Eksklusif, Wawancara CEO homLiv Yudiana Lyn: Membangun Bisnis di Ceruk Spesifik

HomLiv mencoba memenuhi permintaan pasar yang sempit. Berkat pilihan itu, ia bertahan bahkan berhasil ekspansi ke luar negeri. Memanfaatkan tren yang terus akan berkembang. 

Eksklusif, Wawancara CEO homLiv Yudiana Lyn: Membangun Bisnis di Ceruk Spesifik
Pendiri dan CEO homLiv, Yudiana Lyn (Ahmad Fandi/Suar.id)

Berbisnis perlu strategi. Salah satunya, dengan  membidik pasar yang spesifik, seperti konsumen yang lagi gandrung gaya hidup sehat, estetik, dan sadar lingkungan. Ini  yang dilakukan homeLiv, produsen alat-alat memasak ini menawarkan produk-produk khusus berbahan kayu alami, yang mencoba mencari pasar di segmen konsumen yang perlu alat masak aman dan terbuat dari bahan ramah lingkungan. 

Selain itu, tren transisi dari alat masak berbahan plastik atau logam menuju material organik kini bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan mendasar bagi keluarga yang memprioritaskan keamanan pangan di rumah. 

Pendiri sekaligus CEO homLiv, Yudiana Lyn menegaskan, produk yang ia tawarkan ke pasar dengan penggunaan kayu sebagai material utama bukan tanpa alasan, mengingat sifat alami kayu yang tidak menghantarkan panas secara ekstrim serta tidak mengandung zat kimia berbahaya yang berisiko luruh saat terkena suhu tinggi. “Ini menjadi alternatif pilihan bagi ibu-ibu yang mementingkan keamanan danproduk ramah lingkungan,” katanya. 

Produk homLiv

Selain itu, sentuhan tangan para perajin di Yogyakarta dalam setiap detail pembuatan produk memberikan karakter unik yang tidak bisa ditemukan pada barang produksi massal di pabrik besar. Detail ini yang membuat homLiv menjadi representasi dari kebangkitan produk kriya Indonesia yang mampu bersaing di pasar premium dengan standar kualitas yang sangat ketat.

Setelah hampir 6 tahun mengalami pasang surut, homLiv kini bisa menjadi salah satu pemain industri rumahan yang bisa menembus pasar ekspor. Bagaimana kisah Yudiana Lyn yang berani menempuh jalan berliku untuk bisa mewujudkan mimpinya lewat homLiv? 

SUAR pada Rabu, 29 Mei 2026 berkesempatan berbincang dengan Yudiana Lyn di kantornya,  kawasan Jakarta Utara yang juga disulap sebagai tempat memasarkan berbagai macam alat masak. Petikannya:  

Jadi HomLiv selama ini hanya memproduksi alat-alat dapur saja? 

Iya, betul. Jadi selama ini, alat masak kan banyak bahan bakunya. Mulai dari plastik, nilon, stainless dan lainnya. Nah homLiv fokusnya di alat masak dari kayu 

Tapi kalau dibilang apakah memproduksi untuk produk lini lainnya, kita ada. Cuma memang brandingnya itu alat masak kayu. Karena itu yang paling butuh concern yang paling besar, bersentuhan dengan masakan, dengan panas tinggi. Otomatis kita perlu bikin alat masak kayu yang sehat. 

Di awal, apa yang menginspirasi Anda membangun homLiv? 

Kata orang inspirasi kadang datangnya dadakan ya. Dan kita tidak pernah menduga itu datang. Jadi momentum ini bukan saya ciptakan sendiri, tapi momentum ini datang dengan sendirinya.  

Dulu saya adalah seorang importir, khususnya barang produk kebutuhan rumah tangga dari Cina. DI sisi lain saya juga satu impian, saya ingin kembangin potensi lokal yang bisa digarap, meski waktu itu belum tahu memulainya bagaimana. 

Nah saat pandemi ada produk alat masak kayu dari Cina Itu sudah hampir habis dan saya enggak bisa impor lagi karena lockdown. Lalu saya bertanya, kenapa kayu saja kok kita sampai impor. Nah akhirnya singkat cerita saya hubungi pengrajin yang sebelumnya sudah bekerja sama dengan saya untuk bikin batik kayu yang saya jual ke turis, namun sempat terhenti karena pandemi juga. 

Nah disitu adalah turning point nya, saya memberitahu mereka ayo kita coba lagi. Dan disitulah kita memulai langkah pertama kita, karena memang berawal dari enggak bisa import hingga turning point nya Itu kita ubah semua ke produksi lokal. 

Sutil Kayu Lokal Tembus Jepang
HomLiv membuktikan kemampuannya dalam menjalankan bisnis berkelanjutan lewat perpaduan inovasi produk ramah lingkungan, pemberdayaan masyarakat desa, serta pelestarian nilai budaya lokal. Perusahaan yang fokus pada produksi peralatan dapur berbahan kayu ini tidak hanya sukses menembus pasar internasional, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang positif bagi masyarakat sekitar. Produk

Sebelum memutuskan memproduksi alat masak dari kayu ini, apakah juga melakukan pengamatan terhadap potensial pasar? 

Pastinya. Jadi kalau kita berbicara trend, kita melihat dunia ini sedang bergerak ke arah yang sustainable, dimana pengguna ini sekarang itu tidak cuma mencari produk yang murah, dan mereka bisa teredukasi dengan mudah dan sangat aware dengan produk yang sehat. Apalagi setelah pandemi COVID-19 Itu awareness masyarakat itu benar-benar cari yang sehat. 

Nah dari situ benar-benar terbentuk sebuah kebiasaan dimana orang-orang mulai banyak masak di rumah. Lebih ingin hidup sehat dan mengontrol apapun yang mereka konsumsi.  

Anda juga melakukan riset pasar, juga melakukan edukasi selama memasarkan produk homLiv? 

Waktu saya masuk ke bisnis ini, saya melihat bahwa di luar negeri, ini ada satu hal yang tanpa edukasi mereka sudah suka dengan eco friendly product, sehat, natural. Di pasar lokal, saya melihat trendnya mulai naik, mulai menanjak. Dan ini sebutannya uptrend, trend yang akan terus berkembang. 

Walaupun sebenarnya saat itu mungkin di level yang belum tinggi banget, kalau yang sekarang enggak usah di edukasi, karena ini adalah trend yang sedang terus berkembang itu. 

Kedua, yang saya lihat adalah, di pasar kita sendiri, kadang orang juga tak mau memakai kayu, karena saya sendiri pun tidak akan pilih kalau misalnya, tidak ada sebuah brand yang menciptakan sebuah produk yang membuat saya bisa punya rasa aman untuk pakai. 

Orang awam itu selalu bertanya sebenarnya aman enggak sih Ini, ada kandungan ada furnish atau tidak, aman enggak jika bersentuhan dengan makanan, jadi mereka sangat peduli. Nah disitu saya merasa saya punya sebuah kesempatan yang sangat baik, karena saya sudah cek di lapangan, saat itu tidak ada satupun brand yang bergerak di produk masakan dan mereka segitu concernnya dari sisi keamanan. 

Bagaimana Anda memastikan dan meyakinkan produk homLiv benar-benar aman ke konsumen? 

Latar belakang pendidikan saya bukan ahli kayu, tapi seiring berjalannya waktu saya melihat jika ingin bisnis saya long term, pastinya saya harus menjalankan dengan cara yang benar. Nah, disitu saya mulai cari tahu, bagaimana supaya bahan baku yang saya gunakan ini benar-benar sesuai standar. Saya pun mulai jalani proses sertifikasi SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian). 

Saya diberitahu, harus menggunakan kayu legal. Misalnya dari PT Perhutani atau dari asal-usul mana pun yang bisa dipertanggungjawabkan, atau bukan hasil illegal logging. Jadi sejauh ini semua kayu yang homeLiv gunakan Ini benar-benar 100% diawasi dan kita sudah bersertifikasi SVLK. 

 HomLiv menggunakan kayu jati dan mahoni, apa kelebihannya? 

Kita memang pakai kayu yang lebih umum yang tidak susah dicari. Kayu jati sudah tidak perlu kita ragukan, dari dulu mungkin zaman nenek kita, kayu jati ini kayu bagus kuat dan memang estetik sekali dari warnanya. Kalau kita mau lihat coraknya itu kecokelatan ulirnya itu juga sangat indah

Kalau kayu mahoni,  dia punya harga yang lebih terjangkau. Dia juga bisa sangat halus. Nah cuma ada sedikit kelebihan dari kayu jat, lebih padat teksturnya sehingga tidak gampang terkena binatang teter kayu. 

Bagaimana juga Anda memastikan produk ini bahan bakunya juga sustain nantinya? 

Dari awal ketika kita memilih untuk menggunakan bahan kayu jati dan mahoni Itu, kita sudah mencari yang paling bisa long term sifatnya Karena kalau kita mau ngomongin kayu yang paling indah, paling kuat, paling bagus mungkin ada yang bilang bisa kayu ulin atau yang lainnya, banyak sekali. 

Tapi Keterbatasannya itu juga dirasakan. Jadi memang dari awal kita memilih, kita sudah melihat source yang aman, yaitu kayu jati yang selalu ada, selalu ditanam terus. Kedua, memang di homeLiv itu kita juga ada gerakan kecil setiap tahunnya, yaitu kita melakukan replanting sebagai upaya yang mungkin secara kontribusi angka pohon yang tidak besar tapi minimal kita menunjukkan juga bagaimana kita ingin berkontribusi juga untuk kelestarian pohon-pohon ke depannya. 

Dari sisi proses pembuatannya juga tidak menggunakan zat kimia. Nah bagaimana proses produksinya hingga bisa terjamin kualitas produknya tidak berdampak ke kesehatan?

Jadi karena kita fokusnya ke produksi alat masak, selama prosesnya tidak tercampur dengan produksi lainnya. Misalnya kita ada produksi nampan kayu dan lain sebagainya yang mungkin menggunakan coating water-based, kita lakukan di tempat yang berbeda, itu jaminan kita, yang pertama. 

Kedua, di area kerja kita sendiri, kita tidak menerima jasa atau apapun untuk produksi yang misalnya menggunakan bahan vernis, karena kita tahu itu kan menguar di udara juga. Maksudnya, mungkin ada potensi untuk tercemar di udaranya. Jadi emang area kerja kita itu semua difokuskan untuk pembuatan alat masak kayu

Jadi tetap ada pengawasan dalam setiap produksi di homLiv? 

Ya betul. Karena di homLiv kita juga sudah punya Standarisasi ISO 9001 dan ISO 14001. Jadi, setiap tahunnya, mau tak mau, saya dan tim itu harus siap untuk di audit. Ini menjadi sebuah standar baku buat kita, dan terdokumentasi dengan baik Jadi tidak hanya kata-kata. Tapi setiap tahun itu kita wajib surveillance.

Kalau di Jogja sudah berapa orang pekerja yang jadi mitra?

Hingga lima tahun ini kita di Desa Krebet di Bantul, sudah memberdayakan 5%, dari warga atau sekitar 50 orang di desa sana. Mereka bekerja rutin setiap harinya. Jadi memang produksi kita sudah lancar di sana Kita juga memberdayakan 10 rumah produksi lainnya. 

Dalam memproduksi alat-alat masak ini, apakah ada kendala untuk bisa menerbitkan sertifikat halal barang-barang produksi homLiv? 

Iya prosesnya agak panjang. Karena ini tidak umum. Sepengetahuan saya mengajukan sertifikat halal buat makanan itu mudah. Bahkan ada fasilitasi, sehingga proses nya lancar. Tapi karena di bidang saya bukan barang yang wajib bersertifikasi halal, jadi sangat sulit. 

Saya sendiri itu bolak-balik upload dokumen hampir selama 9 bulan. Sementara buat yang lain, sertifikasi halal itu paling 1 bulan hingga 2 bulan. Mungkin Karena bidangnya baru jadi saya agak sedikit terkendala 

Pada awal berdiri, bagaimana proses pemasarannya sendiri. Pasar mana yang dibidik waktu awal berdiri?

Pastinya di tahap awal kita membidik konsumen lokal kita, ibu rumah tangga yang memasak di rumah dan concern dengan kesehatan keluarga. Pandemi juga membuat banyak pengrajin yang terdampak, jadi saat kita ajak lagi mereka senang. Nah disitu saya melihat, seharusnya kita memanfaatkan kekuatan perekonomian lokal kita sendiri

Apa saja jalur pemasaran yang dipakai saat itu? 

Kita mencoba semuanya. Saya sempat coba punya showroom sendiri selama 2 tahun, tapi ternyata biayanya  besar, dan kebetulan saya ambil di area wisata, jadi kurang tepat sasaran. 

Akhirnya saya coba ke online. Tapi pas awalnya susah banget. Karena di online itu orang lihat foto. Dia tidak pegang barang kita secara langsung disitu saya jualan dengan harga lebih mahal sedikit dari yang mungkin non brand Itu enggak jalan.  Bahkan saya pernah pakai jasa kelola pemasaran online yang katanya top di Asia Tenggara untuk kelola, baru 6 bulan dia yang mundur. 

Bagaimana dengan pemasaran offline? 

Ya saya kemudian coba cara baru dengan ketuk pintu supermarket, namun memang negosiasinya cukup susah karena brand nya belum terkenal. Tapi Puji Tuhan di saat itu kan banyak orang yang cari produk sehat, sehingga ini menjadi momentum bagi saya untuk masukin produk yang sehat dan eco-friendly sehingga kami berhasil tembus ke beberapa supermarket. 

Lalu seperti apa prosesnya hingga bisa merambah pasar ekspor?

Ada satu supermarket yang kebetulan bosnya orang Jepang. Mereka suka produk kita. Timnya juga samperin kita minta kita masuk dengan minim biaya, karena mereka merasa align. Bersyukurnya disitu. 

Bertahap, setelah kita memiliki sertifikasi SVLK, sertifikasi Halal, hingga uji laboratorium, kita bisa meyakinkan mereka bahwa bahan baku kita tidak pakai pengawet kayu. Mereka juga berkunjung ke tempat pengrajin. 

Kita juga mulai memperkenalkan produk kita di website, disitu banyak yang lihat termasuk importir dari Jepang. Akhirnya singkat cerita kita mulai berhasil ekspor ke Jepang. Dari situ kepercayaan masyarakat Indonesia juga meningkat Ini seperti Chicken and egg problem. Kita fokusnya itu mau ke lokal, tapi tiba-tiba tengah jalan malah dilirik sama Jepang. 

Pasar di luar negeri kadang suka rewel dengan produk yang memanfaatkan lingkungan seperti ini, bagaimana meyakinkan mereka? 

Iya betul, jadi kalau kita berbicara soal sertifikasi saja yang mereka masi meragukan Biasanya mereka juga melihat bagaimana karakter dari owner itu sendiri, di luar dari semua sertifikasi yang ada. Jadi mereka juga merasa yakin mereka berbisnis dengan orang yang bisa dipercaya. 

Mereka juga datang melihat proses produksinya. Mungkin dia juga ada inspeksi lewat pihak ketiga. Jadi penting bagi kita menjaga citra perusahaan yang sudah kita bangun. 

Waktu kita masih kecil saja, kita juga sudah rutin melakukan replanting, kita lakukan program ganti produk supaya meminimalisir sampah juga.  Nah ini adalah sebuah bentuk komitmen untuk sustainability, karena bagi saya itu adalah komitmen kita terhadap sebuah perjalanan panjang. Sehingga kepercayaan Itu juga harus dibangun dari sejak dini

HomLiv juga diekspor ke Australia..

Pasar Australia lebih kecil, karena kita ekspor Itu bukan dengan white label. Ekspornya benar-benar dengan brand homLiv sendiri. Sehingga mereka butuh waktu untuk memperkenalkan brand. Mereka masih mencoba jumlah yang kecil, sudah ada repeat order dan itu jalan. 

Rencananya, pasar ekspor mana lagi yang sedang dibidik? 

Saat ini kita mungkin akan membidik yang mirip dengan Jepang, seperti Korea Lalu juga seputaran Asia. Sebenarnya kemarin itu sudah hampir deal sama Dubai, cuma karena situasi perang, ditunda. Makanya mungkin next akan kesana, karena kita cocok ini kan produk halal, dan mereka sudah sangat senang, tinggal kita tunggu kapan timing yang tepat lagi untuk eksekusi. 

Apakah ada rencana diversifikasi produk, selain alat masak? 

Kita pasti akan diversifikasi, kita sudah mulai mapping market nya ke arah mana. Karena ada potensi masuk ke sektor Horeka (hotel, restoran, dan kafe). Jadi kita sudah coba planning untuk masuk ke sana. Dan salah satu lagi yang akan Kita masukin itu divisinya adalah untuk produk alat makan anak. Jadi saya merasa ini satu market yang seksi untuk digarap ke depan.

Dari capaian ini, pastinya banyak juga pengalaman pahit selama membesarkan homLiv. Bisa diceritakan? 

Ya, tentu saja banyak kesulitan yang dialami. Khususnya di awal berdiri, memasuki tahun kedua dan ketiga, itu fase yang sangat berat buat kita. Karena perusahaan yang masih kecil ini harus menanggung semua beban. Dari pengrajin, dari operasional kantor dan lain sebagainya. Ada satu fase dimana kita kesulitan untuk bayar gaji. Bahkan tim saya sampai harus bergantian menahan beban.  

Disaat-saat seperti ini, saya paling ingat Ketika saya menjalankan homLiv ini ada masa dimana seminggu itu saya ngumpet di toilet sambil nangis Tiga kali dalam seminggu ya bahkan lebih, tanpa pernah ketahuan sama suami. Namun biar menangis juga energinya harus positif. 

Ini sebagai pengingat saja. Memang untuk mencapai satu mimpi itu butuh pengorbanan memang akan ada fase-fase sulit gitu. 

Titik baliknya seperti apa?

Titik balik sebenarnya lebih ke progress. Dan ini yang bikin saya bertahan dimana hari demi hari saya melihat ada kemajuan., walaupun masih sulit, tapi sulitnya berkurang sedikit. Terus kita belajar improve ada tambahan hal-hal baru yang saya pelajari . Jadi ada proses. Makanya, jangan terlalu percaya sama hal yang instan Ketika ada yang instan, orde gede datang, ya nggap saja sebagai bonus. KArena kita gak bisa selalu berharap. dengan hal-hal seperti itu. 

Bagi saya, progress yang sedikit demi sedikit itu yang mengantarkan saya yang tadinya mungkin mau tenggelam,  sesak nafas, mulai bisa bernafas sedikit lega. 

Ada rencana kolaborasi atau kerjasama permodalan? 

Pastinya saya akan mencari yang sevisi. Karena saya udah bergelut di bidang Eco friendly ya pastinya perusahaannya jangan perusahaan yang Mungkin udah image nya kurang baik di mata masyarakat.  Meskin mungkin tawaran dananya besar Juga gak bisa. 

Apa mimpi yang ingin diwujudkan Dalam 5 tahun ke depan?

Mimpi yang ingin saya wujudkan dalam 5 tahun ke depan, saya ingin membangun ekosistem Industri perkayuan di Indonesia. Mungkin enggak dalam konteks yang besar tapi minimal dalam wooden kitchenware ini, karena pemain untuk furniture besar itu sudah banyak. 

Dan untuk barang kecil-kecil ini yang sebenarnya itu masih menjadi Mata pencaharian sebagian besar pengrajin. Sedangkan kita untuk menciptakan sebuah daya tawar yang besar, kita butuh bareng-bareng Karena itu saya merasa ingin membangun sebuah ekosistem dimana homLiv nantinya akan memiliki jaringan Koneksi dengan seluruh pengrajin perkayuan di seluruh Indonesia. 

Nah sehingga ketika mungkin nantinya kita ada permintaan besar kita bisa menyanggupi ramai-ramai.

Baca selengkapnya

Ω