Ketahanan Bank Milik Negara sebagai Pilar Ekonomi Nasional
Peran strategis Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tidak terlepas dari fungsinya sebagai agen pembangunan yang mendorong stabilitas sistem keuangan nasional.
Peran strategis Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tidak terlepas dari fungsinya sebagai agen pembangunan yang mendorong stabilitas sistem keuangan nasional.
Himbara menjadi pionir dalam mengimplementasikan kebijakan moneter dan fiskal. Salah satunya, ia menjadi mitra utama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam mendistribusikan penempatan dana kredit guna menggerakkan perekonomian. Himbara juga memegang peran dalam mendistribusikan program berdampak lainnya, seperti program kerakyatan antara lain Bantuan Subsidi Upah (BSU), Program Keluarga Harapan (PKH), hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku UMKM.
Sinergi penyaluran dana kredit program pemerintah yang dilakukan melalui Himbara menguatkan alasan pentingnya kinerja Himbara dalam memberikan efek pengganda bagi perekonomian masyarakat dari tataran makro hingga mikro.
Menilik indikator total aset, kinerja Himbara memperlihatkan dinamika pertumbuhan yang bervariasi selama periode akhir tahun 2025 hingga 31 Juli 2026. Bank Mandiri memimpin ekspansi aset dari Rp 2.228,10 triliun menjadi Rp 2.360,69 triliun, mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,95%.
BNI turut mencatatkan kenaikan aset sebesar 5,58%, bertumbuh dari Rp 1.362,06 triliun menjadi Rp 1.438,09 triliun, diikuti oleh BSI yang mencatatkan pertumbuhan moderat 1,36% dari Rp 456,19 triliun menjadi Rp 462,42 triliun. Di sisi lain, penyusutan aset dialami oleh BRI yang turun 1,49% dari Rp 2.135,37 triliun menjadi Rp 2.103,53 triliun, serta BTN yang terkoreksi 6,64% dari Rp 527,79 triliun menjadi Rp 492,71 triliun.
Mengamati indikator utama lainnya, khususnya total Dana Pihak Ketiga (DPK), menunjukkan kemampuan penghimpunan dana yang ekspansif pada beberapa bank. DPK BRI tumbuh signifikan sebesar 10,26% dari Rp 1.466,84 triliun menjadi Rp 1.617,30 triliun, disusul BNI yang melesat 9,04% menjadi Rp 1.134,89 triliun.
Bank Mandiri mencatatkan DPK yang stabil dengan pertumbuhan 0,56% menjadi Rp 1.684,07 triliun, sedangkan BTN dan BSI mengalami penurunan DPK masing-masing sebesar 10,53% menjadi Rp 391,32 triliun dan 0,42% menjadi Rp 388,77 triliun.
Terkait Pencadangan Kredit (CKPN), bank Himbara tetap menjaga prinsip kehati-hatian yang tercermin dari nilai pencadangan BRI sebesar Rp 76,65 triliun, Bank Mandiri Rp 37,98 triliun, BNI Rp 36,61 triliun, BSI Rp 15,15 triliun, dan BTN Rp 13,73 triliun pada posisi Juli 2026.
Hingga Juli 2026, bank-bank Himbara mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit dan pembiayaan yang bersaing. Ekspansi pembiayaan paling agresif dicatatkan oleh BSI yang melonjak 12,44% dari Rp 303,99 triliun pada tahun 2025 menjadi Rp 341,82 triliun pada Juli 2026. BNI dan Bank Mandiri juga mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang masing-masing tumbuh 7,83% menjadi Rp 969,94 triliun dan 6,60% menjadi Rp 1.595,85 triliun.
Sebaliknya, strategi penyesuaian portofolio terlihat pada BRI yang penyaluran kreditnya terkoreksi 4,38% menjadi Rp 1.450,63 triliun, serta BTN yang menyusut 6,64% menjadi Rp 359,68 triliun dibandingkan dengan capaian akhir tahun lalu.
Penyesuaian laju kredit dan penghimpunan DPK tersebut secara langsung berdampak pada perbaikan profil likuiditas dan stabilitas permodalan Himbara. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI membaik dari posisi 103,42% pada 2025 menjadi 89,69% per Juli 2026. Penurunan LDR tersebut menandakan ruang likuiditas yang kini lebih ideal.
BNI turut mencatatkan pelonggaran LDR dari 86,42% menjadi 85,47%, sementara Bank Mandiri, BTN, dan BSI mengalami sedikit peningkatan rasio pembiayaan menjadi masing-masing 94,76%, 91,91%, dan 87,92%.
Secara total, bank-bank Himbara menguasai penyaluran kredit rata-rata sekitar Rp 4.000,0 triliun. Di tahun 2025, secara agregat Himbara mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 4.602,98 triliun dan tumbuh 2,5% di posisi Juli 2026 sebesar Rp 4.717,92. Bank Mandiri dan BRI memimpin volume kredit tertinggi di antara seluruh bank, masing-masing mencatatkan angka di atas Rp 1,4 hingga Rp 1,5 triliun pada tahun 2025 dan Juli 2026.
Jika dibandingkan dengan bank swasta utama pesaing Himbara, Bank BCA misalnya, bank tersebut mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 970,23 triliun pada tahun 2025 yang kemudian tumbuh 6,28% menjadi Rp 1.031,18 triliun pada posisi Juli 2026. Meskipun skala total Himbara lebih dominan, volume kredit BCA mampu melampaui beberapa bank anggota Himbara, seperti BNI, BTN, dan BSI.
Ditinjau dari rasio LDR yang menunjukkan agresivitas penyaluran kredit terhadap DPK, BCA mempertahankan posisi yang tetap likuid. Rasio LDR BCA tercatat sebesar 78,34% pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 81,89% pada Juli 2026 seiring ekspansi kreditnya.
Sebaliknya, bank-bank Himbara cenderung beroperasi dengan tingkat LDR yang lebih tinggi, di mana BRI mencatatkan LDR hingga 103,42% pada tahun 2025 dan Bank Mandiri mencapai 94,76% pada Juli 2026. Sebagai pemegang mandatori distribusi program pemerintah kelompok Himbara mengoptimalkan pemanfaatan DPK secara lebih agresif untuk mendorong pembiayaan domestik dibandingkan BCA.
Dari sisi ketahanan modal atau total Ekuitas, BRI kuat memimpin dengan nilai Rp 297,93 triliun, disusul Bank Mandiri Rp 257,22 triliun, BNI Rp 162,24 triliun, dan BSI Rp 51,59 triliun; sementara BTN menjadi satu-satunya bank yang mencetak pertumbuhan ekuitas positif hingga 3,42% menjadi Rp 37,45 triliun pada Juli 2026.
Membandingkan tahun 2025 dengan capaian posisi hingga Juli 2026, kinerja bank-bank Himbara secara kolektif masih tangguh di tengah dinamika keuangan nasional yang diliputi dengan ketidakpastian. Beberapa bank fokus pada penguatan likuiditas dan perbaikan rasio, yang lainnya berhasil memadukan penghimpunan dana dengan ekspansi aset serta kredit/pembiayaan.