Raih Skor GSR 92 Persen, Tata Kelola Positif INA Bisa Dorong Keyakinan Investor

Lembaga Pengelola Investasi Indonesia Investment Authority (INA) memperoleh skor 92% dalam Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 yang diterbitkan oleh Global SWF.

Raih Skor GSR 92 Persen, Tata Kelola Positif INA Bisa Dorong Keyakinan Investor
Ketua Dewan Direktur Indonesia Investment Authority (INA) Oki Ramadhana (tengah) ditemani Chief Risk Officer INA Adhiputra Tanoyo (kiri), dan Chief Legal Counsel INA Arisia Pusponegoro dalam jumpa pers rilis GSR Scoreboard 2026 di Kantor INA, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Foto: Krisna/Suar.id
Daftar Isi

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas arus modal jangka pendek, Indonesia membutuhkan terobosan untuk bisa menggaet investor masuk ke dalam negeri. Berbekal skor Good Governance and Sustainability Board (GSR) Scoreboard 2026 yang mencapai 92% dari Indonesia Investment Authority (INA) membuktikan bahwa transparansi dan tata kelola bisa membantu meyakinkan investor untuk berinvestasi ke Indonesia.

Lembaga Pengelola Investasi Indonesia Investment Authority (INA) memperoleh skor 92% dalam GSR Scoreboard 2026 yang diterbitkan oleh Global SWF. INA mencatat skor 92% dengan memenuhi 23 dari 25 elemen penilaian.

Hasil apik ini menempatkan INA di posisi kedua tertinggi di Asia hanya di bawah Temasek. Adapun secara keseluruhan INA berada di posisi 9 dunia.

Global SWF merupakan suatu platform riset dan intelijen independen yang memantau sovereign wealth funds (SWF) dan lembaga pengelola investasi di seluruh dunia.

GSR Scoreboard merupakan penilaian tahunan paling komprehensif dan satu-satunya terhadap praktik tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan institusi. Adapun pada GSR Scoreboard 2026, Global SWF menilai 200 lembaga yang terdiri 100 SWF dan 100 lembaga pengelola dana pensiun di dunia.

Penilaian GSR Scoreboard mencakup tiga aspek utama yaitu governance, sustainabilty, dan resilience. Adapun penilaian GSR dirancang berdasarkan empat karakteristik utama yang menjadi landasan dalam menjaga konsistensi, kredibilitas, dan relevansi hasil.

Ketua Dewan Direktur INA Oki Ramadhana mengatakan, capain ini sangat penting tak hanya bagi INA saja namun juga bagi Indonesia secara keseluruhan. Nilai 92% mencerminkan tata kelola INA kredibel di mata investor. Apalagi saat ini, lanjut Oki, Indonesia tengah diterpa ketidakpastian ekonomi baik eksternal maupun internal.

"Ini jadi sangat penting karena menunjukkan INA adalah institusi yang kredibel dan sangat baik. Terutama karena mandat yang diberikan pada INA ini adalah untuk mendatangkan investasi baik dari luar maupun dalam negeri. Penilaian ini tentu bisa mendorong investor menaruh pertimbangan bahwa INA adalah partner yang kredibel," ujar Oki.

Chief Legal Counsel INA Arisia Pusponegoro menjelaskan, saat penjajakan dengan investor, mereka kerap kali bertanya soal kondisi ekonomi dan beragam kebijakan di Indonesia.

Kebanyakan merupakan investor ini melihat jangka panjang 20-30 tahun ke depan. Jadi pertimbangan mereka beragam antara lain mulai dari kondisi makro ekonomi, potensi keuntungan komersialnya, dan tentu saja pemilihan mitra yang bisa dipercaya.

Baca juga:

Misi Merebut Kembali Keyakinan Investor Global
Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil memicu optimisme untuk meyakinkan investor global.

Dengan munculnya GSR Scoreboard INA yang mencapai 92% memberi keyakinan kepada investor bahwa INA adalah mitra yang kredibel dan memiliki tata kelola yang baik.

"Mereka bisa melihat bahwa INA ini reliable sebagai mitra untuk jangka panjang," ujar Arisia.

Terus berbenah dan adaptif

Nilai GSR Scoreboard 2026 sebesar 92% ini merupakan nilai tertinggi yang pernah diraih INA sejak mulai beroperasi 2021. Sebelumnya, pada 2025 INA mendapatkan skor 68%, pada 2024 sebesar 60%, pada 2023 sebesar 56%, pada 2022 sebesar 52%, dan 2021 sebesar 24%.

Oki menjelaskan, terus meningkatnya GSR Scoreboard ini dari tahun ke tahun menunjukkan INA terus menerus memperbaiki dan meningkatkan tata kelola kelembagaan. Selain itu juga, INA selalu adaptif dengan perubahan ekosistem dan iklim investasi baik di lingkup domestik maupun global.

"Terima kasih kepada jajaran direksi sebelumnya yang telah meletakan pondasi yang kuat bagi kami. Ke depan, kami akan terus mendorong pengembangan, perbaikan, dan penguatan tata kelola agar terus kredibel," ujar Oki.

Arisia, menambahkan, tata kelola bukan hanya tentang memiliki kebijakan yang tepat. Yang sama pentingnya adalah memastikan bahwa prinsip-prinsip tata kelola diterapkan secara konsisten dalam setiap proses pengambilan keputusan, pengawasan risiko, transparansi, dan akuntabilitas.

"Seiring dengan terus berkembangnya standar tata kelola global, kerangka institusi tidak bersifat statis dan memerlukan penyempurnaan secara berkelanjutan agar tetap relevan, efektif, serta selaras dengan standar internasional yang diakui dan praktik terbaik di industri.”

Dampak nyata ke masyarakat

Tak hanya terus meningkatkan tata kelola kelembagaan dan menarik investor, peran INA harus berdampak nyata langsung ke masyarakat. Dalam riset INA bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) pada 2025 mengungkap dampak proyek Jalan Tol Trans Sumatera Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) dan Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT) di Sumatera Utara.

Kedua proyek itu merupakan keberhasilan INA menarik investor global untuk membangun infrastruktur di Tanah Air. Proyek BTB merupakan kerjasama antara INA dengan PT Hutama Karya (Persero). Adapun proyek BNCT merupakan kerjasama INA dengan operator pelabuhan dan manajemen logistik asal Dubai, Uni Arab Emirates, DP World.

Salah satu ruas Jalan Tol Trans Sumatera Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) ANTARA FOTO/Ardiansyah/aww.

Berdasarkan analisis LPEM UI yang mencakup periode konstruksi dan operasional proyek atau periode 2015–2067, BTB diproyeksikan memberikan kontribusi sekitar Rp 400 triliun terhadap PDB Indonesia. Proyek ini menyerap sekitar 20.000 lapangan kerja setiap tahun selama masa konsesinya.

Dalam hitungan lebih rinci, proyek ini menunjukkan Rasio Manfaat-Biaya Ekonomi atau Economic Benefit-Cost Ratio (EBCR) sebesar 2,59, setara dengan Rp 2,59 nilai ekonomi yang diciptakan untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan.

Di luar aspek makro ekonominya, pengoperasian BTB juga waktu tempuh antara Bakauheni dan Bandar Lampung dari sekitar 5 jam menjadi hanya 2 jam. Ini menciptakan penghematan biaya total lebih dari Rp 170 triliun serta berkontribusi pada penurunan biaya logistik nasional.

Aktivitas di Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT) di Sumatera Utara. ANTARA/HO-PT Belawan New Container Terminal.

Sementara itu, riset LPEM UI tentang dampak ekonomi BNCT, periode konstruksi dan operasional proyek ini dari 2016-2072 diperkirakan akan menciptakan nilai tambah Rp82 triliun pada perekonomian Indonesia.

Selain itu, proyek ini diperkirakan bisa membuka sekitar 4.400 lapangan kerja setiap tahun. Proyek ini juga diperkirakan untuk menciptakan pendapatan fiskal sebesar Rp 15 triliun dan menunjukkan EBCR sebesar 1,9, yang berarti setiap Rp 1 investasi menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp 1,9.

Dalam laporannya, Wakil Direktur Riset LPEM FEB UI Jahen F Rezki mengatakan laporan ini penting karena memberikan wawasan berbasis data mengenai dampak potensial dari kemitraan investasi jangka panjang INA terhadap pembangunan sosial dan ekonomi Indonesia.

Baca juga:

Optimisme dari Realisasi Investasi di Paruh Pertama 2026
Realisasi investasi triwulan II-2026 mencatatkan capaian yang positif di tengah kondisi global yang bergejolak. Pertumbuhan realisasi investasi sepanjang paruh pertama 2026 ini memberi optimisme untuk mencapai target selanjutnya di paruh kedua.

Baca selengkapnya