Menyingkap Dua Sisi “Mata Uang” Krisis
Dalam bahasa Mandarin, kata krisis itu ‘weiji’ , terdiri dari wei yang artinya 'bahaya' dan ji yang berarti 'peluang'. Artinya, setiap ada bahaya atau krisis, maka juga ada peluang di dalamnya.
Dalam bahasa Mandarin, kata krisis itu ‘weiji’ , terdiri dari wei yang artinya 'bahaya' dan ji yang berarti 'peluang'. Artinya, setiap ada bahaya atau krisis, maka juga ada peluang di dalamnya.
Krisis! Bikin gentar dan khawatir! Tapi sejatinya, krisis itu ibarat mata uang yang punya dua sisi. Di balik bahaya, justru tersimpan keuntungan bagi mereka yang jeli melihat peluang dan berani meraihnya.
Ini bukan isapan jempol atau fatamorgana semata. Dalam bahasa Mandarin, kata yang menyebut krisis itu ‘weiji’. Kata itu terdiri dari wei yang artinya 'bahaya' dan ji yang berarti 'peluang'. Artinya, setiap ada bahaya, krisis, atau ketidakpastian, maka juga ada peluang di dalamnya.
Sun Tzu, ahli strategi Tiongkok (544 SM – 496 SM) dalam bukunya “The Art of War” pun pernah bersabda soal ini.
"Kita tidak boleh terlalu terjebak dalam pandangan negatif atau terlalu fokus pada hambatan yang ada. Sebaliknya, kita harus melihat lebih jauh potensi yang tersembunyi dan memiliki keberanian untuk mengambil langkah maju," ujar Sun Tzu.
Ia kemudian bercerita tentang Xia, seorang petani gurem di pedalaman China. Xia harus mengandalkan panen sawahnya untuk terus bisa bertahan hidup.
Suatu ketika, tempat tinggalnya diguyur hujan deras tanpa henti selama berhari-hari. Tak pelak lahan pertanian miliki Xia dan juga warga lainnya rusak karena terendam banjir. Penduduk desa pun larut dalam kesedihan dan keputusasaan karena gagal panen.
Alih-alih meratapi keadaan, Xia mengubah lahan pertanian itu jadi kolam budidaya ikan. Awalnya tetangga dan warga sekitar mencibirnya. Namun, beberapa waktu kemudian, ketika ikan-ikan sudah bertumbuh besar, Xia tak hanya mampu memberikan makan keluarganya, tetapi juga menjualnya ke pasar. Warga yang awalnya mencibirnya pun kemudian malah menirunya.
Dari kisah Xia, dalam pandangan penulis, setidaknya ada dua jenis peluang yang tersingkap dari krisis. Pertama, krisis justru memunculkan terobosan dan era baru. Kedua, krisis mendorong reformasi dan perbaikan ke arah yang lebih baik. Sejarah pun sudah membuktikan ini.
Kita kembali mundur sejenak enam tahun lalu, ketika pandemi Covid-19 merebak ke seluruh penjuru dunia termasuk di Tanah Air. Saat itu, hampir seluruh aktivitas ekonomi terhenti karena karantina jaga jarak sosial. Tak pandang bulu, mulai dari usaha mikro kecil menengah (UMKM) hingga korporasi besar pun terpukul dan bertumbangan.
Namun, dari balik krisis itu, muncul kebangkitan ekonomi digital. Toko-toko digital pun merebak. Pembayaran digital melesat. Roda ekonomi pun bergerak. Dengan cepat, ekonomi digital pun jadi primadona dan menjadi salah satu motor baru perekonomian Indonesia.
Ini semua tak lepas dari pelaku dunia usaha yang tak lantas menyerah begitu saja dengan keadaan. Tak bisa temu muka, ya diatasi dengan cara daring. Kejadian ini memberi pesan bahwa krisis tak harus disikapi dengan ketakutan, tapi justru menggali solusi dari balik itu.
Contoh lainnya, dari pasar modal. Kembali ke dekade 80-an, dunia pernah mencatat salah satu peristiwa “berdarah” di lantai bursa yaitu “Black Monday”. Pada 19 Oktober 1987, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) longsor 22,61% hanya dalam satu hari. Diperkirakan USD500 miliar lenyap dari lantai bursa hanya dalam hitungan jam. Peristiwa “Black Monday” ini juga ikut menyeret turun indeks Nikkei sebesar 14,9% dan indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang turun 12%.
Setelah kejadian memilukan di pasar modal hari itu, otoritas bursa di seluruh dunia menciptakan mekanisme circuit breaker atau trading halt (penghentian perdagangan sementara). Jadi saat bursa meluncur terlalu tajam melebih batas persentase tertentu, maka perdagangan harus berhenti. Ini untuk mencegah kejatuhan lebih dalam.
Baca juga:

Perdagangan saham itu, selain dipenuhi perhitungan, namun sejatinya lebih banyak diliputi dorongan emosional para investor di baliknya. Ketika bursa jatuh, suasana batin pasar modal cenderung diliputi kepanikan masal yang justru malah indeks makin meluncur turun. Untuk itulah sistem circuit breaker ini diberlakukan untuk memberi kesempatan investor tenang dan berpikir logis.
Reformasi sistem itu membuahkan hasil. Kini bursa efek di dunia sudah tumbuh berkali lipat dibandingkan tahun 1987.
Mari kita kembali tengok situasi terkini. Berbagai perkembangan terkini seakan mengarah akan terjadinya krisis. Ketegangan geopolitik dunia menimbulkan kecemasan. Mulai dari perang dagang hingga perang senjata makin kerap terjadi.
Setali tiga uang, kondisi perekonomian domestik pun bisa dibilang “ngeri-ngeri sedap”. Banyak pengusaha yang ditemui penulis bahkan berseloroh bahwa kondisi saat ini bukan lagi “wait and see” tapi sudah “wait and worry”.
Krisis memang bikin ngeri dan jeri. Itu wajar dan manusiawi.
Namun, kita tidak boleh lantas terpenjara ketakutan berlebih. Cobalah untuk keluar dari kotak dan lihat dari perspektif lain. Lihat apa pain point terbesar konsumen/masyarakat yang terdampak krisis? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu atau memenuhi kebutuhan masyarakat?
Tak cuma kebijaksanaan dari Timur yang mengamini semangat ini, konglomerat Barat pun juga mengakuinya. Seperti kata Reed Hastings, Pendiri Netflix, yang bilang, “Jangan fokus pada risiko. Fokuslah pada peluang. Tidak apa-apa jika salah, tetapi tidak boleh jika lambat.”