Worklife Balance Bos BCA, Hobi Hiking Jadi Bisnis, Sisi Lain Krisis, dan Keampuhan Buku
•
4 Menit Baca
Oleh:
Selamat berakhir pekan.
Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, membagikan caranya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi di tengah tuntutan sebagai seorang pemimpin.
Menurutnya, membagi keseimbangan antara kedua hal tersebut atau yang dikenal dengan konsep work-life balance, bukan berarti mengurangi tanggung jawab dalam pekerjaan, melainkan bekerja dengan cara yang lebih cerdas dan membangun kepercayaan kepada tim, sambil tetap menyediakan waktu untuk keluarga dan kehidupan pribadi.
Saat Jahja menduduki posisi presiden direktur ia mengaku tidak pernah membiasakan rapat mengenai pekerjaan hingga larut malam. Sebagian besar pekerjaan dan rapat biasanya sudah ia selesaikan sekitar pukul 19.00 WIB. Hal yang dianggap penting olehnya ini dapat terjadi ketika sebuah pekerjaan telah diatur dengan baik.
“Saya melatih untuk bekerja dengan cerdas, bukan hanya bekerja keras. Jadi bekerja cerdas dan mendelegasikan wewenang, kalau enggak berani melakukan itu, orang kerja sampai pagi pun 25 jam sehari enggak akan cukup,” ucap Jahja.

Berawal dari kepercayaan senior saat aktif di organisasi mahasiswa pecinta alam (mapala), Lindang Harun, 35 tahun, perlahan membangun bisnis jasa open trip pendakian gunung, sebuah usaha penyediaan jasa perjalanan wisata mendaki gunung di mana para pesertanya hadir dari berbagai latar yang berbeda.
Pengalaman membawa rombongan 85 pendaki ke Gunung Semeru pada tahun 2015 lalu, menjadi titik awal seorang pemandu gunung yang satu ini belajar mengelola perjalanan, membaca karakter para peserta, hingga memastikan keselamatan seluruh anggota rombongannya.
Dari pengalaman tersebut, kepercayaan kemudian berkembang menjadi rekomendasi dari mulut ke mulut, hingga akhirnya Lindang membangun tim open trip-nya sendiri pada tahun 2019 lalu.


Indonesia Sport Summit (ISS) 2026: Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI menggelar Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 pada akhir pekan ini, 11–13 September 2026, berlokasi di JICC (Hall A, B, & Cendrawasih). Hadir sebagai ajang strategis untuk memperkuat industri olahraga nasional, gelaran ini dirancang sebagai platform kolaborasi yang menghubungkan pemerintah, pelaku industri, hingga generasi muda dalam membangun ekosistem olahraga Indonesia yang inklusif dan berdaya saing global.
BR Super League Persija vs Persib: Laga panas el clásico Indonesia antara Persija vs Persib dalam ajang BRI Super League 2026/2027 siap menggetarkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 15.30 WIB. Duel pekan kedua yang sarat gengsi ini diprediksi bakal berlangsung dalam atmosfer sangat meriah dan tensi tinggi, menyedot perhatian puluhan ribu pasang mata suporter sepak bola Tanah Air.

Krisis! Bikin gentar dan khawatir! Tapi sejatinya, krisis itu ibarat mata uang yang punya dua sisi. Di balik bahaya, justru tersimpan keuntungan bagi mereka yang jeli melihat peluang dan berani meraihnya.
Ini bukan isapan jempol atau fatamorgana semata. Dalam bahasa Mandarin, kata yang menyebut krisis itu ‘weiji’. Kata itu terdiri dari wei yang artinya 'bahaya' dan ji yang berarti 'peluang'. Artinya, setiap ada bahaya, krisis, atau ketidakpastian, maka juga ada peluang di dalamnya.
Sun Tzu, ahli strategi Tiongkok (544 SM – 496 SM) dalam bukunya “The Art of War” pun pernah bersabda soal ini.
"Kita tidak boleh terlalu terjebak dalam pandangan negatif atau terlalu fokus pada hambatan yang ada. Sebaliknya, kita harus melihat lebih jauh potensi yang tersembunyi dan memiliki keberanian untuk mengambil langkah maju," ujar Sun Tzu.

Saudaraku, ada kearifan terpancar dari keputusan Pemerintah Swedia untuk kembali menggunakan buku cetak sebagai media pembelajaran setelah belasan tahun menggunakan perangkat digital. Bahwa belajar bukan sekadar soal teknologi, tetapi tentang esensi pengetahuan yang meresap ke jiwa.
Di dunia nan riuh oleh kilatan layar, buku cetak berdiri tenang, bak pohon tua yang kokoh di tengah badai. Ia tak tergesa-gesa, tak berpacu dengan waktu, hanya menawarkan ruang pergumulan yang intens.
Membuka buku cetak adalah membuka jendela ke dunia yang hening. Setiap lembarannya mengundang sentuhan kehangatan. Ada kedekatan yang tak tergantikan, seolah kita sedang bercakap dengan sahabat karib, mendengar suaranya melalui setiap kalimat yang tertulis.
Buku cetak tidak berkedip, tak berisik, tak memanggil perhatian kita dengan notifikasi yang mengalihkan. Ia membiarkan kita tenggelam sepenuhnya dalam kata-kata, membangun imajinasi tanpa batas, menciptakan dunia yang dihayati secara personal. Di sini, tak ada gangguan, hanya ada kita dan kisah yang mengalir perlahan.
