Pemerintah India menyebut kunjungan resmi kenegaraan Perdana Menteri India, Narendra Modi ke Indonesia kali ini benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh delegasi.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Sekertaris (Timur) Kementerian Luar Negeri India, Rudrendra Tandon yang menyebut hangatnya sambutan yang diberikan oleh Presiden Prabowo serta masyarakat sangat menyentuh hati.
"Pertemuan hari ini penuh dengan persahabatan, emosi dan rasa haru. Di samping kerja keras yang dilakukan, ada banyak keakraban, warna dan energi yang kami rasakan," ujar Tandon dalam press konferensi di Jakarta, Selasa malam (7/7).
Tandon mengatakan pihaknya sangat terharu oleh ketulusan yang ditunjukkan sejak awal ketibaan Perdana Menteri India tersebut.
Ia menyoroti bagaimana upacara formal di Istana Merdeka berubah menjadi momen yang hangat berkat sambutan para murid-murid SD yang berjejer menyambut Narendra Modi.
"Sulit untuk menggambarkannya secara utuh karena kehadiran anak-anak muda yang menyambut Perdana Menteri menciptakan suasana tersendiri dalam ruang lingkup protokol formal tersebut."
"Karena sambutan kunjungan kenegaraan ini cukup tidak biasa. Dan saya rasa baik Perdana Menteri maupun delegasinya benar-benar terharu oleh kehangatan ini. Pastinya akan menjadi kunjungan paling berkesan," kata Tandon menambahkan.
Pemerintah India juga memberikan penghormatan tertinggi atas setiap gestur personal dari Presiden Prabowo yang dinilai memberikan perhatian khusus bagi kunjungan kenegaraan ini. Menurut Tandon, sambutan tidak biasa ini menjadi kehormatan besar bagi komunitas India, PM Modi, serta seluruh delegasi yang hadir.
Sebanyak tiga unit jet tempur F-16 dan dua Sukhoi Su 27/30 dikerahkan TNI Angkatan Udara untuk mengawal ketat pesawat yang membawa PM Narendra Modi hingga menyentuh landasan pacu Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin sore.
Tandon menyebut, tak sampai di situ, Presiden Prabowo menyambut langsung delegasi India di bandara.
Tandon secara khusus juga menyoroti momen penganugerahan Bintang Republik Indonesia Adipurna kepada PM Modi sebagai kejutan besar yang sangat berkesan.
"Penghargaan tertinggi ini diberikan sebagai bentuk pengakuan nyata atas kontribusi besar PM Modi dalam memperkokoh dan mempererat hubungan bilateral antara kedua negara," ujar Tandon.
Beberapa diskusi juga berlangsung saat makan siang ketika mereka duduk bersama. Di sela-sela pembicaraan ini, beberapa perjanjian telah disepakati, menghasilkan 16 kesepakatan strategis di sektor ekonomi, pertahanan, kesehatan dan pendidikan.
Detail rudal supersonik BrahMos
Kontrak kerja sama pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos antara BrahMos Aerospace dan Kementerian Pertahanan RI diumumkan di hadapan Prabowo Subianto dan Narendra Modi dalam rangkaian kunjungan kenegaraan PM Modi ke Istana Merdeka pada 7 Juli 2026.
Kerja sama pertahanan tersebut menjadi salah satu dari total 16 dokumen kerja sama yang diumumkan dalam kunjungan kenegaraan tersebut.
Tandon mengatakan kerja sama ini merupakan bagian penting dari kolaborasi antar industri yang sedang diupayakan oleh kedua pemimpin, membawa hubungan kerja sama pertahanan kita ke tingkat selanjutnya.
Namun, Tandon mengatakan hingga saat ini belum ada kepastian mengenai berapa jumlah yang akan dibeli ataupun waktu ketibaan dari produk tersebut. Menurut dia, aspek teknis dan bisnis akan menjadi kewenangan perusahaan serta lembaga terkait untuk diselesaikan melalui mekanisme masing-masing.
"Perjanjian komersial sebenarnya tidak dibahas di tingkat tertinggi. Hal itu diserahkan kepada perusahaan untuk menyelesaikannya. Tetapi saya dapat memberi tahu Anda bahwa ini adalah area kolaborasi yang penting dan telah ada diskusi yang luas mengenai hal itu," kata dia.
Ia menyebutkan bahwa penyelesaian perjanjian komersial pengadaan rudal BrahMos akan dilakukan oleh BrahMos Aerospace bersama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Sementara itu, kerja sama rudal udara-ke-udara akan ditangani oleh Bharat Dynamics Limited (BDL) bersama Republikorp.

Pemerintah India menegaskan bahwa kerja sama pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos dan rudal udara-ke-udara dengan Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan kapabilitas pertahanan kedua negara melalui sistem persenjataan yang dikembangkan sendiri.
Kolaborasi tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk memperdalam hubungan bilateral di sektor pertahanan sekaligus memperkuat industri pertahanan nasional masing-masing negara.
Tandon menekankan bahwa Indonesia dan India sama-sama merupakan negara berkembang yang memiliki kepentingan untuk saling mendukung dalam membangun kemampuan pertahanan. Oleh karena itu, kerja sama tersebut diarahkan pada penguatan kapasitas bersama melalui kolaborasi teknologi dan industri, bukan sekadar hubungan antara penjual dan pembeli.
"Kita berdua adalah negara berkembang. Kita telah memutuskan untuk saling berkolaborasi guna membantu satu sama lain. Ini adalah bagian dari kolaborasi pertahanan, dan sangat melekat pada kemitraan strategis komprehensif yang kita miliki," ujar Tandon.

Perkokoh sistem pertahanan nasional
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menuturkan Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar terhadap penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sebagai bagian dari upaya memperkokoh sistem pertahanan nasional.
Perhatian tersebut didasari oleh karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki wilayah laut sangat luas, garis pantai yang panjang, serta berada di jalur pelayaran internasional yang strategis.
"Kondisi tersebut menuntut kemampuan pertahanan yang mampu menjaga kedaulatan wilayah sekaligus melindungi kepentingan nasional di seluruh kawasan maritim," kata Esther.
Dalam kerangka tersebut, ujar Esther, pemerintah memprioritaskan modernisasi sistem pertahanan yang mampu meningkatkan kemampuan pengawasan dan perlindungan wilayah perairan Indonesia. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah memperkuat sistem pertahanan pantai melalui pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos hasil kerja sama dengan India.
“Sistem persenjataan ini diharapkan dapat mendukung strategi penangkalan (sea-denial) sehingga mampu meningkatkan daya gentar terhadap berbagai potensi ancaman di wilayah maritim nasional,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (8/7).
Ia menilai pemerintah menempatkan kolaborasi tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas pertahanan Indonesia melalui pengembangan teknologi dan peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional.
Selain memperkuat kapabilitas militer, kerja sama Indonesia dan India juga mencerminkan semakin eratnya kemitraan strategis kedua negara di kawasan Indo-Pasifik.
Kolaborasi di bidang pertahanan maritim diharapkan tidak hanya meningkatkan stabilitas dan keamanan kawasan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki kemampuan menjaga kedaulatan wilayahnya secara mandiri sekaligus membangun hubungan pertahanan yang saling menguntungkan dengan negara mitra.
Transfer teknologi
Aspek transfer teknologi menurut Esther juga menjadi salah satu nilai strategis dalam kemitraan tersebut. Melalui kerja sama dengan India, Indonesia memiliki peluang memperoleh alih pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi pertahanan.
"Langkah ini diharapkan mampu mempercepat kemandirian industri pertahanan dalam negeri sehingga kebutuhan alutsista nasional secara bertahap dapat dipenuhi melalui kemampuan produksi domestik," kata Esther.
Di sisi lain, momentum kemesraan diplomatik ini dinilai harus melahirkan dampak strategis yang nyata bagi kepentingan nasional.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menegaskan bahwa kunjungan PM Modi merupakan sinyal kuat bahwa hubungan Jakarta-New Delhi tengah naik kelas, khususnya lewat penjajakan kerja sama rudal supersonik BrahMos dan pengolahan logam tanah jarang (rare earth).
Menurut Achmad, kepemilikan rudal BrahMos sangat krusial untuk memperkuat daya tangkal maritim Indonesia di tengah memanasnya kompetisi di kawasan Indo-Pasifik. Namun, ia mengingatkan agar belanja alutsista ini tidak terjebak dalam transaksi dagang konvensional.
"Indonesia harus menuntut transfer teknologi, offset industri pertahanan, pelatihan, hingga kemampuan pemeliharaan mandiri di dalam negeri. Prinsipnya, kita harus membeli kedaulatan, bukan sekadar membeli rudal," ujar Achmad.
Dukung hubungan ekonomi Indonesia-India
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyatakan dukungannya terhadap semakin eratnya hubungan ekonomi antara Indonesia dan India, khususnya dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Apindo menilai penguatan kerja sama kedua negara akan membuka lebih banyak peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jaringan bisnis, meningkatkan daya saing, serta mengakses pasar internasional.
kerja sama tersebut sejalan dengan inisiatif pengembangan Indonesia Open Network (ION) yang sebelumnya telah dijalankan untuk memperkuat ekosistem UMKM.
“Platform tersebut dirancang sebagai wadah yang menghubungkan pelaku usaha dengan berbagai pemangku kepentingan, sehingga mampu mendorong pertumbuhan bisnis yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (8/7).
Menurut Shinta, Indonesia Open Network diharapkan dapat menjadi solusi atas berbagai tantangan yang selama ini dihadapi pelaku UMKM, terutama keterbatasan akses terhadap pembiayaan dan pasar. Melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan mitra internasional, ION diharapkan mampu memperluas kesempatan bagi UMKM untuk memperoleh pendanaan, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperluas jangkauan pemasaran hingga ke pasar global.