Jelang Demo 27 Agustus, Aktivitas Pusat Perbelanjaan Terpantau Berjalan Normal

Jelang Demo 27 Agustus, Aktivitas Pusat Perbelanjaan Terpantau Berjalan Normal

Aktivitas pengunjung, tenant, hingga operasional mal juga masih berlangsung seperti hari-hari biasanya.

Jelang Demo 27 Agustus, Aktivitas Pusat Perbelanjaan Terpantau Berjalan Normal
Dalam Artikel Ini

Menjelang aksi demonstrasi yang dijadwalkan akan berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026, aktivitas sejumlah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta yang berada di sekitar titik aksi terpantau masih berjalan normal.

Berdasarkan pantauan SUAR pada Rabu (26/08/2026), sejumlah pusat perbelanjaan seperti Pondok Indah Mall, maupun Senayan City Mall, Plaza Senayan, hingga Senayan Park yang lokasinya bersebelahan dengan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR) RI di Tanah Abang, Jakarta Pusat, belum melakukan persiapan pengamanan khusus seperti penambahan pagar pembatas atau meninggikan tembok di area pusat perbelanjaan.

Aktivitas pengunjung, tenant, hingga operasional mal juga masih berlangsung seperti hari-hari biasanya.

Tenant di dalam Senayan Park beroperasi seperti normal, aktivitas pengunjung juga terpantau sepi namun masih dalam kondisi normal seperti hari biasa. (Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, para pelaku usaha khususnya pengelola pusat perbelanjaan juga telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) untuk mengantisipasi berbagai hal, termasuk juga untuk demonstrasi.

“SOP berisi berbagai tahapan antisipasi dengan mengedepankan ataupun mengutamakan faktor keamanan dan kenyamanan pengunjung,” kata Alphonzus, Rabu (26/08/2026).

Di Senayan Park, yang bersebelahan dengan DPR RI, tempat di mana aksi demonstrasi direncanakan akan digelar, kondisi dan aktivitas di dalam pusat perbelanjaan masih terpantau berjalan dengan normal. Tembok di area pusat perbelanjaan juga masih dalam kondisi seperti biasa, tidak terlihat adanya penambahan atau peninggian.

Namun, terlihat ada kawat besi yang ditempatkan di salah satu akses pintu masuk Senayan Park yang berada di dekat gerbang kompleks DPR RI.

Sebagaimana diketahui, kawasan sekitar Senayan Park kerap menjadi titik kumpul atau jalur imbas dari berbagai aksi unjuk rasa yang sebelumnya pernah terjadi. Dihimpun dari berbagai sumber pemberitaan, aksi demonstrasi pada Agustus tahun 2025 lalu yang berakhir dengan kericuhan itu juga berlangsung hingga flyover Jalan Gerbang Pemuda, dekat dengan pusat perbelanjaan Senayan Park.

Meski belum terlihat adanya persiapan pengamanan khusus di sejumlah pusat perbelanjaan tersebut, potensi dampak aksi demonstrasi terhadap aktivitas bisnis di pusat perbelanjaan tetap menjadi perhatian para pengelola. Dijelaskan oleh Alphonzus, gangguan terhadap akses dan mobilitas masyarakat menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan selama aksi berlangsung.

“Kunjungan ke pusat perbelanjaan akan terpengaruh terutama jika ada penutupan akses jalan terutama bagi pusat perbelanjaan yang berlokasi berdekatan dengan tempat demonstrasi,” jelasnya.

APPBI pun berharap aksi demonstrasi 27 Agustus ini akan berlangsung dengan kondusif dan tidak berujung pada kericuhan yang kemudian bisa berdampak terhadap aktivitas perekonomian masyarakat.

“Pusat perbelanjaan yakin dan percaya bahwa pemerintah akan melakukan upaya terbaik dalam mengawal setiap pelaksanaan salah satu wujud hak demokrasi rakyat sehingga berlangsung kondusif,” tutupnya.

Sebelumnya, ramai kabar di media sosial bahwa sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta memasang pagar besi setinggi 2 hingga 3 meter. Rumor di media sosial mengatakan bahwa pagar ini dipasang sebagai upaya antisipasi menghadapi demonstrasi besar atau kerusuhan.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sekaligus Chairman Lippo Group James T. Riady menegaskan, pemasangan pagar di pusat perbelanjaan ketika aksi demonstrasi berlangsung saat ini tidak diperlukan, mengingat kondisi keamanan nasional saat ini masih kondusif.

“Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang,” ucap James dalam siaran pers Kadin yang diterima, Sabtu (01/08/2026).

Pendapat mengenai kondisi keamanan nasional yang masih tetap kondusif saat ini tercermin dalam perkembangan industri pusat perbelanjaan yang justru sedang mengalami pertumbuhan kuat. Para tenant sampai saat ini masih memiliki permintaan untuk membuka ruang usaha, bahkan melampaui ketersediaan ruang di pusat perbelanjaan.

“Kami terus membuka pusat perbelanjaan baru karena permintaan sangat tinggi. Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko,” lanjut James.

Jaringan Lippo Malls sendiri tersebar di sejumlah daerah di Indonesia mulai dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Bandung, hingga Medan. Adapun salah satu mal yang dikelola oleh Lippo Group adalah Senayan Park. Pemasangan pagar di beberapa lokasi pusat perbelanjaan sebelumnya pun ditegaskan oleh James hanya merupakan keputusan manajemen lokal dan bukan arahan dari pemilik perusahaan.

“Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik atau kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan,” tegasnya.

Dinamika negara demokrasi

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menyatakan, rencana aksi unjuk rasa pada 27 Agustus 2026 merupakan bagian dari dinamika negara demokrasi. Pemerintah pun menghormati hak masyarakat tersebut untuk menyampaikan aspirasinya. Namun demikian, penyampaian pendapat di muka umum ini harus tetap dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Kita negara demokrasi ya, jadi setiap warga negara berhak untuk menyampaikan pendapat dan masukan tentunya dalam koridor aturan yang berlaku. Jadi saya kira kalau bicara mengenai unjuk rasa, demo, dan yang lain-lain, itu sesuatu yang menjadi bagian dari negara demonstrasi dan sering terjadi, jadi saya kira tidak ada sesuatu yang khusus atau spesial,” ucap Qodari, Rabu (26/08/2026).

Massa mulai memadati lokasi aksi demonstrasi dan melakukan persiapan di gerbang DPR RI, Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (26/08/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Pihak Polda Metro Jaya juga telah mengonfirmasi bahwa rumor yang beredar di media sosial bahwa aksi demonstrasi 27 Agustus akan berlangsung dengan ricuh itu merupakan hoaks atau informasi palsu, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Pantauan dari pihak kepolisian juga menyatakan bahwa aktivitas dan perekonomian masyarakat sampai saat ini masih berlangsung normal.

“Situasi dan kondisi DKI jakarta dalam kondisi aman dan kondusif. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa kegiatan aktivitas rutin masyarakat berjalan dengan biasa,” tulis akun @poldametrojaya dalam media sosial Threads.

Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu cepat percaya dengan informasi yang beredar di media sosial, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Polda Metro Jaya mengajak masyarakat untuk lebih cermat dan bijak dalam menggunakan media sosial dengan selalu memeriksa sumber serta kebenaran informasi sebelum membagikannya,” lanjutnya.

Salah satu pengemudi ojek online yang sering beraktivitas di daerah Jakarta, Arga Gurning, mengatakan ia tidak terlalu mengambil pusing dengan narasi aksi demonstrasi yang akan digelar tersebut. Jika mendapatkan pesanan ke daerah aksi demonstrasi pun ia juga akan tetap menjalankan tugasnya dengan baik.

“Saya sedapetnya aja orderan ke mana, santai aja,” ucap Arga.

Baca juga:

Pulihkan Keamanan dan Ketertiban agar Roda Ekonomi Bisa Berputar
Semua pemangku kepentingan perlu bahu membahu memulihkan keamanan dan ketertiban agar roda ekonomi bisa berputar.

Namun jika situasi sudah tidak kondusif, pengemudi ojek online terkadang menurunkan penumpangnya akibat akses jalan yang ditutup ataupun aksi kericuhan demi keamanan dan kenyamanan penumpang.

“Tetap ambil aja, paling kalo jalanannya pada ditutup atau sudah gak kondusif ya penumpangnya saya minta turun ya,” ujarnya.

Dimintai tanggapannya, ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, aksi demonstrasi yang akan berlangsung ini disebabkan oleh kemarahan dan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Jika dibandingkan dengan aksi demonstrasi pada Agustus tahun lalu, tuntutan massa mengenai kondisi ekonomi dan sosial pun diperkirakan akan lebih meningkat lagi.

“Akibatnya, demo besok bisa lebih buruk dibandingkan demo tahun lalu, mengingat tahun lalu di-trigger dari ketidakpuasan terhadap anggota DPR. Tahun ini ditambah ketidakpuasan terhadap pemerintah yang mana akan mengeskalasi demo,” kata Huda.

Eskalasi dari aksi demonstrasi selain berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, juga dapat memberikan dampak terhadap aktivitas perekonomian. Dijelaskan olehnya, gangguan mobilitas, aktivitas perdagangan, maupun tertahannya keputusan investasi menjadi sejumlah risiko yang perlu diantisipasi apabila aksi demonstrasi berlangsung hingga waktu yang lebih panjang dan diwarnai dengan kericuhan.

“Kerugian ekonomi bisa mencapai mencapai Rp9 triliun jika berlangsung 3 hari sama seperti tahun lalu. Investor enggan berinvestasi secara signifikan jika kondisi politik kita bermasalah. Demo ini bisa menjadi indikator kondisi politik tidak stabil,” jelasnya.

Bagi para pelaku usaha khususnya investor, kepastian dan keamanan aset investasi merupakan faktor yang penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas bisnisnya dan mempertahankan kepercayaan. Oleh karena itu, Huda berharap pemerintah dapat mengantisipasi potensi aksi demonstrasi yang lebih besar serta terbuka dalam mendengarkan kritik maupun aspirasi dari masyarakat.

“Ketika kondisi politik tidak stabil, siapa yang akan membeli barang perusahaan? Kan pasti berkurang bahkan tidak ada permintaan. Maka pemerintah harus belajar dari kasus tahun lalu yang menimbulkan korban,” ujarnya.

Rekening kembali dibuka

Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menjelaskan, rekening atas nama Supriyono telah dibuka kembali. Ia menjelaskan, sebagaimana telah disampaikan dalam konferensi pers bersama Pimpinan Komisi III DPR RI dan Polda Metro Jaya, Bank Mandiri telah menindaklanjuti status penundaan transaksi terhadap rekening Bapak Supriyono.

"Sehingga rekening tersebut dapat digunakan kembali sebagaimana mestinya sejak hari ini tanggal 26 Agustus 2026. Kami mengucapkan terima kasih atas masukan, perhatian dan kepercayaan masyarakat kepada Bank Mandiri," ujar Riduan dalam keterangannya Rabu (26/8/2026).

Sebelumnya, berdasarkan informasi yang dihimpun SUAR, pemblokiran sementara rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono diketahui pertama kali saat ia memimpin aksi demonstrasi bersama puluhan warga Pati, Jawa Tengah, di depan Gedung DPR-RI pada Jumat (21/8/2026).

Baca juga:

Evaluasi Total Prosedur Blokir Rekening demi Pulihkan Kepercayaan
Krisis kepercayaan nasabah terhadap bank yang mematuhi perintah aparat penegak hukum menjadi sinyal prosedur blokir rekening membutuhkan evaluasi menyeluruh

Rekening itu disebut menyimpan dana pribadi dan hasil donasi publik dengan nilai simpanan Rp80,9 juta. Dana tersebut sedianya dialokasikan untuk membiayai kebutuhan operasional, logistik, dan akomodasi massa aksi AMPB selama di Jakarta.

Dalam konferensi pers, Senin (24/8/2026), Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto membenarkan bahwa surat perintah pemblokiran sementara dikirimkan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya untuk melakukan penundaan transaksi.

Budi menekankan, tindakan penundaan transaksi tersebut dilakukan berdasarkan Pasal 26 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dengan durasi penundaan transaksi dilakukan melewati proses penyelidikan selama 5 hari kerja. Selama penundaan transaksi, saldo tersimpan dalam rekening tidak disita.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Bisnis

Rekomendasi SUAR