren penguatan rupiah ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia karena dapat membantu menjaga stabilitas harga barang impor, mengurangi tekanan inflasi, serta meningkatkan kepastian bagi dunia usaha.

Ekonom Universitas Hasanuddin Muhammad Syarkawi Rauf menilai, pemulihan rupiah tidak hanya ditopang faktor eksternal. Dari dalam negeri, Bank Indonesia memainkan peran sentral melalui kombinasi kebijakan moneter yang lebih agresif. Dalam sekitar satu bulan terakhir, BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin hingga mencapai 5,50%.
Kenaikan tersebut memperbesar daya tarik aset keuangan domestik sehingga membantu menahan arus keluar modal dan mendorong investor kembali menempatkan dana di pasar Indonesia. “Bank sentral kita sangat aktif mendorong penguatan rupiah melalui kenaikan BI Rate yang naik sekitar 75 basis poin dari 4,75% menjadi 5,5%,” kata Syarkawi.
Selain melalui suku bunga, BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, serta instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Daya tarik aset berbasis rupiah semakin kuat melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada lelang 12 Juni 2026, imbal hasil SRBI mencapai 7,64%, menawarkan tingkat pengembalian yang menarik di tengah ketidakpastian pasar global.
Data Bank Indonesia menunjukkan outstanding SRBI mencapai Rp979,88 triliun pada Mei 2026, meningkat 17,1% dibandingkan posisi akhir Februari sebesar Rp837,22 triliun. Pada periode yang sama, kepemilikan investor nonresiden meningkat dari Rp150,79 triliun menjadi Rp216,48 triliun atau bertambah lebih dari Rp65 triliun.
Masuknya dana asing ke SRBI menjadi indikator bahwa investor global mulai kembali melirik aset berbasis rupiah setelah sebelumnya mengambil posisi defensif. Arus dana tersebut turut memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik.
Optimisme di pasar saham
Dari optimisme dan pemulihan yang terjadi di pasar valuta asing juga sudah mulai mempengaruhi secara positif di pasar modal. Penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir berjalan beriringan dengan rebound IHSG.
Dalam periode 9 Juni hingga 17 Juni 2026, IHSG mencatat salah satu pemulihan tercepat dalam beberapa tahun terakhir. Dari posisi terendah di level 5.300, indeks berhasil menguat sekitar 19% secara point-to-point dan kembali menembus level psikologis 6.200.

Sebelumnya, IHSG sempat terpuruk ke posisi terendah dalam lima tahun akibat kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang memicu aksi jual di berbagai sektor.
Head of Center Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman menilai, penguatan yang terjadi secara bersamaan pada rupiah dan IHSG mencerminkan membaiknya persepsi risiko terhadap Indonesia.
“Ketika pasar saham menguat dan rupiah ikut menguat, itu menunjukkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi domestik mulai kembali. Investor tidak hanya membeli saham, tetapi juga kembali menempatkan dananya pada aset-aset Indonesia,” jelas Rizal.
Menurut Rizal, investor akan kembali meningkatkan eksposur terhadap instrumen keuangan domestik ketika risiko dianggap lebih terkendali dan arah kebijakan dinilai semakin jelas.
Sentimen positif juga diperkuat oleh aksi buyback saham yang dilakukan sejumlah bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan dukungan Danantara dan investor institusi domestik, termasuk BPJS Ketenagakerjaan.
Selain itu, regulator memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk melakukan buyback tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham dalam kondisi pasar bergejolak. Kebijakan tersebut membantu menjaga kepercayaan investor sekaligus meredam volatilitas pasar.
Di sisi fiskal, pasar juga mencermati langkah pemerintah mengevaluasi sejumlah program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Penataan ulang program tersebut dipandang sebagai upaya menjaga efektivitas belanja negara dan disiplin fiskal.
Pemulihan awal setelah tekanan besar
Sementara ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengungkapkan bahwa penguatan rupiah dan IHSG saat ini perlu dibaca sebagai pemulihan awal, bukan tanda bahwa seluruh risiko telah berakhir. “Penguatan rupiah dan kenaikan IHSG belakangan ini perlu dibaca sebagai pemulihan awal setelah tekanan besar, bukan sebagai tanda bahwa semua risiko sudah selesai,” ungkap Josua.
Ia menilai keberlanjutan reli pasar akan sangat bergantung pada kualitas arus modal yang masuk. Pasar perlu melihat apakah dana asing mulai mengalir lebih merata ke Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham, bukan hanya terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek seperti SRBI.
Selain itu, indikator seperti cadangan devisa, inflasi, surplus neraca dagang, imbal hasil SBN, serta ekspektasi pelaku usaha juga perlu diperhatikan untuk mengukur kekuatan pemulihan.
“Jika penguatan hanya ditopang oleh satu atau dua hari aliran dana asing jangka pendek, maka itu lebih mencerminkan suasana pasar yang membaik sementara, bukan pemulihan fundamental,” kata dia.
Menurut Josua, Indonesia masih memiliki sejumlah keunggulan dibanding negara berkembang lain, mulai dari imbal hasil aset rupiah yang tinggi, inflasi yang terkendali, sikap BI yang tegas, hingga pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di kisaran 5%.
Meski demikian, Indonesia tetap harus bersaing dengan negara-negara Asia lain seperti India, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam yang dinilai memiliki narasi pertumbuhan dan aliran modal yang kuat.