Sektor Transportasi dan Logistik Berpeluang Jadi Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi

Sektor Transportasi dan Logistik Berpeluang Jadi Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas transportasi dan logistik memiliki peran strategis dalam menopang pergerakan ekonomi, baik melalui mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

Sektor Transportasi dan Logistik Berpeluang Jadi Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi
Dalam Artikel Ini

Sektor transportasi dan logistik dinilai memiliki peluang untuk menjadi salah satu sumber baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini sejalan dengan kinerja sektor transportasi dan pergudangan yang tetap tumbuh positif di tengah perekonomian nasional yang menghadapi berbagai dinamika global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 5,65 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II-2026 dan memberikan kontribusi 6,16 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang tumbuh 5,29 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas transportasi dan logistik memiliki peran strategis dalam menopang pergerakan ekonomi, baik melalui mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

Penguatan aktivitas produksi, perdagangan, konsumsi, hingga investasi turut menciptakan kebutuhan terhadap layanan logistik yang semakin efisien dan terintegrasi. Pemerintah juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 ditopang oleh konsumsi, investasi, serta aktivitas berbagai sektor usaha.

Di tengah peluang tersebut, CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan penyedia jasa logistik perlu cermat dalam memilih ceruk pasar yang memiliki prospek pertumbuhan. Menurutnya, perusahaan logistik tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan volume pengiriman, tetapi harus mampu mengidentifikasi sektor pelanggan yang memiliki permintaan relatif kuat dan membutuhkan layanan logistik dengan nilai tambah.

Setijadi menyebut sejumlah sektor yang berpotensi menjadi sasaran ekspansi bisnis logistik, antara lain makanan dan minuman, e-commerce, manufaktur, agribisnis, farmasi, hingga rantai dingin atau cold chain

“Segmen-segmen tersebut dinilai memiliki kebutuhan logistik yang beragam, mulai dari penyimpanan, distribusi, pengendalian suhu, hingga pengelolaan rantai pasok secara terintegrasi,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (31/8/2026).

Ia menuturkan perusahaan tidak cukup hanya mengejar volume pengiriman. Penting untuk memilih sektor pelanggan yang tahan banting dan membutuhkan layanan logistik bernilai tambah.

Menurut dia, strategi tersebut penting agar pertumbuhan industri logistik tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat daya tahan perusahaan menghadapi perubahan permintaan, perdagangan, teknologi, dan kebijakan.

CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi (Dokumen Pribadi)

Dengan demikian, pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan dapat menjadi peluang untuk memperkuat peran logistik sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru. 

Percepat transformasi sektor angkutan barang

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mempercepat transformasi sektor angkutan barang menuju sistem logistik nasional yang lebih efisien, berdaya saing, dan rendah emisi guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Staf Ahli Bidang Kawasan dan Lingkungan Kementerian Perhubungan Robby Kurniawan mengatakan sektor angkutan barang merupakan tulang punggung distribusi nasional sekaligus salah satu penyumbang emisi terbesar di sektor transportasi.

Oleh karena itu, transformasi menuju Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle (IZEHDV)  tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus dibangun melalui pendekatan ekosistem yang mengintegrasikan kebijakan, infrastruktur, teknologi, pembiayaan, dan kolaborasi lintas sektor.

Ia menegaskan transformasi kendaraan berat tanpa emisi tidak sekadar mengganti mesin diesel menjadi listrik, melainkan membangun sistem logistik nasional yang efisien, berdaya saing, memperkuat ketahanan energi, dan berkelanjutan.

“Kementerian Perhubungan saat ini terus memperkuat berbagai kebijakan yang mendukung percepatan dekarbonisasi transportasi melalui pengembangan transportasi berkelanjutan, peningkatan efisiensi sistem logistik, digitalisasi pelayanan transportasi, serta pengembangan infrastruktur yang mendukung penggunaan kendaraan rendah emisi,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (31/8/2026).

Petugas Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas I Jawa Barat berkoordinasi saat melakukan penimbangan sebuah truk di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/8/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/wsj.

Robby juga menekankan pentingnya Green Logistics Corridor sebagai model pengembangan koridor logistik masa depan yang menghubungkan kawasan industri, pelabuhan, jalan tol, pusat logistik, kawasan pergudangan, serta jaringan energi bersih dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Menurutnya, koridor tersebut akan menjadi platform strategis untuk mempercepat adopsi truk listrik sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional.

Ia menjelaskan keberhasilan implementasi koridor logistik hijau memerlukan sinergi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator jalan tol, pelabuhan, PLN, industri otomotif, perusahaan logistik, lembaga pembiayaan, dan dunia usaha.

"Transformasi ini membutuhkan orkestrasi kebijakan. Tidak cukup hanya menyediakan kendaraan listrik, tetapi juga harus diikuti kesiapan jaringan pengisian daya, regulasi yang adaptif, model pembiayaan yang inovatif, serta insentif yang mampu menciptakan ekosistem investasi yang menarik bagi dunia usaha," ujarnya.

Diversifikasi bisnis

Chief Sales Officer CJ Logistics Indonesia Yan Hendry Jauwena mengingatkan pelaku usaha logistik agar melakukan diversifikasi bisnis secara terukur. Menurutnya, ekspansi ke sektor atau segmen pasar baru perlu dilakukan secara bertahap agar perusahaan dapat memastikan kesiapan operasional sekaligus mengurangi risiko bisnis.

Yan menilai salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui proyek percontohan atau pilot project sebelum perusahaan melakukan ekspansi secara penuh. Melalui tahap tersebut, perusahaan dapat menguji secara langsung apakah model bisnis yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik pasar dan kebutuhan pelanggan yang menjadi sasaran.

Baca juga:

Menata Logistik Bersama Setijadi
Ia bercita-cita menciptakan sistem logistik nasional yang efisien.

Menurut dia, pilot project juga penting untuk memetakan berbagai kebutuhan dan kapasitas perusahaan, mulai dari sumber daya manusia (SDM), teknologi, aset, jaringan, proses operasional, hingga struktur biaya. Dengan pemetaan tersebut, perusahaan dapat mengetahui kebutuhan investasi serta potensi kendala yang mungkin muncul sebelum bisnis diperluas dalam skala yang lebih besar.

“Selain itu, keberhasilan proyek percontohan perlu diukur menggunakan sejumlah indikator yang jelas. Beberapa di antaranya mencakup pendapatan, margin, tingkat utilisasi aset, kualitas layanan, serta kemampuan mempertahankan pelanggan. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan apakah sebuah model bisnis layak dilanjutkan, disempurnakan, atau dihentikan sebelum menimbulkan beban biaya yang lebih besar,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (31/8/2026).

Yan menekankan diversifikasi juga harus didukung model bisnis yang jelas dan kesiapan kapabilitas perusahaan. Segmen pelanggan, proposisi nilai, cakupan layanan, sumber pendapatan, struktur biaya, hingga kebutuhan kemitraan perlu ditentukan sejak awal. Dengan pendekatan bertahap melalui pilot project, peluang pertumbuhan dari pasar baru dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan kompleksitas operasional yang tidak terkendali.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Logistik

Rekomendasi SUAR