Ringkasan Eksekutif Survei Dunia Usaha: Kekhawatiran Ada, Optimisme Tetap Dijaga

Tim SUAR melakukan survei kepada sejumlah eksekutif dan pemimpin perusahaan untuk menilai kondisi perekonomian saat ini yang didera tekanan dari berbagai sisi. Survei diselenggarakan pada 12 Juni 2026 hingga 2 Juli 2026.

Sejumlah indikator ekonomi Indonesia mengalami penurunan sejak awal tahun. Kondisi ini memicu beragam respons, terutama dari kalangan dunia usaha.

Temuan:

  • Sebagian besar atau 45,5% responden menyatakan perekonomian Indonesia kondisinya buruk. Yang menyatakan kondisi perekonomian Indonesia sangat buruk sebanyak 42,4% dan yang menganggap agak buruk sebanyak 12,1%.
  • Porsi terbesar responden menyatakan sangat khawatir terhadap kondisi rill dunia usaha saat ini (60,6%). Sebanyak 33,3% menyatakan khawatir dan 6,1% menganggap agak khawatir saja.
  • Faktor utama penyebabnya adalah buruknya disiplin fiskal pemerintah (42,4%). Penyebab lainnya adalah keluarnya modal asing dari pasar Indonesia (24,2%).
  • Sebanyak 27,3% responden menyatakan solusi mengatasi kondisi ini terletak pada upaya mengetatkan belanja negara. Porsi yang sama menyatakan hentikan program MBG (27,3%).

Banyak analis menyatakan bahwa kondisi keterpurukan ekonomi sangat berkaitan dengan arah kebijakan pemerintah. Perhatian pelaku usaha kini mulai bergeser dari faktor geopolitik global seiring redanya konflik di Timur Tengah. Melihat gejolak ekonomi mulai fokus pada risiko yang akan dihadapi korporasi akibat kebijakan pemerintah.

Untuk itu, dinamika nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga acuan BI dan The Fed, hingga proses tinjauan oleh MSCI selanjutnya perlu dipantau dan diantisipasi.

Baca selengkapnya:

Meski volatilitas di pasar keuangan meningkatkan tekanan terhadap biaya operasional, pembiayaan, hingga sentimen investasi, banyak pelaku usaha memilih fokus memperkuat fundamental bisnis sambil menaruh harapan kepada pemerintah dan regulator untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Kalangan dunia usaha menyambut baik langkah-langkah yang dilakukan pemerintah menyangkut moneter, fiskal, dan pemulihan pasar modal. Di lapangan, setiap perusahaan bersiasat dalam menjalankan bisnis agar bisa berkelanjutan dan adaptif terhadap semua tantangan.

Beberapa hal yang dilakukan pelaku usaha:

  • Menjalankan strategi bisnis secara lebih terukur sepanjang tahun ini.
  • Memperketat manajemen risiko dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan.
  • Menjalankan berbagai langkah efisiensi melalui optimalisasi kapasitas produksi, penghematan energi, peningkatan produktivitas, diversifikasi pemasok, hingga memperkuat rantai pasok dengan mendekatkan fasilitas produksi ke pasar.
  • Melakukan penyesuaian harga secara selektif dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Secara umum, pelaku usaha belum melihat gejolak pasar keuangan saat ini sebagai ancaman yang mengganggu kelangsungan bisnis secara langsung. Pelaku usaha tetap percaya pemerintah maupun regulator mampu mendorong pemulihan ekonomi pada kuartal-kuartal mendatang.

Baca selengkapnya:

Selamat membaca, Chief!

Baca selengkapnya