Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) bulan April 2026 yang digelar pada Rabu, 22 April 2026 lalu, memutuskan untuk tetap mempertahankan BI Rate di level 4,75%, suku bunga deposit facility tetap 3,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 5,5%.
Keputusan ini juga dipertebal dengan langkah penguatan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna menarik investasi portofolio asing dalam rangka stabilisasi kurs Rupiah dalam jangka pendek.
SRBI merupakan instrumen moneter pro-market yang diterbitkan Bank Indonesia sejak 15 September 2023, untuk menarik modal asing dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Instrumen ini diterbitkan sebagai surat berharga berjangka pendek berbasis underlying asset Surat Berharga Negara (SBN), yang dapat diperdagangkan oleh investor domestik dan asing.
Mitigasi Bank Sentral tahan aliran dana keluar
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, selain meningkatkan intensitas intervensi di pasar non-deliverable forward di luar negeri, pasar domestic non-deliverable forward, dan pasar spot di dalam negeri, otoritas moneter juga secara bertahap menaikkan suku bunga instrumen SRBI untuk tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan. Terhitung 10 April 2026, suku bunga masing-masing instrumen tersebut tercatat 5,49%, 5,62%, dan 5,76%.
Usaha menaikkan suku bunga SRBI tersebut tidak terlepas dari usaha bank sentral menahan laju aliran modal keluar (capital outflow) lewat transaksi modal dan finansial yang sempat mencapai USD 1,7 miliar pada akhir Maret 2026.
Keluarnya aliran modal dipengaruhi ketidakpastian pasar keuangan global yang memburuk dipicu keadaan perang di Timur Tengah.
"Namun, hingga 20 April 2026, aliran modal sudah kembali mencatatkan net inflow USD 1,9 miliar melalui instrumen SRBI dan SBN, terutama didorong peningkatan imbal hasil kedua instrumen tersebut," jelas Perry dalam konferensi pers RDG BI April, Rabu (22/4/2026).
Penguatan struktur suku bunga instrumen moneter tersebut, lanjut Perry, merupakan mesin kedua yang menyeimbangkan intensifikasi intervensi pasar valuta asing yang berdampak signifikan, menggerus cadangan devisa RI hingga mencapai level USD 148,2 miliar, terendah sejak Juli 2024. Dengan kapasitas SRBI untuk menarik investasi portofolio, nilai tukar mata uang Garuda diharapkan menguat secara organik.
Sebagai penarik investasi portofolio asing, posisi instrumen moneter SRBI pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp885,41 triliun, antara lain didukung kepemilikan nonresiden mencapai Rp165,98 triliun atau 18,75% dari total outstanding.
Tak hanya itu, BI juga melakukan pembelian SBN di pasar sekunder dengan nominal sebesar Rp56,53 triliun, sehingga total kepemilikan SBN di bank sentral mencapai Rp111,54 triliun.
"Cadangan devisa kita masih lebih dari cukup untuk meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar valuta asing ini. Kami juga terus mendorong pertumbuhan uang primer tetap double digit untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan sehingga nilai tukar kita akan semakin stabil dan cenderung menguat ke depan," tegas Perry.
Terbukti efektif stabilkan rupiah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menambahkan, optimasi SRBI sebagai instrumen moneter jangka pendek untuk menarik modal asing merupakan hasil uji empiris yang telah terbukti efektif untuk mencapai tujuan stabilisasi kurs rupiah. Kenaikan suku bunga tersebut dilakukan secara bertahap sepanjang Kuartal I 2026, dan menunjukkan hasil yang memuaskan.
Sekitar awal bulan Maret 2026, yield SRBI memang masih relatif rendah, sehingga masih terjadi outflow. "Setelah kita lakukan penyesuaian, hasilnya mulai terlihat pada akhir Maret, tercatat inflow masuk Rp32,5 triliun, dan sampai bulan April saja sudah Rp29 triliun. Total inflow di SRBI saat ini telah mencapai Rp54,3 triliun," tuturnya.
Ke depan, selain SRBI, bank sentral juga mendorong optimasi instrumen moneter Surat Berharga Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) yang saat ini telah berhasil menarik investasi portofolio sebesar USD 400 juta.
Namun, optimasi instrumen ini cenderung dipersiapkan untuk jangka panjang, mengingat likuiditas mata uang dollar Amerika Serikat di bank sentral masih cukup melimpah.
"Saya ingin tekankan Bank Indonesia akan tetap berada di pasar selama 24 jam dan meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing dengan memanfaatkan semua instrumen operasi moneter yang kami miliki untuk mencapai satu tujuan, yaitu menjaga dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah ke depan," ujar Destry.
Intervensi pagi hingga sore
Secara terpisah, Direktur Bank OCBC NISP Johannes Husin menilai asesmen BI yang memperkirakan tertahannya penurunan suku bunga lebih lanjut hingga akhir 2026 sejatinya telah terdeteksi oleh pelaku industri perbankan sejak awal tahun.
Dalam kondisi yang sangat volatil, pergerakan suku bunga di seluruh dunia akan mengikuti perhitungan Fed Fund Rate yang cenderung menahan suku bunga higher for longer.
Saat ini kurva suku bunga menurut Johannes bisa dibilang sehat, karena dalam jangka pendek dijaga untuk memastikan ekonomi bisa bergerak dengan suku bunga yang masuk akal.
"Sedangkan kurva yang agak panjang memang terkoreksi awal tahun karena situasi pasar yang kurang kondusif saat ini," kata Johannes dalam paparan publik OCBC di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Baca juga:
Perkembangan stabilitas nilai tukar rupiah saat ini, Johannes menekankan, tidak lepas dari situasi neraca pembayaran yang masih berat di sisi impor dan kurang optimal di sisi ekspor. Selain itu, transaksi swap juga masih diandalkan bank untuk memastikan valas terkendali, stabil, dengan level yang bisa memberikan business opportunity bagi eksportir dan importir.
"Kita juga tahu akhir-akhir ini Bank Indonesia sudah jauh lebih sigap mengintervensi market dari pagi sampai sore, dan menggunakan NDF di luar negeri. Langkah-langkah ini sudah cukup efektif. Perbankan juga punya banyak obligasi pemerintah yang mudah dikonversi jadi likuiditas karena ada repo dengan Bank Indonesia, atau bisa dijual karena kebanyakan jangka pendek," imbuhnya.
Ke depan, Johannes berharap situasi perang yang berlarut cepat selesai sehingga disrupsi sektor riil yang mereda, dapat membantu sektor jasa keuangan bernapas lebih lega, terutama dalam upaya meningkatkan likuiditas dan menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka panjang.
"Jika semua negara bisa berfokus ke kondisi makroekonomi masing-masing, maka situasi yang mengizinkan sebenarnya membuka kesempatan untuk suku bunga yang lebih rendah, karena memang pada dasarnya likuiditas itu banyak di pasar," ungkapnya.
Menahan adalah opsi terbaik
Ekonom senior dan pengajar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai, langkah BI untuk menjaga suku bunga acuan tetap 4,75% sudah tepat, di tengah situasi yang tidak kondusif.
Ryan mengakui, dalam situasi seperti ini, ruang bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan sejatinya terbuka lebar. Namun, dengan menahan BI Rate tetap 4,75% ketika Fed Fund Rate ditetapkan 3,75%, Indonesia sudah mempunyai 100 basis poin, atau selisih 1 persen untuk menjaga stabilitas rupiah agar tidak terperosok lebih dalam.
"Kalau dinaikkan memang bagus, tetapi nanti banyak orang teriak, karena jika BI Rate naik, cepat atau lambat suku bunga lain juga ikut naik. Situasi saat ini sedang tidak bersahabat, maka jangan membuat air semakin keruh," tegasnya.
Saat ini, pilihan menahan adalah opsi terbaik yang telah diputuskan oleh BI. Meski, tidak tertutup pula kemungkinan jika situasi membaik, tersedia peluang cukup untuk memanfaatkan ruang kenaikan suku bunga acuan untuk dipertimbangkan otoritas moneter dalam waktu dekat.
"Jika suku bunga acuan sekarang ditahan itu sudah bagus, sampai situasi membaik kemudian," tandasnya.