CEO Samudera Indonesia Bani Mulia Bicara Masa Depan Industri Pelayaran

Suar.id berkesempatan berbincang dengan CEO PT Samudera Indonesia Tbk Bani Mulia bicara panjang lebar soal tantangan dan peluang industri logistik.

CEO Samudera Indonesia Bani Mulia Bicara Masa Depan Industri Pelayaran
Direktur Utama PT. Samudera Indonesia Tbk. Bani Mulia. Foto: SUAR/Ahmad Afandi
Daftar Isi

Satu tahun telah berlalu sejak Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump pertama kalinya mengumumkan tarif resiprokal pada 2 April 2025. Lanskap perdagangan internasional berubah secara menyeluruh. Proteksionisme menguat. Tata krama perdagangan bebas ambyar. Sebagai tulang punggung rantai pasok, industri pelayaran dituntut beradaptasi dalam situasi yang berubah sangat cepat.

Di aras domestik, industri pelayaran dan logistik krusial dalam memastikan aktivitas ekspor-impor berjalan kondusif dan mempertahankan surplus neraca perdagangan. Sementara itu, di aras mancanegara, industri pelayaran dan logistik dituntut bersaing dari segi kecepatan pelayanan, pemenuhan ekspektasi pengguna jasa saat frontloading, hingga penyesuaian rute menghindari perairan di zona konflik yang berimbas tekanan terhadap daya saing perusahaan.

Dalam dunia yang kian menantang, industri pelayaran mesti bergerak maju meski angin di buritan tidak selalu memihak layar. Benarkah biaya logistik yang mahal serta-merta menggembirakan pelaku industri logistik? Sejauh mana industri pelayaran memperhatikan keterhubungan 17.000 pulau di Tanah Air kita?

Guna mengulik lebih dalam mengenai dinamika industri pelayaran secara menyeluruh, SUAR berkesempatan berbincang dengan CEO PT Samudera Indonesia Tbk Bani Maulana Mulia dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Selasa (14/4/2026). Selama 1 jam, Bani antusias membagikan pandangannya seputar dinamika geoekonomi, tantangan logistik, hingga masa depan industri pelayaran di Indonesia.

Samudera Indonesia adalah pemain inti industri pelayaran sejak 1949, bertahan melalui tiga generasi sampai hari ini. Berkaca dari pengalaman yang sangat kaya, seperti apa Samudera merespons disrupsi perdagangan internasional selama satu tahun terakhir?

Kami melihatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup perusahaan yang biasa. Ketika kami belajar dari sejarah, baik sejarah perusahaan, sejarah industri, maupun sejarah dunia, peristiwa satu tahun terakhir bukan sesuatu yang belum pernah terjadi. Setiap periode di sejarah sudah memberikan contoh-contoh bahwa disrupsi bisa terjadi dan kerap terjadi bahkan berulang.

Apabila melihat ke belakang, cara kami mempersiapkan diri untuk masa depan dan mengelola masa sekarang dengan baik, respons kami sebenarnya tidak kaget.

Karena Samudera Indonesia sudah berusaha sejak 1949, sudah lebih dari 75 menuju 80 tahun sejarah perusahaan, kami sudah mengalami berbagai macam perjalanan yang sebenarnya tidak kurang besarnya dari disrupsi satu tahun terakhir. Ini bukan berarti kami mengecilkan situasi krisis, tetapi sebagai perusahaan pelayaran dan logistik, krisis dan disrupsi itu sudah jadi makanan sehari-hari. Kami harus selalu siap.

Siap bukan berarti besok atau minggu depan, tetapi setiap saat harus siap. Karena cara berpikir seperti itu, ketika ada berita Selat Hormuz ditutup atau ada serangan di area konflik, secara mental dan kognitif, kita mempersiapkan operasional perusahaan supaya, minimal, tidak kaget. Bukan berarti kami tidak bergelut menyesuaikan kondisi sebaik mungkin, tetapi sekurang-kurangnya tidak kaget.

Ketika "tidak kaget" menjadi suatu respons institusional, apakah sudah ada penyesuaian strategi umum yang dilakukan secara bertahap atau malah sudah ada rencana persiapan yang memprakirakan disrupsi, mengingat situasi ini cenderung unprecedented?

Sebagai perusahaan pelayaran, jiwa dan pembawaan kami adalah harus bisa menguasai diri saat melayari lautan. Ketika seseorang berlayar itu 'kan banyak uncertainties, juga banyak faktor yang bisa terjadi sekalipun sudah kita persiapkan sebaik mungkin, mulai dari cuaca, gelombang, perubahan angin, perubahan traffic, dan sebagainya.

Kesiapan kita menyesuaikan diri dengan perubahan itu sudah menjadi kewajiban kita untuk siap setiap harinya. Dalam kondisi-kondisi krisis yang terjadi, kalaupun dibilang unprecedented, saya pikir ini bukan berarti belum pernah sama sekali terjadi di masa lalu. Misalkan pandemi Covid-19. Ini memang belum pernah terjadi dalam masa hidup kita, tetapi 'kan sudah pernah terjadi dalam sejarah.

Disrupsi seperti saat ini mungkin belum pernah terjadi dalam industri modern, tetapi kita belajar menyesuaikan diri, apalagi dengan peperangan, sudah lebih sering terjadi lagi. Dianggap unprecedented, ya, tidak juga, dong. Jadi ketika ada risiko, apalagi ketegangan di Timur Tengah 'kan bukan baru sekarang. Laut Merah bergejolak sejak konflik di Palestina, yang berimbas juga kepada serangan Houthi terhadap kapal-kapal yang berlayar melintasi Laut Merah.

Dengan latar belakang disrupsi di Laut Merah dan Timur Tengah itu, sudah tidak mengagetkan karena terjadi beberapa tahun terakhir dan berimbas pada rute-rute hampir seluruh operator pelayaran global. Jadi, untuk menimbang risiko dan mempersiapkan diri dengan kondisi terbaru bukan sesuatu yang mengagetkan.

Baca juga:

Aspirasi Pengusaha Logistik untuk Mengembangkan Industri Ini
Ada tiga model kelembagaan logistik nasional sebagai bagian dari upaya untuk mendorong industri logistik agar tumbuh berkelanjutan.

Sebagai industri logistik, salah satu keluhan dunia usaha adalah mahalnya biaya logistik yang tidak kompetitif dan mencapai 14,29% PDB, sampai menekan daya saing produk Indonesia di mancanegara. Sebagai pelaku industri logistik, apakah Anda menganggap ini fair?

Menurut saya itu fair karena fakta bahwa kondisi di Indonesia tidak sama dengan kondisi di negara lain, paling tidak di negara sekitar kita. Kalau kita bandingkan dengan beberapa negara ASEAN, kita tidak menduduki tingkat paling atas dalam efisiensi biaya logistik, bahkan masih di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Mereka lebih baik dari kita karena infrastrukturnya berbeda.

Dilihat dari produktivitas di pelabuhan, jalan raya, pergudangan, semua memang berbeda, dan itu fakta. Kalau kita menggunakan matriks apapun, dari logistics performance index atau logistic cost dibandingkan dengan PDB atau hal lain, skor Indonesia memang rendah. Namun, ini bukan berarti vonis mati bahwa Indonesia tidak memiliki prospek.

Jangan lupa, pasar Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Kita punya populasi lebih besar. Ekonomi domestik kita lebih resilien dan menjanjikan juga dibandingkan beberapa negara tetangga. Sebagai pemain logistik, saya tidak bisa bilang happy, tetapi kami termotivasi untuk bekerja lebih giat.

Saat ini banyak sekali improvement atau project yang bisa dikerjakan di Indonesia agar daya saing kita bisa mengejar ketertinggalan. Kalau kita membangun fasilitas dan infrastruktur logistik yang lebih baik dan mendorong produktivitas pelabuhan, pergudangan, supply chain lebih baik, kita bisa menawarkan logistic cost lebih rendah dengan volume yang bertambah, baik pelayaran dari dan ke Indonesia, maupun pelayaran di dalam Indonesia sendiri.

Concern tingginya biaya logistik menjadi sesuatu yang memberikan semangat bagi pemain logistik bahwa pasar Indonesia tidak akan kosong karena penduduknya banyak, dan perdagangan dalam negeri, baik itu antarprovinsi, antarkota, antarnegara, memastikan supply chain akan tetap berjalan. Ini mesti menjadi semangat, bukan pesimisme bagi pelaku logistik di Indonesia.

Nah, ketika situasi itu menjadi motivasi, temuan lain menunjukkan 91,25% moda transportasi logistik kita berbasis darat, dan ada keinginan meningkatkan konektivitas maritim dengan memanfaatkan 2.700 pelabuhan existing di Indonesia. Dari pengalaman Anda, seperti apa kiat memperbaiki konektivitas maritim di kepulauan sebesar Indonesia?

Saya belajar kita tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan sekaligus. Indonesia sangat luas dari Sabang sampai Merauke, sehingga tidak bisa satu solusi untuk semua daerah. Kalau ditanya mulai dari mana, saya senang dengan prinsip take the lowest hanging fruit. Ambil yang paling dekat dan paling cepat menjadi solusi, kita kerjakan itu dulu. Dengan berlandaskan prinsip itu, tentu banyak hal yang tidak habis-habisnya untuk kita lakukan di Indonesia.

Kedua, ketika kami melihat permasalahan di Indonesia, Samudera merasa beruntung bahwa sejak lahir, kami tidak bekerja untuk pelayaran domestik. Sejak lahir, Samudera adalah perusahaan yang bekerja lintas batas negara. Sebelum Samudera melayani rute domestik, kapal-kapal awal yang dioperasikan Samudera Indonesia membawa rute Indonesia-Eropa dan Eropa-Indonesia.

Kami sudah terbiasa melihat dan bekerja di lebih dari satu negara, sehingga kami belajar dari market lain, apa yang bisa diterapkan di Eropa, apakah bisa kita bawa ke dalam negeri? Hal-hal ini 'kan juga bisa menjadi motivasi dari mencontoh praktik yang lebih efisien dan produktivitasnya lebih tinggi untuk kita bawa pulang, kemudian kita lakukan di Tanah Air

Regulator berperan, pemerintah juga berperan, di samping perilaku konsumen dan perilaku produsennya. Mulai dari mana, tentu yang menjadi prioritas dulu, sekecil apapun progress-nya. Kalau bisa satu rute, satu provinsi, satu kota, atau satu pelabuhan dulu, kita mulai dari situ. Tetapi kalau langsung dicoba di ratusan pelabuhan di Indonesia, buat kami sebagai hanya salah satu perusahaan swasta, itu belum tentu bisa. Any progress that we can achieve, we will try to do it.

Direktur Utama PT. Samudera Indonesia Tbk., Bani Mulia. Foto: SUAR/Ahmad Afandi

Any progress we can achieve, we will do it first. Apakah itu filosofi kepemimpinan seorang Bani Mulia?

Ya..., betul juga. Kita 'kan ingin hidup hari ini lebih baik dari kemarin, dan semoga kalau dikasih umur, besok juga lebih baik lagi. Jadi, jangan sampai kita diberikan kesempatan, anugerah untuk berkreasi, berinovasi, beraktivitas, justru dibuang-buang. Jangan sampai dengan anugerah itu, kita malah tidak melakukan apa-apa.

Jika setiap hari kita melakukan satu progress, satu kebaikan, satu pekerjaan, lakukan dengan optimal, besok kita kerjakan yang baru lagi. Kurang lebih menjalani hidup seperti itu.

Dengan perkembangan AI, teknologi memungkinkan ribuan armada Samudera di seluruh dunia dilacak secara real time. Ketika Samudera sebagai legacy business berusaha mengintegrasikan seluruh teknologi itu, seperti apa perkembangannya sejauh ini?

Sekali lagi kami ini beruntung, karena kami yang saat ini bekerja di Samudera Indonesia meneruskan legacy yang dimulai Pak Soedarpo Sastrosatomo, dan salah satu legacy beliau adalah bisnisnya dengan Sudarpo Corporation yang salah satu fokusnya di bidang teknologi, IT, dan mungkin awalnya hardware computer, lalu berkembang ke software solution.

Hasil dari legacy tersebut adalah kami mempunyai dedicated team, bahkan dedicated subsidiary yang fokus kepada pengembangan teknologi yang bukan hanya melayani klien dari luar, tetapi pengembangan teknologi grup internal juga. Ada unit-unit kami yang benar-benar fokus mencari dan melakukan enhancement dan improvement penerapan teknologi untuk mendukung operasional Samudera.

Adopsi teknologi tersebut melibatkan seluruh lini bisnis di mana Samudera terlibat, dari pelayaran, logistik, ship building, termasuk pergudangan dan sebagainya. Penerapan teknologi dan pengembangan itu menjadi satu faktor yang sudah terintegrasi dalam operasional Samudera.

Sejauh ini, adopsi teknologi kami meningkat. Semakin ada perkembangan baru, maka semakin kami kejar penerapannya di seluruh lini bisnis. Ini seperti pekerjaan yang tidak akan pernah selesai karena selalu ada improvement, akan selalu ada yang baru, dan akan selalu ada pengembangan untuk menciptakan proses yang lebih efisien lagi.

Catatan: Infografis ditambahkan oleh redaksi Suar.id untuk memperkaya data dan pengalaman membaca.

Dengan kapasitas pengembangan teknologi dari internal perusahaan, apakah Samudera menjadi tidak takut pada automasi, terutama ketika banyak perusahaan lain mulai memperkirakan lay off dan menggantikan personalianya dengan AI? Pernahkah ada masalah itu?

Belum pernah dan kami tidak takut, karena kami Samudera Indonesia. Andaikan hanya Samudera Singapura yang populasinya sedikit, maka pasarnya juga sedikit. Kami Samudera Indonesia yang hidup di negara dengan 17 ribu pulau, dengan populasi hampir 300 juta jiwa, maka yang jadi semangat kami adalah keinginan untuk terus menciptakan lapangan pekerjaan.

Kita sudah melihat fakta pelabuhan yang ada di Indonesia tidak cukup produktif. Artinya, berbagai penciptaan lapangan pekerjaan pasti akan terus bisa dilakukan di Indonesia, dan automasi akan membantu itu. Kita justru tidak takut pada automasi ketika sudah menemukan pelabuhan-pelabuhan yang automated. Di Indonesia belum ada, tapi kalau kita melihat Tiongkok, mereka tidak takut dengan automasi, padahal penduduknya miliaran, jauh lebih banyak dari kita.

Menurut saya, automasi akan membantu industri pelayaran. Di Jepang, automasi sudah diterapkan pada kapal-kapal yang kami operasikan di Jepang karena personelnya tidak cukup. Jadi bukan untuk mengurangi orang, ya, tetapi mengurangi workload karena jumlah pelautnya berkurang akibat demografi Jepang yang menurun, sementara generasi mudanya tidak memilih jadi pelaut.

Situasi ini juga opportunity bagi sumber daya manusia dari Indonesia, termasuk SDM tenaga kerja pelaut untuk bisa keluar dan bekerja di perusahaan pelayaran internasional, termasuk di negara seperti Jepang, karena demand untuk itu tetap ada meski automation solution juga berkembang. Dalam hal ini, automasi dikombinasikan sebagai faktor yang mendukung solusi bisnis ke depan, sehingga tidak akan menghilangkan pekerjaan manusia.

Komitmen itu sangat menarik. Apakah Samudera pernah menerima permintaan dari mitra rekanan di negara lain untuk mengirim pelaut dan memberikan training pelaut di negara lain?

Pernah. Memang kami melakukan dan hendak lebih mendalami lagi. Mulai tahun ini, kami juga akan lebih aktif di bidang pendidikan vokasi untuk tenaga kerja pelaut. Kami akan aktif menjalankan Akademi Maritim mulai tahun ini yang akan mengirimkan lebih banyak tenaga kerja vokasi profesional dari Indonesia ke pasar global.

Yang sudah kami lakukan selama ini adalah menyuplai ke berbagai negara, atau ke berbagai operator pelayaran global. Jadi, pelaut yang kami latih bukan cuma bekerja di kapal Samudera saja, tetapi juga di kapal-kapal klien dan customer kita yang membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia dan pelaut-pelaut dari Indonesia.

Pengiriman tenaga kerja sudah kami lakukan dan akan kami tingkatkan lagi. Kalau Samudera beli satu kapal, paling kami membuka lapangan pekerjaan untuk 20 orang pelaut. Namun, kalau kami fokus mendidik tenaga kerja pelaut, ada ratusan ribu kapal di dunia yang mampu menyerap itu.

Kita bisa menyuplai tenaga kerja untuk kapal cruise, misalnya. Dari sisi jumlah lapangan pekerjaan, satu kapal kargo hanya membutuhkan 20 orang, tetapi kapal cruise bisa menampung seribu tenaga kerja, karena kapal cruise itu tamunya bisa 3.000-5.000 tamu yang ikut kapal, maka kru kapalnya bisa 1.000 orang, dan ini banyak dibutuhkan dari Indonesia.

Saat terjadi pandemi kemarin, memang ada freeze sesaat, tetapi setelah kembali jalan, permintaan tetap ada karena pelatihan, persiapan dan waktu membuka kembali, tenaga kerja untuk melayani kapal-kapal cruise yang beroperasi di seluruh dunia harus sudah siap. Pelatihan ini salah satu yang Samudera seriusi, karena kita bisa berkontribusi mengirimkan tenaga kerja Indonesia ke pasar manapun di mancanegara.

Supaya bukan hanya nenek moyangku yang pelaut, ya, Pak.

Iya, betul. Supaya "aku"-nya juga, ya, ha...ha...ha...

Saat ini, ketika Samudera berusaha melangkah ke masa depan yang tidak pasti dan masih penuh tantangan, dengan laba berjalan USD 79,08 juta pada 2025, seperti apa rencana besar yang menjadi target Anda mulai tahun ini dan seterusnya?

Rencana saya tidak besar, tetapi prioritas kami adalah bagaimana Samudera tumbuh sehat, itu lebih penting daripada laba. Tentunya tingkat laba berkontribusi terhadap total aset kita. Saat ini, posisi company size dari sisi total aset sudah kira-kira USD 1,5 miliar. Ini akan tumbuh kalau kita profitable dan berkembang di berbagai bidang, tetapi saya tidak mencanangkan target gila-gilaan, yang penting kita sehat.

Pertumbuhan aset juga tidak perlu terlalu gila-gilaan, asal jangan mengambil resiko berlebihan juga. Kami ingin sehat, ingin tumbuh tidak cuma dari sisi profitabilitas, tetapi mudah-mudahan juga bisa tumbuh dengan menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak, mengirimkan tenaga kerja Indonesia lebih banyak juga ke dunia, maupun di dalam negeri kita sendiri.

Semoga nama Samudera juga eksis untuk unforeseeable future, mungkin sampai 100, 200, 300 tahun, berapapun umurnya dunia. Semoga kita panjang umur, dan untuk panjang umur, Samudera harus punya mindset bahwa kita selalu siap berubah. Model bisnis bisa berubah, bentuk bisnis berubah, dan cara kita melihat peluang maupun tantangan harus selalu dinamis dan menyesuaikan diri. Mudah-mudahan itu resep untuk membuat kita panjang umur.

Dalam dunia yang menghadapi kemungkinan perubahan itu, apa yang tidak boleh berubah dari Samudera Indonesia, core identity yang akan dipertahankan dalam dunia yang semakin berubah dan itu Anda rasakan sebagai tanggung jawab yang dipikul seorang Bani Mulia?

Ya, tanggung jawab saya untuk mengingatkan teman-teman di Samudera, sampai lebih dari 75 tahun Samudera masih bisa berdiri, masih bisa sehat, saya yakin karena kita memegang prinsip-prinsip para pendiri perusahaan, yaitu integritas dan profesionalisme. Dalam melihat kondisi apapun, bisnis apapun, integritas harus nomor satu. Kalaupun tidak bisa diterapkan, integritas harus didahulukan, bisnisnya bisa dilepas, cari yang lain, yang cocok dengan karakter dan DNA kita.

Kalau kita harus menanggalkan integritas dalam bisnis dan operasional, pasti kami akan kalah dan tidak menjadi champion. If that's not our DNA, we can never be good at it. Tetapi masih banyak pekerjaan dan peluang lain yang bisa dilakukan dengan profesionalisme dan integritas tadi.

Kami juga dibekali motto Pak Soedarpo dengan empat nilai "Sabar, Tabah, Tekun, Iman". Artinya, cara manusia Samudera berpikir bukan apapun yang asal cepat dengan cara apapun, kita perlu sabar dan tabah, dan selalu meningkatkan kompetensi kita, knowledge, ilmu kita, sehingga meningkatkan kesabaran menghadapi permasalahan.

Dengan bertambahnya pengetahuan, kita akan semakin yakin ada jawaban, ada solusi. Jangan buru-buru marah dan menyerah, karena nanti akan ada solusi. Tekun, jangan bermalas-malasan, jangan tidak giat dalam bekerja dan belajar, dan dalam mencari solusi, karena pasti ada solusi. Terakhir, jangan lupa kita perlu iman karena semua itu terjadi karena ada berkat dan blessing. Kita bukan manusia yang hasilnya semata dari kerja keras, tetapi juga karena ada berkat Tuhan.

Kita tidak lupa diri dan timbul keangkuhan, merasa paling hebat, dan bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Kita butuh dukungan keluarga, dukungan orang lain, kerja sama, dan bersyukur pada lingkungan sehingga kita mendapatkan berkat dalam segala usaha kita dan menjalankan hidup sebaik mungkin dari waktu ke waktu. (*)

Baca juga sejumlah seri wawancara khusus Suar.id

CEO Freeport Indonesia Tony Wenas: Perlu Nilai Tambah Lanjutan Hilirisasi Tembaga
Tim SUAR.id berkesempatan untuk berbincang dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas di Kantor PTFI, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Kepala BPS: Data Perekonomian Nasional Menunjukkan Optimisme dan Peluang ke Depan
Wawancara eksklusif Suar.id dengan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di BPS Lounge, Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (10/11/2025) untuk makna data perekonomian serta bagaimana data itu bisa membantu membaca arah ke depan.
Wawancara Eksklusif CEO TransTRACK Anggia Meisesari Bicara Soal Inovasi Logistik
TransTRACK mengcover aktivitas logistik atau aktivitas transportasi baik itu barang atau orang
Wawancara Khusus: CEO Axia Prima Sejahtera Heru Sukrisna, Bicara Serba-Serbi Jasa Sistem Keamanan
Suar.id berkesempatan berbincang dengan CEO Axia Prima Sejahtera Heru Sukrisna. Heru berbagi pandangan ihwal kiat mengembangkan bisnis hingga menjadi distributor terkemuka sistem keamanan di Indonesia.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya

Ω