Deflasi RI 0,14% pada Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau penyumbang deflasi bulanan

Deflasi RI 0,14% pada Juli 2026, Dipicu Harga Pangan
Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026Pedagang melayani warga berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Kahayan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (11/6/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/foc.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Senin (3/8) terjadi deflasi sebesar 0,14% pada Juli 2025 secara bulanan (month to month/mtm).

Sementara itu, terjadi inflasi sebesar 2,88% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026, lebih rendah dibandingkan Juni 2026 di level 3,34%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau penyumbang deflasi bulanan dengan andil 0,26% dan tingkat inflasi 0,89%.

"Komoditas dominan mendorong deflasi adalah bawang merah dengan andil 0,11%, cabai merah dan cabai rawit dengan andil deflasi masing-masing 0.06%, telur ayam ras dan tomat dengan andil masing-masing 0,03% serta juga jeruk engan andil deflasi 0,02% " katanya dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan dan ajsa lainnya juga penyumbang terbesar deflasi bulanan dengan andil 0,06% dan tingkat deflasi 0,89% persen. Komoditas penyumbang utamanya adalah emas perhiasan sebesar 3,58% dan memberikan andil sebesar 0,08%.

Berdasarkan kelompoknya, Ateng menjelaskan komponen inti dan komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi. Sedangkan komponen bergejolak mengalami deflasi.

"Deflasi pada Juli yang sebesar 0,14% utamanya didorong oleh komponen bergejolak. Komponen hargav bergejolak mengalami deflasi 1,68%, memberikan andil deflasi 0,28%," kata Ateng.

Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen bergejolak terutama bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, jeruk, dan sawi hijau.

Sedangkan komponen inti mengalami inflasi 0,14% yang didorong oleh biaya sekolah dasar sepeda motor, dan pelumas atauj oli. Sedangakan komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,25% yang dipicu oleh bensin.

Baca juga:

Inflasi April 2026 Melandai ke 2,42%, Faktor Eksternal Membayangi
Tekanan inflasi yang tercatat dalam IHK pada bulan April tercatat lebih rendah dibanding kondisi Maret 2026 yang mengalami inflasi 0,41% mtm.

Sementara itu, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,87% dan tingkat inflasi 2,97%.

"Komoditas dengan andil terbesar pada kelompok ini adalah ikam segar, minyak goreng, daging ayam ras, daging sapi, dan juga sigaret kretek tangan," katanya.

Kemudian kelompok transporatasi mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,12% dengan andil 0,62%. Kenaikan pada kelompok ini terutama dipicu oleh lonjakan harga bensin, tarof angkatan udara, dan sepeda motor.

Kelompok ketiga penyumbang inflasi terbesar pada Juli adalah pengeluran pribadi yang mengalami inflasi 9,04 dengan andil 0,61%. Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan.

Berdasarkan komponen, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi secara tahunan. Komponen harga bergejolak mencatat inflasi sebesar 2,52% dengan andil 0,42%, didorong oleh kenaikan harga beras, cabai merah, dan daging sapi.

Komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,76% dengan andil sebesar 1,76%, antara lain didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, serta akademi/perguruan tinggi.

Sedangkan komponen diatur pemerintah mengalami inflasi yang lebih rendah sebesar 3,58% dengan andil inflasi 0,70% terutama akibat bensin, tarif angakatan udara, dan sigaret kretek mesin (SKM).

Secara spasial, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Juli 026. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47%, sedangkan inflasi terendah tercatat di Papua Selatan sebesar 1,40%.

Pedagang melayani pembeli di Pasar Gembrong Baru, Jakarta, Senin (3/8/2026). ( ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/agr)

Produksi melimpah buat harga turun

Ekonom Bank Permata, Faisal Rachman, menilai deflasi bulanan pada Juli 2026 dipicu oleh melandainya harga sejumlah bahan pangan utama, seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, semangka, dan sawi seiring dimulainya musim panen di daerah sentra.

"Penurunan harga bawang merah dan cabai mencerminkan meningkatnya produksi di daerah sentra seiring dimulainya musim panen," katanya pada SUAR, Senin (3/8/2026).

Kendati demikian, tekanan inflasi masih tertahan di kelompok transportasi (0,06%) dan pendidikan (0,03%). Menurut Faisal, inflasi transportasi didorong base effect kenaikan BBM nonsubsidi sejak pertengahan Juni, sementara kelompok pendidikan terdorong mulainya tahun ajaran baru.

Secara tahunan, melandainya inflasi Juli ke level 2,88% dari sebelumnya 3,34% pada Juni didominasi oleh penurunan harga bergejolak (volatile prices), terutama bahan pangan.

"Sementara itu, inflasi administered price (harga yang diatur pemerintah) meningkat tipis, sedangkan inflasi inti relatif stabil," katanya.

Ia mengingatkan sejumlah risiko domestik dan eksternal yang berpotensi memicu lonjakan harga.

Dari dalam negeri, peningkatan jumlah uang beredar (M2) akibat kebijakan pro-pertumbuhan, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta ancaman fenomena El Nino juga diperkirakan dapat memperketat pasokan pangan.

Sementara dari luar negeri, ketegangan geopolitik Timur Tengah dan arah suku bunga The Fed berisiko mengerek biaya impor.

"Perkembangan ini berpotensi meningkatkan risiko inflasi impor. Hal ini tercermin dari inflasi yang didorong oleh sisi pasokan yang lebih tinggi dibandingkan inflasi dari sisi permintaan, mengindikasikan meningkatnya risiko penerusan kenaikan biaya produksi kepada konsumen (producer cost pass-through), seiring terus naiknya biaya input, khususnya bahan baku impor," katanya.

Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini, Bank Permata memperkirakan inflasi akan berada di kisaran 3,13% pada akhir 2026. Namun, apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan memicu lonjakan harga energi global, inflasi diperkirakan dapat melampaui proyeksi tersebut karena meningkatnya tekanan bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga energi bersubsidi.

Dalam kondisi tersebut, peluang Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI-Rate juga dinilai akan meningkat.

Meski demikian, skenario dasar Bank Permata masih memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%, karena kenaikan suku bunga sebelumnya dinilai telah mengantisipasi kemungkinan kenaikan Fed Funds Rate (FFR) pada kuartal IV 2026.

Petugas mengisi bahan bakar pengendara roda dua di salah satu SPBU di Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (3/8/2025). (

Bersifat sementara

Di sisi lain, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengingatkan deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026 belum menandakan kondisi harga sepenuhnya stabil.

"Jadi, deflasi Juli lebih tepat dibaca sebagai jeda harga pangan, bukan bukti bahwa tekanan biaya sudah hilang," katanya.

Menurut Syafruddin, tekanan inflasi hingga akhir tahun masih berpotensi datang dari berbagai faktor, mulai dari pangan, energi, transportasi, nilai tukar, hingga harga komoditas global. Dari dalam negeri, ia mengingatkan potensi kenaikan kembali harga pangan setelah musim panen berakhir, terutama pada komoditas seperti cabai, bawang, telur, beras, minyak goreng, daging ayam, dan ikan segar.

Ia memproyeksikan tekanan inflasi masih membayangi hingga akhir tahun, terutama dari kenaikan Indeks Harga Produsen (IHP) kuartal II/2026 yang tumbuh 5,62% secara tahunan di sektor pertambangan, pengangkutan, dan pengolahan.

Selain itu, potensi pelemahan rupiah akibat dinamika global berisiko membebankan kenaikan harga bahan baku impor kepada konsumen maupun margin produsen.

"Jika margin tertekan, perusahaan berpotensi mengurangi produksi, menunda rekrutmen, hingga melakukan efisiensi tenaga kerja," pungkasnya.

Jika rupiah melemah, biaya impor bahan baku, barang modal, BBM, kimia, plastik, baja, mesin, dan barang konsumsi akan naik.

"Tekanan ini bisa masuk ke harga konsumen atau menekan margin produsen; jika margin tertekan, perusahaan dapat mengurangi produksi, menunda rekrutmen, atau melakukan efisiensi tenaga kerja," katanya.

Baca juga:

Tekanan Inflasi Februari 2026 Capai 4,76%, April Diperkirakan Kembali Normal
Kenaikan ini masih disebabkan basis perhitungan inflasi tahunan lebih rendah atau low base effect akibat diskon tarif listrik pada Februari 2025. Namun, pasca lebaran yakni April 2026, inflasi diperkirakan akan melandai dan terkendali.

Artikel ini telah diupdate pukul 16:00 dengan menambahkan opini ekonom

Penulis

Feby Febrina Nadeak
Feby Febrina Nadeak

Wartawan Energi, Internasional, dan Perdagangan

Baca selengkapnya