Dari balik jendela bilik pesawat kepresidenan India One, Boeing 777-300ER, Perdana Menteri Narendra Modi terpukau menyaksikan formasi jet tempur Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang melaju sejajar memayungi jalurnya di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut.
Momen sambutan udara setinggi kurang dari 10 detik itu diunggah di akun media sosial sang perdana menteri pada Senin (6/7/2026), dan langsung viral dengan raihan lebih dari 1,4 juta suka serta belasan ribu komentar dalam waktu singkat.
Dalam postingan tersebut, Modi secara terbuka menyampaikan apresiasinya. "Dalam perjalanan ke Jakarta… Terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas perhatian istimewanya!" tulis Modi.
Untuk menyambut kedatangan pemimpin India tersebut, TNI mengerahkan tiga jet tempur F-16 dan dua pesawat Sukhoi guna mengawal ketat pesawat India One sejak memasuki ruang udara nasional hingga mendarat mulus di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Prosedur pengawalan udara khusus ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara. Tak hanya di udara, Presiden Prabowo juga menyambut langsung PM Modi tepat di bawah tangga pesawat, yang kemudian diikuti oleh seremoni jajar kehormatan serta dentuman meriam salvo.
Sekretaris (Timur) Kementerian Luar Negeri India, Rudrendra Tandon, mengakui bahwa penyambutan dari pemerintah Indonesia kali ini terasa sangat hangat dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh delegasi New Delhi.
"Pertemuan hari ini penuh dengan persahabatan, emosi dan rasa haru. Di samping kerja keras yang dilakukan, ada banyak keakraban, warna dan energi yang kami rasakan," ujar Tandon dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa malam (7/7/2026).
Tandon mengatakan, pihaknya sangat terharu oleh ketulusan yang ditunjukkan sejak awal ketibaan Perdana Menteri India tersebut. Ia menyoroti bagaimana upacara formal di Istana Merdeka berubah ketika sambutan para murid-murid SD yang memakai seragam merah putih dengan bendera Indonesia - India berjejer menyambut Narendra Modi.
"Sulit untuk menggambarkannya secara utuh karena kehadiran anak-anak muda yang menyambut Perdana Menteri menciptakan suasana tersendiri dalam ruang lingkup protokol formal tersebut."
"Karena sambutan kunjungan kenegaraan ini cukup tidak biasa. Dan saya rasa baik Perdana Menteri maupun delegasinya benar-benar terharu oleh kehangatan ini. Pastinya akan menjadi kunjungan paling berkesan," kata Tandon menambahkan.

Pemerintah India juga memberikan penghormatan tertinggi atas setiap gestur personal dari Presiden Prabowo yang dinilai memberikan perhatian khusus bagi kunjungan kenegaraan ini. Menurut Tandon, sambutan tidak biasa ini menjadi kehormatan besar bagi komunitas India, PM Modi, serta seluruh delegasi yang hadir.
Tandon secara khusus juga menyoroti momen penganugerahan Bintang Republik Indonesia Adipurna kepada PM Modi sebagai kejutan besar yang sangat berkesan.
"Penghargaan tertinggi ini diberikan sebagai bentuk pengakuan nyata atas kontribusi besar PM Modi dalam memperkokoh dan mempererat hubungan bilateral antara kedua negara," ujar Tandon.
Beberapa diskusi juga berlangsung saat makan siang ketika mereka duduk bersama. Di sela-sela pembicaraan ini, beberapa perjanjian strategis telah disepakati diantaranya di sektor ekonomi, pertahanan, kesehatan dan pendidikan.
Kerja sama rudal supersonik BrahMos
Sebuah perusahaan patungan India-Rusia yang memproduksi rudal, BrahMos Aerospace dan Kementerian Pertahanan RI resmi menandatangani kontrak untuk sebuah sistem pertahanan rudal jelajah supersonik di hadapan Prabowo Subianto dan Narendra Modi dalam rangkaian kunjungan kenegaraan PM Modi ke Istana Merdeka pada 7 Juli 2026.
Kerja sama pertahanan tersebut menjadi salah satu dari total 16 dokumen kerja sama yang diumumkan dalam kunjungan kenegaraan tersebut.
Namun, Tandon mengatakan hingga saat ini belum ada kepastian mengenai berapa jumlah yang akan dibeli ataupun waktu ketibaan dari produk tersebut. Menurut dia, aspek teknis dan bisnis akan menjadi kewenangan perusahaan serta lembaga terkait untuk diselesaikan melalui mekanisme masing-masing.
"Perjanjian komersial sebenarnya tidak dibahas di tingkat tertinggi. Hal itu diserahkan kepada perusahaan untuk menyelesaikannya. Tetapi saya dapat memberitahu bahwa ini adalah area kolaborasi yang penting dan telah ada diskusi yang luas mengenai hal itu," kata Tandon.
Ia menyebutkan bahwa penyelesaian perjanjian komersial pengadaan rudal BrahMos akan dilakukan oleh BrahMos Aerospace bersama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Sementara itu, kerja sama rudal udara-ke-udara akan ditangani oleh Bharat Dynamics Limited (BDL) bersama Republikorp, sebuah perusahaan pertahanan di Indonesia.
Melansir Reuters, pihak BrahMos dikabarkan sedang dalam diskusi lanjutan dengan Indonesia, mengenai kesepakatan senilai antara $200 juta dan $350 juta untuk sistem rudalnya.
Selain Indonesia, rudal super cepat ini juga akan diadopsi negara Asean lainnya seperti Vietnam dan Filipina.
Dikenal sebagai salah satu rudal tercepat di dunia, rudal BrahMos juga memiliki daya serang lebih besar dan membuatnya sulit dicegat. BrahMos dilengkapi dengan teknologi siluman yang dirancang untuk membuatnya kurang terlihat oleh radar dan metode deteksi lainnya.
Rudal ini dapat diluncurkan dari sistem peluncuran vertikal, peluncur landasan, atau alternatifnya dari udara, demikian menurut laporan CSIS missile defense project.
Menancapkan pengaruh di Asean
Sejumlah pakar menilai kunjungan resmi Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia dinilai sarat akan misi memperluas penetrasi ekonomi sekaligus memperkuat pengaruh geopolitik India di kawasan Asia Tenggara.
Peneliti Hubungan Internasional dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Muhammad Waffaa Kharisma, menilai New Delhi tengah agresif mendorong ekspor komoditas, layanan jasa, hingga investasi infrastruktur agar tidak kalah pengaruh di pasar ASEAN.
Salah satu sektor utama yang kini gencar dipromosikan India adalah industri pertahanan, dengan sistem rudal supersonik BrahMos sebagai produk unggulannya. Setelah sukses menjualnya ke Filipina, India kini membidik Indonesia yang kebetulan sedang berada dalam agenda modernisasi alutsista.
Kendati demikian, Waffaa mencatat proses negosiasi kedua negara masih berjalan dinamis dan sempat mengalami pasang surut. "Diskusinya sudah lama dan sempat maju-mundur karena di awal masih ada keraguan dari pihak Indonesia terkait kecocokan dengan postur pertahanan kita. Terutama karena profil awal rudal ini dirancang untuk land-to-ship (darat ke laut), sementara kebutuhan kita cenderung untuk ship-to-ship (laut ke laut)," ujar Waffaa kepada SUAR di Jakarta, Rabu (8/7)
Di samping diplomasi militer, India juga konsisten memanfaatkan pendekatan soft power melalui "jejak peradaban" (civilizational footprints) sebagai modalitas budaya mereka. "Mereka sangat bangga dengan jejak budaya mereka, termasuk yoga hingga pengaruh arsitektur candi. Lewat narasi ini, mereka ingin mengekspor lebih banyak kebesaran India ke panggung dunia," katanya.
Sementara itu, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Paramadina, Peni Hanggarini, menilai kunjungan PM Modi dan penandatanganan belasan kesepakatan baru ini menjadi momentum krusial untuk membangkitkan kembali visi Poros Maritim Dunia (Global Maritime Fulcrum).
Menurutnya, kerja sama konkret dalam pengadaan alutsista canggih, seperti rudal jelajah supersonik BrahMos hingga rudal udara ke udara Astra, ini menegaskan adanya kesamaan identitas dan solidaritas sesama negara maritim yang sedang berkembang.
Kendati kesepakatan ini menjadi langkah awal yang positif bagi modernisasi pertahanan, Peni mengingatkan pemerintah agar tidak melupakan esensi yang lebih besar, yakni pembangunan ekosistem pertahanan maritim yang terintegrasi. Saat ini, Indonesia dinilai masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam memperkuat kesadaran ranah maritim yang melibatkan sinergi lintas kementerian.
"Ibarat sebuah rumah sakit, kepemilikan rudal supersonik itu seperti kita memiliki ruang operasi. Sangat penting dan harus punya, tetapi tidak semua penyakit harus diselesaikan di sana," ujar Peni kepada SUAR, Kamis (9/7/2026).
Peni menekankan pentingnya kalkulasi yang matang terkait kesesuaian alutsista dengan potensi ancaman riil di perairan Indonesia. Mengingat ancaman harian yang dihadapi saat ini didominasi oleh isu-isu non-konvensional seperti pencurian ikan, kapal ilegal, hingga perdagangan manusia (human trafficking), penggunaan rudal ofensif tentu bukan solusi utama.
"Ancaman-ancaman seperti itu tentu tidak perlu dihantam dengan rudal jelajah supersonik. Namun, saya tidak menegasikan bahwa kita tidak butuh rudal ini. Kita tetap butuh untuk efek gentar, tetapi yang jauh lebih mendesak ke depan adalah bagaimana sistem dan ekosistem pertahanan maritim kita bisa benar-benar terintegrasi dan mampu," ujarnya.
Kerja sama mineral tanah jarang
Selain bidang pertahanan, sejumlah kesepakatan strategis lain juga berhasil diamankan terutama dalam mengamankan pasokan mineral kritis tanah jarang (rare earth).
"Hari ini, kesepakatan penting telah ditandatangani terkait rantai pasok mineral kritis, stainless steel, dan tanah jarang," ujar Narendra Modi dalam sambutannya di istana Merdeka.
Kemitraan ini dinilai sangat strategis bagi kedua negara guna mengamankan jalur industri teknologi tinggi dan transisi energi di abad-21.
Kesepakatan tersebut sejalan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama di bidang mineral dan teknologi untuk rantai pasok baja yang disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan PM Modi.
Modi mengatakan sektor swasta kedua negara juga mulai membangun kemitraan baru untuk memperkuat industri pengolahan mineral.
Di bawah bendera badan pengelola investasi Danantara, PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) resmi ditunjuk untuk mengawal proyek strategis pengelolaan logam tanah jarang bersama konsorsium India.
Dalam kemitraan ini, Perminas bakal menggandeng Midwest Limited serta Non-Ferrous Materials Technology Development Centre untuk mematangkan alih teknologi pada proses pemurnian dan hilirisasi komoditas kritis tersebut.
Meski kerja sama ini diproyeksikan bakal bermuara pada pembangunan pabrik bersama di Indonesia, realisasinya masih harus melalui sejumlah tahapan.
Sekertaris (Timur) Kementerian Luar Negeri India, Rudrendra Tandon menegaskan, seluruh poin kolaborasi ini saat ini masih berada dalam fase pembahasan intensif antara kedua negara.

Menjauhkan pengaruh Cina
Dari sudut pandang geopolitik kawasan, penguatan poros Jakarta-New Delhi ini dinilai sebagai strategi hedging yang cerdas bagi kedua negara, alih-alih bentuk pembendungan yang konfrontatif terhadap kekuatan tertentu.
Pakar Hubungan Internasional dari Griffith University, Rizky Ihsan, berpendapat, bahwa kerja sama pertahanan hingga pengelolaan logam tanah jarang ini merupakan langkah konkret untuk mendiversifikasi pasar sekaligus mengurangi ketergantungan serta kerentanan terhadap dominasi sepihak Cina di rantai pasok global.
Menariknya, dokumen kesepakatan kedua negara secara eksplisit mencantumkan komitmen untuk membangun rantai pasok yang tangguh dan terdiversifikasi. Kendati ada upaya mereduksi pengaruh Beijing, terutama pada monopoli pemrosesan logam tanah jarang, Rizky menegaskan kemitraan ini tidak serta-merta bisa dicap sebagai aliansi anti-Cina.
"Kemitraan ini murni penguatan opsi strategis. Buktinya, dalam salah satu poin perjanjian, Indonesia menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan India di BRICS tahun 2026, dan sebaliknya, India mendukung penuh keanggotaan Indonesia di blok tersebut, di mana Cina sendiri merupakan salah satu pilar utamanya," jelas Rizky kepada SUAR, Kamis (9/7/2027).
Bagi India, kedekatan ini menjadi implementasi nyata dari doktrin "Act East Policy" mereka untuk menancapkan pengaruh di belahan timur. Sementara bagi Indonesia, kolaborasi ini mempertegas manuver politik luar negeri yang luwes dalam mengamankan kepentingan nasional tanpa harus terjebak dalam polarisasi kekuatan besar.
Di sisi lain, momentum kemesraan diplomatik ini dinilai harus melahirkan dampak strategis yang nyata bagi kepentingan nasional.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menegaskan bahwa kunjungan PM Modi merupakan sinyal kuat bahwa hubungan Jakarta-New Delhi tengah naik kelas, khususnya lewat penjajakan kerja sama rudal supersonik BrahMos dan pengolahan logam tanah jarang (rare earth).
Menurut Achmad, kepemilikan rudal BrahMos sangat krusial untuk memperkuat daya tangkal maritim Indonesia di tengah memanasnya kompetisi di kawasan Indo-Pasifik. Namun, ia mengingatkan agar belanja alutsista ini tidak terjebak dalam transaksi dagang konvensional.
"Indonesia harus menuntut transfer teknologi, offset industri pertahanan, pelatihan, hingga kemampuan pemeliharaan mandiri di dalam negeri. Prinsipnya, kita harus membeli kedaulatan, bukan sekadar membeli rudal," ujar Achmad kepada SUAR.

Kerja sama bangun kampus di Indonesia
Indonesia dan India juga memperkuat kemitraan strategis di bidang pendidikan tinggi dan pengembangan sumber daya manusia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Intelegensia Grahatama selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari dengan Indian Institute of Management Bangalore (IIM Bangalore) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 6 Juli 2026.
Kerja sama tersebut akan diwujudkan melalui pembangunan kampus IIMB di kawasan ekonomi khusus (KEK) Singhasari, Malang, Jawa Timur.
Sekretaris Kementerian Koordinator (Sesmenko) Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso mengatakan, Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Target ambisius ini memerlukan peningkatan investasi yang diiringi produktivitas lebih tinggi, inovasi, serta penguatan talenta nasional.
“Dengan hadirnya IIM Bangalore, mencerminkan transformasi yang lebih luas dalam pengembangan KEK di Indonesia, dari kawasan industri menjadi ekosistem inovasi yang mengintegrasikan investasi, pendidikan, teknologi, riset, dan pengembangan talenta untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Susiwijono keterangan resminya yang diterima SUAR di Jakarta (9/7/2026).
Kerja sama ini juga didukung oleh hubungan ekonomi bilateral yang terus menguat. Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dan India mencapai US$23,2 miliar, sedangkan selama periode Januari–April 2026 telah mencapai US$7,9 miliar.
Duta Besar India untuk Republik Indonesia Sandeep Chakravorty, menyampaikan bahwa kemitraan antara IIM Bangalore dan KEK Singhasari merupakan hasil kolaborasi yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia dan Pemerintah India sebagai bagian dari penguatan kerja sama bilateral di bidang pendidikan tinggi dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kami menghadirkan yang terbaik dari India ke Indonesia. Program pendidikan yang akan dikembangkan bersama IIM Bangalore dirancang sesuai dengan kebutuhan Indonesia, mencakup berbagai bidang strategis seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), data science, manajemen sektor kesehatan, serta bidang-bidang yang relevan dengan tantangan masa depan. Kami berharap kemitraan ini menjadi awal dari babak baru pendidikan tinggi di Indonesia,” ujar dia.
Kerja sama antara KEK Singhasari dan IIM Bangalore menjadi landasan pengembangan pendidikan manajemen bertaraf internasional di KEK Singhasari. Implementasinya akan dilakukan secara bertahap melalui penyelenggaraan International General Management Program (iGMP), yaitu program executive education berdurasi 25 hari selama enam bulan yang ditujukan bagi kalangan profesional dan eksekutif.
Selain itu, kedua pihak juga akan mengembangkan berbagai program sertifikasi, pelatihan korporasi, dan leadership development. Pada tahap selanjutnya, kerja sama diarahkan menuju penyelenggaraan program diploma maupun degree-granting (Global MBA) setelah seluruh persyaratan regulasi terpenuhi.
Dalam implementasinya, IIM Bangalore bertanggung jawab atas penyusunan kurikulum, penyediaan tenaga pengajar, standar akademik, sertifikasi, dan pengembangan program pendidikan. Sementara itu, BUPP KEK Singhasari akan menyediakan fasilitas pendidikan, dukungan operasional, fasilitasi perizinan, akreditasi, serta dukungan administratif. Kedua belah pihak juga membentuk Joint Steering Committee dan Program Management Team untuk memastikan tata kelola kerja sama berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Baca juga:

Kerjasama murni investasi swasta
Kerja sama ini menggunakan skema public-private partnership tanpa komitmen pendanaan langsung dari Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah India (zero direct fiscal commitment). Dengan skema tersebut, penyelenggaraan program diharapkan dapat berkembang secara mandiri melalui kegiatan pendidikan yang berkelanjutan.
Direktur Utama BUPP KEK Singhasari, David Santoso, mengatakan, kemitraan dengan IIM Bangalore merupakan hasil dari komunikasi intensif yang telah dibangun sejak sekitar delapan bulan lalu.
“Singhasari memiliki sejarah panjang persahabatan antara Indonesia dan India. Melalui kemitraan ini, kami ingin membangun kembali sekaligus memodernisasi hubungan tersebut melalui kerja sama di bidang digital, kepemimpinan, dan pendidikan manajemen. Kami percaya kolaborasi ini akan menjadi langkah besar bagi kedua negara untuk saling belajar dan bertumbuh bersama, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga di sektor teknologi, ekonomi kreatif, dan berbagai bidang strategis lainnya,” ujar David.
Visi tersebut ditopang oleh perkembangan KEK Singhasari yang terus menunjukkan tren positif. Hingga saat ini, KEK Singhasari telah mencatat realisasi investasi kumulatif sebesar Rp2,437 triliun dan menyerap 1.190 tenaga kerja.
Potensi besar pengembangan talenta
Perwakilan IIM Bangalore Jitamitra Desai, menyampaikan bahwa kemitraan dengan KEK Singhasari merupakan langkah strategis dalam perluasan jejaring pendidikan global institusi tersebut. Indonesia dipilih sebagai lokasi ekspansi global IIM Bangalore karena besarnya potensi pengembangan talenta, dukungan pemerintah, dan visi bersama dalam membangun kepemimpinan.
“Kami sangat antusias menghadirkan kampus internasional pertama IIM Bangalore di KEK Singhasari. Kami meyakini tidak ada mitra yang lebih tepat untuk mewujudkan langkah penting ini. Melalui program-program yang kami rancang bagi para pemimpin di sektor industri maupun pemerintahan, kami berharap dapat berkontribusi dalam menyiapkan talenta Indonesia yang mampu menghadapi tantangan global, mulai dari transformasi digital, kecerdasan buatan, rantai pasok global, hingga perubahan iklim,” ujar dia.
Ia menambahkan bahwa IIM Bangalore akan membawa pendekatan pembelajaran berbasis studi kasus (case-based teaching) yang telah menjadi ciri khas institusi tersebut. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan kemampuan manajerial peserta melalui pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik di dunia usaha dan pemerintahan.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan Kerja sama antara Indonesia dan India di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari dinilai mampu menarik investasi di sektor pendidikan, teknologi digital, dan ekonomi kreatif yang menjadi fokus pengembangan KEK Singhasari. Dengan memadukan keunggulan Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara dan pengalaman India dalam bidang pendidikan, teknologi informasi, serta inovasi, kemitraan tersebut diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing kedua negara.
“Melalui kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan dan industri dari India, KEK Singhasari berpotensi menjadi pusat pengembangan talenta yang mampu menjawab kebutuhan industri masa depan. Program pertukaran akademik, pelatihan profesional, penelitian bersama, hingga pengembangan kewirausahaan diharapkan dapat melahirkan SDM yang memiliki daya saing global sekaligus memperkuat kapasitas inovasi nasional,” ungkap dia kepada SUAR di Jakarta (9/7/2026).