Neraca Dagang RI Masih Defisit US$450 Juta di Juni 2026

Defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 dikarenakan impor yang lebih besar dibandingkan ekspor. Depresiasi rupiah menambah tekanan di sektor usaha

Neraca Dagang RI Masih Defisit US$450 Juta di Juni 2026
Foto udara aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Internasional, Belawan, Medan, Sumatera Utara, Selasa (28/4/2026). ANTARA FOTO/Yudi Manar/wsj.

Neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 kembali tercatat defisit sebesar USD450 juta, melanjutkan defisit neraca perdagangan bulan lalu sebesar USD1,61 miliar.

Defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 dikarenakan impor yang lebih besar dibandingkan ekspor.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) total nilai ekspor pada Juni 2026 mencapai USD25,46 miliar, naik 8,84% dibandingkan Juni 2025 yang sebesar USD23,29 miliar.

Nilai ekspor migas tercatat USD1,07 miliar atau turun 3,78% (yoy) dan nilai ekspor non migas tercatat naik 9,46% ke USD24,39 miliar pada Juni 2026.

Pada saat yang sama, impor Juni 2026 mencapai USD25,91 miliar, naik 34,27% dibandingkan Juni 2025. Nilai impor migas sebesar USD4,56 miliar atau meningkat 105,15% (yoy). Sedangkan impor non migas senilai USD21,35, naik 25,05%.

Baca juga:

Surplus Neraca Komoditas Bubur Kayu dan Tantangan Industri Kertas
Produksi bubur kayu (pulp) Indonesia terus meningkat dan menciptakan surplus neraca perdagangan. Namun, industri kertas dalam negeri sebagian besar masih bergantung pada bahan baku yang diimpor.

Peningkatan nilai impor terjadi di semua jenis penggunaan. Nilai impor barang konsumsi mengalami kenaikan 17,46% ke USD2,11 milar. Sedangkan nilai impor bahan baku/penolong naik 38,94% ke USD18,55 miliar dan impor barang modal 26,53% ke USD5,25 miliar.

"Defisit pada Juni 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas sebesar minus USD3,49 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan dari minyak mentah," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (3/6).

Meski begitu, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar USD3,04 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.

Secara kumulatif, neraca perdagangan surplus USD3,58 miliar, terutama ditopong komoditas non migas yaitu sebesar USD19,35 miliar. Sementara komoditas migas masih defisit USD15,77 miliar.

Berdasarkan mitra dagang, tiga negara penyumbang surplus neraca dagang total Indonesia adalah Amerika Serikat dengan surplus USD8,55 miliar, India dengan surplus USD6,68 miliar, dan Filipina dengan surplus USD4,24 miliar.

Sedangkan negara penyumbang defisit terdalam adalah Tiongkok dengan defisit USD13,61 miliar. Kemudian Australia dengan defisit USD4,40 miliar, dan Singapura dengan defisit USD4,33 miliar.

Daya saing tetap rendah akibat depresiasi Rupiah

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, lonjakan impor Juni 2026 tidak semata didorong oleh meningkatnya barang konsumsi, melainkan terutama berasal dari kebutuhan bahan baku, barang modal, dan energi. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas produksi masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

"Artinya, lonjakan impor mencerminkan kombinasi kenaikan kebutuhan input produksi, energi, mesin, dan barang modal. Ini bisa dibaca positif jika bahan baku dan barang modal benar-benar masuk ke proses produksi yang kemudian memperkuat output dan ekspor berikutnya," katanya pada SUAR, Senin (3/8/2026).

Namun, ia mengingatkan kondisi tersebut juga menjadi sinyal kerentanan apabila kenaikan impor lebih banyak mencerminkan tingginya ketergantungan terhadap bahan baku dan energi impor, sementara pemulihan permintaan domestik belum diimbangi dengan kemampuan industri dalam negeri menyediakan substitusi impor. Akibatnya, meski ekspor tumbuh, laju impor yang jauh lebih tinggi tetap menekan neraca perdagangan.

Syafruddin juga menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak otomatis meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Menurutnya, manfaat depresiasi rupiah baru akan optimal apabila industri memiliki kandungan lokal yang tinggi dan tidak bergantung pada bahan baku impor.

Sebaliknya, bagi industri yang masih mengandalkan impor energi, mesin, bahan kimia, maupun barang modal, pelemahan rupiah justru meningkatkan biaya produksi, sehingga manfaat terhadap ekspor menjadi terbatas.

"Struktur ekspor Indonesia masih banyak bergantung pada komoditas, hilirisasi berbasis bahan baku impor tertentu, energi, mesin, bahan kimia, plastik, baja, serta barang modal impor. Karena itu, pelemahan rupiah sering kali menaikkan biaya produksi sebelum menaikkan volume ekspor," katanya.

Data impor Juni menunjukkan bahan baku/penolong melonjak 38,94 persen (yoy) dan barang modal naik 26,53 persen (yoy), sambungnya, menunjukkan banyak produsen tetap membutuhkan impor untuk berproduksi. Sementara di sisi harga produsen, tekanan sektor energi, pengilangan, logam dasar, dan transportasi juga tinggi.

Ini memperkuat bukti bahwa pelemahan rupiah bisa cepat berubah menjadi kenaikan biaya input. "Jadi, manfaat depresiasi terhadap ekspor bersifat terbatas dan sektoral, sedangkan biaya depresiasi terhadap impor lebih luas dan cepat terasa," katanya.

Karena itu, ia menilai strategi yang lebih berkelanjutan adalah memperkuat produktivitas industri, meningkatkan kandungan lokal, menjaga stabilitas pasokan energi, memperbaiki efisiensi logistik, serta mendorong diversifikasi ekspor bernilai tambah.

Ada sinyal tekanan di neraca perdagangan

Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai lonjakan impor sebesar 34,27% (yoy) tidak bisa dilepaskan dari dua faktor utama.

Pertama, peningkatan impor bahan baku dan barang modal untuk menopang aktivitas industri dan proyek-proyek besar, termasuk hilirisasi dan infrastruktur. Kedua, efek basis rendah tahun sebelumnya yang membuat pertumbuhan terlihat sangat tinggi.

Namun, yang perlu dicermati adalah komposisi impornya. Jika didominasi barang konsumsi atau energi, maka ini menjadi sinyal tekanan terhadap neraca perdagangan dan ketahanan eksternal.

"Dalam konteks ini, saya melihat ada indikasi bahwa ketergantungan pada impor, terutama energi dan bahan baku strategis, masih cukup tinggi," katanya.

Petugas membongkar kontainer di Terminal Petikemas Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (2/8/2026). ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

Ia juga menilai pelemahan rupiah efeknya sangat terbatas dalam meningkatkan daya saing ekspor. Pasalnya struktur pasar Indonesia masih didominasi komoditas primer yang harganya lebih ditentukan oleh pasar global, bukan oleh kurs. Sebaliknya, dampak negatif pelemahan rupiah terhadap impor mpor justru jauh lebih jelas. Depresiasi rupiah langsung meningkatkan biaya impor, terutama untuk energi, bahan baku, dan barang modal, yang kemudian bisa menekan margin industri domestik dan mendorong inflasi.

Jadi, dalam kasus Indonesia, pelemahan rupiah cenderung lebih banyak membebani daripada meningkatkan daya saing. "Ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan pada kurs, tetapi pada struktur ekonomi yang belum cukup kuat dan terdiversifikasi," katanya.

Waspada mesin ekspor kehilangan tenaga

Di sisi lain, Kepala Riset NEXT Indonesia Center Ade Holis menilai, defisit neraca dagang tidak boleh dipandang sebagai sekadar anomali bulanan. Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah mulai melemahnya sektor-sektor yang selama ini menjadi penopang utama ekspor nasional.

"Ketika komoditas utama seperti sawit, besi baja, hingga beberapa produk manufaktur mulai melemah secara bersamaan, itu menunjukkan mesin ekspor Indonesia sedang kehilangan tenaga. Jika tidak segera diperkuat, ya ruang surplus perdagangan kita jelas akan semakin menyempit," ungkap Ade.

Baja juga:

Neraca Perdagangan Defisit Setelah Surplus Terus Selama 6 Tahun
Defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 dikarenakan kinerja ekspor yang menurun, sementara impor bertumbuh.

Menurut Ade, tekanan terhadap ekspor mulai terlihat dari melemahnya sejumlah komoditas unggulan. Penurunan terutama berasal dari ekspor minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, mesin mekanis, tembaga, produk kimia, serta beberapa komoditas manufaktur lainnya.

Struktur ekspor Indonesia ini masih sangat terkonsentrasi, bahkan selama periode 2021-2025, sekitar 65,98% ekspor nasional hanya ditopang oleh 10 kelompok komoditas, seperti bahan bakar mineral yang menjadi kontributor terbesar, kemudian minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, serta kendaraan bermotor.

Ketergantungan tersebut membuat kinerja perdagangan Indonesia sangat sensitif terhadap pelemahan beberapa komoditas sekaligus. Ketika kelompok ekspor utama mengalami perlambatan pada waktu yang bersamaan, dampaknya langsung tercermin pada penurunan nilai ekspor nasional dan menyempitnya surplus perdagangan.

"Memperbaiki neraca perdagangan bukan sekadar mengembalikan surplus bulanan. Hal yang lebih penting adalah membangun struktur ekspor yang lebih beragam, bernilai tambah tinggi, dan mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global. Dengan fondasi seperti itu, ekspor bersih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," tegas Ade.

Penulis

Feby Febrina Nadeak
Feby Febrina Nadeak

Wartawan Energi, Internasional, dan Perdagangan

Baca selengkapnya