Menjelang lawatan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026, perhatian masyarakat India kembali tertuju pada pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-80 pada 26 September 2025.
Pidato tersebut menjadi perbincangan luas dan mendapat apresiasi di India, bukan semata karena pesan politik maupun ekonomi yang disampaikan, melainkan karena dinilai mencerminkan pendekatan diplomasi yang menghargai sejarah, kebudayaan, dan peradaban kedua bangsa.
Asisten Khusus Presiden RI, Dirgayuza Setiawan menjelaskan bahwa pidato Presiden Prabowo memperlihatkan hubungan Indonesia dan India yang berakar pada ikatan sejarah panjang, jauh sebelum lahirnya hubungan diplomatik modern.
Menurutnya, kerja sama kedua negara tidak hanya bertumpu pada perdagangan, investasi, atau sektor pertahanan, tetapi juga dibangun melalui penghormatan terhadap warisan budaya yang telah menghubungkan kedua bangsa selama lebih dari satu milenium.
Dalam pidatonya di forum internasional tersebut, Presiden Prabowo mengawali sambutan dengan rangkaian salam lintas agama dan budaya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Shalom, Salve, Om Swastyastu, Salam Kebajikan, Rahayu."
Di mata banyak masyarakat India, pembukaan tersebut mencerminkan wajah Indonesia sebagai negara yang mampu menjaga keberagaman agama, tradisi, dan kebudayaan dalam satu identitas nasional yang inklusif.
Kesan positif itu semakin menguat ketika Presiden Prabowo mengakhiri pidatonya dengan ucapan "Om Shanti Shanti Shanti Om" sebagai doa penutup bagi perdamaian dunia.
Dalam tradisi Sanskerta dan ajaran Hindu, doa tersebut mengandung harapan akan kedamaian dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Bagi publik India, penyampaian doa tersebut oleh pemimpin negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu warisan spiritual India di hadapan komunitas internasional.
Dirgayuza mengatakan sikap tersebut dinilai sejalan dengan filosofi India Vasudhaiva Kutumbakam yang bermakna "dunia adalah satu keluarga". Nilai itu dianggap tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat India, tetapi juga tercermin dalam perjalanan sejarah Indonesia sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban yang hidup berdampingan selama berabad-abad.
“Dari perspektif sejarah, hubungan Indonesia dan India memang telah terjalin sejak lebih dari seribu tahun lalu melalui jalur perdagangan maritim di Samudra Hindia. Selain menjadi jalur pertukaran komoditas seperti rempah-rempah, emas, dan tekstil, hubungan tersebut juga membawa masuk pengaruh bahasa Sanskerta, pemikiran filsafat, sastra, ilmu pengetahuan, seni arsitektur, hingga konsep pemerintahan dan kehidupan sosial yang kemudian berakulturasi dengan budaya Nusantara,” ujar dia dalam keterangan resminya yang diterima SUAR di Jakarta (6/7).
Jejak hubungan panjang itu masih dapat disaksikan melalui berbagai peninggalan sejarah di Indonesia. Salah satunya adalah Kompleks Percandian Muaro Jambi yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan keagamaan Buddha terbesar di Asia Tenggara pada masanya.
Kawasan tersebut menjadi tempat berkumpul para biksu dan cendekiawan dari India, Sriwijaya, hingga Tiongkok, sehingga banyak sejarawan menempatkannya sebagai salah satu simpul penting jaringan intelektual Asia kuno.
Pengaruh kebudayaan India juga tercermin pada relief-relief Ramayana di Candi Prambanan. Namun, kisah tersebut berkembang menjadi Ramayana khas Nusantara yang menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia mengadaptasi pengaruh luar tanpa menghilangkan jati dirinya.
Proses akulturasi itulah yang membuat berbagai nilai dari India kemudian menyatu dan berkembang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia hingga sekarang.
Ia mengatakan penggunaan salam "Om Swastyastu" maupun penutup "Om Shanti Shanti Shanti Om" oleh Presiden Prabowo dipandang sebagai refleksi dari warisan sejarah yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, bukan sekadar mengadopsi budaya asing. Warisan tersebut masih hidup dalam tradisi Bali, pernah berkembang di Muaro Jambi, serta diabadikan dalam kemegahan arsitektur Candi Prambanan yang menjadi bukti bahwa Nusantara sejak dahulu merupakan titik temu berbagai peradaban dunia.
Makna historis tersebut semakin relevan dengan berlangsungnya kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026.
Selain membahas penguatan hubungan politik dan ekonomi, kedua negara diharapkan memperluas kolaborasi di berbagai sektor strategis, mulai dari perdagangan, investasi, ekonomi digital, kecerdasan buatan, keamanan siber, pendidikan, hingga pengembangan teknologi publik digital. Salah satu agenda yang turut menjadi perhatian adalah pengembangan Indonesia Open Network (ION) yang mengadopsi inspirasi dari keberhasilan Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India.

Renovasi Candi Prambanan
Perdana Menteri India Narendra Modi tiba di Jakarta pada Senin sore, 6 Juli 2026, sekitar pukul 17.20 WIB. Beliau mendarat di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma dan disambut langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk kunjungan kenegaraan.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan kunjungan ini merupakan balasan atas lawatan Presiden RI yang dilakukan beberapa waktu lalu.
Menurutnya, salah satu agenda yang paling menarik perhatian dalam rangkaian kunjungan ini adalah rencana PM Modi untuk menyambangi Candi Prambanan di Jawa Tengah.
"Beliau berencana untuk mengunjungi Candi Prambanan karena salah satu dari kesepakatan yang diraih antara Indonesia dan India adalah upaya untuk melakukan pemugaran atau restorasi dari Candi Prambanan," ujar Sugiono.
Sugiono mengatakan dalam pertemuan hari ini, setidaknya akan disepakati 7 hingga 8 Nota Kesepahaman (MoU) yang akan ditandatangani di berbagai bidang mulai dari sektor pertahanan, sektor pendidikan, kesehatan dan pengembangan teknologi.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, mengungkapkan bahwa komitmen pemugaran ini merupakan hasil kesepakatan dari pemimpin kedua negara. Saat ini, implementasi kerja sama tersebut sudah mulai berjalan di tingkat teknis dengan melibatkan otoritas kebudayaan dari kedua belah pihak.
"Sejak saat itu, kami telah bekerja sama dalam hal itu, melibatkan Kementerian Kebudayaan Indonesia, Institut Warisan Indonesia, dan Survei Arkeologi India (ASI)," ujar Sandeep dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (3/7).
Sandeep menjelaskan, pelibatan ASI dalam proyek ini menjadi jaminan kualitas mengingat rekam jejak lembaga tersebut yang diakui di kancah global dalam merestorasi situs dan monumen kuno. ASI sebelumnya tercatat sukses memimpin pemugaran kompleks Angkor Wat di Kamboja, serta saat ini tengah memegang proyek serupa di Laos dan Vietnam.
Sebagai langkah awal, tim ahli dari ASI telah mengunjungi langsung lokasi untuk menyusun laporan proyek (project report). Saat ini, laporan tersebut sedang berada dalam tahap penilaian oleh pihak-pihak terkait.
Dari perspektif ekonomi dan pariwisata, pemugaran Candi Prambanan diyakini bakal mendongkrak konektivitas visual dan daya tarik Yogyakarta di pasar internasional secara masif.
Sandeep menilai Yogyakarta memiliki modalitas yang sangat lengkap untuk menjadi pusat pertumbuhan pariwisata baru. Menurutnya, pemugaran situs bersejarah ini akan menjadi magnet kuat untuk mendatangkan pelancong global, termasuk pasar potensial dari India.
"Yogyakarta, saya pribadi percaya, adalah destinasi yang sangat kuat untuk pariwisata dan Anda memiliki segalanya di sana. Jika candi tersebut dipugar, maka saya pikir Anda akan menarik wisatawan dari seluruh dunia dan juga dari India," tambahnya.

Potensi kerja sama sangat luas
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan potensi kerjasama Indonesia India sangat luas dan strategis, mencakup sektor perdagangan, industri pertahanan, kesehatan, teknologi digital, hingga program ketahanan pangan.
“Kedua negara terus mengoptimalkan kemitraan ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan stabilitas di kawasan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/7).
Ia menuturkan kerjasama Indonesia dan India sudah mulai sejak jamannya Bung Karno terutama momentumnya di Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955
Beberapa sektor yang bisa diperkuat kerjasamanya adalah hilirisasi mineral,peluang investasi bagi perusahaan India dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Ekonomi Digital dan IT, integrasi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi informasi yang berkembang pesat di India untuk memajukan ekonomi pengetahuan dan pariwisata Indonesia
Kemudian, Industri Manufaktur (tekstil, garmen),kolaborasi Indonesia dan India di sektor tekstil sangat potensial melalui sinergi teknologi dan pasar. Indonesia dapat mempercepat modernisasi mesin produksi dan efisiensi energi dengan teknologi India, sementara India dapat memanfaatkan keunggulan kapasitas produksi Indonesia untuk menjangkau pasar ekspor yang lebih luas
“Potensi utama kerjasama kelapa sawit antara Indonesia dan India potensi ini berpusat pada pemenuhan kebutuhan pangan dan transisi energi, di mana Indonesia sebagai produsen utama memasok minyak sawit mentah (CPO) untuk lebih dari setengah total impor minyak nabati India,” ujar dia.
Ia menuturkan kerjasama dalam penelitian kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas, pemanfaatan turunan sawit (seperti oleokimia), dan pengembangan energi terbarukan (biodiesel) juga bisa diterapkan.
Perkuat kerja sama strategis
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Ravindra Airlangga mengungkapkan bahwa Perdana Menteri India, Narendra Modi, dijadwalkan melakukan kunjungan ke Indonesia sebagai balasan atas kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025.
"Hari ini kita menerima kunjungan Duta Besar India untuk Indonesia, Bapak Sandeep, dan Beliau menyampaikan berita baik bahwa Perdana Menteri India, Narendra Modi, akan hadir di Indonesia sebagai kunjungan balasan atas kunjungan Pak Prabowo di Januari 2025," kata Ravindra dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (6/7).
Ravindra menjelaskan, kunjungan tersebut akan menjadi momentum untuk memperkuat berbagai kerja sama strategis yang selama ini telah dibangun antara Indonesia dan India. Sejumlah isu yang akan dibahas mencakup pelestarian warisan budaya, kerja sama ekonomi, energi, hingga sektor maritim.
Selain itu, Ravindra menyebut pengembangan koridor strategis antara Kepulauan Andaman, Nicobar, dan Aceh juga menjadi salah satu agenda penting. Koridor tersebut dinilai memiliki posisi strategis untuk memperkuat konektivitas maritim sekaligus meningkatkan perdagangan antara kedua negara.
"Sebagai contoh sejenak itu sedikit bagaimana pengembangan strategis koridor antara Andaman, Nicobar dan Aceh. Karena itu merupakan shipping lane yang dekat dengan Malacca Street dan bagaimana pengembangan koridor maritim tersebut untuk mendorong pertumbuhan pendapatan bilateral misalnya," jelasnya.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menyambut baik rencana kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada tanggal 6 hingga 8 juli mendatang. Menurutnya kunjungan tersebut diproyeksikan menghasilkan sejumlah nota kesepahaman (MoU) di berbagai sektor strategis.
“India merupakan negara yang sedang menuju kemajuan seperti halnya Indonesia, sehingga ini akan menjadi kesempatan yang bagus bagi kedua negara untuk menjalin kerja sama pada sektor strategis,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/7).
Pada 7 Juli, Modi akan menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo di Istana Negara yang dilanjutkan dengan jamuan kenegaraan. Pada malam harinya, Modi dijadwalkan menghadiri acara bersama komunitas India di Indonesia.
Sehari berikutnya, Modi direncanakan melanjutkan kunjungan ke Yogyakarta sebelum bertolak ke Australia dan Selandia Baru sebagai bagian dari rangkaian lawatan kenegaraan ke kawasan.
Selain bertemu Presiden Prabowo, Modi juga dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan parlemen Indonesia untuk memaparkan pandangannya mengenai kawasan, dunia, serta masa depan hubungan India dan Indonesia.