Lampaui Perkiraan, Ekonomi Kuartal Dua 2026 Tumbuh 5,29%

Ekonomi RI triwulan II-2026 mencatatkan pertumbuhan 5,29% year-on-year. Lebih lambat dari triwulan lalu, strategi mengawal pertumbuhan triwulan tiga perlu dipersiapkan.

Lampaui Perkiraan, Ekonomi Kuartal Dua 2026 Tumbuh 5,29%
Foto oleh Eko Sunaryo/Unsplash
Daftar Isi

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 mencapai 5,29% year on year (YoY), melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 5,61% YoY. Rambatan tekanan dari sisi permintaan maupun penawaran sepanjang kuartal disinyalir sebagai penyebab utama perlambatan ini. Capaian ini sedikit di atas ramalan ekonom yang menyebut pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 tidak sampai 5%.

Pada triwulan II-2026, BPS mencatat besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun, sementara besaran PDB Atas Dasar Harga Konstan 2010 tercatat sebesar Rp3.576,2 triliun.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Mohammad Edy Mahmud memaparkan, dari sisi pengeluaran pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 ditopang konsumsi rumah tangga sebesar 53,32% dari total PDB, tumbuh 5,06% year on year. Porsi ini lebih rendah dibandingkan besaran konsumsi triwulan lalu sebesar 54,36%.

Selain konsumsi rumah tangga, komponen investasi menjadi kontributor PDB dengan besaran andil 29,36%, sementara pengeluaran belanja pemerintah tetap stabil di level 7,57%, meski kembali menunjukkan pertumbuhan belanja yang ekspansif hingga menyentuh 15,97%, didorong peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.

"Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,67%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 2,06% dan belanja pemerintah sebesar 1,07%," jelas Edy dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi sepanjang momentum libur sekolah dan hari besar keagamaan nasional, dengan pengeluaran kelompok restoran dan hotel tumbuh 6,47% seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi pada jasa penyediaan makan-minum.

Sementara itu, dari aspek lapangan usaha, industri pengolahan masih menjaga status juara bertahan sebagai kontributor terbesar dengan kontribusi 18,50% dari total PDB, dan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,90%.

Capaian ini diikuti pertumbuhan lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 6,97%, konstruksi sebesar 6,68%, dan perdagangan besar dan eceran sebesar 6,39%. Selain aktivitas ekonomi digital, pertumbuhan sektor-sektor ini didorong peningkatan distribusi produk pertanian, serta realisasi belanja modal pemerintah.

Berdasarkan tingkat pertumbuhan, pengadaan listrik dan gas mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81%, didorong peningkatan penjualan listrik untuk hampir seluruh segmen rumah tangga, bisnis, dan industri. Ini disusul pertumbuhan lapangan usaha akomodasi dan makan-minum, didorong peningkatan okupansi hotel dan peningkatan kinerja jasa boga.

"Di sisi lain, lapangan usaha pertambangan terkontraksi 1,64% akibat pertambangan biji logam terkontraksi 9,42% akibat penurunan produksi bijih bauksit dan bijih timah, serta akibat penataan kuota produksi melalui RKAB 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan perbaikan harga di pasar internasional," jelas Edy.

Secara spasial, BPS mencatat pertumbuhan tertinggi terjadi di kawasan Bali-Nusa Tenggara yang mencatatkan pertumbuhan 6,10% (yoy), di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini melonjak nyaris dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut pada triwulan II-2025 sebesar 3,10%.

"Sumber pertumbuhan utama Bali-Nusa Tenggara bersumber dari pertambangan, perdagangan, dan administrasi pemerintah, dengan Provinsi Bali mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 2,77%," imbuhnya.

Amankan daya beli masyarakat

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sarman Simanjorang meng1atakan, meski menunjukkan perlambatan akibat ketiadaan momentum konsumsi tinggi dan dorongan daya beli masyarakat selain Iduladha dan Piala Dunia, pertumbuhan 5,29% YoY tetap berhasil melampaui perkiraan ekonom yang menaksir pertumbuhan ekonomi RI melambat hingga 4,7-4,9%

“Sesuai catatan BPS lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, dan konstruksi yang mendorong indeks PMI Manufaktur naik di atas 50%. Kondisi ini harus dipertahankan sebagai indikator kekuatan fundamental ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global,” ujarnya kepada SUAR, Rabu (5/8/2026).

Memasuki kuartal III-2026, Sarman mengingatkan bahwa kondisi triwulan ini tak jauh berbeda dengan kuartal II-2026. Keberadaan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, menurutnya, hanya akan sedikit menggerakkan daya beli melalui UMKM yang memproduksi pernak-pernik 17 Agustus, seperti bendera, spanduk, lampu hias, kaus, topi, dan sebagainya.

“Momentum ini harus dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat di tengah tekanan harga yang mulai mereda dan PMI yang kembali naik, walaupun ekspansi industri manufaktur masih belum meluas seluruhnya,” imbuh Sarman.

Pedagang menata bawang merah di Pasar Rau, Kota Serang, Banten, Selasa (4/8/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/tom.

Kepada pemerintah, dunia usaha mengharapkan upaya pengendalian inflasi untuk menjaga harga bahan pokok tetap stabil dilanjutkan, selain penyaluran bantuan sosial dan penguatan insentif fiskal, khususnya magang nasional dan penguatan industri padat karya, sebagai cara memaksimalkan kanal-kanal belanja pemerintah agar lebih tepat sasaran. 

“Program strategis nasional dan investasi perlu semakin difokuskan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Apabila program-program prioritas tercapai maksimal, pertumbuhan ekonomi triwulan III nantinya dapat bertahan di angka 5%, sehingga target pertumbuhan tahunan di atas 5,4% dapat tercapai,” pungkas Sarman.

Bukan mustahil

Sementara itu, Ekonom Center for Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, rata-rata pertumbuhan semester pertama 5,45% masih sesuai ekspektasi dan tidak terlalu mengejutkan, mengingat pada kuartal sebelumnya ada dorongan musiman dari momentum Lebaran serta percepatan belanja pemerintah yang sulit dipertahankan pada kuartal berikutnya.

Selain faktor musiman, menurut Rendy, tekanan harga energi global sempat meningkatkan biaya produksi dan neraca perdagangan juga mengalami defisit pada Mei dan Juni sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap pertumbuhan. Meski demikian, peluang pemulihan pada kuartal III masih terbuka. 

“Inflasi tahunan yang turun menjadi 2,88% disertai deflasi bulanan menunjukkan tekanan harga mulai mereda sehingga daya beli riil masyarakat berpotensi terjaga. Di sisi lain, sektor manufaktur kembali masuk fase ekspansi setelah sempat terkontraksi pada Juni. Ini mengindikasikan aktivitas produksi dan permintaan baru mulai membaik,” ujarnya saat dihubungi.

Meski demikian, Rendy mengingatkan perbaikan tersebut belum tentu cukup untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi tanpa dukungan kebijakan. Investasi masih relatif kuat dan pemerintah telah mengisyaratkan percepatan belanja serta stimulus pada sejumlah sektor di paruh kedua tahun. 

“Tantangan tetap berasal dari faktor eksternal, terutama volatilitas harga minyak akibat ketegangan geopolitik dan pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor. Jika konsumsi rumah tangga bertahan di sekitar 5% sementara ekspor belum pulih sepenuhnya, ruang akselerasi pertumbuhan akan tetap terbatas,” tutur Rendy.

Baca juga:

Kombinasi Tekanan Ganda, Ekonomi Q2 Berpeluang Anjlok 4,9%
Kombinasi tekanan makro dan mikroekonomi berpeluang menyebabkan pertumbuhan ekonomi triwulan II anjlok. Penyehatan daya beli secara bertahap membutuhkan upaya berkelanjutan.

Secara matematis, dengan pertumbuhan semester pertama sebesar 5,45%, ekonomi RI hanya memerlukan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,6% di semester kedua untuk mempertahankan pertumbuhan tahunan di atas 5 persen. Namun, jika Indonesia ingin mendorong pertumbuhan lebih dari itu, dibutuhkan percepatan belanja pemerintah yang lebih kuat, ekspansi manufaktur berkelanjutan, serta daya beli masyarakat yang lebih kuat.

“Peluang rebound pada kuartal III sangat ditentukan oleh efektivitas stimulus pemerintah dan perkembangan kondisi global. Fondasi ekonomi domestik masih kuat, tetapi ruang untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi tetap bergantung pada kualitas kebijakan dan dinamika eksternal,” pungkasan.

Kepala Penelitian Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman menambahkan, meskipun harga energi global tinggi di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah, pemerintah memilih untuk mempertahankan harga energi bersubsidi, yang membantu mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli rumah tangga. 

“Namun, kami memandang strategi ini hanya berkelanjutan dalam jangka pendek, karena ruang fiskal kemungkinan akan semakin terbatas. Pemerintah perlu menyeimbangkan dengan hati-hati peran gandanya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan bantalan fiskal yang memadai untuk menyerap guncangan eksternal,” imbuhnya. 

Secara bertahap, Faisal menilai perlambatan di kuartal ketiga dan keempat tahun 2026 bukan mustahil, dengan perkiraan tetap berada di atas ambang 5% YoY. Meskipun permintaan domestik diperkirakan tetap tangguh, pendorong pertumbuhan eksternal kemungkinan akan semakin melemah di tengah ketidakpastian global yang terus tinggi. 

“Hambatan eksternal berasal dari perang dagang dan ekonomi Tiongkok yang masih lesu. Faktor tersebut akan terus mengganggu perdagangan global dan rantai pasokan sekaligus membebani permintaan eksternal. Akibatnya, kinerja ekspor Indonesia diperkirakan akan melemah sementara impor terus menguat sejalan dengan permintaan domestik yang tetap tangguh,” pungkas Faisal.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, dan Teknologi

Baca selengkapnya