Pertumbuhan ekonomi Kuartal I didorong oleh berbagai kegiatan masyarakat yang melipat gandakan konsumsi. Belanja pemerintah di rentang waktu ini yang meningkat juga punya andil.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan keberhasilan Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan atau enam tahun berturut-turut sejak Mei 2020. Meski demikian, angka surplus neraca dagang RI tercatat merosot tajam menjadi USD 89,1 juta pada April 2026.
Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 yang mencapai 5,61% YoY ditopang dua faktor utama yang signifikan yaitu percepatan belanja pemerintah yang dibarengi oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat karena dorongan permintaan pada periode lebaran.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026 naik ke tingkat 3,08% secara tahunan (Year on Year/YoY), dengan inflasi month-to-month mencapai (0,28)%.
Tingkat pengangguran di Indonesia menunjukkan penurunan pada Februari 2026. Pasar kerja masih cukup kuat dalam menyerap tambahan tenaga kerja.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61%. Mencerminkan pemulihan ekonomi solid, didukung konsumsi domestik yang kuat.
Tekanan inflasi yang tercatat dalam IHK pada bulan April tercatat lebih rendah dibanding kondisi Maret 2026 yang mengalami inflasi 0,41% mtm.
Sepanjang 2025 inflasi terkendali baik karena angka ini masih berada dalam rentang target pengendalian inflasi dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yakni 1,5%-3,5%
Wawancara eksklusif Suar.id dengan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di BPS Lounge, Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (10/11/2025) untuk makna data perekonomian serta bagaimana data itu bisa membantu membaca arah ke depan.
Menampilkan 12 dari 9 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.