Peran Lulusan STEM untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Peran Lulusan STEM untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang optimal, dibutuhkan kapasitas sumber daya manusia yang unggul dan mampu beradaptasi dengan tren industri terkini, terutama yang berlatar-belakang di bidang Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM). 

Peran Lulusan STEM untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Dalam Artikel Ini

Target Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan mampu beradaptasi dengan tren industri terkini menghadapi tantangan besar di sektor ketenagakerjaan. Perkembangan industri yang gencar di bidang teknologi terancam sulit berkembang dan membawa dampak ekonomi yang optimal. Hal itu karena tenaga kerja tidak terserap ke dalam industri akibat adanya kesenjangan latar pendidikan atau kompetensi yang dimiliki para lulusan dengan kualifikasi yang dibutuhkan industri.

Di Indonesia, jumlah lulusan pendidikan tinggi di bidang sains, teknologi, enjinering, dan matematika (STEM) masih tergolong rendah. Padahal penguasaan STEM menjadi dasar yang penting dalam mengisi roda perekonomian nasional dan menghadapi persaingan global yang semakin ketat di tengah perkembangan teknologi.

Berdasarkan data Statistik Pendidikan Tinggi 2025 dari Pusdatin Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), sebaran lulusan pendidikan tinggi di Indonesia didominasi oleh bidang Non-STEM. Secara keseluruhan dari total 2.547.714 lulusan, sekitar 72,45% atau 1.845.931 orang berasal dari bidang Non-STEM. Sementara bidang STEM hanya mencakup sekitar 27,55% atau 701.783 orang. 

Di tingkatan pendidikan tinggi yang paling banyak diminati seperti Profesi, Sarjana, dan Diploma masih didominasi oleh lulusan non-STEM. Profesi dengan total 917.358 lulusan, sebanyak 89% adalah non-STEM atau 816.449 orang dan 11% di bidang STEM atau 100.909 orang. Sarjana dengan total 1.259.992 lulusan, terdiri atas 68% Non-STEM atau 856.795 orang dan 32% STEM atau 403.197 orang. Adapun jenjang Diploma dengan total 218.931 lulusan didominasi oleh lulusan di bidang STEM sebesar 74% (162.009 orang) dan 26% Non-STEM (56.922 orang).

Peran strategis lulusan STEM sangat krusial sebagai pilar utama dalam membangun ekosistem riset, inovasi, dan penguatan daya saing bangsa menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Keahlian di bidang STEM juga menjadi penggerak utama green jobs untuk mendukung transisi energi bersih, konservasi sumber daya alam, dan pengelolaan limbah.

Guna mengoptimalkan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia yang mencapai 3.887 GW, misalnya, penguasaan sains dan teknologi akan mempercepat adopsi teknologi mutakhir. Selain itu, lulusan STEM juga berperan dalam mendorong produktivitas nasional yang lebih tinggi yang sekaligus juga mendongkrak produktivitas tenaga kerja untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Namun, peningkatan porsi lulusan STEM ini dihadapkan pada berbagai kendala. Dalam laporan mudabicara.id tahun 2024, terdapat beberapa persoalan, mulai dari kuota perguruan tinggi teknik yang terbatas dan seleksi ketat, durasi studi yang panjang, hingga beban biaya sertifikasi profesi mandiri yang besar. Tantangan diperparah oleh standar rekrutmen perusahaan yang kerap mensyaratkan IPK tinggi minimal 3,00 tanpa melihat kompleksitas kurikulum.

Selain itu, fenomena horizontal mismatch seperti ketidaksesuaian lulusan SMK yang mencapai 72,71% dan bidang TIK hingga 93,82% yang membuat lulusan terserap di sektor non-teknis. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan tenaga pengajar, di mana 67,7% guru matematika dan IPA belum memiliki pemahaman STEM yang memadai. Ditambah pula alokasi anggaran riset Indonesia yang baru mencapai 0,2% dari PDB, jauh tertinggal dari standar UNESCO, yaitu 1% dan rata-rata global 2,67%.

Secara global, berdasarkan data UNESCO dan OECD melalui CSAT Report 2023, posisi Indonesia tertinggal dari banyak negara dalam hal persentase lulusan STEM. China memimpin dunia dengan proporsi lulusan STEM mencapai 41%, diikuti oleh Rusia (37%), Jerman (36%), Iran (33%), India (30%), serta Prancis dan Meksiko yang masing-masing 26%. 

Indonesia sendiri berada di angka 20%, sejajar dengan Amerika Serikat, tetapi berada di bawah negara-negara kompetitor utama lainnya. Meski di atas Jepang dan Brasil, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar, yaitu mengatasi ketertinggalan yang besar agar tidak kalah bersaing dalam transisi ekonomi global berbasis teknologi.

Penguatan sektor STEM bukan lagi sekadar pilihan bagi pemerintah, melainkan suatu keharusan dan menjadi bekal berharga masa depan dalam visi pembangunan manusia dan ekonomi Indonesia. Melalui pembenahan ekosistem pendidikan, peningkatan anggaran riset, perbaikan kualitas tenaga pendidik, serta penyelarasan industri dengan dunia pendidikan, Indonesia dapat mengubah tantangan demografi menjadi kekuatan ekonomi berbasis pengetahuan.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Data

Rekomendasi SUAR