Dewan Perwakilan Rakyat mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I yang mencapai 5,61 persen. Angka ini dinilai sangat baik, terutama di tengah tekanan kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian akibat dinamika geopolitik dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara.
Anggota Komisi XI DPR dari fraksi Partai Golkar Eric Hermawan menuturkan capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang tetap terjaga. Meski berbagai tantangan eksternal terus membayangi, Indonesia dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan melalui konsumsi domestik yang kuat, stabilitas sektor keuangan, serta peran belanja pemerintah yang cukup signifikan.
Namun demikian, DPR mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh lengah terhadap potensi risiko ke depan. Gejolak geopolitik global dapat berdampak langsung terhadap fluktuasi harga energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM), serta pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang cenderung volatil.
“Saya mendorong pemerintah untuk lebih cermat dalam menjalankan program-program unggulan. Diperlukan langkah strategis berupa trade-off kebijakan agar tekanan akibat kenaikan harga BBM dan pelemahan nilai tukar rupiah dapat diminimalkan tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/5/2026)
Ke depan, DPR menilai penting bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan keberlanjutan program prioritas. Dengan perencanaan yang matang dan respons kebijakan yang adaptif, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan kinerja pertumbuhan yang solid sekaligus menghadapi tantangan global yang semakin kompleks
Penguatan konsumsi domestik
Dihubungi terpisah, Anggota Komisi XI DPR Anis Byarwati mengatakan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi pada kuartal selanjutnya, pemerintah perlu memastikan momentum yang sudah terbentuk tetap terjaga melalui penguatan konsumsi domestik. Daya beli masyarakat harus dijaga dengan kebijakan yang tepat sasaran, seperti stabilisasi harga kebutuhan pokok dan pengendalian inflasi, sehingga aktivitas ekonomi di tingkat rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan.
“Selain itu, investasi perlu terus didorong agar menjadi motor pertumbuhan yang berkelanjutan. Pemerintah dapat mempercepat realisasi proyek strategis nasional, memperbaiki iklim usaha, serta memberikan kepastian regulasi bagi investor,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/5/2026).
Baca juga:

Langkah ini penting untuk menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan kapasitas produksi nasional di tengah ketidakpastian global.
Di sisi eksternal, penguatan sektor ekspor juga menjadi kunci penting. Diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan nilai tambah produk dalam negeri harus terus dilakukan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah. Upaya hilirisasi industri dapat menjadi strategi efektif untuk menjaga daya saing sekaligus meningkatkan penerimaan devisa.
Terakhir, stabilitas makroekonomi harus tetap dijaga melalui koordinasi yang solid antara pemerintah dan otoritas moneter. Pengendalian nilai tukar, pengelolaan defisit fiskal, serta respons cepat terhadap gejolak global akan sangat menentukan keberlanjutan pertumbuhan.
Konsistensi Kebijakan
Pengamat Ekonomi dari Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menuturkan menjaga pertumbuhan ekonomi membutuhkan konsistensi kebijakan yang mampu mendorong aktivitas sektor riil tanpa mengabaikan stabilitas. Pemerintah perlu memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga melalui pengendalian inflasi, stabilisasi harga pangan, serta perlindungan sosial yang tepat sasaran.
“Dengan konsumsi domestik yang kuat, fondasi pertumbuhan akan tetap kokoh meski tekanan global masih berlangsung,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/5/2026).
Baca juga:
Di sisi lain, penguatan investasi dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menjaga momentum ekonomi. Kemudahan perizinan, kepastian hukum, serta insentif bagi sektor produktif perlu terus diperluas agar pelaku usaha memiliki ruang untuk berkembang. Selain itu, percepatan proyek infrastruktur dan hilirisasi industri akan membantu meningkatkan nilai tambah serta menciptakan lapangan kerja baru.
Tak kalah penting, stabilitas makroekonomi harus dijaga melalui koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Pengelolaan nilai tukar, pengendalian defisit anggaran, serta respons cepat terhadap gejolak global akan menentukan ketahanan ekonomi ke depan. Dengan strategi yang terukur dan adaptif, pertumbuhan ekonomi dapat terus dipertahankan secara berkelanjutan.
Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen Kuartal I 2026
Ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja impresif pada kuartal I-2026 dengan laju pertumbuhan yang melesat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), melampaui ekspektasi banyak pihak. Capaian ini menegaskan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen lebih tinggi jika dibandingkan kuartal I 2025 yang tumbuh sebesar 4,87 persen secara tahunan.
angka pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022 yang mencatatkan 5,73 persen, sekaligus menjadi rekor dalam 14 kuartal terakhir. Tren ini mencerminkan momentum pemulihan ekonomi yang semakin solid, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, aktivitas investasi yang meningkat, serta kinerja ekspor yang tetap terjaga.
Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia juga menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan harga konstan, nilai PDB mencapai Rp3.447,7 triliun. Sementara itu, jika dihitung berdasarkan harga berlaku, PDB menembus Rp6.187,2 triliun. Angka ini menggambarkan skala ekonomi Indonesia yang terus membesar seiring dengan aktivitas produksi dan konsumsi yang semakin meningkat.
“Capaian pertumbuhan sebesar 5,61 persen ini juga melampaui proyeksi pasar yang sebelumnya memperkirakan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sekitar 5,4 persen. Kinerja di atas ekspektasi ini menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha dan investor, sekaligus memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi nasional sepanjang tahun 2026,” ujar dia dalam konferensi pers BPS di Jakarta (5/5/2026)
Sejumlah faktor menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut, di antaranya peningkatan konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi tulang punggung ekonomi, belanja pemerintah yang terjaga, serta perbaikan kinerja sektor industri dan perdagangan. Selain itu, stabilitas makroekonomi dan kebijakan yang adaptif turut berperan dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi, yakni 2,94 persen. Kinerja konsumsi rumah tangga pada kuartal 1 2026 utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri, diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 persen sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain konsumsi rumah tangga, penopang pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh solid sebesar 5,96 persen. Angka ini didorong oleh investasi pemerintah, antara lain pembangunan terkait prioritas nasional dan investasi swasta.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai antara lain pembayaran THR, juga peningkatan belanja barang dan jasa terutama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Adapun beberapa mitra dagang utama Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang beragam. Contohnya, China dengan pertumbuhan 5,0 persen dan Amerika Serikat 2,7 persen.Lalu, ada Malaysia dengan pertumbuhan 5,3 persen, Singapura 4,6 persen, dan Vietnam 7,8 persen.
Ke depan, tantangan tetap perlu diwaspadai, terutama terkait perlambatan ekonomi global, volatilitas harga komoditas, serta dinamika geopolitik. Namun, dengan fondasi ekonomi yang semakin kuat dan koordinasi kebijakan yang baik, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan sepanjang tahun ini.
Kinerja Impresif
Dihubungi terpisah, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam menuturkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan kinerja yang impresif dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperlihatkan bahwa permintaan domestik masih menjadi motor utama penggerak pertumbuhan.
Momentum Lebaran menjadi salah satu faktor pendorong signifikan. Peningkatan konsumsi masyarakat selama periode Ramadhan hingga Idulfitri mendorong aktivitas perdagangan, transportasi, hingga sektor jasa. Tradisi belanja dan mudik yang kuat di Indonesia terbukti kembali memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional.
Selain itu, berbagai insentif yang digelontorkan pemerintah turut memperkuat daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan seperti bantuan sosial, stimulus fiskal, serta program perlindungan ekonomi dinilai mampu menjaga konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif, yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Dari sisi dunia usaha, capaian pertumbuhan ini menjadi sinyal positif yang meningkatkan optimisme pelaku bisnis. Stabilnya permintaan domestik memberikan ruang bagi sektor usaha untuk memperluas produksi dan investasi, sekaligus memperbaiki kinerja keuangan perusahaan di berbagai sektor,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (5/5/2026).
Ke depan, tantangan global memang masih membayangi, namun kinerja kuartal pertama ini memberikan fondasi yang cukup kuat bagi ekonomi Indonesia untuk terus tumbuh. Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan momentum konsumsi yang terjaga, prospek pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diharapkan tetap berada pada jalur yang positif dan berkelanjutan.