Dari Pasar Saham Meyakinkan Dunia

Pasar saham Indonesia mengalami penguatan di tengah ketidakpastian global. Kembalinya kepercayaan investor atas inisiatif reformasi di sektor keuangan.

Daftar Isi

Di tengah kondisi global yang tertekan akibat kondisi geopolitik dunia yang terus bergejolak tanpa diketahui kapan akan berakhir, pasar saham Indonesia memperlihatkan ketegaran yang solid. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis, 16 Juli 2026 lalu ditutup menguat 66,24 poin atau 1,10% ke level 6.108,21 pada penutupan perdagangan. Penguatan indeks ditopang aksi beli investor domestik, sementara investor asing masih membukukan jual bersih. ‎

‎Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 6.056,75, sempat menyentuh level terendah 6.024,35, sebelum berbalik menguat hingga ditutup di posisi tertinggi harian, yakni 6.108,21. ‎ Adapun aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp13,33 triliun, volume 26,59 miliar saham, dan frekuensi transaksi sebanyak 2,274 juta kali.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad bersama anggota Komisi XI DPR RI mengunjungi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta pada Selasa (18/3/2025). (Dok. Partai Gerindra)

Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.659 triliun. ‎ ‎Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 385 saham menguat, 254 saham melemah, dan 326 saham ditutup stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan indeks didukung oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. ‎ ‎

Di sisi pelaku pasar, investor domestik menjadi penopang utama penguatan IHSG dengan membukukan pembelian senilai sekitar Rp7,90 triliun dan penjualan Rp7,75 triliun, sehingga mencatatkan beli bersih sekitar Rp152 miliar. ‎

‎Sebaliknya, investor asing masih mencatatkan jual bersih sekitar Rp152 miliar, dengan nilai pembelian sekitar Rp3,50 triliun dan penjualan Rp3,65 triliun. ‎ ‎Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang pergerakan indeks. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 1,75%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 1,06%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) meningkat 2,62%.

Bergairahnya pasar saham ini juga tak lepas dari sentiment positif para pelaku pasar setelah pada Senin, (13/6/2026) lalu, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's Global Ratings (S&P) kembali mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.

Afirmasi peringkat ini menunjukkan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun dunia masih menghadapi tekanan akibat tingginya suku bunga global, volatilitas pasar keuangan, ketegangan geopolitik, serta fluktuasi harga energi dan komoditas.

Validasi kuatnya pasar keuangan Indonesia

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan pasar langsung merespons positif keputusan S&P. Pengumuman yang dirilis sekitar 15 menit sebelum perdagangan saham ditutup pada Senin itu langsung membalikkan arah IHSG dari zona merah menjadi menguat hampir 2 persen hingga penutupan.

‎"Pada saat announcement dari S&P dikeluarkan, pasar bergerak di zona merah. Begitu announcement itu keluar, pasar langsung rebound dan tutup hampir plus 2 persen," kata Jeffrey di gedung BEI, Rabu (15/7/2026).

‎Menurutnya, respons tersebut menunjukkan investor memandang keputusan S&P sebagai validasi atas kuatnya fundamental ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.

‎Lebih dari sekadar mendorong penguatan indeks saham, Jeffrey menilai keputusan tersebut berhasil mengurangi ketidakpastian (uncertainty) yang selama beberapa waktu terakhir membayangi pasar akibat berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Mengurangi ketidakpastian

‎Ia menjelaskan, selama ini investor menghadapi berbagai risiko nonfundamental yang membuat persepsi terhadap Indonesia cenderung negatif. Dengan dipertahankannya peringkat investment grade dan outlook stabil, sebagian ketidakpastian tersebut mulai berkurang sehingga investor memiliki dasar yang lebih jelas dalam menghitung risiko investasi.

‎"Investor akan bisa mengukur risiko investasinya. Yang tadinya unsystematic risk sangat tinggi, sekarang bisa lebih terkelola sehingga mereka tinggal menghadapi systematic risk dalam berinvestasi di pasar modal," bebernya.

Jeffrey berharap keputusan S&P menjadi awal dari membaiknya penilaian berbagai lembaga internasional terhadap Indonesia.

a statue of a bull in a courtyard
Photo by Ruben Sukatendel / Unsplash

‎Selain lembaga pemeringkat lain, ia juga berharap penyedia indeks global, termasuk MSCI, dapat melihat kembali perkembangan fundamental ekonomi dan reformasi pasar keuangan Indonesia.

‎"Kita harapkan dengan rating agency yang lain, juga dari global index provider yang lain, saya kira harusnya akan menyusul," ungkap Jeffrey.

Integritas pasar modal terus dikuatkan

Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi, mengatakan, penguatan integritas pasar modal saat ini menjadi fokus utama OJK di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Mulai dari tensi geopolitik, fragmentasi ekonomi, hingga volatilitas arus modal.

‎"OJK terus menindaklanjuti berbagai perhatian terhadap market kita dalam menjawab concern global index provider," ucap Frederica dalam sambutannya di acara Investment Forum di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/6/2026).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi. Ist

‎Menurut Kiki begitu Frederica akrab dipanggil, saat ini OJK bersama DPR, BEI, dan pemangku kepentingan lainnya bahkan datang ke New York beberapa bulan lalu untuk bertemu langsung dengan penyedia indeks global serta lembaga pemeringkat internasional. 

‎Dalam pertemuan tersebut, delegasi Indonesia menjelaskan kondisi sektor jasa keuangan nasional sekaligus menjawab berbagai perhatian investor terhadap pasar modal domestik. "Kita jelaskan posisi Indonesia, ketahanan sektor jasa keuangan kita, dan kita jawab semua concern mereka terhadap market Indonesia," kata dia.

Ia menjelaskan, berbagai reformasi dilakukan secara cepat setelah muncul dinamika di pasar modal pada awal tahun. Langkah tersebut mencakup penguatan integritas pasar, peningkatan keterbukaan data dan informasi, perbaikan kualitas data, peningkatan likuiditas pasar, hingga penguatan penegakan hukum (enforcement).

Apresiasi investor global atas Upaya Indonesia perbaiki pasar

‎Menurut Kiki, berbagai upaya tersebut memperoleh apresiasi dari investor global dan mulai memberikan dampak positif terhadap persepsi pasar terhadap Indonesia.

‎Sentimen positif itu, lanjutnya, semakin diperkuat setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia dengan outlook stabil. Keputusan tersebut, menurutnya, menjadi sinyal bahwa fundamental sektor keuangan Indonesia tetap dipercaya di tengah ketidakpastian ekonomi global.

‎"Kita juga melihat bagaimana keputusan S&P untuk mempertahankan sovereign rating Indonesia dengan outlook stabil. Ini tentunya juga memberikan sentimen yang sangat baik. Langsung market juga merespons dengan sangat positif dengan kemudian indeks kita naik," ujarnya.

CEO Danantara Rosan Roeslani (kedua kanan) bersama Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir (kanan), Direktur Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik (kiri), Pejabat pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (tengah) dan Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Hasan Fawzi (kedua kiri) menyampaikan paparan saat dialog bersama pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2/2026).

Ia menjelaskan, berbagai reformasi dilakukan secara cepat setelah muncul dinamika di pasar modal pada awal tahun. Langkah tersebut mencakup penguatan integritas pasar, peningkatan keterbukaan data dan informasi, perbaikan kualitas data, peningkatan likuiditas pasar, hingga penguatan penegakan hukum (enforcement).

‎Menurut Kiki, berbagai upaya tersebut memperoleh apresiasi dari investor global dan mulai memberikan dampak positif terhadap persepsi pasar terhadap Indonesia.

‎Sentimen positif itu, lanjutnya, semakin diperkuat setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia dengan outlook stabil. Keputusan tersebut, menurutnya, menjadi sinyal bahwa fundamental sektor keuangan Indonesia tetap dipercaya di tengah ketidakpastian ekonomi global.

‎"Kita juga melihat bagaimana keputusan S&P untuk mempertahankan sovereign rating Indonesia dengan outlook stabil. Ini tentunya juga memberikan sentimen yang sangat baik. Langsung market juga merespons dengan sangat positif dengan kemudian indeks kita naik," ujarnya.

‎Kiki mengingatkan bahwa keberhasilan reformasi pasar modal tidak hanya bergantung pada regulator, melainkan membutuhkan komitmen seluruh pelaku industri untuk menjaga integritas pasar.

‎"Integritas sektor jasa keuangan merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan membangun kepercayaan investor. Ini tidak bisa dibangun hanya oleh OJK, DPR, atau Bursa Efek Indonesia, tetapi oleh semua pihak," ujarnya.

Perekonomian dikelola dengan prudent

‎Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti sepakat bila keputusan S&P pada dasarnya merupakan cerminan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia.

‎Menurutnya, S&P melihat Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah berbagai guncangan global melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan secara hati-hati.

‎"Yang diberikan oleh S&P sebenarnya mencerminkan trust dari global investor bahwa Indonesia mempunyai ekonomi yang sangat potensial dan selama ini di-manage dengan prudent," ungkap Destry.

‎Ia mengatakan salah satu aspek yang menjadi perhatian S&P adalah tetap terjaganya independensi Bank Indonesia dalam menjalankan kebijakan moneter.

‎Destry mencontohkan, kemampuan BI menaikkan suku bunga ketika diperlukan menunjukkan bank sentral tetap memiliki ruang independen dalam menjaga stabilitas ekonomi tanpa intervensi kebijakan lain.

‎Menurut dia, keputusan S&P mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil akan memperkuat kepercayaan pelaku pasar sekaligus meningkatkan keyakinan regulator dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) menyerahkan berkas tanggapan pemerintah kepada Wakil Ketua DPR Sari Yuliati (tengah) dalam Rapat Paripurna ke-25 DPR Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026). 

Sedangkan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa  menyatakan keputusan Standard & Poor's (S&P) Global Ratings mencerminkan kepercayaan lembaga pemeringkat internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia serta arah kebijakan pemerintah yang dinilai tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

"Jadi, pengumuman S&P ini memberikan indikasi yang jelas, bahwa lembaga internasional yang benar, yang jujur, prudent dan independen, melihat kebijakan kita baik," ujar Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-25 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026). 

Menurutnya, apresiasi dari komunitas keuangan global ini menjadi sinyal positif atas konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan disiplin fiskal.

Hasil positif ini, lanjut Purbaya, juga buah dari komunikasi aktif yang dibangun pemerintah dan DPR RI, saat menemui para investor serta lembaga pemeringkat di Amerika Serikat pada April lalu. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah bersama Komisi XI DPR RI memaparkan langsung keunggulan fondasi ekonomi Indonesia.

"Bulan April lalu, kami bersama tim anggaran DPR RI—ada Pak Misbakhun dan Pak Hekal—bertemu investor dan S&P. Kami gambarkan bahwa kondisi di Indonesia tidak sama dengan negara lain," tuturnya.

Purbaya menambahkan, dialog intensif tersebut berhasil meyakinkan investor. Keharmonisan hubungan antara eksekutif dan legislatif di dalam negeri juga menjadi poin penting yang menjamin keberlanjutan serta kepastian kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.

Baca juga:

Jaga Kepercayaan Global, DPR - Pemerintah Perkuat Sinergi Fiskal-Moneter
Koordinasi lintas lembaga diperlukan agar pemerintah dan otoritas terkait dapat merespons berbagai tantangan ekonomi secara cepat dan terukur

Ekuilibrium baru nilai tukar

‎Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyebut keputusan S&P sebagai bentuk apresiasi internasional terhadap kerja keras pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

‎Ia menilai pengakuan tersebut penting karena S&P selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga pemeringkat yang paling konservatif dalam menilai risiko suatu negara.

‎"Kerja keras kita merasa dihargai dan diapresiasi oleh internasional," cetus Misbakhun.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun 9Dok. Partai Golkar)

‎Menurut Misbakhun, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam kondisi kuat meski rupiah mengalami tekanan dan investor asing masih melakukan aksi jual di pasar domestik.

‎Ia menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi dinamika global, terutama tingginya suku bunga Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik dunia yang mendorong investor mencari aset-aset yang dianggap lebih aman.

‎"Kita ketemu ekuilibrium baru di nilai tukar. Situasi sekarang bukan situasi yang normal karena tekanan geopolitik yang luar biasa terhadap sistem keuangan global," tuturnya.

‎Ia menambahkan, berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang sehat, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia, cadangan devisa yang masih kuat, hingga stabilitas sektor perbankan.

‎Menurut Misbakhun, arus keluar modal asing yang terjadi belakangan lebih dipengaruhi faktor persepsi dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Author

Baca selengkapnya