Kaya Sebelum Tua: Taruhan di Balik Belanja Anak Muda

Mesin konsumsi negeri ini hari ini dijalankan oleh orang-orang muda, dan ke arah merekalah setiap pelaku usaha kini mengarahkan produk dan iklannya.

Kaya Sebelum Tua: Taruhan di Balik Belanja Anak Muda
Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, I Dewa Gede Karma Wisana. (Foto: AI/SUAR)
Daftar Isi

Ada satu bait lagu Queen yang belakangan sering terngiang di kepala saya setiap kali melihat kasir digital: "I want it all, I want it all, and I want it now." Freddie Mercury menulisnya pada 1989 sebagai anthem ambisi. Tiga dekade kemudian, kalimat itu terdengar seperti deskripsi paling tepat tentang cara sebuah generasi berbelanja: semuanya, sekaligus, dan sekarang — sebab tombol "bayar nanti" membuat kata "sekarang" tak lagi butuh menunggu tanggal gajian.

Saya teringat itu di sebuah gerai kopi. Seorang anak muda, mungkin berusia dua puluh tiga tahun, mengetuk layar ponsel, memilih "bayar nanti", lalu menenteng gelas seharga tiga puluh ribu rupiah keluar pintu. Adegan ini terlalu biasa untuk diperhatikan. Tetapi ekonom punya kebiasaan buruk: kami tidak bisa melihat gelas kopi tanpa bertanya siapa yang membayarnya, dan kapan.

Jika jutaan adegan serupa terjadi setiap hari di seluruh negeri, ia berhenti menjadi kebiasaan pribadi dan berubah menjadi gejala struktural. Maka pertanyaannya menjadi jauh lebih besar daripada selera: apakah cara satu generasi membelanjakan uangnya sedang membangun ekonomi Indonesia, atau diam-diam menggerusnya?

Pertanyaan itu mendesak karena komposisi penduduk kita sedang berada di titik yang tidak akan berulang. Sensus Penduduk 2020 mencatat Generasi Z (lahir 1997–2012) berjumlah sekitar 75,5 juta jiwa atau 27,94 persen penduduk, dan Milenial (1981–1996) sekitar 69,9 juta jiwa atau 25,87 persen. Digabung, dua kelompok ini menguasai lebih dari separuh — 53,8 persen — seluruh penduduk Indonesia.

Di belakang mereka menyusul Gen X sekitar 21,9 persen dan Baby Boomer 11,6 persen. Artinya, mesin konsumsi negeri ini hari ini dijalankan oleh orang-orang muda, dan ke arah merekalah setiap pelaku usaha kini mengarahkan produk dan iklannya.

Inilah yang saat ini dirayakan sebagai "bonus demografi". Namun perayaan tersebut, menyembunyikan satu kata yang lebih jujur: tenggat waktu. Jendela ketika penduduk usia produktif jauh melebihi yang bergantung, tidak terbuka selamanya. Rasio ketergantungan Indonesia diperkirakan mencapai titik terendah pada sekitar dekade 2030-an, dan setelah itu bangsa ini mulai menua.

Gen Z yang hari ini mengantre kopi akan berusia empat puluhan pada 2045— tahun yang kita janjikan sebagai "Indonesia Emas". Maka taruhannya sederhana sekaligus menyeramkan: kita sedang berlomba menjadi negara kaya sebelum menjadi negara tua. Yang menentukan siapa memenangkan lomba itu bukan hanya berapa banyak anak muda berbelanja, melainkan untuk apa mereka berbelanja.

Di sinilah data mulai bercerita. Pengeluaran penduduk Indonesia perlahan bergeser, dan data bulan Maret 2025 menandai sebuah titik balik yang jarang disadari. Menurut BPS, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan mencapai Rp 1.569.088, dan untuk pertama kalinya secara nasional porsi belanja bukan makanan (50,58 persen, atau Rp 793.572) melampaui belanja makanan (49,42 persen, atau Rp 775.516). Setahun sebelumnya, pada Maret 2024, keduanya masih nyaris berimbang di kisaran 50 persen.

Pergeseran Konsumsi dari Soal “Perut” ke “Pengalaman”

Ada hukum lama dalam ilmu ekonomi, Hukum Engel, yang mengatakan semakin makmur sebuah rumah tangga, semakin kecil porsi belanja pangannya. Indonesia baru saja melewati ambang itu di tingkat nasional. Pergeseran dari "perut" ke "pengalaman" ini nyata. Ekonomi digital memperkuatnya: jumlah usaha e-commerce di Indonesia telah menembus sekitar empat juta unit pada 2024, dan belanja daring kini menjadi kebiasaan lintas usia.

Tetapi di titik ini sebuah kejujuran harus disampaikan, justru karena banyak tulisan sejenis melewatinya. BPS tidak pernah mengukur konsumsi berdasarkan label "Gen Z" atau "Milenial". Yang diukur adalah kelompok umur, wilayah, dan tingkat pengeluaran. Maka ketika kita mengaitkan "generasi" dengan "perilaku", kita sedang menafsir, bukan sekadar membaca angka.

Ini penting, karena banyak yang kita sebut "ciri khas anak muda" sebenarnya campuran dari tiga hal berbeda: efek usia (orang muda memang selalu lebih berani berbelanja dan bereksperimen, di generasi mana pun), efek zaman (QRIS dan paylater dinikmati kakek-nenek juga, bukan hanya Gen Z), dan efek pendapatan (naiknya konsumsi digital bisa jadi lebih dijelaskan oleh naiknya penghasilan dan akses internet daripada oleh "jiwa generasi"). Menyamakan korelasi dengan sebab adalah jebakan yang membuat analisis terdengar meyakinkan tetapi keliru.

Kalaupun ketiganya sudah kita pisahkan, satu pergeseran tetap layak dicemaskan: cara membiayai konsumsi. Kelompok muda tumbuh dalam ekosistem di mana "beli sekarang, bayar nanti" adalah tombol default, bukan pilihan terakhir. Di sinilah lirik Freddie Mercury tadi berubah dari lagu gembira menjadi peringatan.

Bukti bahwa "sekarang" telah menggeser "nanti" terlihat pada angka: OJK mencatat pembiayaan paylater dari perusahaan pembiayaan tumbuh 39,3 persen secara tahunan hingga menembus Rp 8,22 triliun pada Maret 2025—melaju jauh lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan yang membayarnya. Ketika belanja pengalaman—kopi, konser, wisata, gawai terbaru—dibiayai cicilan dan bukan tabungan, sesuatu yang halus tetapi berbahaya terjadi pada tingkat makro.

Konsumsi memang menopang pertumbuhan jangka pendek; ia menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto kita. Tetapi konsumsi yang berbasis utang dan miskin tabungan menggerus pembentukan modal — justru pada saat jendela demografi masih terbuka dan seharusnya menjadi masa menabung dan berinvestasi paling produktif dalam sejarah bangsa ini.

Peta Jalan Permintaan Masa Depan

Inilah inti peringatannya. Negara yang gagal keluar dari "jebakan pendapatan menengah" biasanya bukan negara yang rakyatnya malas berbelanja, melainkan negara yang konsumsinya tidak berubah menjadi kapasitas produktif: tabungan yang menjadi investasi, keterampilan yang menjadi produktivitas, aset yang menjadi jaminan masa tua.

Jika generasi dominan kita menghabiskan dekade emasnya untuk mengonsumsi pengalaman yang menguap sambil menunda kepemilikan aset, maka ketika mereka menua pada 2045, negeri ini bisa mendapati dirinya tua, berpendapatan menengah, dan dibebani generasi yang tidak sempat menabung untuk hari tuanya sendiri. Bonus demografi, bila salah kelola, berubah menjadi utang demografi.

Namun peringatan bukan berarti pesimisme, dan di sinilah peluang usaha justru terbuka lebar bagi yang jeli membaca umur. Segmen muda yang hari ini gemar berbelanja adalah pasar yang, dalam dua dekade, akan menua bersama kebutuhannya.

Bisnis yang menang bukan sekadar yang menjual kopi dan tiket hari ini, melainkan yang merancang produk untuk perjalanan hidup pelanggannya: layanan keuangan yang mengubah kebiasaan mencicil menjadi kebiasaan berinvestasi mikro, produk kesehatan dan asuransi yang relevan bagi tubuh berusia 20-an tetapi menyiapkan tubuh berusia 50-an, hunian yang terjangkau bagi pendapatan awal karier, serta pendidikan keterampilan yang menaikkan daya hasil.

Struktur umur penduduk, bagi pengusaha yang sabar, adalah peta jalan permintaan masa depan yang paling bisa diandalkan.

Melayani anak muda hanya sebagai konsumen sesaat adalah strategi berjangka pendek; melayani mereka sebagai kohort yang akan menua adalah strategi yang tumbuh selama tiga puluh tahun. Struktur umur penduduk, bagi pengusaha yang sabar, adalah peta jalan permintaan masa depan yang paling bisa diandalkan.

Karena itu, tanggung jawab tidak berhenti di pundak individu yang memesan kopi. Kepentingan publiknya jelas. Literasi keuangan perlu berhenti menjadi slogan seminar dan mulai masuk ke tempat keputusan sesungguhnya dibuat—di dalam aplikasi, tepat di sebelah tombol "bayar nanti".

Regulasi paylater dan kredit konsumtif perlu memastikan kemudahan tidak berubah menjadi jebakan, terutama bagi peminjam muda tanpa riwayat kredit. Dan kebijakan ekonomi perlu secara sengaja mendorong konsumsi produktif—insentif menabung, memiliki rumah pertama, dan berinvestasi—bukan sekadar merayakan angka penjualan ritel yang naik.

Pembeli memindai kode batang pembayaran nontunai Quick Response Code Indonesia Standar (QRIS) disalah satu kafe di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (24/7/2026). Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada triwulan II 2026 mencapai 16,07 miliar atau tumbuh 36,88 persen secara tahunan (year on year), dimana pertumbuhan tersebut didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/YU

Kembali ke gerai kopi itu. Gelas seharga tiga puluh ribu rupiah tampak sepele, dan memang sepele bila dilihat satu per satu. Tetapi dikalikan jutaan, setiap hari, selama satu dekade jendela demografi yang tak akan terbuka lagi, ia menjadi salah satu keputusan kolektif paling menentukan yang pernah diambil bangsa ini tanpa pernah benar-benar memutuskannya.

Freddie Mercury boleh menyanyikan "I want it all, and I want it now" dengan penuh percaya diri — tetapi ia lupa satu bait lanjutannya, bahwa yang menginginkan segalanya sekaligus sering lupa menyisihkan sesuatu untuk nanti.

Pola belanja hari ini bukan sekadar cermin selera anak muda; ia adalah cetak biru ekonomi 2045. Pertanyaannya bukan apakah kita akan berbelanja—kita pasti berbelanja. Pertanyaannya adalah apakah kita akan cukup kaya sebelum kita menjadi tua? Dan waktu, seperti bonus demografi itu sendiri, sedang berjalan menutup.

Baca juga:

Populasi Indonesia Didominasi oleh Milenial dan Generasi Z
Hampir separuh dari populasi Indonesia (49,27 persen) adalah generasi produktif yang meliputi generasi milenial dan generasi Z. Mayoritas generasi muda tersebut bekerja di tiga sektor utama, yakni sektor pertanian, sektor pengangkutan dan pergudangan, serta sektor pengadaan listrik dan gas.

Opini ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis. Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri Anda dengan kirim email ke [email protected]

Author

I Dewa Gede Karma Wisana
I Dewa Gede Karma Wisana

Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia

Baca selengkapnya