Industri Olahraga Jadi Ladang Investasi Baru, Peluang Bisnis Makin Beragam

Industri Olahraga Jadi Ladang Investasi Baru, Peluang Bisnis Makin Beragam

Sektor olahraga kini tak hanya bicara prestasi, tapi juga bisa menarik investasi.

Industri Olahraga Jadi Ladang Investasi Baru, Peluang Bisnis Makin Beragam
Dalam Artikel Ini

Industri olahraga mulai dilirik sebagai ladang bisnis baru di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pun melakukan sinergi untuk mendorong pengembangan investasi di sektor keolahragaan.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Sinergi Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan Pengembangan Investasi Sektor Keolahragaan.

Peserta melakukan pengambilan race pack (paket lomba) Merdeka Run di Wisma Serbaguna GBK, Jakarta, Jumat (28/8/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Penandatangan Nota Kesepahaman dilakukan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir. Kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua kementerian untuk memperkuat penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko, sekaligus mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif bagi pengembangan industri olahraga nasional.

Melalui MoU ini, kedua kementerian menyepakati sejumlah ruang lingkup kerja sama, antara lain sinergi kebijakan dalam penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko sektor keolahragaan, peningkatan pelayanan serta fasilitasi pengawasan dan pemantauan kepatuhan pelaku usaha melalui Online Single Submission (OSS), peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta interoperabilitas data dan informasi perizinan berusaha.

Selain itu, kerja sama diarahkan untuk mengembangkan peluang investasi dan promosi penanaman modal di bidang keolahragaan. Hal ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri olahraga nasional dan memberikan kepastian layanan bagi pelaku usaha.

Potensi besar industri olahraga

Rosan mengatakan, pengembangan investasi di sektor olahraga perlu memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya dalam bentuk peningkatan nilai investasi, tetapi juga manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

“Industri olahraga sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar dan membawa sektor perekonomian ini ke level yang lebih tinggi. Dampaknya tidak hanya terhadap kota yang mempunyai kegiatan tersebut, tetapi juga mempunyai dampak secara keseluruhan pada perekonomian. Bukan hanya dari segi olahraga, tetapi juga memberi dampak pada segi pariwisata dan industri lainnya,” ujar Rosan saat penandatanganan MoU di Jakarta, Jumat (28/8).

Sejumlah model tampil memperkenalkan jersi terbaru tim Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Lampung, Sabtu (29/8/2026).ANTARA FOTO/Ardiansyah

Menurut Rosan, penguatan ekosistem investasi di sektor keolahragaan perlu didukung oleh kepastian regulasi dan kolaborasi antarlembaga. Melalui sinergi tersebut, pemerintah dapat menciptakan layanan perizinan yang semakin efektif sekaligus membuka peluang investasi yang lebih luas di berbagai bidang keolahragaan.

Dengan adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, sambungnya, BKPM diberikan kewenangan apabila dalam waktu yang sudah disepakati sesuai Service Level Agreement (SLA), perizinan dari kementerian lain yang belum keluar, maka sistem OSS secara otomatis menerbitkan izinnya.

"Itu juga yang memberikan kepastian dari sisi perizinan. Sejak ketentuan itu diberlakukan, kami sudah menerbitkan lebih dari 250 perizinan melalui mekanisme fiktif positif,” jelas Rosan.

Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyoroti besarnya potensi industri olahraga dan sport tourism sebagai sektor yang terus berkembang. Nilai industri olahraga disebut mencapai US$521 miliar atau Rp8.000 triliun.

"Yang pertumbuhan setiap tahunnya itu 8%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi banyak negara. Belum sport tourism, yang (nilainya) hampir US$600 miliar dan ini juga pertumbuhannya signifikan,” ujar Erick," katanya.

Peluang ini bisa dimanfaatkan pelaku usaha dengan tidak lagi terbatas pada pembangunan fasilitas olahraga, tetapi juga merambah bisnis penyelenggaraan event, fitness center, perlengkapan olahraga, hingga sport tourism.

Dari cost center jadi revenue opportunity

CEO DK Consulting Djoko Kurniawan menilai, industri olahraga memiliki daya tarik karena membuka variasi baru dalam investasi. Namun, investor akan masuk ketika bisnis di sektor tersebut mampu menawarkan prospek pengembalian modal yang jelas.

“Tentunya investor akan tertarik jika bisnis memiliki daya tarik, seperti pengembalian modal dalam waktu yang cepat serta return on investment (ROI) yang baik,” ujarnya pada SUAR.

Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mengubah cara pandang terhadap olahraga. Selama ini, olahraga kerap diposisikan sebagai pusat biaya atau cost center. Padahal, dengan model bisnis yang tepat, aktivitas olahraga dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan atau revenue opportunity.

Ia menilai pemerintah memiliki peran penting untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan peluang tersebut berkembang.

Sejumlah pembalap memacu motornya saat race 1 kelas SS600 FIM Asia Road Racing Championship (ARRC) 2026 di Pertamina Mandalika International Street Circuit, KEK Mandalika, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (8/8/2026). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Pemerintah, sambungnya, bisa mendukung swasta untuk memberikan izin investasi secara cepat dan mempermudah izin kegiatan olahraga yang berpotensi menghasilkan keuntungan. Selain itu pemerintah bisa memberi insentif fiskal untuk produk impor. "Pemerintah juga harus mulai berpikir dan mengembangkan sport tourism," katanya.

Dari sisi subsektor, ia melihat peluang investasi tidak hanya berada pada pembangunan fasilitas olahraga. Menurutnya, melihat fasilitas olahraga komersial seperti fitness center dan arena olahraga bertaraf internasional sebagai salah satu bidang yang menjanjikan.

Bisnis manajemen dan penyelenggaraan event olahraga juga dinilai memiliki prospek seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kegiatan olahraga dan gaya hidup aktif. "Kemudian juga bisa manufaktur apparel serta perlengkapan olahraga, serta digitalisasi olahraga melalui teknologi," katanya.

Olahraga, wisata dan ekonomi daerah

Sementara itu, pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Chusmeru menilai sport tourism memiliki peluang besar untuk memperkuat ekosistem pariwisata Indonesia. Menurutnya, berbagai gelaran olahraga nasional maupun internasional menunjukkan, olahraga mampu menarik wisatawan dalam jumlah besar, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Ia mengatakan, olahraga kini tidak hanya dapat dilihat sebagai aktivitas kompetisi, tetapi juga sebagai tontonan dan hiburan yang mampu mendatangkan wisatawan. Bahkan, dari sisi daya tarik penonton, event olahraga tertentu dinilai tidak kalah dengan konser musik dalam menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah penyelenggara.

"Beberapa kali Indonesia mengadakan perhelatan olah raga yang banyak dikunjungi penonton, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Oleh karenanya, olah raga dianggap sebagai tontonan dan hiburan yang dapat mendatangkan wisatawan," katanya.

Sejumlah pelari melintas di dekat pura saat Maybank Marathon 2026 di Gianyar, Bali, Minggu (23/8/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Namun, tidak semua cabang olahraga memiliki prospek yang sama untuk dikembangkan sebagai produk sport tourism. Chusmeru menilai golf dan surfing relatif kurang prospektif karena karakteristiknya yang lebih elitis, dan individual sehingga cenderung tidak mengundang penonton dalam jumlah besar.

Sebaliknya, prospek terbesar sport tourism dinilai datang dari sepak bola, balap motor, dan marathon. Ketiga jenis olahraga tersebut memiliki basis penonton yang besar dan mampu menarik ribuan hingga ratusan ribu pengunjung.

Ia mencontohkan event sepak bola Piala Dunia U-17 yang berlangsung pada 10 November-2 Desember 2023 diselenggarakan di empat kota, yakni Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya. Jumlah penonton setiap laga mencapai sekitar 11 ribu orang, melampaui target FIFA sebanyak 10.000 penonton.

Dampak ekonomi tersebut kemudian meluas ke berbagai sektor. Chusmeru mengatakan sport tourism menciptakan multiplier effect bagi UMKM lokal, penginapan, kuliner, dan transportasi.

"Berbagai event sport tourism itu juga sangat menguntungkan bagi UMKM lokal yang menjual berbagai cinderamata, kuliner lokal juga banyak diserbu pengunjung. Sektor transportasi darat dan udara juga diuntungkan, termasuk ojek online," katanya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Investasi

Rekomendasi SUAR