Merayakan yang Terus Bergulir

Organisasi yang sehat, perlu seperti sungai yang terus mengalir. Kinerja bisnis harus tetap terjaga melalui strategi yang berakar pada sistem, bukan ketergantungan pada figur tunggal.

Merayakan yang Terus Bergulir

Ada paradoks dalam kehidupan manusia, dimana kehadiran sering terasa biasa, sementara kehilangan, membuatnya menjadi luar biasa. Kita tidak pernah menghitung berapa kali seseorang menyapa di pagi hari, tidak pernah mencatat berapa kali dia membantu menyelesaikan pekerjaan, tidak pernah menyadari bahwa candaan seseorang telah menjadi bagian dari ritme kehidupan di kantor.

Sampai suatu pagi, orang itu pergi. Mungkin itulah mengapa perpisahan tak perlu disesali dan bukan sekadar dilewati. Karena perpisahan memberi kita kesempatan melakukan sesuatu yang sering gagal kita lakukan, mengucapkan terima kasih.

Dalam ekosistem manusia yang dinamis, perpisahan adalah sebuah kepastian yang sunyi—fase di babak akhir yang selalu datang menyapa, seperti juga saat awal ketika dulu pintu pertama kali dibuka.

Hidup, dalam bentuknya yang paling sejati, bukanlah tentang mendekap erat, melainkan tentang mengalir. Pertemuan adalah takdir semesta yang mempertemukan frekuensi jiwa yang berbeda dalam satu visi, sementara perpisahan adalah cara semesta mengajarkan kita tentang ketulusan dan keikhlasan.

Lebih dari dua ribu tahun lalu, Heraclitus berbicara tentang dunia sebagai sesuatu yang terus berubah. Gagasannya tentang flux, sering disederhanakan menjadi ungkapan bahwa segala sesuatu mengalir.

Namun pembacaan yang lebih hati-hati menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menarik, sebagian hal justru dapat tetap menjadi dirinya, karena mengalami perubahan. Sungai tetap disebut sungai, justru karena air di dalamnya terus bergerak.

Barangkali, demikian pula dengan organisasi. Kita sering mengira organisasi adalah gedung, nama perusahaan, struktur, jabatan, dan sistem. Padahal organisasi hidup melalui pergantian manusia. Orang datang, ada yang pergi, tim berubah, pemimpin berganti.

man holding luggage photo
Photo by Mantas Hesthaven / Unsplash

Lalu, generasi baru masuk membawa cara berpikir yang berbeda, dan organisasi tetap menjadi organisasi justru karena ia mampu berubah. Dalam perspektif ini, perpisahan bukan kegagalan organisasi untuk mempertahankan orang. Perpisahan adalah bagian dari hukum perubahan itu sendiri.

Seseorang pergi, bukan berarti cerita bersama menjadi tidak berarti.  Sebaliknya, kepergian seseorang justru membuktikan bahwa pernah ada sesuatu yang cukup berarti untuk dirayakan.

Inilah bagian paling romantik dari sebuah perpisahan. Bahwa tidak semua hubungan berakhir ketika hubungan kerja berakhir. Karena hubungan itu menemukan bentuk baru. Dulu kita bertemu karena struktur organisasi, sekarang kita bertemu karena persahabatan. Dulu kita berbicara karena pekerjaan, sekarang kita berbicara karena kehidupan.

Dan di situlah kita memahami gagasan Aristoteles tentang philia—persahabatan. Dalam tradisi Aristotelian, persahabatan bukan sekadar hubungan yang menyenangkan atau berguna, tetapi dapat menjadi hubungan yang dibangun atas kepedulian terhadap kebaikan orang lain. Persahabatan juga berperan dalam membentuk siapa diri kita.

Maka, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada memusingkan alasan dia pergi, yaitu, apa yang telah kita berikan satu sama lain, saat  kita bersama di sini selama ini?

Karena, dalam ekosistem organisasi, manusia bisa datang dan pergi silih berganti, namun ruh perusahaan, nilai-nilai inti atau core values, dan standar integritas yang ditanamkan bersama, adalah warisan abadi yang harus terus dijaga.

Dari meja kerja yang kini kosong, semua belajar untuk melepas dengan senyum dan menyambut dengan kesiapan. Sebab pada akhirnya, korporasi yang hebat bukanlah yang tidak pernah ditinggalkan oleh orang-orang terbaiknya, melainkan institusi yang mampu membuat setiap orang yang datang merasa bertumbuh, dan setiap orang yang pergi meninggalkan jejak kebaikan yang abadi.

Bagaimana pun manusia bukanlah jangkar yang diciptakan untuk terpaku selamanya di satu titik dasar lautan, melainkan layar yang harus mengembang menyongsong angin baru. Kehadiran seseorang di sebuah institusi usaha, meninggalkan residu energi—sebuah jejak kaki kultural yang mengubah cara tim memandang masalah, cara pimpinan mengambil keputusan, dan cara rekan kerja saling menguatkan.

Ketika seseorang harus pergi, itu bukan berarti lembaran kisah telah tertutup, melainkan tinta dari bab tersebut telah kering, memberi ruang bagi kertas putih selanjutnya untuk diisi oleh tangan-tangan baru dengan warna yang tak kalah indah.

Maka, jika ada yang pergi, dipastikan akan ada yang datang. Disinilah, semua orang harus menghargai setiap detik kolaborasi, berhenti menunda apresiasi, dan memperlakukan rekan kerja bukan sekadar rekan administratif, melainkan manusia yang sedang sama-sama berjuang.

Sebuah institusi yang sehat tidak boleh limbung, hanya karena satu atau dua orang pilar utamanya melangkah pergi. Keberlanjutan operasional dan kinerja bisnis harus tetap terjaga melalui strategi transisi yang matang dan berakar pada sistem, bukan ketergantungan pada figur tunggal.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Weekend Bright