Catatan Baik di Kuartal Satu

Pertumbuhan ekonomi Kuartal I didorong oleh berbagai kegiatan masyarakat yang melipat gandakan konsumsi. Belanja pemerintah di rentang waktu ini yang meningkat juga punya andil. 

Catatan Baik di Kuartal Satu
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti (Suar.id/Fandi)

Wawancara Khusus Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti

Pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2026 sebesar 5,61% yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) memicu perdebatan publik. Di satu sisi, capaian ini tertinggi dalam 13 tahun terakhir, namun di sisi lain diragukan oleh sebagian ekonom karena anomali perbedaan antara angka makro dan kondisi sektor riil atau daya beli masyarakat di lapangan 

Masyarakat, khususnya para pengambil keputusan pun banyak yang ingin tahu, terkait pertumbuhan ekonomi di Kuartal I 2026 yang di luar dugaan. Apa saja faktor pendorongnya, apakah BPS salah menghitung?

Wajar saja publik mempertanyakan temuan BPS tersebut. Namun tentu saja BPS punya dasar untuk bisa menyimpulkan temuan itu. Pijakannya kuat, metode nya juga bisa dipertanggungjawabkan. “Kami lembaga negara yang tidak boleh membentuk angka dengan asumsi,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. 

Nah, faktor apa saja yang membuat perekonomian Indonesia bisa menyamai pertumbuhan di luar kebiasaan. Kepada Tim Suar Winny, begitu ia akrab dipanggil, menjelaskan berbagai hal yang luar biasa juga sehingga pertumbuhan ekonomi di kuartal satu tahun ini fantastis di kantornya di kawasan Pasar Baru< jakarta Pusat 5 Mei 2026 lalu. 

Winny juga memaparkan rencana BPS menggelar acara sepuluh tahunan,  Sensus Ekonomi Nasional yang akan dimulai bulan Mei ini. Seperti pertumbuhan Kuartal  I 2026 yang spesial. sensus kali ini juga beda dengan sensus-sensus sebelumnya. Seperti apa? berikut petikan wawancaranya: 

Publik khususnya para pengambil keputusan ingin tahu, terkait pertumbuhan ekonomi di Kuartal I 2026 yang di luar dugaan banyak orang, dimana PDB Kuartal I 2026 mencapai 5,61% YoY. Sebetulnya pendorong utamanya itu apa saja, yang sangat dominan? 

Terkait dengan pertumbuhan ekonomi triwulan 1 2026, yang kami ukur adalah aktivitas ekonomi yang terjadi di bulan Januari sampai dengan Maret. Jadi kita time frame-nya itu dulu.

Di mana di rentang waktu itu, ada event besar, pertama di Februari ada Panen Raya. Dan yang kedua adalah Ramadan. Kemudian di bulan Maret kita ada Hari Raya Idulfitri disambung oleh libur panjang. Jadi momen-momen itulah yang sebenarnya menjadi salah satu penyebab mengapa pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2026 ini bisa tumbuh sedemikian tingginya. 

Apalagi, di Triwulan I ini, pemerintah juga memberikan stimulus fiskal. Artinya yang biasanya di Triwulan I itu realisasi anggaran tidak setinggi tahun ini, adanya beberapa faktor tadi menjadi penyebab dan pengungkit terhadap pertumbuhan ekonomi di Triwulan I 2026. 

Bisa dijelaskan satu per satu komponen per komponen apa saja?

Mungkin kita bisa mulai dari sisi pengeluaran dulu ya. Karena ekonomi Indonesia itu kan bisa dilihat dan kami hitung melalui dua sisi. Seperti biasa, satu sisi pengeluaran atau expenditure side, satu lagi adalah sisi produksi atau production side.

Mari kita lihat dulu di sektor pengeluaran atau expenditure side. Di situ ada konsumsi di mana kita tahu bahwa sepanjang bulan Ramadan dan Idulfitri itu, konsumsi masyarakat sangat meningkat.

Mobilitas masyarakat luar biasa. Kalau kita lihat data dari Kementerian Perhubungan itu jumlah pemudiknya 10,8 juta orang. Nah kemudian dari hasil statistik transportasinya BPS juga menyebut ada peningkatan pesat di jumlah penumpang angkutan laut.

Kemudian penyeberangan juga angkutan udara meningkat tetapi tidak setinggi angkutan kereta api. Jadi, yang tinggi adalah peningkatan jumlah penumpang di angkutan kereta api, penyebrangan, angkutan darat dan juga laut. Nah selain itu kami juga merekam mobilitas masyarakat melalui statistik wisatawan Nusantara.

Di mana pertumbuhan wisatawan Nusantara yang melakukan perjalanan sepanjang Januari sampai dengan Maret 2026 ini meningkat di atas 13%. Jadi artinya kalau kita bandingkan dengan Januari sampai dengan Maret tahun lalu, ini memang ada peningkatan jumlah orang yang melakukan perjalanan di dalam perekonomian Indonesia.

Nah itulah yang kemudian salah satu yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dari konsumsi masyarakat. Seperti kita ketahui, konsumsi rumah tangga kita kan atau konsumsi masyarakat meningkatnya 5,52% Pak Suta.

Jadi dipicu oleh aktivitas masyarakat yang signifikan?

Kalau kita perhatikan selama momen Ramadan dan menuju Lebaran, itu kan ada takjil di mana-mana. Yang tadinya tidak pernah membeli takjil, sekarang perdagang takjil di mana-mana dan kita akhirnya juga membeli takjil.

Hantaran selama bulan puasa dan apa lagi menuju hari raya Idul Fitri, itu hantaran di mana-mana. Bahkan ada survei dari BSI Institute, Pak. Mereka menanyakan apakah masyarakat atau responden menerima hantaran Lebaran atau tidak.

Ternyata hasilnya 60% dari responden yang disurvei itu menerima hantaran Lebaran, Pak. Jadi ini satu fenomena dan juga budaya di mana orang cenderung ataupun memiliki keinginan di hari yang suci. Kemudian di hari raya Idul Fitri itu memberikan sesuatu kepada kerabat maupun teman-temannya dan saudara-saudaranya.

Dan tentunya masih ada pengeluaran dari pemerintah?

Betul. karena kita lihat investasi pun juga meningkat 5,96%. Ini dorongannya adalah dari realisasi investasi swasta, dan tercatat dalam rekamannya data BKPM (Badan Koordinator Penanaman Modal) dan juga kami tentunya punya data tersendiri.

Belanja modal pemerintah juga meningkat. Karena memang ada belanja modal untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan irigasi bangunan-bangunan seperti bangunan sekolah yang dilakukan oleh Kementerian PU, untuk sekolah rakyat, sekolah Garuda. Kemudian pembangunan Koperasi Desa Merah Putih dan juga untuk belanja modal dari SPPG.

Dan impor barang modal pun kami rekam cukup tinggi peningkatannya. Nah inilah kira-kira data-data yang mendukung untuk investasi atau PMTB di dalam sisi pengeluaran. Selain itu jelas seperti kita ketahui bahwa kan belanja pemerintah meningkat.

Seberapa besar, realisasi belanja Pemerintah? 

Di atas 30% realisasi belanjanya. Dan inilah perbedaan dari kebijakan fiskal di zamannya Bapak Presiden Prabowo yang tahun ini, fiskal itu harus menjadi stimulus. Sehingga realisasi belanja itu memang digenjot di awal tahun supaya nanti, apa yang kita sebut dengan spillover efec-nya atau dampak multipliernya itu bisa dirasakan juga di sepanjang tahun ini. 

Kan kalau kita bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, itu biasanya realisasi belanja pemerintah di awal tahun itu relatif terbatas. Sehingga biasanya digenjotnya di akhir tahun, bahkan di kuartal keempat. Nah ini sudah mulai terealisasi di awal tahun. 

Sehingga kalau kita lihat monitor, berarti sekitar 21% belanja pemerintah itu sudah terealisasi di awal tahun 2026. Nah ini menyebabkan konsumsi pemerintah di dalam catatan PDB kami atas dasar harga konstan itu naik ke 21%.

Bagaimana jika dilihat dari sisi lapangan usaha?

Kalau dari sisi lapangan usaha, tentunya ini yang mendorong, ada tiga lapangan usaha yang cukup membantu pertumbuhan ekonomi di sisi produksi. Pertama adalah industri manufaktur.

Yang kedua adalah sektor perdagangan. Sekitar 0,82% basis point dari 5,61% itu disumbang oleh sektor perdagangan. Baru kemudian ada sektor pertanian yang 0,55% basis point-nya sebagai sumber pertumbuhan terhadap pertumbuhan ekonomi yang 5,61%.

Dan memang kenapa sektor ini yang memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi di sisi produksi, karena pertama tadi, share-nya besar. Jadi industri, perdagangan, pertanian ini share-nya relatif besar. Kedua, dia tumbuhnya ada yang di atas 5% dan mendekati 5%. 

Seperti sektor pertanian, tumbuhnya 4,97% mendekati 5%. Ini sekali lagi karena di 3 Kuartal I 2026ada panen raya. Nah kalau kita lihat tanaman pangannya, itu tumbuhnya 7,58%. Tetapi ada juga sektor lain yang tumbuh signifikan di sektor pertanian itu yaitu peternakan yang tumbuhnya 11,84%. Permintaan terhadap daging ayam ras, telur, itu meningkat.  

Permintaan ini berasal dari MBG?

Salah satunya karena efek MBG, ada kenaikan di permintaan dan telur. 

Artinya MBG sudah ada multiplier efect juga ya?

Sudah. Jadi makan bergizi gratis yang memang kemudian salah satu menunya adalah daging ayam dan telur, ternyata meningkatkan produksi dari sektor peternakan.

Dan tentunya selain sektor pertanian, yang saya ingin sampaikan adalah sektor konstruksi juga menjadi keempat terbesar dari sumber pertumbuhan di sisi produksi Kenapa sektor konstruksi tadi,karena ada memang pekerjaan-pekerjaan infrastruktur yang sudah mulai berjalan di Triwulan I 2026.

Jadi sebetulnya angka 5,61% itu menjadi sangat wajar. Karena dari sisi konsumsi masyarakat meningkat karena ada sejumlah perayaan Idul Fitri dan yang lain-lain, Ramadan yang bertumpuk. Kemudian di sisi yang lain, konsumsi dari pemerintah juga sangat besar, didorong di kuartal I.

Kemudian dari sisi produksi, juga industri manufaktur juga tumbuh. Bahkan pertanian juga.

Bagaimana dengan sektor perdagangan, apakah juga tumbuh? 

Perdagangan tumbuh di atas 6 persen, karena memang selama momen Ramadan, momen Idulfitri, transaksi perdagangan itu kan besar. Dan kalau kita lihat ini cerminan dari perdagangan melalui sistem elektronik

Nah, data perdagangan melalui sistem elektronik ini pun juga meningkat secara year on year.

Berapa besar peningkatannya?

Transaksi perdagangan melalui sistem elektronik, kami rekam Q1 2026 dibandingkan dengan Q1 2025, itu sebesar 27,8 persen year on year. Kalau kita lihat datanya BI, transaksi melalui QRIS juga meningkat pesat. Meningkatnya 100 persen lebih bahkan, kalau dilihat dari transaksi memakai QRIS. Jadi, ada perubahan pola konsumsi masyarakat.

Nah, pertanyaannya kenapa banyak orang kok enggak percaya, apakah memang pertumbuhan yang 5,61% itu belum terasa real oleh masyarakat kecil atau masyarakat kebanyakan, merasa pertumbuhan tidak setinggi itu?

Pertama, ini kan sebenarnya angka pertumbuhan yang sejak 2013, khusus di Triwulan 1 itu selalu rendah. Biasanya di bawah 5 persen atau atas 5 persen lebih sedikit. Itu yang saya lihat historisnya. 

Nah, ini mungkin orang masih antara percaya dan tidak percaya. Tetapi tugasnya BPS kan tidak melakukan proyeksi. Kami bukan lembaga yang membentuk angka dengan asumsi.

Kami adalah lembaga statistik resmi negara yang tugasnya mengukur sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Tetapi bagaimana orang bisa memahami ukuran universal itu tentunya perlu literasi. Jadi, perlu memahami secara mendalam. Ada angka-angka apa saja yang membentuk 5,61 persen itu.

Cerita apa yang ada dibalik angka tersebut, itulah tugas kami dan media tentunya untuk kita sama-sama menyebarluaskan informasi ini dengan data dan fakta yang memang ditemukan di lapangan.

Untuk mengetahui besaran pengeluaran dan produksi ini, apa saja indikator yang dipakai? 

Ya, teman-teman di BPS ini untuk menghitung pertumbuhan ekonomi di sisi pengeluaran, mereka menggunakan 2.700-an indikator.

Di sisi produksi mereka menggunakan 841 indikator. Dan yang satu catatan penting yang mungkin belum disadari oleh publik adalah, bahwa kami menghitung 5,61% itu bukan tiba-tiba dapat 5,61%. Tapi kita menghitung dari bawah.

Dimana BPS seluruh Indonesia, Dari BPS Kabupaten Kota itu secara serentak, melakukan perhitungan dengan standar dan manual yang sama. Sehingga angka itu kita dapat dari Kabupaten Kota, kemudian diagregasi menjadi angka provinsi, setelah provinsi diagregasi menjadi angka nasional. Setelah itu kami double-check lagi dengan angka-angka nasional.

Kita kemudian hitung ulang. Jadi, ini adalah proses rekonsiliasi yang terus menerus berputar. 

Kemudian, tadi kan sektor-sektor sisi produksi, datanya kemudian kita kumpulkan secara agregasi. Habis itu kita terjemahkan lagi ke daerah. Daerah kemudian melakukan hal yang sama.

Jadi ada disagregasi ke atas. Itulah sebenarnya ada kompleksitas dalam menghitung PDB itu. Bukan sekedar menggunakan modeling.

Ada satu kritik mempertanyakan data BPS tidak konsisten, dimana kinerja industri manufaktur tumbuh, tetapi pengadaan listrik gas itu terkontraksi. Jadi ada data yang kontradiksi. Ada penjelasan?  

Jadi kita punya data disaggregation, yang kita peroleh dari berbagai sumber data tentunya. Nah, salah satunya adalah data konsumsi listrik, karenanya ini harus kita bedah. Dimana konsumsi listrik atau penjualan listrik untuk sektor bisnis itu meningkat 6,35 persen.

Dengan kata lain, konsumsi listrik, sektor bisnis meningkatnya 6,35 persen, sektor industri-nya meningkatnya 1,35 persen. Tapi ada catatan dari kami, ternyata itu juga sebenarnya waktu pembahasan perhitungan PDB menjadi salah satu perhatian saya.

Dan teman-teman di BPS punya datanya, bahwa sebenarnya, industri manufaktur yang salah satunya berkembang adalah industri yang padat energi.

Maksudnya?

Pada saat dia padat energi, dia tidak membeli listrik dari PLN. Dia memiliki captive power. Seperti misalnya industri nikel, di kawasan industri hilirisasi nikel, dia punya pembangkit listrik sendiri yang lebih murah.

Karena apa, karena kalau diproduksi sendiri, sumber bahan bakunya biasanya dari batu bara, kan lebih murah. Pada saat suatu industri itu menghasilkan listriknya sendiri, dia adalah faktor input dari produksi itu dan tidak kami catat sebagai sektor listrik. 

Sebabnya?

Karena di industri tersebut produk outputnya adalah olahan nikel. Listriknya sebagai faktor input. Karena yang kita catat adalah nilai tambah dari industri itu. Artinya output dikurangi input. 

Sehingga industri tersebut akan mendapatkan nilai tambah dari hasil nikel yang diolah menjadi produk nikel. Kalau PLN memang kami catat di dalam sektor listrik.

Karena jasa dan produk yang dihasilkan memang listrik. Untuk kemudian dia mendapatkan nilai tambah.

Itu yang menyebabkan pertumbuhan konsumsi listrik tidak setinggi, bahkan ini terkontraksi dengan industri manufaktur.

Sektor industri tumbuh 1,35% juga. Tetapi kenapa tidak setinggi yang 5% itu? Karena memang banyak industri yang padat energi. Atau di beberapa kawasan industri, itu memang menghasilkan captive power

Kedua, ada beberapa industri juga yang sudah menggunakan energi baru terbarukan. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi sudah mulai dia go green. Di kawasan industri ada PLTS atap.

Tapi kalau yang negatif adalah konsumsi listrik rumah tangga, kenapa?

Karena high base effect. Kalau kita ingat, di Januari, Februari tahun lalu. Mereka, namanya pelanggan listrik di bawah 1.300 itu mendapatkan diskon 50%. Pada saat ini lebih dari 60% pelanggan listrik kita adalah prabayar.

Jadi terkait dengan pertumbuhan ekonomi di Kuartal I 2026 ini, bagaimana kita harus memaknainya?

Ada yang mengatakan, ini di satu sisi kita harus syukuri. Tetapi juga tidak boleh terlalu berlebihan. Karena ada fakta-fakta situasi yang berbeda. Kalau buat saya angka ini harus dimaknai dengan bijak. Pertama, ada momentum, dimana ekonomi Indonesia bertahan di tengah turbulensi ekonomi global.

Itu kan menunjukkan bahwa ada fundamental makroekonomi yang memang masih kuat. Tetapi ini harus dikelola, dan dijaga. Karena di tingkat global itu kan tekanannya juga luar biasa. Artinya ketahanan ekonomi kita itu harus tetap dijaga. Caranya adalah bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia harus meyakini bahwa ekonomi domestik Indonesia yang memang punya kekuatan secara internal, populasinya besar, pasar kita besa. Kita harus percaya dengan kekuatan kita sendiri.

Jadi itu adalah peluang sebenarnya. Sehingga kita perlu memanfaatkan peluang itu di tengah tekanan dari ekonomi global. Memanfaatkan kekuatan pasar dan peluang pasar Indonesia.

Yang ketiga adalah, tentunya momentum industri yang lagi tumbuh harus dijaga dengan ekspektasi yang positif. Bagaimanapun ekonomi itu akan terpengaruh oleh ekspektasi. Pada saat ini mumpung ada momentum baik, ekspektasi ini harus terus dijaga positif.

Kenapa? Pada saat masyarakat yakin ekspektasinya akan membaik, dia tidak sungkan-sungkan untuk belanja.

Pada saat masyarakat kita belanja, berarti industri bisa bergerak. Sisi produksi bisa bergerak. Tetapi momentum masyarakat yang punya ekspektasi positif itu, itu harus kemudian dipenuhi dari produksi lokal.

Sehingga dari kita bisa dipenuhi oleh industri dalam negeri, akan kembali juga ke masyarakat kita. Karena kita lihat juga tenaga kerja, penyerapannya juga masih oke.

Tahun ini BPS melaksanakan Sensus Ekonomi National, apa sih manfaat besar dari sensus ekonomi ini?   

Ini memang kegiatan atau hajat besar bangsa. Kebetulan BPS yang diminta untuk melakukan sensus. Sebenarnya ada tiga jenis sensus besar di negara ini.

Pertama, setiap tahun yang berakhiran 0, kita harus melakukan sensus penduduk. Nah setiap tahun yang berakhiran 3, kita melakukan sensus pertanian. Dan ini yang setiap tahun berakhiran 6, kita harus melakukan sensus ekonomi.

Apa manfaat dari sensus ekonomi ini? Pertama, ini layaknya general check up terhadap ekonomi Indonesia.

Semua di-scan, tanpa terkecuali. Jadi ini benar-benar medical check up yang menyeluruh. Sehingga semua pelaku usaha, baik dari skala yang ultra mikro sampai yang sangat besar, akan kami catat dan kami datangi. 

Kedua, karena sekarang aktivitas ekonomi itu tidak hanya yang terlihat fisik. Kan dengan perkembangnya ekonomi digital, pasti ada kegiatan ekonomi tetapi enggak ada fisik kantornya. Bisa terjadi, tidak terlihat fisik usahanya.

Tetapi transaksinya ada, pendapatannya ada, aktivitas ekonomi ada. Nah ini kemudian akan kami rekam melalui pendataan ke rumah-rumah. Jadi misalnya nanti biasa jualan online, begitu juga akan kami catat di dalam rumah tangga.

Petugas Pancacah Lapangan melakukan survei pemutakhiran Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020

Yang situasinya berbeda dengan 10 tahun sebelumnya?

Iya. Dan ini kan kalau kita lihat tadi, transaksi perdagangan melalui sistem elektronik.

Artinya, ini akan kami data. Jadi kami akan mendatangi seluruh usaha di Indonesia. Baik yang memang tampak fisiknya atau fasad usahanya.

Seperti di pasar, kemudian nanti warung-warung, sampai dengan perusahaan-perusahaan besar. Industri-industri yang besar. 

Jadi, di sensus ekonomi 2026 ini, yang pasti sangat jauh berbeda dengan sensus ekonomi yang dilakukan 10 tahun yang lalu, sehingga bisa menggambarkan struktur ekonomi kita menjadi jauh lebih utuh dibandingkan dengan sensus ekonomi yang dijadikan baru?

Tepat sekali. Jadi kita akan bisa memetakan struktur ekonomi Indonesia yang terkini.

Karena kami akan mendata seluruh kegiatan ekonomi tanpa terkecuali. Yang kedua kita juga akan bisa memetakan sebaran dari usaha di Indonesia. Sebaran dari aktivitas ekonomi di Indonesia.

Berdasarkan wilayah ataupun sampai kekuatan kota. Karena kami, tentunya petugas sensus kami itu akan menyebar ke seluruh Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke.

Dan ini pekerjaan yang sangat luar biasa. Karena nantinya, dengan sensus ekonomi yang berhasil, ini saya yakin akan menjadi salah satu fondasi data yang luar biasa bagi pemerintah dan masyarakat untuk menentukan kebijakan. Ataupun untuk melihat peluang bisnis.

Berapa banyak tenaga yang dikerahkan dan berapa lama nanti sensus ekonomi ini bisa sampai keluar hasilnya?

Kami sekarang merekrut sekitar 251 ribu petugas sensus di Indonesia. Belum lagi kami menerjunkan pegawai BPS organik. 

Ada latar belakang khusus bagi tenaga yang direkrut tersebut?

Jadi kami punya kriteria petugas yang bisa direkrut untuk menjadi petugas sensus. Ada proses seleksinya. Jadi bulan Mei kami melakukan seleksi, dan kemudian bentar lagi akan dilakukan pelatihan.

Jadi tidak berarti setelah rekrut langsung terjun ke lapangan. Mereka harus dulu memahami konsep-konsep berdasar tentang sensus ekonomi. Mereka akan dilatih bagaimana melakukan wawancara.

Mulai dari bagaimana mengetuk pintu yang sopan. Lalu bertanya yang baik. Bertanya supaya jangan sampai membuat responden bosan gitu ya Pak.

Mereka nanti akan dibekali tentang KBLI. Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 2025 yang baru.

Apa dasar penggunaan KBLI baru dalam sensus ekonomi 2026 ini? 

Karena kami mau merekam aktivitas ekonomi yang baru. Dan harus sudah ada kodenya.

Kalau kita pakai KBLI yang 2020, ada beberapa kegiatan-kegiatan baru yang belum punya spesifik kodenya. Dengan KBLI 2025 ini, kita sudah mengkodifikasi kegiatan-kegiatan ekonomi yang baru. Misalnya dulu kan belum ada bullion bank.

Bagaimana cara masyarakat ikut serta mensukseskan kegiatan ini?

Ada tiga hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk bisa kontribusi langsung mensukseskan sensus ekonomi ini. Pertama, kalau petugas sensus ekonomi kami datang, mohon diterima dengan baik. Yang kedua, apabila mereka bertanya, berikan jawaban yang benar dan lengkap.

Karena jawaban yang benar itu adalah kunci keakuratan data kita. Jangan ada yang dikosongkan.

Dan ketiga, tidak perlu khawatir. Karena kami akan menjaga kerahasiaan data yang diberikan oleh masyarakat kepada BPS. Kami tunduk dengan Undang-Undang Statistik 16 Tahun 1907, dan juga tunduk kepada Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi bahwa kami harus menjaga kerahasiaan dari data individu yang diberikan selama proses sensus ini.

Dan ketika itu berhasil, berarti masyarakat juga akan mendapatkan manfaat yang besar dari sensus ini?

Pada saat masyarakat memberikan jawaban yang benar, itulah kontribusi besar yang diberikan oleh masyarakat buat bangsa. Karena nanti kita akan bisa menyajikan data yang akurat, sesuai dengan fakta yang di lapangan. Sehingga tidak ada bias.

Nah, kalau masyarakat tidak menjawabnya dengan jujur,  artinya kami tidak bisa mencerminkan itu adalah data sesuai fakta. Jadi, kejujuran, keterbukaan dari masyarakat, pada saat didatangi petugas sensus kami, menjadi kunci untuk menyajikan hasil sensus yang akurat.

Baca selengkapnya